
"Wah bisa kebetulan sekali ya ndri hahaha" Pak Mahardika ayah Amri tertawa girang.
Semua orang di ruangan itu tersenyum bahagia kecuali fara. Yang hanya bisa tertegun lalu menelan berat salivanya.
"Apa lagi ini Tuhan. Takdir mu benar-benar mengajak bercanda" Batinnya.
"Ayo fara sini duduk" Ajak bunda lembut sambil menepuk sofa disampingnya.
Fara melangkah canggung ke arah bunda. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah amri yang sedang duduk dengan tenang di kursinya.
"Fara kenalkan ini om mahardika, tante lia dan amri. Amri adalah anak om dika dan tante lia yang akan kami jodohkan denganmu dan ternyata kalian sudah saling mengenal jadi sepertinya akan lebih mudah prosesnya" Ucap ayah bersemangat.
"Mudah apa nya ayah, akan semakin sulit untukku menghindari perjodohan ini" Rutuk nya dalam hati lalu bangkit untuk menyalami om dika dan tante lia, dia hanya melirik amri lalu kembali ke tempat duduknya.
Sepanjang pertemuan hanya diisi dengan obrolan ringan dan sesekali gelak tawa yang memenuhi ruangan. Fara hanya bisa memandang dari satu orang ke orang yang lain. Bagaimana sang ayah dan om dika saling melempar canda atau sekedar bernostalgia tentang masa muda mereka.
"Fara coba kamu ajak amri ke taman samping rumah kita, kalian bisa mengobrol untuk memulai pendekatan" Ucap ayah Fara tiba-tiba.
Fara melongo, tapi tidak bisa menolak perintah ayahnya.
__ADS_1
"Ayo mas" Fara bangkit dari kursinya dan memberi kode amri untuk mengikutinya.
*Di Taman
Fara duduk di kursi kecil yang ada disana, begitupun amri yang sedari tadi hanya mengekor di belakang Fara.
Fara menggaruk keningnya yang tidak gatal. Bingung harus bagaimana memulai pembicaraan di kondisi yang begitu absurd ini. Akhirnya dia hanya mencabut-cabut daun dari tanaman hias bundanya yang berada paling dekat dengan dirinya. Pikir nanti saja apa bunda akan memarahinya atau tidak besok ketika tahu daun yang begitu berharga dari tanaman monstera sang bunda sudah terlepas satu persatu dari batangnya.
"Kamu ga suka sama perjodohan ini?karena aku orangnya atau karna perjodohannya" Amri membuka suara.
Fara menoleh menatap amri dengan bingung.
"Maksudmu mas? "
"Ooh... " Fara masih mencoba mencerna kalimat amri.
"Karena perjodohan nya mas, bukan karna kamu nya" Lanjut fara.
"Syukurlah kalau begitu"
__ADS_1
"Tapi tetap saja kita dijodohkan, dan itu bukan sesuatu yang aku inginkan" Fara kembali menambahkan.
Amri memutar tubuh Fara agar berhadapan dengan nya.
"Tapi aku sangat berharap kamu tidak menolak perjodohan ini fa" kemudian Amri bangkit dari duduknya perlahan meninggalkan Fara kembali ke ruang tamu berkumpul dengan yang lainnya.
Fara tertegun dan berusaha menenangkan jantungnya yang bertalu-talu mendapatkan perlakuan seperti itu dari amri barusan.
"Oh my god kenapa coba jantung gue" Desahnya lalu kemudian menyusul amri untuk bergabung dengan yang lain.
Malam itu pertemuan dua keluarga berjalan dengan lancar. Fara pun tidak melakukan penolakan yang berarti selain terus meyakinkan ayah nya agar memikirkan kembali keputusan nya untuk menjodohkan Fara setelah keluarga Amri pamit pulang.
Sampai akhirnya Fara harus kembali ke kota X karena harus bekerja lagipun Ayah sama sekali tidak menunjukkan tanda akan membatalkan rencananya.
"Ingat ya sayang, jaga diri mu baik-baik, bulan depan kami akan menyusul mu ke kota X untuk melangsungkan pertunangan kalian" Ucap bunda sambil mengelus kepala Fara.
"Iya bunda,,, "
"Ya sudah Fara berangkat, bye ayah, bye bunda, dah kak" Fara melambai kan tangannya kepada keluarganya dari dalam mobil.
__ADS_1
*Kota X
Fara sampai di rumahnya sendiri sekitar pukul 19.00. Dengan langkah gontai dia menuju ke kamarnya menjatuhkan diri di kasur empuknya. Dan tidak berselang lama sudah terbuai dialam mimpi melupakan sejenak permasalahan duniawi.