FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .

FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .
CITA-CITA YANG TAK DIRESTUI


__ADS_3

Duduk setelah makan malam. Masih jam tujuh malam gadis belia itu membuka buku pelajarannya. Ini adalah tahun terahirnya disekolah menengah umum. Setelah itu dia akan lulus.


Keinginannya untuk merantau kekota mendapat tentangan sang nenek. Ikut audisi dan menjadi penyanyi dangdut adalah keinginan terbesarnya. Dia berpikir dengan cara itu dia bisa merubah takdirnya. Keluar dari kemiskinan yang membelenggu selama ini.


“kenapa sih nek, fatimah tidak boleh jadi penyanyi dangdut, suara fatimah kan bagus. Juara tingkat kecamatan lho. Fatimah yakin. Fatimah bisa menjadi penyanyi terkenal terus masuk tivi” wajahnya berbinar, tatapan menerawang membayangkan hal indah ketika dia terkenal nanti.


“simpan keinginan itu jauh-jauh fatimah, sampai kapanpun nenek tidak akan mengijinkan” wajah sang nenek tiba-tiba serius. Ada gurat tidak suka dengan pembahasannya kali ini.


“tapi nek, kalau nanti fatimah terkenal terus banyak uang. Kita tidak akan miskin lagi. nenek bisa makan enak, beli baju bagus. Beli sawah di kampung sini” binar bahagia itu masih terpancar. Bayangan tentang kebahagiaan setelah terkenal menari di pelupuk matanya.


Baju bagus, perhiasan mahal, rumah megah dikampung. Itu yang ada di pikiran fatimah sekarang. Bibirnya melengkung membentuk senyuman penuh kebahagiaan.


“nenek lebih baik miskin seumur hidup, daripada kamu jadi penyanyi dangdut. Kuburlah mimpimu itu dalam-dalam” suara keras neneknya membangunkan fatimah dari lamunan.


Bayangan hidup bergelimang harta seketika berlari menjauh. Remaja itu tersadar, dia sedikit takut dengan suara keras penuh amarah dari wanita yang membesarkannya.


Diam, adalah cara yang paling ampuh untuk saat ini. tidak akan ada gunanya dia mendebat neneknya. Dia mendesah, mimpi itu sudah pergi bahkan sebelum diperjuangkan.


Dia bisa apa, larangan sang nenek adalah titah baginya. Tidak bisa diganggu gugat. Masa lalu bapak dan ibunyalah yang menjadi pemicu ketidak sukaan nenek maisaroh dengan cita-citanya.


“jangan bermimpi terlalu tinggi fatimah, kalau jatuh sakit lho nanti” suara dari ambang pintu. Nenek dan fatimah menoleh bersamaan. Seketika fatimah membuang muka.


Dia tidak suka dengan wanita yang berdiri disana. wanita yang selalu memaksakan kehendaknya. Seperti saat ini. kedatangannya akan membahas hal yang paling fatimah benci.


“takdirmu itu menikah setelah lulus, tidak ada penyanyi dangdut yang badannya ceking, kulitnya hitam jerawat sebiji jagung. Tidak ada cantik-cantiknya sama sekali. Jadi jangan terlalu peraya diri” lidah tajam sang bude, mampu mengiris hati Fatimah. Dia tidak menampik apa yang dikatakan budenya itu semuanya benar.


Apalah daya ketika sebagian masyarakat menilai kecantikan itu dari warna kulit yang cerah, fatimah jelas tidak memenuhi standart. padahal gadis itu memiliki wajah manis, sayang jerawat dan kulit wajahnya yang kusam membuat kecantikan itu tak nampak.


