EMPRESS OF THE KING By Lizkookkarea

EMPRESS OF THE KING By Lizkookkarea
part 15


__ADS_3

Malam harinya


Lalice sedang duduk dipinggir kasur. Dia masih memikirkan ajakan Rose tadi siang. Mau kabur dari sini katanya? Itu pasti tidak mungkin. Sedangkan Lalice sudah menjadi Ratu Heaven, dan pastinya semua orang sudah mengenalnya. Jika Lalice kabur, pasti dia akan ditemukan dengan mudah. Apalagi jika Jungkook mengetahui ini bisa-bisa dia dikurung diistana selamanya.


Dan juga tadi Rose bilang kalau Pangeran Jimin dan Raja Jungkook telah membunuh kedua orangtuanya... Ia benar-benar tidak habis pikir. Terus yang dia lihat pagi tadi Jungkook malah membantu seorang kakek dengan ikhlas.


"Apa yang harus aku lakukan... Aku sebenarnya takut, tapi aku sudah berjanji akan merubah sifat buruknya Raja..."


Sebenarnya Lalice baru saja selesai mandi dan sekarang dia bergegas ingin tidur tapi karena ajakan Rose tadi siang membuatnya bimbang.


Karena sibuk melamun Lalice tidak menyadari kalau ada suara pintu yang dbuka. Memunculkan sosok pria disana...ya siapa lagi kalau bukan suaminya, Jungkook.


Jungkook baru saja masuk tapi dia tidak disambut oleh Lalice. Dia melihat istrinya itu sedang melamun menyadari keberadaannya. Apa mungkin Ratunya itu sudah lama menunggunya?


"Tak kusangka ternyata Ratu sedang mengungguku ya?" ucap Jungkook dihadapan Lalice


Lalice pun terkejut mendengar suara berat itu.


"Astaga!... Ya-Yang Mulia? Anda disini...?"


"Apa anda perlu sesuatu sampai datang ke kamar saya?"


Jungkook mengangkat sebelah alisnya. Bagaimana bisa Lalice melupakan janjinya.


"Kau lupa? Aku kesini untuk menangih janjimu. Sebelumnya kau berjanj akan melakukan apapun yang aku mau kan? Malam ini aku akan memberikanmu 'hukuman' agar kau sadar akan posisimu saat ini ..." Jungkook sedikit mencondongkan badannya dan perlahan mendekati wajah Lalice


Aduh aku melupakannya


Lalice mulai takut dia pun perlahan mundur dikasur tersebut.


"I-iya saya sudah berjanji waktu itu. J-Jadi apa yang anda inginkan?" Lalice masih berusaha mundur tapi berhenti karena sudah berada disudut kepala ranjang. Dia tidak bisa mundur lagi. Jungkook telah mengukungnya


"Permintaanku hanya satu... Kau harus selalu mematuhi semua perintahku. Seperti sekarang ini... Aku mau menghabiskan malam ini bersamamu" Jungkook menarik tali yang mengikat baju Lalice. Baju itu hampir terbuka kalau saja Lalice tidak menahannya


"Tidak... A-Aku akan melakukan apapun. Tapi jangan yang 'itu' (Lalice bicara terbata-bata, sambil matanya mencari celah agar bisa kabur)


Karena Jungkook lengah karena sibuk membuka pakaian Lalice segera memanfaatkan kesempatan ini. Dia pun berlari menuju pintu.


Tapi setelah sampai dipintu kamar. Ternyata pintu itu tidak bisa dibuka.


"Kenapa tidak bisa dibuka?"


Lalice masih berusaha untuk membukanya


Sementara itu Jungkook yang menyadari kalau Lalice berusaha untuk kabur hanya tertawa perlahan.


"Kau pikir aku sebodoh itu membiarkan pintunya tidak dikunci?"


Selangkah demi selangkah Dia menghampiri Lalice. "Kau boleh saja kabur dariku... Tapi aku akan menambah 'hukumannya' menjadi 3 kali lipat? Hm.. Bagaimana?"


"T-tidak ma-maafkan saya Yang Mulia... tolong jangan ditambahkan hukumannya"


Jungkook tidak peduli apa yang barusan Lalice katakan. Hasratnya sekarang semakin meningkat, dia mengunci pergerakan Lalice dan mengecup lehernya sehingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


"Akhh... " satu desahan lolos begitu saja dari mulut Lalice saat Jungkook menghisap lehernya kuat. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus mencari cara lain.


Lalice mendorong tubuh Jungkook agar menjauh


"T-tunggu dulu... Sebelum itu saya ingin bertanya. Apakah Anda yang telah membunuh kedua orang tua dari Putri Rose?"

__ADS_1


Pertanyaan Lalice yang langsung to the point sepertinya cukup membuat Jungkook terkejut sehingga menghentikan aksinya.


"Dia memberitahu mu?"


"Walaupun Rose yang memberitahuku atau tidak tapi ini sudah keterlaluan Yang Mulia. Hanya demi merenggut sebuah kerajaan, Anda tega membunuh kedua orangnya bahkan didepan matanya sendiri" ucap Lalice panjang lebar. Sebenarnya dia juga agak takut membicarakan hal ini pada Jungkook apalagi tatapannya yang tajam seperti pisau itu malah membuat nyalinya menciut.


