FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .

FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .
MENGAGUMI DALAM DIAM


__ADS_3

Hamid, bukan laki-laki biasa seperti kebanyakan siswa disekolahnya. Dia putra dari pemilik usaha truk yang sukses dikampungnya. Laki-laki itu selalu menjadi pusat perhatian siswi lain. Bagi Hamid belajar adalah tujuan utamanya. Kalau ada yang mengagumi dirinya sampai mengejar-ngejar dengan segala cara itu urusan mereka, bukan urusannya.


Cita-citanya ingin menjadi dokter, itulah sebabnya dia belajar begitu giat untuk memudahkan masuk Universitas Negeri sesuai keinginannya. Tampang yang terbilang rupawan, sepeda motor sport tunggangannya. Menjadi daya tarik tersendiri bagi pengangumnya.


Bagi Hamid, Fatimah adalah bentuk wanita sempurna sesuai dengan versinya. Mungkin bagi sebagian orang itu akan dianggap lelucon. Begitu banyak wanita cantik yang mengejarnya, mengaguminya dengan terang-terangan, justru wanita yang tidak dalam kategori cantik yang dia kagumi. Wanita pekerja keras itu sudah mengambil hati Hamid.


Dia sering memandang Fatimah diam-diam, tentu saja wanita itu tidak tahu. Dan tentu saja fatimah tidak akan percaya jika seandainya Hamid mengungkapkan perasaannya.


Rendah diri, merasa tidak layak, itulah yang selalu Fatimah tanamkan dalam pikirannya. Dia tidak berhak mendapatkan perhatian lebih dari orang disekitarnya, karena dia lebih sering mendengarkan cacian dan hinaan dari pada pujian dan sanjungan.


Seperti saat ini, Hamid memperhatikan fatimah yang membantu di acara peringatan seratus hari kepergian sang nenek. Dia duduk di dekat jendela yang menghubungkan dapur dengan ruang utama.


Badannya bersembunyi di balik tembok. Hanya netranya yang mengintip melalui jendela yang terbuat dari kaca tepat diatas kepala Hamid.


“Bantu ayahmu menggelar tikar diluar, sebentar lagi tamunya datang” suara wanita yang melahirkannya mengagetkan Hamid. Seketika dia menatap sang ibu dengan mata terbuka lebar, ekspresinya seperti orang ketahuan mencuri.


“kamu kenapa menatap ibu begitu, aneh sekali. Bantu ayahmu didepan” wanita itu menatap Hamid heran. Putra keduanya itu terlihat gugup. Dia berjalan ke jendela. Mengintip tepat di atas kepala Hamid. Wanita itu tersenyum. Paham apa yang membuat anaknya gugup tidak biasa.


“wanita itu memang pekerja keras ibu suka cara kerjanya, gesit dan rapi. Kamu memang tidak salah menyuruh Fatimah membantu di dapur. Meskipun awalnya ibu ragu".


Hamid diam tertunduk malu. Usianya masih tujuh belas tahun, dia tidak berani mengungkapkan kekaguman pada wanita yang dia sayangi ini.


Sang ibu tersenyum, dia pernah muda paham betul apa yang di alami putranya sekarang. Setiap remaja akan mengalami hal yang sama pada masanya nanti. Bagi ibunya, Hamid tidak masalah mengagumi wanita manapun. Asalkan, cita-citanya yang di dahulukan. Urusan perempuan itu ada saatnya nanti. Kepada siapapun hati putranya berlabuh, dia tidak masalah asalkan wanita baik-baik.


“Fatimah, tolong cucikan panci sama dandang yang besar dulu, setelah itu yang kecil. Kalau sudah selesai bantu ibu-ibu yang lain ngisi nasi buat berkat di bawa pulang tamu nanti” peritah wanita itu dengan suara pelan.

__ADS_1


“baik bi, saya bawa kebelakang dulu” ucapnya mengambil beberapa peralatan masak yang habis dipakai, membawa ke selah dapur di satukan dengan tempat kotor lainnya.


Dia duduk dan mulai mencuci semua peralatan masak itu dengan cekatan. Semua yang dilakukan Fatimah tidak luput dari pandangan Hamid. Baginya semua yang da dalam diri wanita itu menarik. Caranya berjalan, cara fatimah menatap dirinya. Bahkan cara fatimah berbicara. Jika melihat Fatimah tersenyum membuat jantung Hamid sering berdebar tidak karuan .


Fatimah membawa tempat yang sudah bersih masuk lagi kedalam, meletakkan di tempat yang sudah tersedia untuk di keringkan. Di bekerja dalam diam. Pikirannya fokus pada pekerjaanya sekarang, takut sang tuan rumah tidak puas dengan hasil kerjanya.


Dia ingin banyak orang meminta bantuannya seperti sekarang. Uang dan nasi yang didapat tentu sangat membantunya mengurangi beban dia dan sang nenek.


