FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .

FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .
HINAAN TAK BERKESUDAHAN


__ADS_3

“jangan jadikan hinaan sebagai penghalang untuk maju. tapi, jadikanlah sebagai cambuk untuk berlari lebih kencang membuktikan bahwa diri layak berada di depan”


Berjalan pulang dengan kepala yang kembali tegak, fatimah tersenyum dengan penuh percaya diri. Semangat itu kembali berkobar. Keyakinan itu kembali, tak peduli hinaan orang dia akan tetap mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.


“eh, Ada fatimah, calon penyanyi dangdut terkenal, itu muka makin hari makin dekil kayaknya. Jerawat tumbuh bak jamur di musim hujan. Subur sekali” perempuan dengan penampilan bak toko emas berjalan.


Gelang rangkap empat kalung yang panjangnya seperti tali kerbau menjuntai sampai ke pusar. Jangan lupakan cin-cin yang memenuhi setiap ruas jari. Entah bagaimana cara wanita itu menekuk jarinya.


“Panggil namaku Imey Gemoy bibi” dengan percaya diri fatimah menantang tetangga usilnya yang satu ini. semakin dia merendah maka istri pemilik sawah terbanyak di desanya ini akan semakin menginjaknya. Lupakan harga diri, dari dulu harga dirinya sudah tidak berbentuk. Kemiskinan yang membuatnya tidak memilikinya lagi.


Berbeda dengan wanita empat puluh tahun di hadapannya, dimanapun dia berada segala puji dan sanjung yang di dapatkan, melambungkan kebanggaan dan kecongkakan yang tidak akan ada habisnya.


Semua orang yang bertemu dengannya berebut mencari simpati. Siapa yang tidak ingin berteman dengan wanita kaya dia.


Tidak perlu dia bercerita berapa jumlah kekayaan suaminya. Hanya dengan melihat rentengan emas yang di pakainya sudah menggambarkan betapa banyaknya limpahan materi yang dia punya.


“jangan terlalu percaya diri Fatimah, seharusnya kamu bercermin sebelum berbicara, buktikan jangan banyak bicara sakit kupingku mendengar omong kosongmu itu ” tidak ada yang bisa menyangkal ketajaman lidah wanita yang dipanggilnya bibi ini. satu kalimat saja sudah mampu mencincang habis harga diri lawannya.


“terima kasih sarannya bibi, mei pasti akan membuktikannya. Permisi” tak ingin berlama-lama melayani kemarahan istri juragan beras itu. fatimah harus segera bergegas ke sekolah.


Sudah setengah tujuh. Dia masih punya waktu setengah jam lagi. menenteng plastik warna hitam, membawa gula dan minyak yang ada didalamnya, pulang ke rumah.


“Lama sekali fatimah. Nanti kamu telat kesekolah. Cepat mandi biar nenek yang menyiapkan sarapanmu” nenek maisaroh mengambil plastik hitam itu dari tangan Fatimah. Membuka bungkusnya dan memasukkan satu sendok makan kedalam teh hangat. Asap mengepul. Aroma daun teh bercampur melati memenuhi dapur yang berdinding anyaman bambu. Dengan tiang penyanggah terbuat dari kayu jati.

__ADS_1


Ruang dapur ada disamping rumah utama. Ada dua bilik dan satu ruang keluarga si rumah utama yang berbahan dasar kayu berdinding anyaman bambu.


“sudah berapa kali nenek bilang kalau ada yang menghinamu diam saja. toh nanti kalau mereka capek berhenti sendiri. semakin di jawab mereka akan semakin merendahkanmu” nasehat sang nenek. Wanita tua itu hapal betul perlakuan tetangga terhadap dirinya dan sang cucu. Tapi dia hanya bisa diam tidak bisa berbuat apa-apa.


Kaburnya sang menantu dari rumah bersama dengan selingkuhannya, serta kematian putri kesayangannya sudah merupakan aib yang melekat seumur hidupnya.


Tidak seorangpun yang menginginkan cobaan seberat itu. tapi nenek saroh percaya bahwa Tuhan menempatkannya di posisi sekarang bukan tanpa alasan.


Sejak saat itu semua tetangga selalu mencibir nenek saroh. Bahkan mereka tidak segan menghina lamarhumah putri kesayangannya. Ibu fatimah itu dianggap tidak becus menjaga suaminya hingga sang suami lebih memilih lari dengan wanita lain.


