
Di pagi hari awan hitam berkumpul hujan pun turun sangat lebat, mengeluarkan air dan sudah membasahi bumi dan seisinya, Erika sudah bangun dari awal, ntah kenapa dia sudah bangun lebih cepat dari temannya, dia terduduk di balkon Apart nya memakai hoodie hitam dan jaket Levi’s hitam, dengan celana training hitam, sudah seperti orang mau nyelawat, Erika tipe orang yang gak suka pakaian, celana atau jaket dengan warna mencolok, dia menyukai warna hitam, abu-abu, dan putih warna itu yang dia suka.
Cuaca hari ini sangat dingin, karena hujan turun, jadi Erika dan kawannya belum bersiap-siap untuk berangkat sekolah, Erika ingin sekolahnya terkena banjir hari ini, malas untuk keluar dari Apart apalagi ke sekolah ketika hujan, pasti para siswa akan mengeluh.
Kedua gadis yang masih di kasur masih tidur dengan selimut tebal Erika, di saat Intan yang posisinya di tengah berbalik posisi ke kanan, tangannya meraba-raba tidak menemukan gadis yang tidur di samping dirinya.
Intan terbangun duduk di tengah kasur, karena posisinya dia ditengah, hidungnya mengeruk, Intan tidak suka dingin pasti dia akan flu, dia bergerak mengambil jaket Levi’s setengah hitam setengah putih, dalamnya dia sudah memakai hoodie putih, dan celana training hitam, dia menghampiri Erika.
“Hujan lagi, benci banget gua” gumam Intan, Erika menoleh ke sampingnya lalu menengok lagi ke depan.
“Kenapa lo benci hujan, gua suka hujan” cetus Erika.
“Gua punya adik tapi dia sudah gak ada, setahun yang lalu gua dan adik gua keluar untuk pergi makan malem di luar, karena gua dan adik gua udah lama gak makan di luar, tiba-tiba ada orang menjegat motor gua terus mereka menarik adik gua, di saat gua ingin meraih menarik tangan adik gua, gua di gebukkin habis-habis an sama orang itu, dan adik gua di lakukan tidak senonoh sama 5 pria secara bergantian, di situ hujan pun turun begitu deras, gua disitu udah babak belur dan orang itu masih saja melakukan aksi bejadnya ke adik gua, dan salah satu pria itu ada yang membawa belati di tangannya, lalu belati itu menancapkan ke arah leher adik gua, lima pria itu kabur, dan gua merangkap menghampiri adik gua, gua cek nadinya sudah berhenti, nafas nya sudah tidak ada, disitu gua merasa tidak berguna menjadi kakak, dan sampai sekarang gua mencari keberadaan lima pria yang udah ngebunuh adik gua, tapi belum ketemu, dan mulai saat itu gua membenci hujan, gua lihat hujan keingat mendiang adik gua.
“Jadi lo punya adik, bener berengsek pria itu, terus lu belum cari lagi keberadaan pria itu kemana?” cetus Erika bertanya.
“Belum, tapi gua tetep cari keberadaan mereka, mereka tidak bisa bebas gitu aja” cetus Intan.
“Semoga ketemu yang udah ngebunuh adik lo” ucap Erika. “Tunggu berarti lu hilang setahun, itu karena,,,” sambung.
“Karena gua butuh ketenangan atas meninggalnya adik gua, sorry ya lu berdua cariin gua ya?” Ucap Intan bertanya.
“Iyalah anying, gimana gak nyariin, di telpon gak bisa di chat gak bales” cetus Erika.
“Sorry”
“Hmmm”
“Sabar ya Tan” ucap Erika menepuk pundak Intan pelan, balas Intan dengan anggukkan.
__ADS_1
“Hmmm, Er kita gak usah masuk sekolah aja, malem kita ke club yuk, mau gak? kita minum, udah lama kan gak minum.
“Boleh, kita minum sampe mabok oke!" cetus Erika.
“Enggak ada! lu kalau udah mabok nyusahin ******!” kesel Intan.
