Erika (BadGirl)

Erika (BadGirl)
03 // Kesengsaraan


__ADS_3

Dirumah keluarga Intan Anindita Leverent, keluarga Leverent keluarga konglomerat dan terpandang di seluruh indonesia, orang tuanya mempunyai 20 perusahaan di indonesia di berbagai daerah, di London 40 perusahaan, orang tuanya adalah ketua mafia Evelyn jabatan ketua Evelyn di turunkan ke Ayudia dan ketua mafia Neward jabatannya juga di turunkan ke Regrar, jadi Intan anak mafia keturunan London-Indonesia jadi ada bule-bulenya dikit keturunan dari bokapnya, nyokap Asli jakarta.


Orang tua Intan sudah mengenal Erika sudah lama, ia udah di rumah Intan sahabatnya, berusaha membujuk Erika sampai menggeret dia menuju motornya, habis itu dia akan di ceramahi lagi sama orang tuanya karena bolos sekolah. Dirumah Intan sepi Mommy and Daddy sedang sibuk dengan kerjaan mereka, jadi Intan kesepian, cuman ada maid dan para Bodyguard nya. Dan ada anak buah Daddy nya juga dirumah nya.


Luka yang ada di wajah Erika dan kepalanya juga sudah di obati, memar di tubuhnya sudah di kompres dengan air hangat, Intan meelanjutkan main game pubg di handphonenya.


“Intan” rengekan Erika mengelendot manja di lengan sahabatnya.


“Hmmm” dia melirik sekilas ke Erika, berkutat kembal ke game nya.


“Laper, dari semalam belum makan” lirih Er memasang wajah lemas seperti belum makan sebulan.


“Ck, nyusahin aja, yaudah bentar tunggu sini jangan kemana-mana, gua ambilin dulu kebawah” berdecak sebal, Intan menaruh hp nya kasar, berjalan keluar kamar menuju dapur mewah keluarga Leverent lengkap dengan meja bar nya.


Maid yang ada di kamar deket dapur menghampiri anak majikannya “Nona----sedang apa, Nona mau di buatin apa?” Tanya maid.


“Buatin makanan dong” cetus Intan singkat menampilkan muka datarnya.


“Baik Nona, biar saya bikin kan” ucap maid, langsung menuju kulkas menyiapkan semua bahan-bahan untuk di masak.


Intan menunggu di meja bar, selagi makanannya dibuat, sambil memainkan hp nya membuka sosial media miliknya di instagram makin lama makin naik followers nya, notification dm nya terus berbunyi di hp nya.


“Nona, makanan sudah siap di meja makan” ucap maid, Intan mendongakkan kepalanya sekilas, ia berdiri berjalan menuju kamarnya kembali.


Erika tertidur di kasur empuk milik Intan, matanya sangat berat efek nangis di pemakaman. Intan berjalan menuju kasur nya mengelus rambut panjang hitam bergelombang milik sahabat nya, dia lihat luka-luka dan memar di wajahnya dan badannya.


“Er,,,,Er bangun Er, katanya mau makan?” Ucap Intan membangunkan sahabatnya, dia menggoyangkan tubuh sahabat nya, ditepis tangan Intan kasar.


“Er woy BANGUUNNNNNN!” Teriak Intan melengking membangunkan anak kebo di kamarnya yang susah banget di bangunin.

__ADS_1


“Eughhhh, apasih Intan, gue ngantuk astaga” menggeliat Erika meringkuk kembali yang tadi dia menghadap sahabatnya sekarang berubah posisi membelakangi sahabatnya.


“Lo katanya tadi mau makan gimana sih!” Berdecak sebel Intan ngeliat kelakuan sahabat ogeb nya.


“Iya ntar aja, 5 menit lagi” ucap Erika menyodorkan 5 jari tangannya.


“Bangun gak, kalau lu gak bangun gua pindahin tubuh lo ke sungai Ciliwung biar di bawa hanyut!” Ancaman Intan, Erika langsung melotot matanya berubah posisi tidurnya jadi duduk.


“Jangan dong, nanti kalau gua dimakan buaya gimana! Ini udah bangun” ucap Erika mengucek matanya, mengumpulkan nyawanya sebentar.


“Biarin aja, biar lu mati sekalian” ucap Intan.


“Dih jahatnya mulut mu”


“Udah ayo ahh, jangan kebanyakan cangcingcong” cetus Intan berjalan keluar kamar meninggalkan Er di kamar.


Erika bangun dari kasur berjalan membuntuti sahabatnya keluar, menutup pintu kamar sahabatnya.