"Untuk apa kau ikut campur masalah ini? Lagipula ini bukan urusanmu" Jungkook menekan bahu Lalice dengan kuat


"T-tapi ini juga urusanku, aku ini istrimu dan kau adalah suamiku. Aku berhak ikut campur" Lalice mulai berani membalas perkataan Jungkook apalagi dia memakai embel kata "Aku" tidak seperti biasanya yang selalu menyebut dirinya "saya"


"Dengarkan aku... Aku tau kau hanya ingin membuktikan kepada mereka semua kalau kau itu sangat kuat dan berkuasa dibanding yang lainnya. Tapi bukan begini caranya Yang Mulia...."


Tatapan mata Jungkook mulai meredup dia sedikit menundukkan kepalanya dan perlahan menjauh dari tubuh Lalice.


"Kau tidak usah khawatir lagi, aku ada disini... dan yang akan selalu menemanimu dan mendukungmu" tangan Lalice menyentuh wajah suaminya itu


Jungkook pun hanya menatap Lalice dalam... Kemudian menyatukan bibir keduanya~


.


.


.


Mentari sudah terbit dan sinarnya masuk ke celah-celah jendela kamar.


Seulgi daritadi mengetuk pintu kamar Lalice tapi belum ada jawaban. Jadi dia memutuskan untuk membukanya.


Ceklek~


Untung saja pintunya tidak dikunci dia pun langsung masuk dan menemukan Lalice yang baru saja terbangun. Mungkin karena mendengar suara pintu tadi.


"Yang Mulia... Anda sudah bangun ternyata"


"Tapi apakah Anda baik-baik saja? Sepertinya anda tampak kelelahan" tanya seulgi. Dia khawatir melihat keadaan Lalice.


Tentu saja ini karena aku gagal membujuk Raja brengsek itu tadi malam. Tapi malah berakhir diranjang- batin Lalice


"Tidak apa-apa jangan dihiraukan... Sekarang kau bantu aku berjalan ke kamar mandi"


"Baik Yang Mulia" seulgi pun membantu memapah Lalice.


"Ada apa denganmu Ratu? Apa ini karena tadi malam?" Jungkook tiba-tiba muncul dan mengagetkan mereka berdua


"Yang Mulia kau mengejutkanku ... Kenapa kemari?" Lalice terkejut bukan main. Apalagi disini dia masih dipapah oleh seulgi. Jangan sampai Jungkook menyadarinya.


"Kau tidak bisa berjalan? Sepertinya tadi malam aku terlalu kasar, sekarang biarkan aku membantumu" ucap Jungkook dengan santainya


"Tidak perlu. Ayo seulgi bawa aku ke kamar mandi"


"I-iya Ratu" seulgi sedikit malu karena telah mendengar percakapan suami istri itu


Apa-apaan Jungkook itu! Dia seenaknya ngomong begitu apalagi disini ada seulgi, dia jadi mendengar semuanya. Lalice yang kesal pun segera pergi meninggalkan Jungkook yang kebingungan.


"Memangnya ada yang salah? Padahal kan aku hanya ingin membantu" Jungkook pun pergi dari kamar Lalice dan segera kembali ke Ruang kerjanya.


...


...

__ADS_1


"Bagaimana? Kau sudah mendapatkan informasi baru?" Jimin terlihat sedang berbicara dengan kristal, pelayan pribadi Rose


"Saya menemukan sebuah surat dikamar putri Rose, Pangeran... Sepertinya ini surat dari kerajaan lain" kristal memberikan surat yang itu pada Jimin


Jimin pun membuka surat itu


...


...


Jimin sedikit geram dan menutup kembali surat itu. Dan memberikannya pada kristal.


"Kau terus awasi putri Rose... Dan jangan lupa segera beritahu padaku tentangnya"


"Baik pangeran, akan saya laksanakan" kristal menunduk memberi salam pada Pangeran Jimin sebelum meninggalkannya.


Putri.. maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini~


...*****...


"Ampuni hamba Yang Mulia, hamba berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi" seorang pria dengan pakaian lusuh serta lebam di sekujur tubuh akibat dipukuli pengawal istana bersujud dihadapan Jungkook


"Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah itu? Kau telah berani mencuri diistanaku. Aku akan memberikan hukuman padamu!"


"Pengawal penggal kepalanya" perintah Jungkook. Tidak ada yang berani membantah kalau Raja mereka sudah memerinta.


"Baik Yang Mulia"


"Tidak jangan ... Hamba mohon Yang Mulia. Hamba melakukan ini hanya demi ibu hamba karena beliau sakit. Hamba ingin membawa ibu pada tabib, tapi kami tidak mempunyai uang sama sekali" pria itu terus-terusan membela dirinya


"Aku tidak peduli apapun alasannya, kau sudah melakukan kesalahan maka kau harus dihukum. Tunggu apa lagi? Cepat lakukan!"


"Hentikan!"


Pengawal yang tadi diperintahkan untuk memenggal kepala si pencuri tadi merasa kebingungan


"Aku bilang hentikan! Jatuhkan pedang itu!"


"Tapi Ratu ini perintah dari Yang Mu--" perkataan pengawal tersebut dipotong


"Ini perintahku jangan membantah!"


"Baiklah Ratu..." Pengawal itu pun menaruh pedangnya dilantai


"Dan kau... Jangan khawatir dengan keadaan ibumu. Aku akan mengirimkan tabib untuk menyembuhkannya. Ini ambillah tapi ada satu syarat kau jangan pernah muncul dihadapan kami lagi" Lalice memberikan Makanan dan Uang untuk pria itu


"T-terima kasih Ratu, Anda sangat berhati mulia. Maafkan atas kesalahan yang hamba perbuat. Hamba janji tidak akan muncul lagi disini"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2