
"TIdak, tidak, tidakkk, jangan, jangan membunuhkuu!" Teriak Junghwan mengigau.
Karena mimpi yang buruk, Junghwan pun terbangun di pagi buta. Ia mengecek jam dan menyadari bahwa sudah pukul 5.30
Junghwan pun bergegas
mandi dan pergi ke sekolah dengan naik bus. Ia telah berpamitan dengan
abangnya bahwa ia sudah pergi melalui chat mereka.
Kira kira, apa yang akan dilakukan Junghwan di sekolah pagi pagi?
*FLASHBACK*
"Yewon, sepertinya aku akan berangkat pagi sekali besok" Ucap Junghwan sebelum tidur.
"Lahh, ngapain pagi pagi, nanti gak ada orang loh" Ucap Yewon.
"Ya emang sengaja, mau ngurusin sosok itu dulu" Ucap Junghwan dengan berani.
"EHHH??! BENERANN??! Nanti pingsan lagi gimana?" Ucap Yewon khawatir.
"Semoga berani" Ucap Junghwan singkat.
"Ehhh, tapii..." Ucap Yewon terpotong.
"Dahh ah mau tidur" Ucap Junghwan
"Ahh terserahlah" Ucap Yewon kesal.
*LANJUT CERITA*
Akhirnya setelah
perjalanan lama, Junghwan sampai di sekolah. Seperti dugaannya, sekolah
masih sepi, bahkan tidak ada orang, hanya ada cleaning service palingan.
Junghwan pun dengan berani memasuki sekolah dan pergi menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, benar dugaannya, masih sepi dan jendela terbuka dan tertutup sendiri.
"Hahhhh" Junghwan menghela napas.
"Heyyy, sosok, keluarlahhh, aku tak takut denganmu, apa yang kau mau?" Ucap Junghwan dengan berani.
Sosok itu pun keluar
dengan rupa yang sangat menyeramkan, sama seperti semalam dan membuat
Junghwan ketakutan, tetapi Junghwan berusaha memberanikan diri.
Sosok itu pun mulai
mendekati Junghwan dan membuat Junghwan makin ketakutan, tetapi sekali
lagi, Junghwan berusaha untuk tetap tegar.
Bukannya jadi menyeramkan, sosok itu malah berlutut didepan Junghwan.
"Tolongg aku" Ucap sosok itu sambil menangis.
Alangkah terkejutnya
Junghwan saat melihat sosok itu berlutut didepan minta tolong dengan
suara yang sangat lembut sambil menangis.
"K-K-Kau minta tolong padaku?" Tanya Junghwan masih tidak percaya.
"Iya, aku terjebak disini, aku tidak bisa tenang" Ucap sosok itu.
"E-Emangnya apa yang terjadi denganmu?" Tanya Junghwan tak lagi takut.
"Tutuplah matamu, dan aku akan menunjukkan apa yang terjadi padaku" Ucap sosok itu.
Sesuai dengan permintaan
sosok itu, Junghwan pun menutup matanya dan setelah beberapa saat,
sosok itu menyuruh Junghwan untuk membuka matanya dan...
"Ehhh, cerah?" Tanya Junghwan pada dirinya sendiri kebingungan.
"Ini di masa lalu" Ucap sosok itu.
"Ahhh, masa lalu" Ucap Junghwan baru sadar.
Junghwan menyadari bahwa ia ada di masa lalu sosok itu dan akan melihat apa yang membuatnya meninggal.
Dan, Junghwan mendengar
suara kekerasan di kelas sebelah. Junghwan pun langsung bergegas menuju
kelas sebelah, yang mana merupakan kelasnya di masa sekarang dan melihat
seorang gadis yang sedang di bully oleh 4 temannya.
"Heyyy, kau hanya murid baru, jangan berlagak kau disini" Ucap salah satu perempuan sambil menampar perempuan yang di bully itu.
"Dan kau, jangan mentang
mentang kau dikagumi para laki laki disini, kau bisa berbuat seenaknya
__ADS_1
disini" Ucap yang satu lagi sambil menjambak rambut perempuan itu.
Mereka tetap menampar,
menjambak, dan tak sekali juga mereka menjepitkan tangannya di jendela
itu. Dan sampai akhirnya gadis yang di bully itu berani menampar salah satu dari mereka yang mem bully nya.
"Ohhh, sudah berani kau yaa hahh??!" Ucap perempuan yang mem bully nya sambil menjepitkan tangannya di jendela lebih keras lagi.
