Elegi Cinta Ayrani

Elegi Cinta Ayrani
Cerita Rahasia Berdua


__ADS_3

"Nenek sangat berharap kalian mulai membuka diri, dan bersedia memenuhi permintaan wanita tua ini untuk segera menikah!" telinga Akas serasa tersengat sebuah kabel besar, mendengar pesan Sonia.


Sejenak Akas terdiam dan berpikir, "Sejujurnya Aku sudah jatuh cinta kepada Ayra, Nek. Namun Aku selalu sadar siapa diriku," batin Akas.


"Apa Kamu tidak mencintai Cucu Ku?" hentak Sonia membuyarkan lamunan Akas.


"Bu- bukan seperti itu Nek." Akas kembali diam kebingungan harus menjawab apa kepada Sonia.


"Terus? apa yang masih membuat Kamu ragu?" tanya kembali Sonia.


Setelah diam beberapa saat, Akas pun akhirnya memberanikan diri menjawab pertanyaan Sonia dengan ragu ragu.


"Sebenarnya, Akas sudah jatuh cinta sejak Ayra menginjak dewasa, Nek. Tapi Akas sadar sekali siapa Akas siapa Ayra," jawab Akas.


"Anak bodoh!" Sonia menepuk pipi kanan Akas pelan.


"Sejak kapan Nenek membedakan kalian tentang status atau lain sebagainya?"


Akas mengangguk.


"Iya Akas tahu Nenek tidak pernah membedakan status sosial seseorang. Justru Nenek sendirilah yang memungut anak yatim ini menjadi seseorang yang kini dipandang oleh orang."


"Husst...!"


"Kalau begitu itu artinya Kamu setuju dengan permintaan Nenek?" tandas Sonia kembali.

__ADS_1


"Tapi...!" Akas menggantung kalimatnya.


"Tapi, apa?"


"Tapi, kira kira, apa Ayra juga bersedia Nek? Akas tidak ingin melukainya. Bahkan jika dia kelak nanti harus jatuh cinta dan menikah dengan pria pilihannya, Akas rela Nek. Sampai kapanpun Akas janji akan selalu menjaga Ayra."


"Nenek juga belum tahu soal itu. Sejauh ini kalian kan selalu bersama sama hampir sepanjang hari berdua di kantor. Apa Kamu ada melihat tanda tanda kalau dia sedang dekat dengan seseorang?" Akas menggeleng.


"Kalau begitu, terus apalagi yang membuat mu ragu, anak bodoh!" desak Sonia.


"Bukan begitu Nek. Menurut Akas, sebaiknya Nenek bicara dulu dengan Ayra. Jangan sampai dia terpaksa menikah dengan Saya," seru Akas.


"Baiklah kalau begitu, nanti malam Nenek akan bicara dengan anak itu," ucap Sonia menyudahi topik pembicaraannya. Dan berganti topik yang lain.


Sejenak Akas mulai berpikir tentang cerita dari Sonia barusan. Rasa untuk melindungi Ayra, gadis yang dia cintai semakin lah besar. Ia tak ingin satupun tangan jahat menyentuh sehelai rambut wanita pujaannya.


"Terima kasih anak muda, tugas Ku menjaga dia, kini Aku serahkan sepenuhnya kepada Kamu. Nenek percaya, Kamu tidak akan mengecewakan Nenek," Sonia kini memeluk tubuh tegah nan tinggi pemuda di hadapannya. Tangis pun kembali berderai mewarna. Begitupun juga dengan Akas. Pemuda itu tak sanggup lagi melihat kesedihan serta beban berat yang selam ini dipendam serta ditanggung sendirian oleh Sonia.


Usai drama haru di dalam ruang baca berakhir, Akas keluar dari ruangan tersebut dan duduk di ruang tamu, sebuah suguhan secangkir kopi panas buatan Bu Dewi telah menantinya di atas meja, sejak lima menit lalu.


"Ahhhh...! kopinya nikmat sekali, Bi. Terima kasih. Tapi maaf, Saya tidak bisa berlama-lama, sebab harus secepatnya balik ke kantor. Siang nanti ada meeting di luar.


"Iya, Nak, habiskan dulu kopinya!"


Secangkir kopi panas buatan Bu Dewi telah berhasil dihabiskan oleh Akas. Kini semangat kerja pemuda tampan itu kembali on, ia harus segera kembali ke kantor.

__ADS_1


Dan mobil Akas melaju meninggalkan halaman rumah Nyonya Sonia. Diiringi lambaian tangan oleh Sonia.


***


Setibanya di kantor, Akas sedikit bingung harus beralasan apa jika Ayra nanti bertanya perihal kemana dia pergi pagi itu. Dan pemuda itu memasuki ruangan kerjanya yang juga satu ruangan dengan Ayra. Keringat dingin mulai membasahi tubuh tegap Akas.


"Hei, darimana Tuan? Pagi pagi sudah main keluyuran di jam kerja begini?" tanya Ayra dengan ekspresi wajah sedikit kesal.


"Oh, tadi sebelum Kamu tiba, Ibu tiba-tiba menelpon. Katanya lagi kurang enak badan, makanya Aku ke sana melihatnya," Akas sedikit berbohong kepada Ayra, dan lebih memilih beralasan ketimbang wanita yang dicintainya tahu kemana ia pergi tadi pagi


"Ibu sakit?" Ayra kaget mendengar kata ibu dari Akas. Akas mengangguk.


"Sakit apa? apa sudah Kamu bawa ke dokter?" tanya Ayra.


"Iya sudah, Ra. Maaf ya, tadi tidak menunggu Kamu dulu dan meminta ijin!" balas Akas merasa bersalah harus berbohong terhadap wanita yang ia cintai.


"Iya, nggak papa kok. Ya sudah duduklah!"


Akas pun menduduki kursi kerjanya yang berjarak sekitar 2 meter dari meja Ayrani. Kembali berjibaku dengan tugas-tugasnya yang sudah siap menunggu dirinya.


Dengan penuh semangat dan sesekali bersiul, Tangan dan pandangan Akas mulai fokus tertuju pada layar komputer di atas mejanya. Entah mengapa, meski sebenarnya ia sangat takut Ayra mengetahui kebohongannya, namun ia sekaligus juga merasa sangat bahagia. Perasaan dia terhadap Ayrani mendapatkan dukungan dari sang nenek Sonia.


*****


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2