Elegi Cinta Ayrani

Elegi Cinta Ayrani
Kerinduan


__ADS_3

Satu persatu berkas berkas telah dilihat oleh Akash dengan seksama, yakin semua prosedur yang mereka sepakati telah memenuhi syarat maka kedua belah pihak perusahaan segera melakukan tanda tangan kontrak kerja sama.


"Maaf, kalau boleh tahu Ibu Presdir nya kok nggak kelihatan Mas?"


ucap Daniel sebelum membubuhkan tandatangan.


"Apa wakil Saya kurang memuaskan Anda?"


tiba-tiba si empunya perusahaan nongol di belakang Daniel dan mengagetkan nya.


"Bu- bukan begitu. Emmmmm...."


tiba-tiba bibir Daniel kelu seketika, kata kangen yang telah menghantui seluruh otaknya, sirna tatkala gadis pujaannya muncul. Seluruh konsentrasi pun auto hilang.


"Maaf, atas kelancangan Saya!" ujar Daniel.


Ayra duduk di kursi yang berhadapan seberang meja dengan Daniel, menatap Daniel dengan mata elangnya. Seolah ingin menelan bulat-bulat pria di hadapannya. Dan tangan cantiknya pun segera membubuhkan tandatangan.


"Sungguh sangat sempurna makhluk ciptaan Mu yang satu ini Tuhan," decah kekaguman Daniel, terus menatap bola mata indah Ayrani.


Penandatanganan kontrak kerja telah usai, seorang OB perempuan datang dengan membawa tiga cangkir kopi panas di atas nampan.


"Silahkan diminum, Pak!" seru Akash.


"Terima kasih!" Daniel mulai menyesap kopi panas yang baru disuguhkan OB.


Ayra dan Akash juga ikut menikmati suguhan kopi panas dari OB. Ketiganya menikmati kehangatan dari secawan kopi manis di tangan masing-masing.


Sembari menikmati suguhan kopi, Daniel sesekali mencuri pandang wajah gadis pujaannya. Dan hatinya tak henti terus berdebar. Dan tatapan Daniel itu sempat tertangkap oleh mata Akash.


"Benar kata Rara, pria utusan ASTANA ini sepertinya mata keranjang. Aku tidak akan membiarkan Rara dimanfaatin oleh dia," batin Akash.

__ADS_1


Setelah suguhan kopi telah habis, Daniel pun segera berpamitan kembali ke ASTANA. Tanpa terasa jam telah merujuk pukul setengah sebelas siang waktu setempat.


***


Gadis yang baru saja menyelesaikan jam kelasnya, segera duduk santai di kursinya di kelas. Meraih ponsel, benda satu satunya yang menjadi teman kesendiriannya selama belasan tahun ini. Dibuka dan dibaca pesan masuk dari aplikasi hijau.


"Kak Daniyal!" batin Pritha membaca pesan tersebut.


"Wah, pasti senang ya Kaka sekarang. Semoga pertemuan nya berhasil ya, Kak!" meski sebenarnya batin Pritha merasa sakit mendengar teman masa kecilnya kini mulai jatuh cinta, namun gadis ini berusaha terus mensupport Daniel.


"Maaf, baru sempat balas chat Kaka. Kelasku baru selesai!" balasan Prithaya.


Gimana kabar pertemuan Kaka dengan dia?"


pesan ini belum mendapat balasan dari Daniel.


Gadis yang semenjak terpisah dari Ayra belasan tahun lalu, kini berubah menjadi gadis pendiam. Tidak memiliki banyak teman, hanya menghabiskan sisa waktu senggangnya di kamar, serta bercanda bersama anak didiknya saat di sekolah.


Sesampainya di ASTANA, Daniel kembali berjibaku dengan segudang pekerjaan yang sudah menanti. Bertemu dengan beberapa klien lagi serta suplier. Tangannya masih belum sempat membuka pesan dari Prithaya. Dan sebenarnya pertemuan pagi tadi dengan Rara sungguh di luar dari yang ia harapkan. Gadis itu masih saja membentengi dirinya dengan kejutekan serta keketusan.


****


Setelah berhasil menemui beberapa klien dan juga suplier, perut bidang Daniel mulai terasa lapar. Ia pun bergegas mencari restoran serta masjid untuk sholat Dzuhur. Seraya menunggu makan yang dipesan datang, Daniel merogoh gawai dari sakunya dan membaca beberapa pesan yang masuk, salah satunya adalah pesan dari Prithaya.


"Pritha!" gumam Daniel lalu mengusap nomor ponsel Prithaya.


"Halo, Pritha!" sapa Daniel dari balik gawai.


"Iya, halo Kak. Cieee.... yang habis ketemuan, gimana gimana coba ceritain!" Pritha menggoda Daniel.


"Ah kamu bisa aja, dianya sangat cuek Prith, judesnya ampun dah, ngelihat aku aja tatapan nya kayak mau nerkam gitu. Serem pokoknya, hihihihi," jawab Daniel bercerita.

__ADS_1


"Masa sih Kak, bukannya yang judes ya yang Kaka cari? hahahaha," Pritha pun membalas kelakar Daniel.


"Apalagi itu asisten udah kaya singa yang selalu siap siaga di depan dia. Boro boro kenalan, ngelirknya saja itu singa udah lihatin aku balik, Prith."


dengan sebenarnya Daniel bercerita kepada Pritha, bahkan ia meminta saran kepada Prithaya bagaimana meluluhkan hati wanita.


"Sabar saja, Kak. Semua butuh proses. Sekarang kalian sudah terikat kontrak kerja, boleh jadi akan lebih intens bertemunya nanti. Pelan pelan, Pritha yakin Kaka pasti bisa buat gadis itu jatuh cinta sama Kaka."


Obrolan via telepon pun terhenti, saat pelayan datang membawa pesanan makan siang Daniel. Dan Prithaya juga kembali melanjutkan kelas.


***


Di tempat yang berbeda, saat jam makan siang selesai, Ayra mengendarai mobil menuju arah sebuah sekolahan. Mobil itu hanya terhenti di seberang bahu jalan, dengan kaca jendela masih tertutup. Bocah-bocah berseragam yang tengah mengenakan tas, terlihat mulai keluar berhamburan memenuhi halaman sekolah. Namun Ayra masih tetap mengamati dari balik kaca mobilnya.


"Kaka!" gumam Ayra saat melihat Prithaya berjalan keluar menuju parkiran.


Meski jarak pandang Ayra cukup jauh namun gadis itu masih hapal dan mengenali siapa yang sejak tadi ditunggunya dan dilihatnya.


Air mata kerinduan tak bisa dibohongi, selama ini jika ia merindukan Prithaya ataupun Akasma, Ayra selalu melihat mereka dari kejauhan. Meski hanya bisa menatap di kejauhan setidaknya kerinduan itu terobati walau tanpa bersua secara langsung.


"Hikss....!"


"Pernahkah Kaka mencariku?" gumam Ayra dalam Isak tangisnya. Yang tak bisa lagi dibendung.


"Aku sangat menyayangi kalian, hiksss!"


Sampai Prithaya masuk ke dalam mobilnya dan keluar meninggalkan area sekolah. Ayrani lalu meninggalkan tempat itu juga seraya mengusap sisa air mata yang menempel di pipi dan juga bola mata indah nya.


***


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2