“mereka sudah keterlaluan nek, fatimah tidak terima” protes remaja yang memakai seragam putih abu-abu ini.


Mengambil piring berisi bubur beras berwarna putih, bubur yang hanya dibumbui garam menjadi menu sarapan fatimah pagi ini.


Asap mengepul dari piring, mengaduk sambil meniup untuk menghilangkan hawa panas yang bisa membakar bibir dan lidah Fatimah.


Fatimah bersekolah karena di gratiskan biaya oleh pemerintah setempat, kondisi ekonominya memasukkan Fatimah dalam kategori salah satu siswa penerima beasiswa di sekolahnya sampai lulus. Di tambah otak cerdas Fatimah. Sekolah sedang mangajukan Beasiswa prestasi sampai keperguruan tinggi. Sayang cita-citanya terhalang restu sang nenek.


Nenek saroh tidak ingin terpisah jauh dengan cucu kesayangannya. Hanya Fatimah yang perduli dengan sang nenek. Takut sewaktu-waktu nenek saroh sakit tidak ada yang merawat.


Sekalipun cucu nenek Saroh ada tiga, tapi kedua cucunya malu mengakui nenek saroh, lagi-lagi karena kondisi ekonomi yang menjadi pemicunya.


Kedua cucunya yang lain adalah anak marni, putrinya yang angkuh, menilai segala sesuatu dengan materi.

__ADS_1


Mungkin watak ibunya mengalir dalam darah dua cucunya yang lain, atau bahkan memang karena didikan sang anak sulung yang membuat ke dua cucunya tak kalah angkuh dari sang ibu.


“langsung pulang kalau sudah selesai sekolahnya, jangan kelayapan, nenek tidak ada yang bantu memberi makan bebek


Hari ini rencananya ada yang mau membeli bebek kita, untuk warung lalapan katanya.” kata nenek saroh, membawa piring kotor kesamping rumah di dekat sumur.


Di kumpulkan jadi satu dengan panci dan gelas bekas teh hangat. Bahkan utuk mengambil air pun masih menggunakan sumur, jangan tanyakan pompa air atau kamar mandi. Barang itu termasuk mewah untuk nenek saroh.


Bisa makan sehari-hari saja rasanya sudah seperti berkah. Mereka menjaga bebek peliharaannya seperti berlian, karena dari sanalah mereka bisa makan. Uang hasil penjualan dibelikan beras, minyak dan kebutuhan lainnya.


“biar nenek yang nyuci piring kotornya kamu berangkat saja, nanti terlambat” ucapnya sekembali dari belakang dapur.


“kalau nenek capek taruh saja nanti fatimah yang mencuci pulang sekolah” jawab fatimah, gadis itu bergegas masuk kedalam rumah, merapikan baju dan kerudung putihnya. Walaupun tidak bisa dibilang putih lagi. warnanya sudah mendekati putih tulang.


Mengambil tas di atas tempat tidur, kembali menghampiri neneknya di dapur. Sekedar berpamitan dan mencium tangan sang nenek


“Fatimah berangkat nek,” ucapnya setelahnya keluar melewati pintu dapur.


Berjalan sambil bersenandung lagu dangdut kesukaannya, milik penyanyi idolanya yang baru dinobatkan sebagai pemenang salah satu kontes menyanyi di televisi. Saluran TV yang bergambar ikan terbang itu memang sering menyajikan acara kontes menyanyi dangdut.


Besar harapan Fatimah, kelak dirinya akan menyusul kesuksesan sang idola. Membawa kebanggaan untuk nenek, keluarga satu-satunya. Dan juga membawa nama kampungnya di ajang nasional. Bukan tanpa alasan Fatimah ingin mengikuti kontes menyanyi dangdut, suaranya tergolong merdu hingga dia dinobatkan sebagai pemenang lomba karaoke tingkat kecamatan pada agustus tahun lalu.


Hadiahnya memang tidak seberapa hanya cukup untuk mengganti sepatu sekolahnya yang tidak layak pakai, karena terdapat sobekan dan lubang bertebaran dimana-mana.

__ADS_1


Tapi bagi Fatimah itu adalah awal dia mengetahui bakat lain dari dirinya, bahwa dia mampu untuk menjadi penyanyi dangdut terkenal, dan bisa masuk TV.


Gadis itu selalu tersenyum senang jika mengingat tentang mimpi dan hayalannya. Tinggal menunggu lulus. Dia akan mewujudkannya.


__ADS_2