“takdirmu itu menjadi istri tuan malik, laki-laki paling kaya dikampung kita. Nanti kalau kamu sudah jadi istrinya semua keinginanmu di turuti. Mau beli baju bagus,beli skincare, perhiasan atau bahkan kamu minta di belikan rumah pasti di kabulkan” kata sang budhe bersemangat. Wanita yang duduk di hadapan fatimah ini memang tidak punya perasaan


“tuan malik itu masih punya istri bude, apa kata orang nanti kalau fatimah menikah dengan beliau. Bisa di cap pelakor fatimah” sanggah gadis belia itu. dia tutup semua buku pelajarannya. Moodnya untuk membaca sudah hilang sekarang.

__ADS_1


“tapi istrinya sudah tua, tuan malik butuh yang muda untuk menjadi pendamping hidupnya. Lagian ya, tidak akan ada laki-laki yang mau sama kamu dikampung kita. Kalau kamu punya kaca harusnya digunakan biar sadar. Kamu itu beruntung tuan malik masih mau sama kamu. Badan dekil begitu sok jual mahal” tidak ada belas kasihan dari wanita didepannya. Hilang sudah rasa hormat fatimah untuk kakak dari ibunya ini.


Berkali-laki kalimat tajam itu keluar tanpa perasaan. Hatinya terluka tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Butiran bening itu mengalir tanpa bisa di tahan. Hatinya sakit, harga dirinya terkoyak.


Dia menatap sang nenek. Wanita tua itu hanya diam, menatap sendu sang nenek. Nenek maisaroh tahu jika dia membela fatimah, tidak akan luput dari amukan anak tertuanya itu.


Harga diri fatimah terkoyak tak berbentuk. Terasa diinjak kedasar lumpur yang kotor. Ditenggelamkan dalam cairan hitam hingga tak terlihat harga dirinya.


“biarkan fatimah menyelesaikan sekolahnya dulu marni, kita tidak bisa mengatur takdir fatimah. Itu takabur namanya. dalam agama kita sangat dilarang mendahului ketetapan sang pencipta. Kalaupun nanti fatimah berjodoh biar Allah yang menentukan” .


ucapan wanita itu lembut demi meredam ambisi sang anak.


“ibu selalu saja begitu membela fatimah, marni tahu dia cucu kesayangan ibu. tapi yang saya Lakukan ini juga demi ibu sama fatimah” wanita dewasa itu membantah.


Sang nenenk sudah tahu bahwa apa yang diucapkannya tidak akan merubah pendirian marni.


“kalau fatimah bilang tidak mau, ya tidak mau, bude tidak bisa memaksa” suara keras fatimah. Habis sudah kesabarannya. Keras hati wanita dihadapannya ini memang Tidak terbantahkan lagi.


“sudahlah marni, sebaiknya urungkan niatmu menjodohkan fatimah, biarkan ponakanmu itu menentukan jalan hidupnya sendiri” suara lembut ibunya tidak mampu meredam amarah marni.


“apa ibu mau fatimah menjadi penyanyi dangdut, biar marni ingatkan kepergian Mirna karena suaminya berselingkuh dengan penyanyi dangdut, kalau ibu lupa peristiwa pahit itu” suara rendah penuh penekanan.


Kalau sudah begini tidak akan ada yang mampu membantah ucapan marni. Tatapan tidak suka dia arahkan untuk wanita yang melahirkannya.


“pokoknya saya tetap akan menikahkan fatimah dengan tuan malik. Itu keputusan yang tidak bisa dibantah lagi” ucap wanita sambil berlalu.


Pintu yang terbuat dari kayu itu dibanting dengan keras. Hingga dinding penyanggah yang terbuat dari kayu pun ikut bergetar. Wanita itu pergi dengan penuh amarah. Keputusannya sudah bulat.


Fatimah hanya bisa memandang sang nenek dengan tatapan mengiba.


“sabarlah,,,itu tidak akan terjadi. Nenek tidak akan membiarkan kamu, menjadi perusak rumah tangga orang. Nenek tidak ingin kamu seperti selingkuhan bapakmu” suara perempuan tua itu lembut, memberikan sedikit ketenangan untuk fatimah.