Perempuan itu meringis
kesakitan dan betapa geramnya Junghwan ingin berbuat sesuatu tapi tidak
bisa, karena ini adalah masa lalu, dimana kejadian ini sudah terjadi,
dan tak bisa dibalikkan.
Sampai, akhirnya perempuan yang di bully itu mulai jatuh dan menghembuskan napas terakhirnya dengan tak berdaya.
"Heii, bangun!" Ucap salah satu temannya.
"Jangan pura pura kau disini!" Lanjut temannya yang satu lagi.
"Hei, Minju, coba kau cek napasnya, apakah ia masih bernapas atau tidak" Ucap temannya.
Junghwan mulai tau jika
perempuan yang berparas cantik itu namanya Minju, dan ia pun terus
mendengar dengan teliti agar ia bisa tau nama nama lainnya.
"Iya, iya, cerewet sekali kau, pantas saja namamu Eunbi, ternyata memang sesuai artinya, cerewet" Ucap Minju.
Junghwan pun mendapat satu nama lagi, Eunbi, yaitu perempuan yang berambut pendek itu.
"Heyyy, kau mau ku bully juga?" Ucap Eunbi marah.
"E-E-Eunbi... NAKO SUDAH MENINGGALLLL!" Teriak Minju histeris.
"Hahhhh???! Masak sihhhh???!" Ucap 2 teman lainna serentak.
"Hahh? Kok bisa?? Haduhh, gimana ini?" Ucap Eunbi mulai berpikir cara agar tidak ketahuan.
"Ahh, aku dapat ide" Ucap Eunbi.
"Begini, Yuri dan
Chaewon memanggil guru dan bilang bahwa Nako bunuh diri di jendela ini,
bilang bahwa kita sudah menariknya turun tapi ia sudah melompat duluan,
dan aku dan Minju disini akan mengangkat mayat ini dan menjatuhkannya
melalui jendela ini" Ucap Eunbi.
mengetahui semua namanya, 2 teman lainnya yang berambut panjang, yang
satu blonde bernama Yuri dan yang berwarna coklat namanya Chaewon.
"Ahh, begituu, sekarang aku sudah tau nama namanya, aku hana perlu melihat kejadian selanjutnya" Pikir Junghwan.
"Dah, cepetann sanaaa" Ucap Eunbi.
"Iya, iya, siap bosss" Ucap Chaewon dan Yuri serentak.
"Minju, bantu gw gihh, cepet, sebelum guru datang, mana bisa gw angkat ini sendirian, cepetannn!" Suruh Eunbi.
"Iye, iye, ini jugak lagi mau bantu" Ucap Minju.
Akhirnya, Minju dan
Eunbi pun mengangkat mayat Nako dan menjatuhkannya melalui jendela, dan
mereka pun berpura pura berakting bahwa mereka tidak tau apa apa.
Setelah beberapa saat, guru serta kepala sekolah pun datang dengan mengetahui bahwa Nako telah bunuh diri.
"Ahh sekarang aku sudah tau, mereka membunuh Nako dan memutarbalik fakta bahwa Nako lah yang bunuh diri" Ucap Junghwan.
"Ahhhh, pintar juga aku" Lanjut Junghwan memuji dirinya sendiri.
Tiba tiba, Junghwan seperti ditarik oleh sesuatu dan tidak sadar, ia sudah sampai di masa sekarang.
"Ehh, sudah?" Tanya Junghwan kebingungan.
"Lahh sosok itu dimana? Kok hilang??" Tanya Junghwan makin kebingungan.
"Sebenarnya, aku harus melakukan apa?" Ucap Junghwan semakin kebingungan lagi.
Akhirnya Junghwan pun duduk di tempat duduknya dan menunggu bel berbunyi.
"Hehh, Wan, Junghwann, hehh" Suara yang membuat Junghwan terbangun.
"Ehh, ehh, apaan" Ucap Junghwan yang masih setengah sadar.
"Wahh, Junghwan, terlelap yaa... haha, pagi sekali kamu datang hari ini" Ucap Ms Novi.
"Ehh, pagi Ms Novi" Ucap Junghwan dengan sendirinya.
"Haha, sudah sudah, buka buku Hukum halaman 5 ya" Ucap Ms Novi.
Junghwan pun lekas mengeluarkan bukunya dan langsung membuka halaman 5.
