Elegi Cinta Ayrani

Elegi Cinta Ayrani
Khawatir nya Akasma dan Daniel


__ADS_3

"Auw, sakit, Kak!" pekik Pritha kesakitan memegangi bahunya.


"Maaf, maaf, aku sangat khawatir sama Kamu!" ucap Daniel yang kini berdiri tepat di depan Prithaya, hanya berjarak beberapa centimeter.


Mendengar kata khawatir dari bibir Daniel, Prithaya yang tadinya larut dalam kesedihan, seketika mendadak riang. Melebarkan senyuman.


"Kaka khawatir sama Aku?" tanya Pritha mulai salah tingkah.


"Iya jelas Kakak khawatir sama Kamu, kalau terjadi sesuatu sama Kamu bagaimana?"


Senyum Pritha kian melebar, gadis yang berprofesi sebagai tenaga didik itu semakin tersipu malu.


"Apa itu artinya Kaka sayang sama Aku?" gadis di depan Daniel makin lekat menatap bola mata indah pria di depannya. Seakan momen indah itu tak ingin segera berakhir. Bisikan kata mesra yang selama ini hanya dipendam, ingin rasanya malam itu Pritha sampaikan kepada Daniel. Namun rasa malu yang begitu besar membuat gadis itu urung dan kembali memilih tetap menyimpan perasaan yang dimilikinya di dalam hati.


"Dasar Kamu, ya! sudah jelaslah Kakak sayang sama Kamu!" tutur Daniel tanpa sengaja membangkitkan gejolak perasaan Prithaya. Sontak membuat gadis itu spontan memeluk tubuh Daniel sangat erat.


"Terima kasih, Kak! Pritha juga sangat menyayangi Kak Daniel," tangan Daniel seketika bergetar. Keinginan untuk membalas memeluk Pritha tertahan. Ketakutan mulai muncul pada Daniel.


"Apa ini artinya, Tuhan? apa gadis ini menyukai ku?" batin Daniel, tangannya masih bergetar namun perlahan membalas pelukan Pritha. Yang kini semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Daniel. Kesedihan yang tadi ia alami pun tanpa sadar keluar dari mulut Pritha. Membuat Daniel terkejut sangat.

__ADS_1


"Apa? Mama Kamu masih membenci bahkan menaruh dendam kepada Ayrani?" pekik Daniel tak percaya, gadis yang masih memeluk tubuh Daniel nya itu terus bercerita sampai akhir tanpa sadar.


"Apa itu artinya Ayra ada di kota ini juga?" ucap Daniel, meregangkan pelukan Prithaya.


Sesaat ketika Daniel meregangkan tubuh Pritha dan sedikit mendorong menjauh dari tubuhnya, menyadarkan Pritha atas apa yang sudah ia ucapkan semua barusan.


"Apa yang sudah aku lakukan? apa aku harus menjawab kalau Ayra juga ada di kota ini, tapi aku sendiri saja tidak tahu dimana dia tinggal," batin Pritha mulai menyadari kebodohannya.


"Ayra, kamu ada di kota ini juga?" gumam Daniel yang terdengar oleh Prithaya.


Air mata Daniel tak terasa kembali terjatuh, kerinduan belasan tahun kepada Ayrani yang terpendam kembali hadir. Sosok teman kecil yang menyenangkan, ceria, dan sedikit cerewet namun sangat Daniel sayangi. Diantara mereka berdua saat itu hanya ada kebisuan di balik gemuruh isi kepala masing-masing.


Malam itu Daniel mengantarkan Prithaya kembali pulang ke rumah dengan mobil berbaris, mobil Pritha yang berada di depan.


***


Di kediaman Akasma, belum ada tanda-tanda lampu dimatikan untuk beristirahat tidur. Justru terlihat masih terang menyala di seluruh ruangan. Janda Samir itu terus berjalan mondar-mandir di depan teras rumah. Sopir dan satpam pun tampak ketakutan. Sebab sampai tengah malam begini, Prithaya tak kunjung juga pulang.


Jam menunjukkan pukul 12 malam lewat, lebih tepatnya hampir jam 1 dini hari. Di sekeliling rumah Akasma sudah terlihat gelap gulita, pertanda mereka semua sudah merenda mimpi sendiri sendiri. Dan kedatangan mobil Prithaya dan juga Daniel yang tiba-tiba, membuat orang yang berjaga di sana terkaget dan berteriak menyebut nama Prithaya bersamaan.

__ADS_1


"Non Pritha...!"


Seolah ingin melompat Akasma malam itu, melihat mobil Prithaya memasuki pintu gerbang, ia segera berjalan mendekat ke halaman rumah. Sementara mobil sport milik Daniel masih tetap berhenti di luar pagar dengan kaca jendela yang tertutup. Beberapa detik setelah gerbang dibuka, dan mobil Prithaya sudah masuk halaman dengan aman. Daniel membuka kaca jendela mobilnya lalu melambaikan tangan mengucap perpisahan kepada sahabat kecilnya tersebut. Pritha pun juga membalas lambaian tangan Daniel.


"Selamat malam, Kak, terima kasih!"


Tepat di samping mobil Prithaya, pandangan Akasma tertuju kepada sosok penghuni mobil yang terhenti di seberang jalan di depan rumahnya. Akasma mengamati sepertinya melihat seorang pemuda yang ada di dalam mobil di depan rumahnya tersebut, dan wanita itu terus memfokuskan pandangannya melihat ke arah tersebut, namun gagal melihatnya secara jelas, sebab tertutup oleh bayangan.


"Sayang...., anak Mama!" Akasma segera memeluk tubuh putri semata wayangnya sangat erat.


"Kamu pergi kemana saja, Sayang? Mama sangat khawatir dengan keadaan Pritha," berkali-kali Akasma memeluk tubuh Prithaya.


Pritha tersenyum sedikit ketir kepada sang mama namun tidak menjawab pertanyaan Akasma. Gadis itu hanya menghela napas panjang dan membuangnya kasar.


"Maaf, Ma, Pritha capek banget hari ini. Ceritanya besok saja, ya?" itulah obrolan terakhir Prithaya sebelum masuk ke dalam kamarnya. Dan Akasma juga terpaksa tidak banyak bertanya kemudian ikut masuk ke dalam.


***


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2