
***
Sepulang kantor fara melajukan mobilnya menuju ke fairnette cafe untuk menemui putri. Dia memutuskan untuk tidak pulang dulu kerumah. Karna rasa penasarannya terlanjur menggangu pikirannya.
*Di kafe
Fara sampai terlebih dulu. Dia memilih meJa dan memesan menu fara dengan sabar menanti sahabatnya itu datang.
"Hai mbak, sudah lama ya" Sapa putri
"Ah gak kok put, kamu mau pesan apa put? " Fara memberikan daftar menu pada putri.
"Lemon tea aja mbak, aku udah makan tadi sebelum kesini"
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan mbak? " Lanjut putri lagi.
"Anu put, aku bingung tanyanya,, " Fara nyengir menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia bingung harus mulai dari mana.
"Ga usah bingung mbak, kaya sama siapa aja" Putri meyakinkan fara.
"Itu put, kamu udah lama kenal sama amri? " Tanya fara gugup, dia takut putri akan salah sangka menanggapi pertanyaan fara ini.
"Mas amri maksudmu? " Fara mengangguk
"Belum lama si mbak, aku kenal karna dia anak temen tanteku mbak,"
"Oh.. Terus kamu tau latar belakang keluarga dia donk berarti? " Selidik fara
"Tahu dengan pasti si engga mbak, tapi yang aku tahu keluarga dia bukan orang sembarangan meskipun dia cuma bekerja di bank BUMN "
"Emang kenapa si mbak? Kok tiba2 kamu bahas dia? " Putri mulai penasaran
"Engga put, karna aku kaget aja hari ini dia mulai kerja di kantorku, dan ternyata dia anak dari pemilik perusahaan tempatku kerja" Fara menjelaskan.
"Masa mbak??? " Diluar dugaan putri pun terlihat kaget. Fara mengangguk.
"Waahhh tajir donk berarti" Tambah putri lagi.
"Jangan2 kamu pacaran ya mbak sama dia?? " Putri mengerling mencoba menggoda fara.
__ADS_1
"Hahh yang bener aja put, gak lah, aku tadi cuma kaget aja, makanya aku tanya sama kamu, aku pikir justru kalian yang pacaran" fara mencoba beralasan agar putri tidak menaruh curiga padanya.
"Enggak mbak, aku sama dia juga dikenalin tanteku, kami gada hubungan apa2, tapi kalau tau dia setajir itu boleh juga sih jadi pacarnya, hahahah" Putri tertawa nakal.
Fara berdehem dan menelan berat salivanya.
"Bercanda mbak, dia pernah cerita kok sama aku dia ndeketin kamu tapi malah kamu tolak," Lanjutnya lagi.
"Eh dia cerita gitu?? " Fara mendelik tidak percaya.
"Iya, kamu menyesal kan sekarang menolak cowo tajir melintir kaya gitu? Hahaha" Putri kembali tertawa, kali ini lebih keras, sepertinya puas menertawakan fara.
Fara hanya tersenyum masam.
"Aku bahkan sama sekali tidak menyesal pernah menolaknya put, " Fara membatin.
Setelah rasa penasarannya terbayarkan fara mengajak putri untuk pulang, karena hari mulai larut malam sedang besok dia harus kembali bekerja.
Sampai dirumah fara menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Hari ini begitu melelahkan untuknya. Dia ingin langsung tidur tanpa berganti pakaian ataupun mandi rasanya terlalu malas untuk beranjak lagi.
Ddrrrdddrrrzzz
[Amri call]
[Fara: hallo.. ]
[Amri: Hai far, maaf mengganggu, apa kamu sudah tidur?]
[Fara: belum mas, kenapa? ]
[Amri: aku di depan rumahmu fa, bisa kita bicara sebentar? ]
[Fara: ok, tunggu sebentar aku akan keluar mas]
Fara bergegas berganti pakaian santai, lalu keluar menemui Amri. Lelaki itu tengah menunggu fara sambil menyandarkan diri didepan kap mobilnya. Melihat fara sudah membuka pintu dan keluar, Amri berjalan mendekat.
"Maaf ya fara malam2 mengganggu istirahatmu" Ucap Amri
"Gapapa mas, " Fara menjawab singkat, entah memgapa dia masih bingung harus bersikap bagaimana dengan orang di depannya itu.
