
“ kalian dengar ya,,, kalau nanti aku jadi penyanyi dangdut terkenal, jangan panggil namaku fatimah. Panggil aku imey gemoy, kalian paham kan...” begitulah keseharian gadis belia berusia 16 tahun ini. cita-citanya menjadi penyanyi dangdut. Dia selalu mengatakan hal yang sama pada setiap orang yang memanggil nama aslinya.
Semangat dan kepercayaan dirinya patut di acungi jempol. Kegigihan untuk meraih cita-citanya begitu kuat. Gadis yang dari kecil dibesarkan sang nenek setelah kepergian ayahnya.
Masih duduk dikelas tiga SMU. Hanya menunggu kelulusan setelahnya dia akan merantau ke kota demi mewujudkan cita-citanya.
Hidup di desa, kesehariannya menggembala itik peliharaan sang nenek. Sebagai tempat menggantungkan hidupnya pada unggas itu. Tugasnya hanya membantu neneknya sepulang sekolah.
Pembawaannya yang ceria, membuat dia melupakan sejenak kisah pedih dalam hidupnya. Dari kecil fatimah dibesarkan nenek maisaroh. Ibunya meninggal dua tahun yang lalu. Sejak kepergian sang ayah yang entah kemana bersama dengan biduan cantik di kampungnya.
Ibunya sakit keras karena bathinnya tersiksa sejak kepergian sang suami. Hingga dia meregang nyawa, sang suami tidak sekalipun menjenguk fatimah.
Sore hari dia akan ke sawah membawa itiknya mencari makan. Pulang ketika matahari terbenam.
“Fatimah....” suara teriakan itu sangat kencang. Membuat gadis berkulit sawo matang itu berlari dengan tergesa.
“masukkan itiknya, sudah hampir maghrib. Jangan diajak bicara, dia mana mengerti bahasamu” ultimatum sang nenek tidak bisa di bantah.
“sudah berapa kali nenek peringatkan, jangan pernah bermimpi untuk menjadi penyanyi dangdut, sampai kapanpun nenek tidak akan pernah mengijinkan” lanjut sang nenek. Matanya menatap tajam cucu kesayangnnya.
“tapi nek,,,” gadis itu hendak membantah kalimatnya menggantung karena tatapan tajam sang nenek. Wanita yang dia cintai dan mencintainya di dunia ini.
“tidak ada tapi fatimah” nenek maisaroh memotong ucapan cucunya. Dia hanya ingin yang terbaik untuk cucu kesayangannya. Apapun akan dia lakukan tapi untuk menjadi penyanyi dangdut hatinya tidak akan terima.
__ADS_1
Stigma negatif tentang profesi itu masih melekat kuat di kampunya, apalagi kepergian menantunya karena tergoda penyanyi dangdut menambah kebencian sang nenek pada profesi itu. dia tidak akan pernah mengijinkan cucu satu-satunya itu untuk mewujudkan mimpi yang menurutnya sangat menyeramkan.
“masukkan itik itu kekandang, setelah itu mandi bersihkan dirimu. Budhemu ingin bertemu ada yang ingin dibicarakan katanya” suara itu melunak. Kemarahan yang dari tadi di tangkap fatimah sudah tidak terdengar lagi. dia bernafas lega.
Tapi masih ada masalah lain yang menghimpit dadanya. gadis belia itu mengerti maksud kedatangan sang bude bukanlah pertanda baik. wanita 40 tahun itu akan membicarakan tentang perjodohan fatimah dengan laki-laki seumuran sang ayah.
Mengingat itu ingin rasanya dia kabur saja.
“nek, fatimah tidak mau ketemu budhe, fatimah malas nek. Nanti yang dibicarakan itu lagi” ucapnya dengan nada malas.
“temui saja, kamu kan paham budhe mu seperti apa. Dia tidak akan menyerah. Bisa-bisa nanti kamu kena marah. Ada nenek yang akan membela fatimah. Tidak usah cemas” ucap sang nenek menenangkan.
Fatimah berjalan menghampiri bebek peliharaannya yang masih ada di belakang rumah bambu milik neneknya. Berbekal tongkat panjang ditangannya, dia menghalau bebek untuk masuk kekandang. Merentangkan kedua tangannya kekanan dan ke kiri. Menggiring masuk kekandang. Sesekali dia berlari mengejar bebek yang jauh dari rombongan.
