
~Happy Reading~
π·π·π·π·πΌπ·π·π·π·
Dimas dan Adri berjalan menuju kelas mereka setelah habis dari kantin. Tapi tiba tiba langkah Dimas terhenti ketika melihat seorang pria yang ia ketahui adalah seangkatan dengan nya yaitu sama sama kelas 9 ya hanya saja berbeda jurusan.
Dan sepertinya mereka terlihat akrab dari segi penglihatan Dimas dan itu menimbulkan sedikit rasa tidak sukanya walaupun dia tidak yakin dengan itu tapi bisa saja sudah ada rasa di salah satu sudut hatinya untuk Rania. Mereka bahkan bercanda dan tertawa bersama yang bahkan kalau bersama dengan dia gadis itu bahkan tidak pernah sebahagia itu sepertinya. Menyebalkan!.
"Lo udah ngerjain tugas guru killer itu Dim!". Tanya Andri karena tidak mendapatkan jawaban dia pun melihat kearah samping dan tidak mendapati sahabatnya itu dan malah melihat Dimas berdiam diri lumayan jauh dari tempatnya saat ini.
"Woyy". Seru Andri sudah berdiri disamping sang sahabat dan berhasil membuat Dimas sadar dari lamunannya.
"Ngapain bengong disini nanti kesambet baru tau rasa lo".
"Lihatin apa si". Melihat diamana tadi Dimas melihat tapi sayang Rania sudah tidak kelihatan lagi.
"Gak gak ada". Sahut Dimas dingin dan berlalu terlebih dahulu.
"Dih kenapa tuh bocah". Ucap Andri binggung melihat perubahan sikap dingin Dimas.
"Woyy tungguin napa". Teriaknya dan menyusul sang sahabat yang sialnya tidak menyahut bahkan melihat kearah nya.
Rania baru masuk kedalam kelas dengan senyum yang tidak lepas dari bibir mungilnya dan itu tidak lepas dari penglihatan Naya. Setelah Rania duduk di sebelahnya barulah ia bertanya.
"Bahagia banget Ran kenapa nih". Tanya Naya iseng.
"Emm... menurut kamu kak Rio itu gimana". Bukannya menjawab ia malah bertanya balik.
"Gimana apa maksudnya". Tanya Naya balik. Binggung!.
"Cek ya menurut kak Rio itu gimana orang nya". Ulang Rania.
__ADS_1
"Gimana mau nilai ketemu aja baru sekali, tapi kalau dilihat di seperti nya orang baik baik sopan terus asik kalau diajak bicara". Jelas Naya apa adanya.
"Ya aku setuju sama pendapat kamu dan juga kak Rio... tampan". Sahut Rania dan diujung kalimat dengan pelan.
Naya mengerti sekarang kenapa sahabatnya itu bersikap seperti ini ternyata oh ternyata ada samthing.
"Kamu suka ya sama kak Rio". Tanya Naya langsung dan melihat gelagat aneh sang sahabat.
"Emang keliatan banget ya". Sahut Rania dengan cengengesan.
"Hemm... ya gitu tapi gak papa juga si kalau kamu beneran suka sama kak Rio asal dia singgel dan kamu singgel saran dari aku lebih baik kamu kenal lebih dekat dulu saling kenal dulu baru mutusin untuk pacaran". Saran Naya panjang lebar dan Rania hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Meli dan teman temannya saat ini sedang sibuk sedang memberikan undangan ulang tahun. Ya Meli akan ulang tahun sebentar lagi tinggal beberapa hari lagi dan ia ingin mengadakan pesta yang meriah di hari dimana usianya bertambah nanti dan dia ingin semua murid disekolah ini datang dan melihat bagaimana perayaan pesta yang bisa dipastikan meriah dan terkesan mewah itu.
"Ini datang ya ke pesta ulang tahun gue". Ujarnya sambil memberikan kartu undangan tersebut dengan gaya sombong nya.