“Gua pelihara Harimau, itu di belakang lu” Intan menyenderkan tubuh nya ke kursi, menyilangkan tangannya. Erika menengok pelan ke belakang badannya.


“AAAARRGGGHHHHH!!!” Erika berteriak langsung berlari ke belakang badannya Intan, intan terkekeh pelan.


“Lu sejak kapan pelihara harimau INTANN!!” Tanya Erika takut memegang erat pundak sahabatnya.


“Dari dulu gue pengen, umur nya masih satu setengah bulan kok, gitu aja takut, tapi nyokap bokap gak selalu kasih, jadi gua ancem mereka gak mau nerusin perusahaan mereka, baru deh mereka mau kasih” ucap Intan masih dengan muka datar nya, tatapannya menuju ke peliharaannya yang lucu bernama Leo. “Namanya Leo, ganteng kan, lucu tau Er” sambungnya.


“Lucu matamu! gak ada lucunya, lu kan cewek pelihara binatang kucing kek, anjing kek atau kelici yang imut-imut, bukan binatang satwa kayak gini, orang tua lu dapet dimana coba” ketus Erika, memandang sahabatnya dengan tatapan tajam, kadang otaknya rada-rada konslet.


“Gak ahhh, udah biasa kalau pelihara binatang kayak gitu, gua mau berbeda dari yang lain” ucap Intan santai.

__ADS_1


“Kayaknya lo sakit deh!” cetus Erika.


“Sakit apaan? Gua sehat aja” ucap Intan mengerutkan dahinya, menengok ke Erika.


“Sakit jiwa” ketus Erika.


“Gua dorong lu ya ke Leo” Intan menarik tangan Erika ke peliharaannya, Erika berteriak langsung memeluk erat badan intan, kakinya memeluk pinggan ramping intan. Intan ketawa ngakak ngeliat ekspresi muka panik sahabatnya.


*****


Silvia mendengus kesal, Intan main meninggalkan dirinya aja di sekolah, kalau mau bolos ajak-ajak kek ini enggak malah bolos sendiri.


“Ihhh nyebelin, Intan nyebelin masa gua di tinggalin gitu aja sih di sekolah yang tidak ada tanda-tanda kehidupan, mana gua ketemunya manusia mulu, gak ada yang lain apa” gumam Silvia.


“Ya kalau lu gak mau ketemu manusia, mati aja dari sekarang” ucap Intan mode muka datar. Silvia tersontak kaget, menengok ke belakang.


“Ihhhh gua belum mau mati sekarang, gua dapet jodoh aja belom, nikah aja belom, Intan habis darimana sih, bolos gak ngajak-ngajak, kan gue juga mau bolos males ikut pelajaran bu Sri otak gua gak nyampe” ketus Silvia.


“Makanya otak tuh di asah dulu, sorry tadi gue nyari Erika dia gak masuk sekolah kan, sekarang dia lagi di rumah gue” ucap Intan duduk di samping sahabatnya.


“Terus Erika gak apa-apa kan Intan?” Tanya Silvia.


“Banyak luka di wajahnya, kepala nya juga berdarah, badannya memar-memar gua udah obatin kok, gue heran kenapa bokapnya jahat banget ya ke Erika” ucap Intan mengang dagunya dengan sebelah tangannya.


“Lo tau darimana kalau bokap nya perlakukan kasar?” Tanya Silvia.


“Gue semalam nelpon Erika tapi gak diangkat, gua lacak nomer telponnya, ehh ternyata dia lagi di club mabuk-mabukkan, yaudah gua bawa dia pulang ke rumah, dia malah di seret sama bokapnya dipukul habis-habis an, di situ gua masih di depan rumah Erika gua gak bisa pisah in, dengan amat terpaksa gua pulang ke rumah biarkan itu urusan Erika. Paginya gua lacak lagi nomer Erika ternyata dia di pemakaman, pemakaman Fadel, pacar nya yang dulu udah meninggal, lu masih inget kan?” Ucap Intan menceritakan soal semalam Erika di club, pagi ke makan, kesiangan gak sekolah malah keluyuran.


“Masih inget kok si Fadel, Kasian banget hidup Erika” cetus Silvia dengan ekspresi sedih, menatap rerumputan di taman.

__ADS_1


“Itu udah terjadi mau gimana lagi, dia kan gak diizinin untuk melukis sama jadi pianist, tau sendiri bokapnya kayak gimana” Intan menatap air mancur di tengah taman, sambil menyilangkan tangannya.


__ADS_2