Faradina

Faradina
Eps 2


__ADS_3

Wildan menarik dagu Fara dengan kasar. Lalu ******* bibir ranum nya dengan paksa. Fara mencoba memberontak melepaskan diri sekuat tenaga tapi sia2. Wildan memindahkan tubuh Fara disampingnya, lalu menindih nya sambil memegang kedua tangan Fara agar gadis itu berhenti memberontak.


Wildan melepaskan ciumannya lalu beralih menciumi leher jenjang Fara dan meninggalkan kissmark disana. Fara menggeliat merasakan sentuhan-sentuhan Wildan.


"Mas lepaskan aku! " Bentaknya


Wildan tidak memeperdulikan, dia tetap mencumbu leher Fara tangannya turun kebagian dada Fara dan membuka perlahan setiap kancing bajunya. Wildan melanjutkan aktivitasnya dengan penuh hasrat. Tangannya dengan liar menuju ke arah bagian bawah tubuh Fara, menyibakkan rok dan menelusup di sela-sela pakaian dalam.


"Arghhhh... Hentikan mas! " Fara mengerang serak.


Tubuh fara bergetar hebat, jantungnya berdegup kencang. Sudah lama sejak terakhir kali dia berhubungan dengan Wildan. Ditambah rasa sakit hati nya masih begitu kerasa membuat dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Wildan. Fara mencoba mendorong Wildan, Wildan menarik celana dalamnya lalu menerobos pusat tubuh Fara dengan paksa..


"Errgghhh..... " Fara melenguh


Wildan mulai menggoyangkan badannya. Fara yang sudah tidak berdaya akhirnya terdiam mengikuti permainan Wildan. Fara mengalungkan tangannya dileher Wildan. Mereka berciuman saling memagutkan lidah diiringi desahan nafas yang semakin berat.


"Aku mau sampai far" Bisik wildan.


Setelah pelepasan Wildan mengeluarkan benihnya di perutku. Kami tergeletak kelelahan. Aku menarik selimut dan membalikkan badanku memunggungi wildan. Entahlah meski aku menikmatinya tapi rasa sakit hatiku belum hilang.


Wildan memelukku dari belakang mencium tengkuk ku dan kemudian kami tertidur.


Keesokkan harinya..


Aku terbangun sedang Wildan sudah tidak tampak di ranjang ku. Kemungkinan dia sudah pulang.


"Jadi aku memang hanya dia anggap sebagai pemuas nafsunya" Batinku (tersenyum kecut)


Aku beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku tidak mau terlalu memikirkan kejadian semalam maupun pengkhianatan yang Wildan lakukan, asal dia masih menemuiku bahkan jika aku memang hanya pemuas nafsu nya saja sudah cukup untukku.


Selesai mandi fara bergegas berangkat kekantor, hari ini dia terlalu malas untuk ke kantor jadi dia memutuskan untuk naik taksi saja.

__ADS_1


Dddrrrdrrrzz


SMS


[Mas Wildan: Maaf far aku pulang tanpa pamit, karna ada urusan yang harus aku selesaikan,nanti malam aku berjanji akan menemui mu lagi]


[Fara: ya mas, terserah kamu saja]


Aku menyimpan ponsel ku dalam tas. Menatap jalanan didepan tanpa ingin tahu balasan dari mas Wildan.


Malamnya aku memutuskan untuk menemui putri sepulang kerja. Sepertinya aku memang harus lebih banyak meluangkan waktu bersama teman-temanku agar aku sedikit bisa melupakan mas Wildan.


Aku sampai di cafe bergaya klasik sesuai janji yang kubuat dengan putri.


"Mbaaakkk sini" Teriak putri sambil melambai dari tempat duduk nya .


Aku berjalan ke arah putri, dan duduk didepannya.


"Gapapa mbak santai, eh tapi mbak aku mau ajak temanku ikut nongkrong sama kita, kamu keberatan gak? " Tanya nya.