__ADS_1
Amri menangkap kecanggungan dalam sikap fara. Gadis itu tidak selepas biasanya saat sebelum mengetahui siapa Amri sebenarnya.
"Maafkan aku ya fara, jika hari ini dikantor membuat mu terkejut. Jujur sebenarnya aku gak mau mengagetkanmu, tapi karna tuntutan yang harus aku jalani aku tidak sempat memberitahumu. " Amri merasa bersalah.
"Sebenarnya gada yang perlu di maafkan sih mas, aku hanya merasa aneh dengan situasi ku sekarang. Jadi bisa kamu jelaskan ada apa ini sebenarnya? " Tegas fara, dia menuntut penjelasan.
"Oke tapi bisakah kita mengobrol dimobil sambil berkeliling? Rasanya kurang pantas jika mengobrol diluar seperti ini, kalaupun masuk juga situasi nya akan sama. Aku tidak mau tetanggamu berfikir macam2" Amri menarik tangan fara dan mengajaknya masuk ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan Amri menjelaskan detail tentang pekerjaannya, keluarganya, kehidupan pribadinya. Sedikit banyak akhirnya fara mengerti, dan mulai memahami. Amri tidak dengan sengaja membuat fara terkejut dengan kedatangannya ke perusahaan fara. Karna memang itu hak nya sebagai anak dari pemilik perusahaan.
"Jadi kenapa mas repot2 kerja di bank kalau ternyata mas punya perusahaan keluarga? " Akhirnya fara membuka suara.
"Karna aku tidak ingin mengandalkan keluarga ku, aku ingin bekerja dengan kemampuan ku sendiri, sesuai bidang dan passion ku fara" Amri menjelaskan. Dalam hati Amri merasa lega akhirnya fara bisa kembali bersikap seperti biasa kepadanya.
"Baiklah, sepertinya sekarang aku sudah cukup mengerti situasimu mas, jadi setelah ini kita akan menjadi rekan satu kantor, tidak! lebih tepatnya aku akan menjadi karyawanmu. Jadi bagaimana aku harus bersikap kepadamu mas? " Point terpenting yang benar2 ingin fara tau. Karna sikap Amri sekarang dengan sikap Amri di kantor sangat berbeda membuat fara canggung.
Kali ini Amri yang terlihat bingung. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan fara.
"Jika aku tetap pada sikapku yang dingin dan angkuh apa kamu merasa keberatan? Apa kamu akan membenciku? " Tanyanya hati-hati.
"Tentu saja tidak, aku rasa itu akan baik untukmu mas, karna kamu harus tetap menjaga wibawamu di depan karyawanmu, aku sama sekali tidak keberatan atau pun marah" Ucap fara mantap dengan tersenyum tulus.
"Terima kasih far" Amri membalas senyuman fara dan menghela nafas lega karna gadis itu mengerti.
"Lalu ada satu hal lagi yang mengganggu fikiranKu mas, " Fara kembali mengutarakan pikirannya
"Apa fara "
"Jadi aku harus memanggilmu apa? Amri atau yudha? "
"Oh itu, maaf karna memperkenalkan diri dengan nama amri, itu panggilan kecil ku FA hanya orang terdekat ku yang memanggilku begitu, kamu bisa tetap memanggilku amri atau apapun yang kamu mau" Jelas amri.
"Hmmm.membingungkan" Fara bergumam sambil mengelus dagunya
"Karna jika aku tetap memanggilmu amri orang2 dikantor pasti akan berspekulasi yang tidak2, tapi akupun belum terbiasa memanggil kamu Yudha mas, " Ucap fara kembali dengan lesu sembari menundukkan kepalanya.
Amri melirik fara yang masih menundukkan kepalanya, seulas senyum terukir ketika dia memperhatikan gadis cantik yang begitu polos di sampingnya. Meski dalam hati merasa bersalah telah membuat gadis itu kebingungan. Tapi Amri memang tidak punya pilihan lain saat menerima perintah dari sang ayah untuk bekerja di kantor fara.
Karna sudah cukup larut, amri mengantarkan fara kembali ke rumahnya..
__ADS_1
"Terima kasih ya sudah mau menemuiku, maaf mengganggu waktu istirahat kamu" Ucap amri setelah memarkirkan mobilnya didepan rumah fara.
"Iya mas ga masalah, aku masuk dulu ya..sampai ketemu besok dikantor" Fara keluar dari mobil, melambaikan tangan kepada amri lalu masuk kedalam rumah.