__ADS_1
Pembelajaran pun dimulai sampai akhirnya bel berbunyi menandakan waktu istirahat.
"Ye...." Teriak Han kegirangan yang terpotongan.
"Han, sudah, jangan berteriak, aku tau kau ingin berteriak kan?" Ucap Yujin.
"Hihh, iya, iya" Jawab Han kesal.
Guru serta murid murid pun secara berombongan keluar kelas untuk pergi ke kantin, kecuali Junghwan.
"Junghwan, elu napa semalem, katanya elu pingsan ya?" Tanya Felix.
"Hooh, elu gapapa Hwan?" Tanya Yujin.
"Iye, iye, gw gapapa, cuma karena oyong doang kok" Jawab Junghwan.
"Dah, gw mau ke toilet" Lanjut Junghwan.
Junghwan pun pergi ke toilet sendiri dan cuci mukanya yang masih mengantuk itu sambil bergumam
"Haduhh, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Junghwan sambil mengacak acak rambutnya.
Tiba tiba, seorang gadis datang dari belakang untuk mencuci tangan.
"Hihh, masalah gitu doang, masak gak bisa, IQ elu berapa?" Ucap gadis itu dengan santainya.
"Hehh, elu datang
darimana?? Datang datang kok malah ngejek dengan santuy lagi, emang tau
darimana masalah gw, dan IQ gw? IQ gw tinggi taukk, sering dapet
peringkat pertama kok, pernah menang lomba atlet sama matematika ya
walaupun sekali, tapi siapa elu?" Jelas Junghwan kesal.
"Terserahmu saja" Balas gadis itu.
Junghwan pun tampak
makin kesal dan ingin memaki gadis itu lebih lagi, tetapi karena
emosinya tertahan, akhirnya ia kembali ke kelas dengan raut muka yang
tampak kesal.
"Ehh, Hwan, elu nape? Tadi perasaan biasa aje, ini kok malah kesel nampaknya?" Tanya Jisung.
"Gapapa, kesel doang gara gara tadi air nyemprot ke mukak gw" Jawab Junghwan.
"Lahh, air nyemprot doang" Ucap Jisung.
Di tengah pembicaraan mereka, terdengar Handphone Yujin yang berdering.
"Halo?" Sapa Yujin.
"Yujin, kakak mau minta tolong, nanti di perjalanan pulang, belikan telur ya" Ucap seseorang yang tampak seperti kakaknya.
"Ok kak Minju yang cantikk, mau berapa lusin?" Tanya Yujin.
Junghwan pun terkejut
atas nama yang disebut Yujin, mengingat bahwa pembunuh gadis jendela itu
bernama Minju. Junghwan pun mulai berpikir dan tenggelam dalam
pikirannya.
"Minju? Bukannya itu pembunuh Nako ya? Tapi dia terdengar gak bersalah atas perbuatannya di masa lalu" Pikir Junghwan.
"Tenang, Junghwan, tenang, yang namanya Minju itu bukan cuma satu di dunia, aku harus cari tau lagi" Pikir Junghwan lagi.
"Ok kak" Ucap Yujin sambil menutup teleponnya, menandakan bahwa pembicaraan mereka sudah selesai.
"Wahh, Yujin, kakakmu secantik apa?" Tanya Junghwan dengan santai.
"Ohh, kakakku? Kak Minju
itu dulu sekolah disini juga, dan katanya ini tempat duduknya pas
sekolah, dan dia juga pernah dapet medali atlet perempuan lohh, maka
dari itu, aku sangat bangga terhadapnya" Jelas Yujin.
"Kalo boleh, bisa tunjukan foto kakakmu?" Tawar Junghwan.
"Ohhh, bolehh, ini dia" Tunjuk Yujin.
Alangkah terkejutnya Junghwan bahwa yang dilihatnya adalah pembunuh Nako yang bernama Minju itu ternyata adalah kakaknya Yujin.
"Ahh kamjagiya" Junghwan terkejut.
"Ehh, Junghwan, kenapa? Terkejut sama kecantikannya ya?" Tanya Yujin meledek.
"Hehe, iya, kakakmu cantik sekali" Ucap Junghwan.
"Bangganya Yujin
terhadap kakaknya yang merupakan seorang pembunuh, aku harus membuntuti
Yujin hingga sampai kerumahnya dan berbicara dengan Minju. Dia harus
mempertanggungjawabkan semuanya" Pikir Junghwan
__ADS_1