Itulah sebabnya fatimah bercita-cita ingin menjadi penyanyi dangdut. Ingin membahagiakan sang nenek dengan limpahan materi yang berkecukupan. Tidak seperti sekarang, dia akan makan kalau pada hari itu ada orang yang datang untuk membeli bebeknya. Kalau tidak. Fatimah siap-siap puasa.
***
“ Bebeknya tidak ada yang tertinggal kan nak” suara neneknya dari arah dapur. Membawa nasi yang masih panas. Asap mengepul dari baki ditangannya. Meletakkan diruang tengah yang hanya beralaskan tikar pandan.
“sudah nek...Fatimah mandi dulu” jawab sang cucu dengan nada lemah. Neneknya tahu apa yang membuat cucu kesayangannya menjadi tidak bersemangat.
Pembicaraan mengenai perjodohan itu selalu mengganggu, tapi mau bagaimana lagi. tidak ada yang bisa melawan sang budhe. Pun dengan sang nenek, wanita tua itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hapal betul watak anak sulungnya. Kemarahannya bisa meledak jika apa yang dia inginkan tidak tercapai.
__ADS_1
Hari ini menu makan malam spesial untuk fatimah. Gadis yang memiliki tinggi badan tinggi menjulang itu duduk menghadap makanan yang terhidang di hadapannya. Aroma kuah soto dari mie instan menyeruak masuk ke indranya. Telur rebus satu, mie kuah semangkok. Dia akan membagi dua makanan itu dengan sang nenek.
Tidak ada suara, gadis itu makan dengan lahap, sejenak dia lupa akan permasalahan hidup. Tentang himpitan ekonomi, dan perjodohan dari budhenya.
Baginya saat ini mengisi perut adalah hal yang paling utama. Makan dengan tangan sambil duduk bersila diatas tikar pandan. Tidak ada yang lebih nikmat dari menunya saat ini. mungkin bagi sebagian orang, menu fatimah adalah hal yang biasa atau bahkan makanan yang telihat tidak enak.
Telur adalah menu yang bisa fatimah nikmati ketika ada yang membeli bebeknya. Jangankan ayam atau olahan daging.
Sehari-hari dia lebih akrab dengan menu ikan asin dan garam. Yang penting ada nasi itu sudah cukup bagi fatimah. Gadis itu tidak pernah protes, dia tahu tentang kondisi sang nenek. Usianya yang sudah senja tidak memungkinkan neneknya untuk bekerja.
Dulu, ketika masih ada bapaknya. Fatimah sesekali bisa merasakan menu daging rendang atau ayam goreng kesukaannya. Bapaknya akan membelikan makanan lezat ketika ada rejeki lebih. Tapi sejak kedatangan wanita itu dikehidupan bapaknya, kehangatan keluarga itu sirna. Berganti duka yang tak berkesudahan.
Ibunya setiap malam menangis menunggu kepulangan sang suami, hatinya terlalu sakit untuk menanggung beban hidupnya.
Laki-laki yang dia cintai tega membagi cintanya dengan wanita lain. Rekannya dalam sebuah grup musik dikampungnya. Bapak yang dia sayangi tidak mampu menolak pesona sang biduan.
Bahkan dengan terang-terangan sang bapak membawa wanita itu kehadapan ibunya. Memperkenalkan sebagai istri mudanya. Bertambah hancurlah hati sang ibu. laki-laki yang menjadi kebanggan Fatimah itu jarang pulang. Bahkan tidak pulang sama sekali.
Tidak ada seorang pun yang tahu keberadan bapak dan istri barunya. Sejak saat itu ibunya sakit-sakitan, semakin hari badannya semakin kurus. Sampai ahirnya wanita yang melahirkan fatimah itu menyerah. Tuhan memanggil ibu tercintanya dua tahun yang lalu. Pergi dengan luka di hatinya yang tak sempat mengering.
“hati-hati makannya, ini kuah mienya masih ada. Habisin ya, nenek sudah kenyang” Fatimah paham, yang dilakukan neneknya saat ini hanya ingin dia bahagia. Neneknya tidak benar-benar kenyang. Dia hanya ingin fatimah makan makanan kesukaannya lebih banyak.
“nenek makannya jangan sedikit, nanti sakit, tambah lagi. fatimah sudah kenyang” jawab sang cucu. Selalu itu yang dilakukan neneknya.
__ADS_1
Mengalah, fatimah tidak suka. Fatimah ingin selalu melihat neneknya sehat. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, yang mencintainya dengan tulus.