" Silahkan saja put, lebih ramai lebih asik"jawab ku


Putri tersenyum senang dan dia mulai sibuk dengan ponselnya. Sepertinya menghubungi temannya untuk segera datang.


Drrrdrrzzz


Ku tatap layar ponselku, pesan dari mas Wildan.


SMS


[Mas Wildan: sayang kamu dimana? Aku didepan rumahmu]

__ADS_1


[Fara: maaf mas, aku sedang menemui temanku di cafe fairnette, kalau kamu ga keberatan susul saja aku disini]


[Mas Wildan: baiklah aku akan menemuimu disana,tunggu aku ]


Aku lupa dia berjanji akan menemuiku malam ini. Baiklah sekalian saja ku suruh dia kesini, karna tidak mungkin aku pulang begitu saja meninggalkan putri. Aku meminta maaf pada putri karna aku mengajak mas Wildan kesini. Dan putri tidak keberatan sama sekali.


Teman putri masih belum datang. Tak lama Wildan sampai dan menghampiri kami. Dia duduk di sebelahku, dan menyalami putri. Mereka memang sudah saling kenal karna sudah pernah ku perkenalkan.


Lama kami menunggu, akhirnya teman putri datang. Dia memperkenalkan diri kepada aku dan mas Wildan bernama Amri. Sepanjang obrolan aku mengetahui Amri seumuran dengan mas Wildan, dan dia dulu kakak tingkat ku saat di SMP pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Sesekali Amri tampak mencuri pandang ke arahku. Aku hanya mengabaikannya, karna merasa tidak terlalu penting. Mungkin dia merasa mengingat wajahku karna kami pernah satu sekolah.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kami memutuskan untuk pulang karena putri harus segera pulang atau dia akan kena omel orang tuanya dia pamit untuk pulang duluan kepada kami bertiga.Aku berniat memesan taksi karna lelah sekali rasanya jika harus pulang diantar mas Wildan. Dia pasti akan mulai mengajakku bicara tentang permasalahan kami.


"Kamu pulang naik apa far? " Tiba2 mas Amri bertanya padaku saat kami keluar dari kafe.


"Ah aku akan memesan taksi saja mas, karna kebetulan hari ini aku gak bawa mobil" Jawabku


"Mau aku antar? Tapi aku cuma bawa motor" Tanyanya lagi.


Aku melirik ke arah mas Wildan ingin tau bagaimana ekspresinya. Dia terlihat tidak suka ketika mas Amri mengajak ku untuk pulang bersama. Aku rasa mas Amri pun tidak menyangka jika aku dan mas Wildan adalah sepasang kekasih karena memang kami tidak memperkenalkan diri sebagai sepasang kekasih, makanya dia berani menawarkan ku untuk pulang dengannya.


Mas Wildan menatap ku penuh dengan ancaman dari sorot matanya. Seolah dia menyuruhku untuk segera menolak ajakan mas Amri.


"Ga usah bro, Fara pulang denganku karna memang rumah kami searah dan masih 1 komplek. " Ucap mas Wildan tegas.


Aku tersentak, tidak menduga dia yang menjawab ajakan mas Amri. Akhirnya mas Amri pun undur diri. Lalu aku pulang bersama mas Wildan. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Karna aku memang sudah tidak ingin membahas tentang masalah kami. Aku benar-benar lelah hari ini, tidak ingin menambah masalah lagi.


Mas Wildan menurunkan ku di depan rumah.


"Mas aku masuk dulu ya, Terima kasih sudah mengantarku pulang" Ucapku sambil berlalu meninggalkan mas Wildan yang menatapku dari jendela mobilnya tanpa memberi kesempatan mas Wildan berbicara.


Aku masuk kedalam rumah mengunci pintu lalu menuju ke kamarku. Rasanya tubuh ini sudah sangat ingin menyentuh kasur.

__ADS_1


__ADS_2