
***
Diluar hujan deras petir menggelegar. Untunglah ini hari libur jadi Fara bisa menghabiskan waktunya hanya dengan bermalas-malasan di tempat tidur.
Sudah seminggu semenjak terakhir dia bertemu dengan Wildan dan sampai hari ini lelaki itu tidak menghubunginya lagi. Fara tersenyum kecut. Jadi Wildan hanya mencari nya disaat butuh saja, dan menghilang ketika dia tak membutuhkannya.
Fara memainkan ponselnya dengan tatapan kosong kemudian matanya tertuju pada nama di kontak ponselnya "mas Amri". Ah dia mengingat lelaki itu, lelaki yang putri kenalkan padanya waktu di cafe. Mereka memang bertukar nomor telepon karna Fara yang meminta nomor nya untuk bertanya perihal ATM nya yang terblokir. Ya Amri merupakan salah satu karyawan bank BUMN tempat dimana Fara mempercayakan menyimpan penghasilannya.
" Aku sampai lupa bertanya perihal ATM ku" Gumam Fara.
Fara mencoba mengirim kan pesan kepada Amri.
[Fara: pagi, benar ini nomor mas Amri? Ini aku Fara teman putri]
5 menit kemudian dia mendapat balasan.
[Mas Amri: ah iya ini benar nomorku fa, ada yang bisa ku bantu?]
Karna mendapatkan balasan fara langsung memutuskan untuk menelpon saja agar bisa menjelaskan permasalahannya dengan lebih jelas.
Setelah selesai menelpon fara tersenyum kecil mengingat lelaki itu. Mungkin karna hubungannya dengan Wildan yang memang sudah tidak baik membuat Fara memutuskan untuk menikmati hidupnya dengan mempunyai banyak teman lelaki. Karna memang selama ini dia membatasi berhubungan dengan teman lelaki karna sifat Wildan yang terlalu cemburu dan posesif.
***
Sudah sebulan semenjak Fara mengenal Amri. Lelaki itu sangat baik dan perhatian padanya, hampir setiap hari mereka berkirim pesan atau bahkan saling menelpon untuk saling memberi semangat atau mengajak pergi sekedar untuk mencari makan. Amri sempat mengutarakan perasaanya kepada Fara, tapi Fara menolak perasaan Amri dengan halus tanpa menyakitinya. Sehingga meski mendapat penolakan mereka masih tetap bisa berteman.
Fara belum bisa membuka hati untuk lelaki lain. Termasuk Amri yang memang sudah sangat baik padanya. Bukan karna dia yang belum bisa melupakan Wildan yang saat ini sepertinya sudah menemukan pengganti Fara. Tapi karna akan lebih baik kalau mereka cukup berteman saja.
***
Hari ini Amri mengajak Fara berjalan-jalan mencari udara segar. Fara berdiri didepan rumah menunggu Amri menjemputnya. Sesuai kesepakatan hari ini mereka akan berjalan-jalan menggunakan sepeda motor Amri. Meski Fara sempat menolak sebelumnya karna merasa hari ini sepertinya akan turun hujan, terlalu beresiko jika menggunakan sepeda motor tapi karna Amri memaksa akhirnya dia pun menyetujuinya.
Sepanjang perjalanan Fara tak berhenti menyunggingkan senyum manisnya. Dia merasa begitu bahagia setelah sekian lama dia bisa menghirup udara kebebasan seperti ini. Dari kaca spion Amri memandang wajah Fara dengan kekaguman. Benar-benar wanita yang cantik pikirnya.
Akhirnya yang Fara takutkan benar2 terjadi baru setengah perjalanan hujan turun dengan begitu derasnya. Amri mencoba mencari tempat untuk berteduh dan menepikan motornya. Karna mereka pergi ke pegunungan sudah otomatis susah mencari tempat berteduh dan hanya bisa berteduh di sebuah gubuk kecil dipinggir jalan.
"Maaf ya far, andai tadi aku mendengarkanmu" Sesal Amri merasa bersalah membuat Fara basah kuyup kehujanan.
"Gapapa mas, its okay... Aku menikmati perjalannya kok" Jawab Fara mencoba menenangkan amri yang terlihat semakin merasa bersalah.
Hujan makin deras disertai angin yang kencang membuat mereka kedinginan karna meskipun berteduh tapi tidak menghindarkan mereka dari cipratan air hujan.
__ADS_1
Fara sudah menggigil kedinginan karna bajunya basah kuyup, begitu pun dengan Amri.
"Gimana kalau kita menerabas hujan aja mas? " Fara membuka obrolan.
"Kamu yakin Fara? Nanti kamu sakit karna hujan2an" Amri tampak ragu.
"Menerabas atau menunggu disini pun tidak ada bedanya mas, tetap bisa membuat kita sakit karna masuk angin, lebih baik kita pulang saja"
"Hmm iya juga, karna hujan nya pun tidak ada tanda2 akan berhenti"
Akhirnya mereka memutuskan untuk putar balik, kembali pulang menerabas hujan yang semakin deras. Amri mengantar Fara, dan Fara menawarkan untuk mampir karna hujan masih sangat deras.
"Tunggu dulu disini mas, aku buat teh dlu, sekalian aku ambilkan handuk dan pakaian ganti milik kakak lelaki ku, sepertinya akan pas di badanmu" Ucap Fara.
"Terima kasih Fara, maaf merepotkan mu"
Fara hanya tersenyum mengangguk dan meninggalkan Amri diruang tamu.