“Bener tuh apa kata intan” celetuk Sisil baru bangun merasa terusik dengar suara mereka di balkon, dengan pintu terbuka, kedengaran sampai dalam, masih dengan menggunakan piyama tidur milik Erika dengan muka bantalnya dia berjalan menyenderkan tubuhnya
“Yahhh gak asik lu pada" cemberut memonyongkan bibirnya.
"Gak usah cemberut kayak gitu, gua gak mau ya dapet serangan dari bokap lo lagi!"
“Tidur lagi ajalah yuk kita Tan, udah gak usah dengerin omongan yang gak masuk di akal dari mulut Erika" ucap Silvia.
"Skuuyy"
...****...
“Lo tinggal dimana sih Er, di telpon juga gak aktif lagi, Ck” gumam Reyhan.
.
.
.
Mobil Erika sudah di Club malam mereka bertiga sudah berada didalam, mereka tengah duduk di atas meja bundar yang di penuhi dengan botol-botol alkohol. dengan kasar, Intan merebut gelas wine yang berada di tangan Erika.
"Udah cukup Er" Cetus Intan.
__ADS_1
"Yaahhh, padahal gua masih mau minum lagi tantan" balas Erika pelan, matanya sudah mulai memberat karena efek alkohol. tapi ia tidak ingin berhenti meneguk minuman haram ini.
"Besok kita sekolah Er, nanti kesiangan karena efek mabok!!" geram intan. "Ayo pulang, ayo Sil" cetus intan.
Intan dan Silvia bahu membahu membopong Erika yang sudah sempoyongan keluar dari club, menuju mobil, mendorong tubuh Erika dengan kasar ke jok belakang hingga tersungkur di injakkan kaki mobil, Erika tidak bangun membenarkan duduknya, ia sudah terkulai tidak sadarkan diri.
Pria yang duduk disamping kaca besar lebar club memperhatikan mereka, Pria yang memperhatikan mereka Gerry Renegrar William tapi dia melihat gadis yang di sebelah gadis kecil yang pernah dia tabrak, Gerry bergelut dengan pemikirannya, gadis tinggi itu? mata Gerry terbelalak kaget ternyata gadis itu adalah kakak dari adiknya yang di lecehkan sama dia dan temannya, ternyata masih hidup, bukannya dia udah tak berdaya ya karena habis di hajara bener-bener parah.
“Kalau sampai ketahuan gua dan temen gua akan masuk penjara, gua harus main aman” gumam Gerry.
“Ger lu ngapain, liatin tiga cewek itu serius banget!” Cetus Rebert si cowok bebadan kekar, berisi, dengan wajah tampan yang bikin wanita kepincut, tapi gini-gini dia sama dengan Gerry dingin, cuek, tapi dia tidak pandai dalam hal beladiri, dia masih berlatih untuk itu.
“Nanti gua kasih tau, tapi bukan disini” ucap Gerry.
“Hmmm”
...****...
Beberapa menit di perjalanan, mobil Erika masuk ke area parkiran Apart, mereka berdua membopong kembali Erika masuk kedalam Apart nya. Intan membaringkan badan Erika ke kasur, dia pun sebaliknya, terasa lelah, Silvia membantu melepaskan septu dan jaket yang Erika pakai.
"Yuk Sil kita pulang, besok kan kita harus sekolah, lu mau kita bolos lagi, orang tua kita tau kita bolos, pulang-pulang nyawa kita udah ilang dari tubuh kita" celetuk Intan.
"Ihh gak mau lah, gua masih sayang nyawa kali, ntar orang tua gak punya anak lagi yang secantik, seimut dan sebahenol gua" cetus Silvia.
"Orang tua lu pasti Rela kalau lu mati Sil, udah capek mereka ngeliat tingkah lu kelayapan mulu kayak ****** tiap malam hahahaha" ucap Intan tertawa ngakak.
"Yee si ******, ngajak ribut lu ya!" cetus Silvia.
"Pease, mba bro, Hehehehe”
__ADS_1