
Sudah lebih dari satu bulan Fara dan Amri menjadi rekan kerja satu kantor. Meski dalam kehidupan pribadi hubungan mereka tetap baik tapi Fara selalu menghindari Amri ketika berada di kantor. Dia tidak ingin menjadi bahan gunjingan teman kantor jika menampakkan kedekatan dengan Amri.
Dan Amri sama sekali tidak menunjukkan keberatan sama sekali dengan sikap Fara itu.
Drrdrrrzz HP Fara bergetar.
[Bunda: Assalamulaikum anak gadis bunda, kamu sedang bekerja ya? Jangan lupa makan ya.. Kalo kamu sempat, tolong telpon bunda ya nak, ] Begitu lah bunyi pesan yang dikirim bundanya.
Fara sedikit penasaran karna tidak biasanya bunda minta di hubungi ketika tahu dia sedang bekerja. Tapi rasa penasaran terlanjur mengisi pikirannya sehingga tidak konsen bekerja, jadi Fara memutuskan untuk ke toilet dan menelepon bundanya.
Fara menekan kontak bunda di HPnya.
[Bunda: Hallo assalamualaikum] Terdengar suara lembut bundanya di ujung sana membuat Fara yang sedari tadi gelisah bernafas lega.
[Fara: waalaikumsalam bunda, bunda apa kabar? Ayah dan kak Faisal bagaimana?]
[Bunda: alhamdulillah kami semua disini sehat nak, bunda minta maaf ya kalau mengganggu waktu bekerjamu, ada yang harus bunda sampaikan]
[Fara: gapapa bun, langsung bilang aja Fara mendengarkan]
[Bunda: ada hal yang harus kami sampaikan langsung sama kamu nak, jadi bisakah kamu minta izin cuti dari kantor dan pulang ke sini? ]
[Fara: apa ga bisa di telepon aja bun? Sebenarnya Fara agak ragu bisa dapat cuti dari kantor mengingat Fara baru saja dipromosikan belum lama ini, tapi akan Fara usahakan akhir pekan ini untuk pulang ya bunda]
[Bunda: baik nak, bunda tunggu kepulangan mu ya, selamat bekerja kembali, bye sayang]
[Fara: bye bunda]
Setelah mematikan gawainya Fara kembali ke meja kerjanya. Pikirannya melayang-layang berusaha menebak kira-kira apa yang ingin orang tuanya sampaikan sampai harus bertemu langsung kenapa tidak lewat telepon saja. Setelah menimbang-nimbang akhirnya dia memutuskan untuk ke ruangan pak danang untuk meminta izin cuti pulang kampung.
Tok tok tok..
"Ya masuk" Terdengar sahutan pak Danang dari dalam ruangannya.
"Selamat siang pak" Ucap Fara.
"Ah kamu fa, silahkan duduk" Kata pak danang mempersilahkan Fara duduk.
__ADS_1
"Pak, mohon maaf menggangu, ada yang mau saya sampaikan,bolehkah saya izin cuti besok untuk pulang ke kota Y karena ada urusan keluarga yang harus saya selesaikan. " Tanya Fara dengan gugup.
"Wah bisa kebetulan sekali ya kamu dan Amri sama2 izin cuti besok" Ungkap pak Danang sambil tertawa
"Hahh? " Fara cuma bisa melongo.
"Ya saya izinkan, tapi jangan terlalu lama ya, kamu cuma saya beri cuti 2hari saja" Lanjut pak Danang.
"Siap pak! Terima kasih. Kalau begitu saya permisi kembali bekerja"
Fara kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya. Dia harus menyelesaikan tugas-tugasnya lebih cepat karena harus bersiap-siap untuk pulang ke rumah orang tuanya malam ini juga.
Selesai jam pulang kantor fara melaju kan mobilnya kembali ke rumah untuk mandi dan mengambil barang yang akan dibawa. Meski ragu dia memutuskan untuk menyetir sendiri dari pada naik kereta atau bus.
Sepanjang perjalanan dia habiskan untuk menenggak kopi nya agar tidak mengantuk sambil mendengarkan musik kesukaannya. Sesekali dia berhenti di rest area untuk beristirahat dan ke toilet. Perjalanan pulang kali ini begitu terasa panjang, tidak seperti biasanya. Seolah ada hal besar yang akan dia hadapi saat bertemu ayah dan bunda nya nanti.
