
"Pemuda yang mengantar Pritha tadi, itu siapa ya? apa dia kekasih Pritha?" gumam Akasma dari dalam kamarnya, terus berpikir tentang penglihatannya tadi.
"Kalau memang benar dia kekasih Pritha, aku harus mencari tahu siapa dia. Jangan sampai pemuda itu hanya memanfaatkan anak gadis ku," malam itu sepertinya Akasma sulit terpejam. Otaknya terus berkelana memikirkan anak gadis satu satunya.
***
"Pagi, Ibu! wah harum sekali, pasti Ibu masak kesukaan Nenek, ya?" sapa Ayra yang baru saja menuju dapur.
"Pagi, Non! Iya nih, gegara Ibu sakit kemarin, terus Non Rara yang masakin Nyonya makan malam, beliau jadi ketagihan dan pingin dibuatin rendang lagi, Non," timpal Bu Dewi. Dibalas kekehan tawa oleh Ayra.
Sonia yang baru saja memasuki meja makan, segera duduk. Bersiap menikmati menu kesukaan, yaitu rendang daging buatan Bu Dewi. Di sampingnya duduk juga Ayra yang sudah mengenakan pakaian kerja warna cream.
"Wi, ayo duduk sini! Kita sarapan bareng!" ajak Sonia kepada Bu Dewi.
"Iya, Nyonya, terima kasih. Biar saya sarapan di dapur saja," tolak Bu Dewi halus.
"Ibuuu...! mari duduk! Ibu tidak usah sungkan begitu, Saya dan Nenek sudah menganggap Ibu adalah keluarga, jadi sudah sewajarnya Kita duduk bersama makan bersama," tutur Ayra penuh kelembutan.
"Ta- tapi, Non...!" Bu Dewi merasa semakin sungkan.
"Sudah, sudah, nggak ada tapi tapian. Mari, Bu!" dengan terpaksa pagi itu Bu Dewi sarapan bareng kedua majikan yang sangat baik hati dan menyayangi dirinya. Tanpa pernah membedakan status sosial.
Ketiga wanita yang ada di kediaman Sonia, kini tengah menikmati sarapan pagi. Sementara untuk sopir serta security biasanya mereka makan bergantian setelah Sonia dan Ayra selesai.
"Nek, Ayra berangkat dulu!" pamit Ayra mencium kedua pipi sang nenek.
"Ibu, Ayra berangkat!"
"Iya hati hati!" sahut Sonia dan Bu Dewi bersamaan.
__ADS_1
Seusai sarapan Sonia kembali ke ruang baca, wanita tua itu menekan tombol telepon yang ada di atas meja di depannya. Rupanya wanita renta itu sedang menghubungi seseorang.
"Halo! Bisa Kamu ke sini sekarang?"
"Bisa, Nek!" sahut sebuah suara dari seberang telepon yang tak lain adalah Akas.
Sementara di kediaman komandan Raican, suasana rumah hampir sama dengan kediaman Sonia, hanya saja sebelum berangkat ke kantor. Kamila mencegat Daniyal serta mencecar pemuda itu dengan segudang pertanyaan perihal kepergiannya semalam yang kembali di rumah hingga dini hari.
"Katakan sama Mama, pergi kemana Kamu semalam?" nada bicara Kamila pagi itu terdengar sedikit galak.
"Ma...! sudahlah, Daniel bukan lagi anak kecil, dia pasti tahu mana yang baik dan tidak baik," cegah komandan Raican menatap Kamila sembari mengisyaratkan dengan gelengan.
"Papa! selalu saja membela anak ini, dia itu badannya aja yang gede tapi kelakuan masih seperti anak kecil, Pa," sahut Kamila bersungut.
"Sudah sudah, pagi pagi nggak baik berantem, tidak menghargai makanan ini," komandan Raican menyesap kopi panas di depannya.
"Ma! Daniel sudah besar, Daniel pasti bisa jaga diri. Iya semalam Daniel mengaku salah, langsung pergi gitu aja padahal baru sampai," sanggah Daniel memelas.
"Tuh, Mama dengar sendiri kan. Kasih anak kita kepercayaan, dia itu sudah besar. Kita sebagai orang tua hanya wajib mengingatkan dan mengontrol saja, selagi tidak di jalur yang salah."
Kamila selalu kalah tiap kali dirinya berdebat dengan Daniel, sebabnya sang suami pasti akan selalu menjadi garda terdepan untuk membela Daniel dari serangan ocehan bawelnya.
Selepas mengakhiri perdebatan, ketiganya kini tengah menikmati sarapan pagi. Dan seperti biasa setelah sarapan selesai, Daniel segera berpamitan kepada kedua orang tuanya, dimana kebiasaan mencium tangan serta kedua pipi orang tuanya tidak pernah ia tinggalkan, sampa dirinya sebesar sekarang ini.
***
"Selamat pagi, Ibu! Nenek ada?" sapa Akas kepada Bu Dewi yang sedang membuka pintu untuknya.
"Selamat pagi kembali, Tuan! Nyonya sudah menunggu Anda di ruang baca," setelah bersalaman dengan Bu Dewi, Akas berpamit menemui Sonia.
__ADS_1
"Tok, tok, tok...!"
"Masuk...!" sahut Sonia yang sedang duduk di sebuah kursi goyang dengan sebuah album foto yang terlihat sedikit usang, di tangannya.
"Duduk!" Sonia mempersembahkan.
Akas mencium punggung tangan Sonia dengan sopan, wanita yang sudah menaruh kepercayaan serta harapan besar terhadap dirinya.
Akas duduk di kursi panjang di depan rak buku, berhadapan langsung dengan Sonia. Keduanya saling ber sitatap. Ada rona kesedihan di wajah Sonia. Selepas melihat Album foto yang berisi seluruh kenangan tentang Samir, putranya yang sudah tiada.
"Nenek merindukan, Tuan?" Sonia tak mampu menjawab pertanyaan anak muda di depannya, selain diam dengan buliran air kristal bening yang sudah beranak sungai dan siap terjun bebas di pipi kerutnya.
"Apa Nenek ingin berziarah? Kalau Nenek mau, Akas akan mengantarkan Nenek," bujuk Akas lembut, yang kini duduk berjongkok tepat di hadapan Sonia.
Wanita tua itu tak dapat lagi membendung air matanya yang sudah berusaha ia tahan, namun gagal. Ada kesedihan yang dipendam sendirian oleh wanita renta tersebut. Tentang ketakutannya jika ia meninggal nanti.
"Mau kah Kamu berjanji satu hal sama Nenek?" Sonia meraih kedua tangan Akas dan mengusapnya penuh harap, pemuda tersebut sudi memenuhi permintaan dirinya.
Akas kian lekat menatap kedua bola mata berkaca Sonia, meski ia tak tahu apa yang akan diminta perempuan renta itu dari dirinya. Ia pun mengangguk.
"Berjanji apa, Nek?" tanya Akas cukup pelan dan semakin penasaran.
Sonia menghela napas panjang, lalu kembali menatap Akas yang masih duduk berjongkok.
"Berjanjilah Kamu tidak akan pernah meninggalkan Ayra!" air mata Sonia kian berjatuhan membasahi kedua pipinya. Sesekali Akas mengusapnya dengan sapu tangan warna putih miliknya.
"Akas janji, Nek....!"
***
__ADS_1
BERSAMBUNG....