Karena mereka sudah tau sikap arogan dan sombong yang dimiliki oleh Meli dan Cs nya tersebut jadi mereka memilih untuk menghindar dan tidak meladeni. Mereka juga pasti tahu kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Meli.
"Malam Minggu ini ya". Ucap salah satu siswa pria.
"Iya datang ya jangan sampai lupa pesta meriah dan mewah nantinya nyesel kalau sampai gak datang". Pamer Nabila mewakilkan Meli yang tersenyum sombong itu.
"Pasti thanks ya undangan nya". Seru pria tersebut dan berlalu pergi.
"Mel lo udah ngundang si Kevin belum". Tanya Sasa sambil masih membagikan sisa undangan ke murid murid lain.
"Belum gue mau ngasih secara langsung sama Kevin tapi dari tadi gue belum liat dia dimana". Jawab Meli celingukan mencari keberadaan Kevin.
"Ih lo liat Kevin gak". Tanya Meli pada murid laki laki yang kebetulan lewat di depannya.
"Ada tuh dilapangkan lagi main sama anak anak lain,, yaudah gue duluan ya". Berlalu kembali melanjutkan tujuan sebelumnya.
__ADS_1
Meli langsung mengambil undangan yang berada pada tangan Nabila dan membawanya ke lapangan dimana Kevin berada. Saat tiba dia langsung menghampiri Kevin dan yang lainnya yang sedang main basket itu.
"Hay Vin maaf ganggu aku mau ngomong sama kamu boleh kan". Pinta Meli berhadap hadapan dengan Kevin di tengah tengah lapangan saat ini.
"Ngomong apa langsung aja gue lagi sibuk nih". Sahut Kevin tanpa basa basi.
Bukannya menjawab Meli malah bengong melihat Kevin dengan seragam basket dan jangan lupakan keringat yang membasahi wajah dan tubuh nya yang menambah kadar ketampanan dimata setiap wanita yang melihat tidak ketinggalan itu Meli sendiri.
"Woyy kalau mau gomong cepetan gak tau apa orang lanjut latihan mana panas lagi". Teriak Andri yang jaraknya cukup jauh dimana Kevin dan Meli berdiri saat ini.
"Ah ya maaf aku cuma mau ngasih ini undangan pesta ulang tahun aku malming ini". Menyudutkan undangan dan disambut dengan malas oleh Kevin.
"Kita gak diundang juga nih cuma si Kevin kah". Seru yang lain karena tidak mendapat undangan yang sama.
"Ih diundang kok jangan lupa datang ya Sa sini undangan nya bagiin ke yang lain ya". Ucapannya lembut penuh sandiwara agar bisa menarik perhatian Kevin tapi sayang nya Kevin tidak tertarik sama sekali melihat pun tidak.
"Pasti lah kita datang iya gak guys". Ucap yang lain.
"Dimas sama Andri juga ya datang jangan lupa". Ujar Sasa sambil memberikan undangan tersebut dengan malu malu terlebih kepada Dimas.
Karena Sasa menyukai Dimas sahabat baik dari Kevin pria populer sekolah ini yang juga tidak kalah tampangnya dengan Kevin. Merek bertiga Kevin Dimas Andri bisa dibilang adalah idola nya sekolah jadi wajar banyak yang mengharapkan mereka untuk dijadikan pacar bagi murid wanita dan teman bagi murid laki laki agar bisa dibilang populer juga kau sudah berteman dengan mereka tapi tidak lah mudah untuk menjadi teman Kevin karena ia sedikit selektif dalam memilih pertemanan.
Dia akan menerima jika yang mendekati ia dan kedua sahabatnya itu dengan niat baik tanpa ada niat terselubung tapi selama ini rata rata itu sulit untuk ditemukan jadilah mereka hanya bertikai sampai sekarang tanpa menambah anggota baru.
"Vin kamu datang ya aku tunggu lo". Tekan Meli.
"Akan aku usahakan". Hanya itu jawabannya kalapun ia ingin datang pastilah ia akan mengajak Naya nantinya.
Bersambung.....
π·π·π·π·πΊπ·π·π·π·
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak.......