Fara menyerahkan baju ganti kepada amri dan lelaki itu bergegas kekamar mandi mengganti pakaiannya begitupun dengan fara yang mengganti pakaian di kamarnya.
Tidak terasa hujan mulai mereda. Amri dan fara masih saja asik dengan obrolan mereka.
Sekilas amri melirik jam di dinding menunjukkan pukul 17.30 yang artinya sudah saatnya untuk undur diri.
"Ah benarkah,,, " Ucap fara lesu, sepertinya dia tidak rela Amri pulang karna masih betah untuk berlama2 mengobrol.
"Besok2 aku kesini lagi kalau kamu tidak sibuk" Amri meyakinkan fara dengan tersenyum tulus.
"Baiklah.. "
Fara mengantar Amri sampai pintu dan melambaikan tangannya saat Amri mulai melajukan motornya dan mulai menghilang diujung jalan.
Dia masuk dan mendudukan dirinya pada sofa sambil menghela nafas berat. Seolah kehilangan teman yang sedari tadi mampu mengusir rasa sepi nya dirumah ini. Pikiran fara menerawang mengingat orang tuanya. Sudah lama semenjak mereka tinggal bersama. Fara benar-benar rindu kebersamaan keluarga. Tapi kesibukan nya disini membuat dia tidak bisa sering pulang hanya untuk melepas rindu pada ayah dan bundanya.
"Ayah, bunda kak Faisal aku merindukan kalian" Bisiknya.
Terlalu lelah fara mulai merasa matanya sangat mengantuk, dan saat itu juga dia langsung merebahkan diri disofa dan mulai terlelap ke alam mimpinya.
***
Pagi itu mentari bersinar cerah secerah hati fara. Dia dalam perjalanan menuju kantornya. Sambil menyetir fara sesekali mengikuti alunan lagu yang diputar di radio.
__ADS_1
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur disampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yg ku mau ku ingin melamarmu
Lagu ini membuat fara hanyut dalam lamunan. Pikirannya menerawang dan masih saja di penuhi dengan bayangan Wildan. Tanpa fara sadari kendaraan dibelakangnya sudah mengklakson panjang menunggu fara melajukan mobilnya karna lampu lalu lintas sudah berubah hijau.
10menit kemudian fara sampai di parkiran kantornya. Dia turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam gedung perkantoran yang menjulang tinggi didepannya. Hari ini hari yang penting karena dia akan dipromosikan menjadi supervisor. Tentu saja suatu kebanggan bagi fara karna akhirnya dia bisa mencapai posisi strategis tersebut. Senyum tidak berhenti dia sunggingkan sepanjang jalan menuju meja kerjanya.
"Selamat pagi ibu supervisor" Ucap weny mengerlingkan matanya meledek fara.
Weny gadis bertubuh gempal itu adalah sahabat fara semasa kuliah dan sekarang mereka satu kantor dan berada di divisi yang sama.
"Apaan sih ndut, ga usah ngeledek deh" Fara tersipu saat weny memanggilnya ibu supervisor.
"Alah kamu kaya sama siapa aja lho,, " Weny mencubit lengan fara lalu beranjak duduk di kursi nya sendiri.
"Selamat pagi rekan2 bisa kita kumpul sebentar" Ucap pak danang kepala divisi kami.
Kami pun mulai berkumpul melingkar memutari pak danang. Menanti-nanti apa yang akan dia sampaikan pagi-pagi begini. Weny menepuk bahu fara mengedipkan matanya memberi kode seolah ini adalah saat yang fara tunggu karna kemungkinan besar pak danang akan mengumumkan kenaikan jabatannya hari ini.
"Baiklah, kalian pasti bertanya2 kenapa saya mengumpulkan kalian pagi ini, yap seperti yang kita sudah tau, hari ini fara akan menempati posisi baru nya sebagai supervisor, mari beri tepuk tangan untuk fara" Pak danang mendekati fara dan menyalami fara mengucapkan selamat diikuti dengan rekan kerja nya yang lain.
"Dan ada satu hal lagi yang akan saya sampaikan pagi ini, bahwa divisi kita kedatangan rekan kerja baru, tapi dia bukan sembarang rekan kerja karena beliau adalah anak dari CEO kita yang akan mulai magang di divisi kita untuk mempersiapkan diri menjadi CEO selanjutnya. Ucap pak danang penuh senyum kebanggan.
Fara dan yang lainnya hanya bisa ternganga dan ber" Oh" Ria mencoba mencerna dengan baik apa yang baru saja di katakan oleh kepala divisinya.
"Lalu mau ditempatkan di bagian mana pak di divisi kita?" Tanya weny bingung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebetulnya fara pun mempunyai pertanyaan yang sama, tapi dia enggan bertanya lebih jauh karna mengingat dia baru saja dipromosikan dan tidak ingin terlihat terlalu vokal menanggapi kedatangan anak CEO di divisi nya.
"Ah pertanyaan yang bagus wen, " Ucap pak danang sambil manggut-manggut
"Sebenarnya saya juga tidak tau dia mau berada di bagian mana, karena di divisi kita ini sebenarnya tidak kekurangan pegawai, tapi coba nanti kita akan tanyakan langsung dengan yang bersangkutan" Tambah pak danang lagi.
Lalu tiba-tiba seorang pria muncul dari balik pintu ruangan divisi kami yang ada dibelakang pak danang.
__ADS_1
"Mas amriii... " Pekik fara reflek, kemudian menutup mulutnya ketika mata semua orang menoleh dan tertuju kepadanya.
Bersambung