
Dalam hati kecil fara sebenarnya menentang perjodohan ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangganya nanti ketika dimulai tanpa cinta, terlebih lagi sebagai seorang wanita dia sudah "cacat" Mahkota kebanggaannya telah hilang. Kalau sampai suami nya kelak tahu dan merasa membeli kucing dalam karung, apa yang akan terjadi pada orang tua nya? Mereka pasti akan menanggung malu yang amat sangat.
"Malam ini mereka akan datang untuk saling mengenal, ayah harap kamu bersedia menemui mereka" Ucap ayah dengan lembut tetapi tegas. Lalu pergi meninggalkan meja makan di susul bunda dibelakangnya.
Fara menopang dagu nya dengan lesu. Lalu melirik ke arah sang kakak yang dari tadi hanya sibuk mengunyah sarapannya tanpa sedikit pun mengeluarkan suara.
"Kak? " Panggilnya.
"Hemmm" Jawab Faisal dengan malas.
"Sudahlah,aku mau kembali ke kamar saja" Lalu Fara berlalu pergi meninggalkan Faisal yang masih asyik dengan sarapannya.
Fara bergulang guling dikasur sesekali berteriak di balik bantal. Atau menghentak-hentakkan kaki nya di udara seperti sedang menendang.
__ADS_1
Usia nya baru 20 tahun lebih masih tergolong muda kan? Tidak harus terburu-buru untuk menikah kan? Di tambah lagi masa lalu nya yang kelam membuat dia bahkan tidak berani membayangkan untuk menikah. Jika pun akan menikah pasti lah harus dengan mas wildan lelaki yang sudah merenggut mahkotanya. Tapi mau dikata apa, jangan kan menikah bahkan hubungan cinta mereka saja sudah pupus sebelum sempat sama sekali membahas pernikahan.
Fara tersenyum kecut, rasanya ingin menangis sekeras mungkin. Tak ada tempat untuk berbagi beban yang berat seperti ini. Kepada siapa dia harus mengadu hal yang lebih seperti aib ini. Air mata mengalir dari sudut mata indahnya. Jika biasanya dia punya bunda sebagai tempat berkeluh kesah, tapi kali ini dia tidak mungkin menceritakan kesusahannya kepada bunda.
Hari berganti malam dan bunda terlihat sibuk di dapur menyiapkan jamuan untuk tamu spesial yang akan datang. Ayah dan kak faisal sedang mengobrol santai didepan televisi.
Fara enggan beranjak dari kamarnya. Akan lebih baik dia turun setelah keluarga calon tunangannya itu sampai.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Sekilas Fara bisa mendengar deru mesin mobil memasuki halaman rumahnya. Tapi dia tidak tertarik sama sekali untuk mengintip keluar melalui jendela kamarnya. Toh cepat atau lambat dia akan turun dan menemui mereka juga.
Tok tok tok..
Terdengar ketukan dari luar kamar diiringi suara lembut bunda yang memanggil Fara untuk segera turun, karena mereka semua sudah menunggunya. Dengan malas Fara mengayun langkah nya, menuruni anak tangga menuju ke ruang tamu.
__ADS_1
Dan ketika sampai disana dan melihat keluarga calon tunangan nya. Untuk kedua kali dalam hidupnya dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat siapa yang sekarang sedang duduk dengan gagah di depan kedua orang tuanya.
"Mas amri"
Ucap nya lirih tapi masih dapat dengan jelas didengar semua orang di ruangan itu.
Semua orang menoleh ke arah Fara, tanpa terkecuali Amri, dan dia pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama.
"Kalian sudah saling mengenal? " Tanya pak Andri ayah Fara.
What?? Kenapa harus dia??ya Tuhan!Fara membatin.
"Iya om, saya dan Fara rekan kerja di perusahaan papa " Amri dengan canggung menjawab.
__ADS_1
"Wah bisa kebetulan sekali ya ndri hahaha" Pak Mahardika ayah Amri tertawa girang.