Erika (BadGirl)

Erika (BadGirl)
05 // Di coret dari keluarga Fernandez


__ADS_3

Erika memasang muka datar dan dingin “Gua gak mau pulang, mamah papah kan cuman sayang sama lu dan adik-adik, jadi buat apa gua pulang, lagi pula gua udah gak dianggap di keluarga Fernandez, jadi buat apa gua di sana! Jadi berhenti ganggu hidup gua, gak usah ngatur hidup gua mau kemana”


Erika melanjutkan jalannya ke kelas, Reyhan menengok ke arah Erika. “Er tolong pulang ke rumah, habis pulang sekolah hari ini, please”


Jalannya terhenti “Gua pikir nanti” Erika berjalan kembali meninggalkan kakaknya dan sahabatnya.


Intan menepuk pundak Reyhan “Kak Rey, Erika gak pulang semalam, bukannya Intan nganterin Erika ya, tapi cuman sampai gang doang kak, dia juga yang minta”


Balas Reyhan menggelengkan kepalanya “Dia gak pulang semalam, gua gak tau kalau Erika bareng kalian?”


Intan menghela nafas panjang “Huffttt, nanti Intan ceritain kak, panjang ceritanya, kita berdua masuk kelas dulu ya”


“Okey”


.


.


.


.


Reyhan menghela nafas panjang di taman yang sudah ramai dengan anak kelas lain yang sedang berpacaran, dia yang masih berkutat dengan pikirannya mencernakan apa yang di omongin tadi pagi oleh adiknya.


“Maafin gua Er, gua gak bisa bantu banyak buat lu, tapi gua usahain sebisa gua agar lo tidak Aniaia lagi sama papah lagi Er” gumam Reyhan. Sahabatnya menepuk pundak Reyhan, Reyhan tersentak kaget menengok ke belakang.


“Lu kenapa Rey?” Tanya Rahdi sahabatnya.


“Gak apa-apa!” Jawab Reyhan.


“Mikirin siapa sih, mikirin Lina yaaa?” Ucap Rahdi menggoda sahabatnya.


“Apaansih Di, enggak, gua gak mikirin Lina” ketus Reyhan. Rahdi terkekeh melihat muka salting nya Reyhan.


“Udah yuk ke kantin aja laper nih kita-kita” ucap Rahdi.


“Iya Rey ayo” cecar Keano.


“Yaudah yuk”


Reyhan dan keempat sahabatnya menuju kantin untuk makan siang, perut nya juga dari tadi sudah keroncongan, namun dia tahan karena pikirannya kalut dengan omongan adiknya tadi pagi.


****


Bel pulang berbunyi, Erika dan sahabat nya berada di area parkiran untuk pulang ke rumah masing-masing. Reyhan dan sahabatnya melihat Erika di area Parkir menghampiri adiknya.

__ADS_1


“Er”


“Apa?”


“Er pulang ke rumah ya, please” ucap Reyhan.


“Bawel lo, pulang-pulang aja sana!” Ketus Erika menaiki motornya, memakai helm, melajukan motornya keluar area parkiran sekolah meninggalkan sahabatnya.


“Hufffttt, harus dengan cara apa lagi gua ngebujuk Erika” gumam Reyhan.


Diperjalanan Erika meminggirkan motornya ke pinggir jalan, males banget sebenarnya pulang ke rumah, mau gak mau turutin kemauan tuh orang! Pikir Erika. Erika melajukan motornya kembali menuju rumahnya. Erika telah sampai di mansion keluarga Fernandez, Erika memegang gagang pintu itu lalu membuka pintu dan masuk ke dalam, dia berjalan biasa aja, dia juga udah liat kalau ada orang tuanya di ruang tengah.


"Ingat pulang juga kamu!" cetus Mike.


"Sebenarnya saya males pulang, karena di desak sama anak pertama kalian, mau gak mau saya pulang, saya pulang hanya mengambil pakaian dan barang-baran aja, gak lebih" ketus Erika. Mike berdiri menatap anak keduanya.


"Jaga ucapan kamu!" ucap Mike menunjuk muka Erika.


"Hmmm, udah kan ngocehnya, boleh pergi gak?" ucap Erika bertanya. Erika pergi menuju kamar nya, mengambil barang-barang keperluannya dan memasukkan ke kopernyarnya, lalu mengambil pakaian nya dan masukkkan ke kopernya. ada 4 koper beeserta rak cat kanvas berukuran besar dan sedangkan tidak bisa di masukkan ke koper dan ada piano eltrik besarnya segitar, dia tidak membawa piano besarnya, karena itu pemberian dari kakaknya jadi dia tidak membawanya, dia ada piano di apart milik sendri. Lalu keluar dari kamarnyamembawa piano dan tas sandangnya dan mengangkut koper-kopernya satu persatu keluar rumah.


