FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .

FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .
MEREKA YANG MASIH PEDULI


__ADS_3

Memasuki gerbang sekolah dengan senyum yang menghisi wajahnya. Selalu begitu setiap pagi, senyum itu tidak pernah pudar dari wajah Fatimah. Berjalan di lorong sekolah, memasuki ruang kelas.


Setiap hari fatimah berjalan kaki. Jarak dari rumah kesekolahnya berjarak 15 menit dengan berjalan kaki, terkadang dia akan berboncengan dengan temannya yang naik sepeda motor ketika kebetulan berpapasan dengannya di jalan.


Tapi hari ini tidak ada seorangpun yang lewat, bukan mereka tidak menawari. Karena memang fatimah berangkatnya kesiangan.


“Kenapa baru sampai. Aku menunggu di perempatan jalan. Kukira kamu tidak sekolah hari ini. ya aku berangkat sendiri” Ida, sahabat fatimah. Dia akan melakukan itu setiap hari. Ida tidak mungkin menjemput fatimah kerumahnya, kalau sang ibu tahu, habis dia kena marah. “jangan menjemputnya, tunggu di perempatan jalan saja”. itu katanya.


Bukan tanpa alasan. Letak rumah fatimah memang kondisinya tidak bisa dilewati sepeda motor. Berada terpencil dibelakang rumah warga.


“tidak apa-apa. lihat, aku sudah sampai dengan selamat, sehat dan utuh lagi” jawaban fatimah mendapat sambutan gelak tawa dari sahabatnya.


“sudah siap untuk ujian ahir, nanti kita belajar bareng. Aku ada buku kisi-kisi soal ujian. Di belikan bapak kemarin” ucap Ida antusias. Dia paham kondisi Fatimah, jangankan membeli buku, untuk mengisi perut saja dia harus memutar otak. Tapi itu tidak pernah mengurangi rasa sayangnya pada sahabatnya ini.


Ida tahu, fatimah orang baik, bahkan sangat baik. tentu tidak semua orang akan mengaggapnya begitu.


Bagi sebagian orang, ukuran baik adalah ketika kita banyak memberi dalam bentuk materi. Bagi ida, kebaikan itu banyak bentuknya, ketika Ida diganggu teman lelakinya, Fatimah adalah orang pertama yang akan menghadapi mereka. Dengan gagah menantang lelaki pengganggu itu berteriak untuk melawannya terlebih dahulu.


Bangga Ida punya teman sebaik fatimah.


“aku cari kamu, aku kira tidak sekolah” seorang laki-laki memakai seragam yang sama dengan Fatimah, menghampiri dengan nafas memburu.


“eh, mid kamu kenapa ngos-ngosan begitu, habis dikejar Hantu?” tanya Fatimah


“Aku lari dari kelasku kesini untuk cari kamu” ucap hamid. Dia tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.


“ada apa” tanya Fatimah lagi, Ida hanya bisa menyaksikan interaksi mereka. Dengan mulut terkunci.


“besok malam bapak sama ibu ada selamatan di rumah, satu tahun nenekku. Kamu disuruh bantu-bantu sama ibu. mau tidak?” tanya Hamid.


Bukan hal baru, semua tetangga sering memakai Jasa Fatimah untuk membantu mereka ketika ada hajatan. Sekedar sebagai tukang cuci piring atau membantu memasak di dapur.

__ADS_1


“benarkah, jam berapa?” tanya Fatimah antusias. Binar bahagia itu terpancar jelas. baginya ini sebuah berkah. Selain bisa makan enak, fatimah juga akan mendapatkan upah. Terbayang wajah sang nenek yang bahagia dengan menyantap makanan lezat.


“acaranya jam tujuh malam, kata ibu kamu datangnya sore, bantu di dapur” penjelasan hamid mendapatkan senyum yang mengembang dari fatimah. Laki-laki itu ikut tersenyum bahagia.


“aku ikut senang” ida memeluk Fatimah. Bagi Ida, kebahagiaan Fatimah adalah kebahagiaannya juga.


“duh, babu seneng banget dapat job” suara dari pintu menarik perhatian ketiganya.


Mereka serempak menoleh ke datangnya suara. Wajah acuh mereka arahkan. Semua sudah tahu perempuan yang memakai baju putih dengan rok abu di atas lutut itu. penampilan yang terlalu seksi untuk anak SMA di kampung mereka.


“Kalau punya mulut di jaga, bagaimanapun Fatimah sepupu kamu”ucap Ida dengan nada tegas, dia melakukan itu untuk membela sang sahabat.


Fatimah dan Adelia ini saudara sepupu, tapi gadis sombong itu seolah enggan mengakui Fatimah.


“Apasih masalahmu, aku ikut senang fatimah dapat kerjaan. Sensi banget jadi manusia. Atau jangan-jangan kamu PMS ya?” ucapnya dengan senyum sinis mengejek sahabat Fatimah.


“tapi tidak usah bilang babu, jaga lisanmu?” amarah ida memuncak. Dia tahu Fatimah tidak akan pernah bisa melawan lia, sepupunya sendiri. karena nanti dia tahu akibatnya. Lia akan mengadukan semua pada bude marni, ibunya. Selanjutnya bisa ditebak apa yang terjadi.