“Fatimah istirahat dulu, sudah masuk waktu maghrib nanti tinggal masukkan puding ke piring kecil itu, setelah shalat jangan lupa makan” ucap ibu Hamid. Wanita memang baik, tidak seperti kebanyakan ibu-ibu dikampung Fatimah yang sering menghinanya.


“iya bi, Fatimah permisi” ucap Fatimah hendak berlalu


“kamu mau kemana, tidak usah pulang shalat disini saja itu ada mushollah” tunjuk sang ibu pada ruangan didepan dapur yang disekat tembok dengan jendela kaca diatasnya.


“Fatimah tidak bawa mukenah” ucapnya pelan


“iya bi, fatimah permisi mau kekamar mandi dulu”


“kamar mandinya di sebelah musholah” ucap ibu Hamid sambil tersenyum, dia tahu wanita ini sangat sungkan terhadapnya. Senyuman itu hanya untuk memecah kecanggungan Fatimah. Dia ingin Fatimah bersikap biasa.


“Fatimah makan dulu” ucap ibu Hamid setelah melihat wanita itu melipat mukenahnya.


“kamu ambil sendiri di dapur, ibu mau shalat dulu” wanita itu masuk kekamar mandi setelahnya.


fatimah, kembali ke dapur. Menuju nasi dan lauk yang tersedia disana. baginya ini makanan mewah, ada daging, ayam, dan sayur lodeh serta lauk lainnya yang bisa dia pilih sesuka hati.

__ADS_1


Dia teringat sang nenek, wanita tua itu sudah makan apa belum. Bagaimana reaksinya nanti kalau Fatimah bawakan makanan lezat ini.


Tangannya meraih sendok nasi yang terbuat dari plastik, hanya dua sendok saja dia tidak ingin terlihat serakah. Baginya ada yang membutuhkan tenaganya untuk membantu acara hajatan seperti ini sudah berkah tersendiri.


Pelan dia mengambil lauk, ayam dan daging sedikit. Ditambah kuah dan sambel secukupnya.


“aku lapar juga, kita makan bareng ya” ucap laki-laki dibelakang Fatimah, wanita itu menoleh. Seperti dugaannya, Hamid mengambil piring dan sendok didekat fatimah. Wanita itu tersenyum, pun dengan Hamid. Mengambil sendok dan lauk, diletakkan diatas nasinya.


“kita makan disana” tunjuknya pada kursi yang ada didapur. Fatimah menggeleng, Hamid menatapnya bingung.


“tidak enak dilihat bapak sama ibu kamu, terus kalau nanti ibu-ibu yang lain lihat bagaimana” tanya Fatimah, dia tidak ingin mendapat penghinaan di tempat ini. Hamid teman sekolahnya memang, fatimah tidak ingin orang berpandangan buruk tentang kedekatannya pada laki-laki disebelahnya ini,


“biarkan saja, nanti kita bicara pelajaran biar mereka tidak berpikiran aneh” harapan Hamid besar agar bisa duduk berdua dengan Fatimah, kejadian yang mungkin tidak akan pernah dia alami. Duduk berdua menatap wanita itu lebih dekat.


Tidak punya pilihan lain, wanita itu menuruti kemauan sang tuan rumah tidak ada salahnya kan.


“lho, katanya belum lapar” goda sang ibu membuat muka Hamid merah karena menahan malu didepan Fatimah. Fatimah menatap Hamid heran, netranya berganti menatap ibu Hamid canggung. Dia malu melihat kedekatannya dengan Hamid, Fatimah tidak ingin ibu Hamid berpikir yang tidak-tidak padanya.


“Maaf bi, saya pindah tempat saja” ucapnya hendak berdiri dengan piring yang masih ditangannya


“tidak usah, temani Hamid makan ya” jawaban ibu Hamid membuat wanita itu lega. Sekarang Fatimah yakin bahwa, wanita yang melahirkan Hamid ini berbeda dengan wanita kebanyakan dilingkungannya.


Kembali fokus pada makanannya, mereka diam sibuk dengan pikirannya masing-masing


“kemarin pelajaran pak joko, kamu ngerti tidak. Kimia itu memang sulit ternyata” Fatimah terbelalak, dia tidak percaya dengan pendengarannya. Bisa-bisanya laki-laki ini membual. Hari ini kan pak joko di ganti guru lain disekolahnya. Fatimah hampir membuka mulut untuk menjawab sampai ahirnya dia tahu alasan Hamid berkata begitu.

__ADS_1


Ibu-ibu yang membantu acara itu mulai berdatangan dan masuk kedapur. Mengambil piring hendak makan malam seperti Fatimah.


Tatapan mereka tidak biasa, ada yang terlihat tidak suka, ada yang bingung, dan ada juga tatapan kebencian untuk Fatimah. Hamid tidak peduli, laki-laki itu terus berbicara, sesekali fatimah menimpali.


__ADS_2