
Erika, Intan dan Silvia salah satu dari mereka ada yang berhijab namanya Silvia mereka sudah sahabatan dari SMP sampe SMA pun mereka masih sekolah bareng, Silvia yang berhijab dengan otak nya sama-sama kosong seperti Erika, dia terkenal sangat lemot dbandingkan Erika, Intan cewek tomboy spek abang-abang yang Bad Girl seperti Erika, malah lebih pintar di bandingkan kedua sahabatnya, mereka bertiga berjalan menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah demo, selesai mengambil pesanan mereka seblak dan Mie ayam yang super pedas, mereka mencari tempat duduk, tapi sudah di penuhi oleh lautan manusia.
“Er tuh ada yang kosong” ucap Silvina menunjuk dengan telunjuk jarinya ke arah meja yang berdekatan dengan kaca yang sangat lebar.
“Kuy” Erika dan Cs nya berjalan menuju ke meja mereka, meletakkan makanan yang mereka pesan ke meja, di sela-sela makan mereka Silvia melihat seseorang yang di kenal.
“Er itu bukannya Andra ya temen kita waktu SMP si ketua OSIS” ucap Silvia, menunjukkan jarinya ke arah Seorang laki-laki tampan yang sedang makan sambil mengobrol dengan teman barunya.
“Terus kenapa? gua harus bilang Wow gitu!” Cetus Er dengan gaya alay nya.
“Dih, ketularan siapa lu alay begitu” cetus Intan menoyor pala Er dengan kencang malas sama tingkah konyol nya Er.
“Aduhhh ihh sakit tau, mau tau gua Ketularan sama siapa, tuh---temen lu Silvia si anak onta, puas lo!” jawab Er dengan pedas mengatai Silvia.
"Silvia kan temen lu juga Peleh!"
"Ehh iya juga maap lupa"
“Enak aja gua gak alay ya cuman lebay!” cetus Silvia.
“Sama aja bego, gua gorok lu” cecar Intan kesal, alay lebay sama gak sih guys, kasih tau dong, wkwk.
“Ihh Intan kamu berdosa banget wahai sahabatku” ucap Silvia menepuk-nepuk pelan pundak Intan, intan menepis kasar tangan Silvia di pundaknya.
“Dia kan mantan lu bego, lupa lu hah?” Ucap Intan menatap malas ke Erika yang pikun nya kelewatan.
“Emang ya? gua gak tau sumpah!” Cetus Er menggeleng-gelengkan palanya pelan.
“Sini pala lu, gua tancepin dulu paku di palalu, biar lu bisa ingat!” Ucap Intan menatap dingin dan tajam ke arah Er, di balas nyengir sama Er dan mengangkat kedua jarinya membentuk peace.
“Ya maap gitu aja mbak nya marah” cetus Er mentoel lengan Intan, Intan sudah malas punya teman otak nya cuman sebiji upil.
****
Malam hari Erika ke club, dia merasa bosan di rumah nya terus, dia juga capek bikin konten YouTube sama tiktok, otaknya yang cantik, mungil, lucu butuh refresing untuk menyegarkannya. Dia membeli dua botol vodka, lalu membuka satu botol lalu meminum nya perlahan, lama-lama dia merasa pusing, tapi masih dengan meminum sampai habis botol pertama, lalu membuka botol kedua, intan melihat Erika yang sedan meminuman haram, langsung berlari kecil menghampiri sahabatnya.
“Ini anak di telpon gak bisa-bisa nyangsreng kesini, malah mabok lagi” gumam Intan, ia berjalan menuju Erika, lalu mengambil botol dari tangan Erika.
“Balikin, siapa sih ganggu kesenangan gua!” Er berdiri gaya orang mabok berat, lalu jatuh di dekapan Intan.
__ADS_1
Ck, Intan berdecak kesal, gak ini anak tuyul nyusahin aja bisanya, ngapain coba dia minum alkohol sampe dua botol gini, kalau bokap nya tau Erika mabok bisa di gantung hidup-hidup, dia , gak cuman Erika, Intan pun kena juga.
“Ayo pulang Er” cetus Intan membopong ke motornya, lalu mengikat kedua tangannya ke badan Intan, urusan motor Erika gampang dia bisa suruh suruhan nya Intan untuk mengantar motornya Erika.
“Kita ngapain, lu siapa?” Ucap Erika dengan matanya yang sudah berat, kepalanya banyak sekali kunang-kunang.
“Gua Intan bego, sahabat lo, sadar Er sadar woy” kesal Intan menepuk wajah Er yang berada di pundaknya.
“Ohhhh”
*****
Sampai di rumah keluarga Fernandez, Intan sudah di pelototin tajam, sama bokapnya Erika, mereka berdua turun, dengan tangan intan yang masih merangkul Erika.
‘Habis udah gua, tewas di tempat udah mah ini! Batin Intan’
“Malem Om” sapa Intan, tidak ada sautan sama sekali dari Papahnya.
“ERIKA!!” bentakkan yang cukup keras.
Erika kaget, matanya mendadak melotot lalu berjalan ke arah papahnya masih sempoyongan akibat meminum alkohol sampai dua botol, Papah nya menarik tangan nya Er masuk ke dalam rumah, mengunci pintu rumah, Intan masih belum pulang ke rumah, ia masih betah berdiri di depan rumah Sahabatnya.
PLAK!
PLAK!
Reyhan mendengar keributan di bawah sana, ia berjalan ke arah Papanya sigap memegang tangan papanya.