“semangat banget belainnya” ucap Adelia lagi.


“Hamid,,,kenapa jadi belain mereka sih, aku kan kesini cari kamu. Kita makan dikantin ya, aku lapar” suara manja itu ditujukan lia untuk Hamid.


Laki-laki yang dia kagumi selama ini. berbagai cara dilakukan agar bisa mendekati laki-laki tampan bertubuh tinggi itu.


“makanlah sendiri, tangan dan kakimu masih lengkap kan”dan sayangnya pemuda itu tidak pernah tertarik.


Tinggi hati Adelia membuat hamid membenci gadis yang memoles wajahnya dengan bedak tebal. Laki-laki itu selalu menghindar. Wanita itu yang selalu mengejarnya.


“awas kamu Fatimah aku adukan kamu sama ibu” ucapnya hendak berlalu


“lakukan kalau kamu ingin ibumu di seret keliling kampung karena hutang ke bapakku yang sudah menumpuk” ucapan Hamid berhasil menghentikan langkah gadis itu.

__ADS_1


“salam sama ibumu dicari pak wartono” sambung Hamid lagi. seketika wajah itu memucat. Dia berlalu dengan tergesa.


Fatimah melongo mendengar ucapan Hamid, dia tidak ingin percaya dengan pendengaranny. Tapi ini Hamid yang mengatakan, laki-laki di hadapannya ini tidak pernah berbicara tanpa bukti.


“Berapa banyak Hutang bude Marni” tanya Fatimah penasaran, Wajah itu menatap tajam Hamid


“kamu belum tahu?” Hamid bingung, bagaimana Fatimah tidak tahu kalau Wanita yang suka pamer.


Itu berhutang begitu banyak, tidak hanya sama bapaknya. Bahkan semua warga sudah tahu bahwa Bude Marni juga berhutang kepada Tuan Malik.


Fatimah menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan dengan wajah bingung, sungguh dia tidak pernah tahu sang bude berhutang pada orang tua Hamid.


“sudah, tidak usah dipikir semua warga sudah tahu, mungkin nenekmu juga sudah dengar. Bukan saja sama bapak, sama tuan Malik juga” terbelalak lah wajah Fatimah. Sekarang dia tahu alasan sang bude memaksanya menikah dengan laki-laki tua yang masih punya istri itu.


Fatimah marah, kebenciannya dengan kakak dari ibunya itu semakin menumpuk.


Bisa-bisanya dia yang disuruh menikah dengan Tuan malik. Mengapa bukan Adelia, anaknya sendiri. dia sekarang tahu bahwa perjodohannya dengan orang kaya di kampungnya itu hanya untuk menebus hutang wanita serakah itu. Fatimah tidak ingin itu terjadi, kalau sampai wanita itu datang lagi memaksanya untuk menikah dengan pak tua itu, dia akan membongkar aibnya didepan sang nenek.


“Fatimah jangan lupa yah, datang sore, kalau tidak ibuku bisa marah. Dia pikir aku belum menyampaikannya sama kamu” suara Hamid menyadarkan lia dari lamunan.


“pasti, tidak usah khawatir. Aku pasti datang” jawabnya dengan tersenyum.


“aku kekelas dulu, sampai bertemu besok” ucap laki-laki tampan itu. keluar kelas sambil senyum tersemat di wajahnya. Senyum bahagia, yang tidak akan pernah Fatimah lihat.


Bagi sebagian orang, fatimah adalah wanita jelek dengan kulit gelap dan jerawat yang tumbuh menjijikkan di wajahnya. Bagi Hamid Fatimah adalah bentuk wanita sempurna dan cantik yang pernah dia kenal. Bulu mata lentik, bibir sensual merekah senyumyna yang menawan membuat Hamid diam-diam mengagumi Fatimah. Dia hanya bisa menyimpannya, fatimah bukan wanita yang percaya pada laki-laki yang menyukainya. Dia cukup tahu diri dengan kondisi dirinya.


Jam satu siang, semua siswa keluar ruang kelas siap untuk pulang. Ada yang berjalan kaki, ada yang menuju parkiran sepeda motor. Fatimah mengekor dibelakang Ida menuju parkiran, dia akan pulang dengan menumpang pada sahabatnya itu. fatimah berjalan dengan menutup kepalanya dengan tas sekolah, teriknya matahari pas diatas kepala membuat panasnya seperti ingin mendidihkan otaknya.


“nanti sore jadi mau belajar kisi-kisi soal ujian sekolah?” tanya Ida diatas sepeda motor yang melaju pelan.


“tapi aku harus memberi makan bebek, kasihan nenek kalau tidak ada yang membantu memasukkan kekandang” jawab Fatimah lemah. Bukannya dia tidak mau hanya memang keadannya yang tidak memungkinkan.

__ADS_1


“ida saja yang kerumah fatimah, kita bisa belajar di saung sambil mengawasi bebek kamu” ida memberi ide, suaranya setengah berteriak. Suaranya diterbangkan angin terlalu kencang. Ida khawatir Fatimah tidak mendengarnya.


“boleh,,,nanti aku siapkan es teh sama pisang goreng” jawab Fatimah girang. Ahirnya dia bisa belajar tanpa harus meninggalakan tanggung jawabnya.


__ADS_2