"Ahh aku lupa mengabari bunda kalau aku pulang malam ini"
Fara langsung mengambil gawainya dan mengirimkan pesan kepada bunda.
Drrrddzz
[Bunda: baik sayang bunda dan ayah tunggu ya, hati-hati dijalan jangan ngebut]
Fara hanya bisa menghela nafas berat. Jam tangannya menunjukkan pukul 21.00 malam, artinya masih sekitar 2.5 jam lagi dia bisa sampai rumah. Matanya semakin mengantuk dan tubuhnya sangat lelah. Tapi dia harus tetap fokus menyetir agar bisa segera sampai rumah.
Setelah melewati 2.5 jam yang panjang akhirnya fara bisa bernafas lega saat memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tuanya tercinta.
Rindu sekali rasanya setelah sekian lama tidak pulang. Dan sekarang dia pulang kerumah ini lagi. Rumah yang masih sama seperti terakhir dia tinggalkan. Rumah yang sama yang menjadi tempat nya lahir dan tumbuh besar.
Lampu ruang tamu masih menyala itu artinya masih ada yang terjaga menunggu dirinya sampai. Tanpa menunggu lama fara bergegas mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam.. " Suara berat ayah menyahut diiringi pintu yang terbuka.
__ADS_1
Fara tersenyum manis melihat ayah nya, ayah yang dia rindukan. Dan langsung memeluk ayah nya dengan erat.
"Fara kangen ayah, ayah sehat kan" Ayah melepas pelukan fara dan menangkup lalu menatap muka putri kesayangannya.
"Kalau kamu kangen kenapa tidak sering pulang, ayo masuk diluar dingin"
Ayah dan anak itu saling berangkulan seperti enggan terpisahkan lagi. Di dalam sudah ada kak Faisal yang sedang asik menatap layar laptop nya, Dan bunda yang sedang sibuk di dapur.
"Masih inget pulang juga kamu fa" Celetuk Faisal.
"Hemm kak, bisakah kamu tidak selalu sinis seperti itu, tidakkah kakak rindu sama adikmu yang cantik ini" Goda fara dan bergegas lari ke arah Faisal untuk memeluknya.
"Hampir saja lupa kalau aku masih punya adik perempuan saking sibuknya dia sampai tidak pernah pulang" Balas Faisal sambil menjauhkan fara dari tubuhnya.
"Sudah-sudah kamu ini tidak pernah puas kalau sudah menggoda adikmu Faisal" Ayah menengahi.
"Hallo sayang" Sapa bunda
"Hallo bunda kuuu" Fara berlari ke arah bundanya lalu memeluknya juga.
"Jadi apa yang mau kalian bicarakan sama fara? " Tanya fara langsung to the point.
"Kamu istirahat saja dulu, besok pagi baru kita bicara lagi, dan lagi ayah bunda sudah ngantuk" Kata Ayah sambil sesekali menguap.
"Hemm baiklah, aku juga lelah, jadi aku akan ke kamar dan beristirahat, selamat malam semua" Ucap fara beranjak dari duduknya lalu menuju ke kamarnya.
Paginya semua sudah berkumpul mengitari meja makan. Bunda memberikan kode kepada ayah untuk segera memulai pembicaraan.
"Baiklah fara, karena kamu sudah pulang, dan kebetulan kita semua berkumpul disini, sebelumnya ayah mau minta maaf jika apa yang akan ayah sampaikan membuat mu tidak berkenan" Ucap ayah dengan berat.
"Iya ayah, fara sudah siap. Jadi katakan saja ayah, fara akan mendengarkan dengan baik" Jawab fara sambil tersenyum manis tanpa tahu kalau apa yang akan ayah sampaikan akan membuat dia meringis bahkan menangis.
"Kamu akan ayah jodohkan dengan anak sahabat ayah fa" Ayah menunduk enggan melihat reaksi fara.
"Hahahahaha, ayah bercanda, ayo lah ayah aku sudah serius ini" Ucap fara sambil menatap ayah intens.
"Sayangnya ayah serius fara" Lanjut ayah dengan penuh penekanan dan balik menatap mata fara.
__ADS_1
Bagai tersambar petir. Fara tidak menyangka ayah ternyata serius. Dia fikir ayah hanya sedang mengerjai nya. Tapi kata-kata ayah yang terakhir tidak seperti sedang bercanda begitupun raut wajah ayah, bunda bahkan kak Faisal.
Fara bingung harus merespon bagaimana, dia terlalu terkejut hingga tidak bisa berkata-kata.