“Pah, apa-apaan sih! kalau Erika mati gimana!” Ucap Reyhan, tatapan dingin dan menusuk.
“Biarin aja dia mati, gak peduli Papah, kenapa kamu ngebelain dia, hmm!” Bentak papahnya.
“Karena dia adik aku Pah, walaupun dia salah gak seharusnya Papah menyakitinya” ucap Reyhan.
“Adik kamu? Gak seharusnya kelakuannya kayak gini, keluyuran malam-malam, mabuk-mabukkan, mending gak usah pulang sekalian dia!” Bentak papahnya, dia pergi ke kamarnya, kedua adiknya masuk ke dalam kamar mereka, mamah nya membuntuti suaminya masuk kamar.
Reyhan menghampiri Erika, membantu berdiri, Erika menepis tangan Reyhan kasar, dia berusaha sekuat tenaga yang dia punya untuk berdiri.
“Er, ayo gua anterin ke kamar” ucap Reyhan.
__ADS_1
“Gak usah, ngapain lu ngebelain gua, bener kata papah gua emang anak yang gak tau diri, gak tau di untung, gak seharusnya gua lahir di dunia ini!” Erika berjalan memegang perut dengan tangan kirinya, tangan kanannya memegang pembatas tangga.
****
Di pagi hari Erika terbangun palanya masih sakit, dia tertidur di karpet bulu-bulunya, ia memegang kepalanya yang terasa nyut-nyutan dia merasa ada cairan yang mengalir dari kepalanya, ia lepaskan tangannya dari kepalanya darah segar keluar dari kepalanya. Ia mengambil tissue di nakas, mengelap darah yang ada di kepalanya, ia melirik jam bekker, ternyata dia kesiangan lagi, jadi dia tidak masuk sekolah hari ini, Ia mengambil kunci motornya memakai jaket Levi’s hitam miliknya, keluar dari kamarnya, mamah nya yang baru keluar dari kamar melirik sekilas.
“Mau kemana kamu?” Ketus mamahnya bertanya tanpa melihat ke Erika.
Erika tidak menjawab, dia melanjutkan jalannya, keluar dari rumah terkutuk ini, menaiki motornya, memakai helm, lalu dia melaju kan motornya dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan rumah yang seperti neraka buat dia.
*****
Dia pergi ke pemakaman umum, menuju ke arah batu nisan yang bertuliskan Fadel Algurto Fazero sudah lama dia tidak melihat wajah tampannya, sudah lama juga dia meninggalkan dirinya sendirian, bersama penderitaan ini. Fadel adalah pacarnya yang selalu membantu dirinya dari serangan kemarahan bokapnya, disaat Erika di serang lagi sama bokapnya, fadel tidak ada di sisinya, Fadel di bawa ke rumah sakit, karena penyakit Gagar otak stadium akhir yang di deritanya, penyakit nya waktu dirumah kambuh kembali, jadi Fadel di larikan ke rumah sakit, tapi sempat dia memberikan hadiah kecil untuk Erika dikasihkan ke mamahnya Fadel, agar mamahnya Fadel bisa memberikan hadiah itu ke Erika, di saat itu Erika sedang tidak menemaninya, nah di situlah Fadel menghembuskan nafas terakhirnya, lalu orang tuanya Fadel ingin Erika menemani Fadel di sisa hidupnya, tapi Erika di saat itu tidak diizinkan untuk keluar dari rumah, jadi orang tua nya menghubungi Erika kembali, mengasih hadiah pemberian dari anaknya ke Erika.
Alangkah terkejudnya ia mendengar dari mulut orang tuanya Fadel, kalau Fadel sudah tidak hidup di dunia lagi, alias sudah meninggal, di situlah letak kekecewaanya, kegalauannya, kegundahannya yang dia alami selama ini, keluar juga. ia menangis histeris, menghancurkan semua barang yang berad dikamarnya, sampai tidak terbentuk lagi.
“Del aku kangen sama kamu” gumam Erika mengelus batu nisan.
“Aku gak kuat di dunia ini Del, akun ingin ikut kamu” tangis Erika sudah tidak terbendung lagi, ia memeluk batu nisan bernama Fadel, agar dia bisa kuat menjalani hidup di dunia ini.
“Coba hari itu aku ada buat kamu, pasti kamu kuat untuk jalanin hidup bareng aku” tangis Erika pecah, Terisak-isak memeluk batu nisan.
Hujan turun sedikit demi sedikit membasahi jalan dan tanah, Intan mencari Erika, katanya gak masuk sekolah, mata Intan berhenti di satu titik, di pemakaman.
“Er”
Erika tau suara siapa, dia sudah mengenalnya, pasti sahabatnya. Dia menengok ke sumber suara.
“Tan, lo gak sekolah?” Tanya Erika.
“Gua bolos hari ini, lu aja gak masuk sekolah, muka lo kenapa?” Ucap Intan bertanya, menatap wajah sahabatnya yang memar-memar dan luka-luka.
"Gak apa-apa" jawab Erika.
“Ayo ikut gua ke rumah, biar gua obatin” ucap Intan.
Erika menggelengkan kepalanya “Gua gak mau Tan, gua mau disini aja” ucap Erika.
“Nanti infeksi luka lu” ucap Intan.
__ADS_1
“Biarin aja”
Intan menghela nafas panjang, udah gak tau gimana ngebujuk Erika yang keras kepala, yang mau dengan kemauannya sendiri.