Reyhan yang baru sampai dari rumah sahabatnya mengerjakan tugas sekolahnya, terbelalak matanya melihat koper dan kavas di ruang tengah.


"Dek mau kemana? kok bawa barang-barang lu ke bawah?" tanya Reyhan.


"Pah! kok papah ngomong kayak gitu, Erika anak papah juga pah!"


"Kalau dia anak papah harusnya dia nurut dong, sama omongan papah, bukan membantah!"


"Tunggu apa lagi kamu, sana keluar!"


"Hmmmm"


Erika berjalan keluar membawa semua koper, kanvas dan rak cat miliknya keluar, lalu dia memesan mobil online untuk membawa barangnya.


Reyhan berlari keluar ke adiknya memegang tangan adiknya. Erika hanya menatap kakaknya tanpa ekspresi, hanya datar yang diia tunjukkan.


"Dek, adek mau tinggal di mana, kakak boleh tau gak, siapa tau kalau adek laper kakak bawain makanan" cetus Reyhan dingin dan menunjukkan ekspresi yang gak kalah datar dari adiknya.


"Gak usah gua bisa beli di luar, simpan aja uang lu buat keperluan lu, gua gak butuh di kasihanin, gua juga bukan dari keluarga Fernandez lagi, jadi buat apa gua bertahan di sini.


Dia melanjutkan jalannya, mobil online yang dia pesan telah datang di depan gerbang mansion keluarga Fernandez, Erika membawa barang-barangnya keluar, Reyhan hendak membantu dirinya, tangannya di tepis kasar oleh Erika. supir sudah memasukkan barang ke bagasi mobil, Erika masuk kembali mengambil motornya.


"Gak usah hubungin gua lagi" Erika melajukan motornya keluar gerbang, memerintahkan supir untuk mengikuti dirinya.


"Ikutin saya aja pak"

__ADS_1


"Baik nona"


Erika melirik sekilas ke Reyhan, lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang, supir mobil online masuk ke mobil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mengikuti motor yang ada di depan mobilnya.


.


.


.


Reyhan masuk ke dalam rumah, lalu melirik sekilas ke orang tua dan adiknya melanjutkan jalannya ke kamarnya mambanting pintu kamarnya dengan kasar. kedua adiknya tersontak kaget dengar tutup pintu dengan keras, Mike menghela nafas panjang memejamkan matanya berpikir apa yang di lakukan dirinya terlalu berlebihan atau tidak kepada anak keduanya.


"Maafin papah Rey, ini demi keutuhan keluarga kita, anak yang tak tau aturan, lebih baik keluar dari rumah ini! Batin Mike".


.


.


.


Erika sudah sampai di Apart nya, lalu turun dari motornya, membantu pak supir mengeluarkan barangnya keluar dari mobil.


"Ini bayarannya pak, kembaliannya ambil aja"


"Terimakasih nona, semoga rezeky nona bertambah, Aamiin"


"amin, makasih pak"


"Sama-sama nona, saya permisi dulu"


"Okey, hati-hati pak"


"Siap nona"


supir itu masuk kembali ke dalam mobilnya, melajukan mobilnya pergi dari kawasan Apart Erika. Erika membawa keempat koper nya dan kanvas dan rak cat belakangan di bawanya, karena tangannya cuman ada dua, gak mungkin dia membawa barangnya semua ke Apart. Dengan pelan membawa kopernya ke dalam Apart, tapi dua koper ditangannya sangat berat, berisikan cat-cat untuk melukisnya. Tak sengaja dirinya menabrak seseorang, mengakibatkan tubuh mungil nya tertimpa koper-koper besar, cowok itu membantu cewek yang dia tabrak, mengangkat koper-koper yang menimpa cewek itu.


"Sorry, sorry lu gak apa-apa?” tanya cowok itu.


"Aduh, heee kalau jalan tuh pake mata!" Kesel dirinya, Dia langsung berdiri.


"Ada juga jalan pake kaki mba, udah gua bantuin, gak tau terimakasih" ketus cowok itu.


"Bacot lu, Gua gak perlu bantuan lo, bye"


Erika membawa kemali koper-koper miliknya dengan sekuat tenaganya, masuk ke dalam lift, karena gak mungkin kalau naik tangga, pasti bakal kurus kering nanti, bakal makin kecil badannya.

__ADS_1


__ADS_2