__ADS_1


Pagi menjelang, hawa dingin menyeruak masuk melalui celah dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Matahari belum muncul, kabut putih masih menghiasi perkampungan tempat fatimah tinggal. Kesibukan didapur itu sudah dimulai. Merebus air putih hanya untuk membuat teh hangat sebagai pengganjal perut.


“gulanya habis, nenek minta tolong belikan gula setengah kilo sama minyak di warung depan” Suara lembut sang nenek. Mirna beranjak dari perapian.


Dia menunggu tungku dari kayu bakar sebagai bahan bakar memasak. Itulah keseharian fatimah. Selesai sholat subuh tadi dia langsung menuju dapur sekedar membantu neneknya mamasak untuk sarapan sebelum fatimah berangkat sekolah.


Berjalan dengan langkah pasti, menuju warung didepan pintu masuk rumahnya. Sudah jam enam pagi tapi kabut masih menutupi, karena matahari terhalang awan.


Dari kejauhan tampak beberapa wanita dewasa dan ibu-ibu sudah berdiri didepan toko. Mereka melakukan hal yang dengan Fatimah membeli keperluan untuk hari ini.


“lihat ada penyanyi dangdut belanja”seorang ibu berbicara setengah berteriak, mendapat sambutan antusias dari yang lain, mereka serempak mengalihkan pandangan ke arah fatimah. Senyum sinis tampak dibibir mereka.


“kalau mimpi jangan terlalu muluk Fatimah, mana ada penyanyi dangdut badannya hitam dekil begitu. Muka dipenuhi jerawat. Besar-besar lagi. itu jerawat apa bisul” seorang ibu dengan perhiasan menterng ditangannya berbicara paling keras.


Fatimah diam, dia berjalan mendekat ke toko kelontong uang sudah ramai pembeli.


Apapun yang dibicarakan orang Fatimah harus diam, menjawab hanya kan membuat dia terlihat tidak sopan, nanti kalau capek mereka akan berhenti sendiri. Itulah pesan nenek maisaroh.


“bu, gula setengah kilo, minyak goreng setengah liter” ucapnya sambil mengulurkan uang pecahan dua puluh ribuan. Uang hasil penjualan telur bebek kemarin. Baginya uang pecahan itu sudah besar, bisa untuk membeli kebutuhannya hari ini.


“lihat ibu-ibu,,,penyanyi dangdut membeli minyak sama gula hanya setengah, seharusnya kamu sadar diri Fatimah, kalau miskin ya miskin saja tidak usah bermimpi terlalu tinggi, kalau tidak tercapai bisa gila lho nanti” ucapan pedas ibu itu disambut gelak tawa ibu yang lain.


Suara hening seketika menjadi bingar karena kedatangan Fatimah.


“nanti kalau Fatimah terkenal jangan rebutan minta tanda tangan ya, antri” jawaban percaya diri Fatimah mendapat tatapan tidak suka dari mereka.


“ngaca fatimah, sadar diri itu penting lho” jawaban sinis mereka tidak dihiraukan. Fatimah hendak berlalu, tiba-tiba seseorang memanggilnya


“Fatimah sini,,,” seorang remaja se usia fatimah melambaikan tangannya dari belakang toko sembako itu. Subaidah, sahabat yang selalu mendukung Fatimah. Satu-satunya orang yang percaya bahwa Fatimah bisa menjadi artis terkenal. Fatimah mendekat dengan wajah berbinar.


“tidak usah dengarkan mereka, jangan patah semangat, nanti buktikan saja kalau kamu bisa, oke” tangannya terangkat. Menyatukan jari telunjuk dengan ibu jari hingga membentuk huruf O. Keduanya tertawa di tahan. Tangannya mendekap mulut mereka sendiri. takut terdengar kaum penggosip didepan warung.

__ADS_1


“Nanti kalau Fatimah terkenal, Ida duluan yang akan fatimah cari, janji” wajah berberbinar Fatimah mendapat tatapan antusias dari sahabatnya. Mereka saling menautkan jari kelingking sebagai tanda janji yang terikat.


__ADS_2