FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .

FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .
SEMUA DEMI NENEK


__ADS_3

Semua tamu sudah pulang, acara telah usai tapi belum bagi Fatimah. Gadis itu masih harus membereskan semua peralatan bekas makan tamu undangan sampai selesai. Mengangkat semua piring kotor ke dapur. Di tumpuk menjadi satu.


Di cuci dan dikumpulkan dengan piring bersih lainnya, begitulah pekerjaan Fatimah. Berat bagi sebagian orang, tapi tidak baginya. Diusianya masih tergolong muda dia harus menyingsingkan lengan baju mengencangkan ototnya demi kelangsungan hidup dirinya dan sang nenek.


Tidak ada waktu untuk bersenang-senang, meskipun kesempatan itu selalu ada. Memikirkan pelajaran sekolah dan mengisi perut harus dia lakukan secara bersamaan. Tidak akan ada yang peduli dengannya jika harus mengikat kencang perutnya menahan lapar. Apapun akan Fatimah lakukan demi wanita tua yang telah merawat dan menyayanginya hingga sekarang.


Semua pekerjaan dapur sudah selesai, Fatimah bersiap untuk pulang. Jarum jam menunjukkan angka sepuluh. Lelah memang, tapi dia melakukannya dengan senang hati. Lelah tidak tampak di wajah Fatimah. Kelegaan itu terpancar ketika melihat semua barang-barang yang berserakan di dapur sudah tertata dengan rapi.gadis itu memeriksanya sekali lagi takut ada yang lupa. Lantai bersih peralatan masak sudah kemabli pada tempatnya semula dalam keadaan bersih.


“Fatimah pamit bi” pamitnya pada sang tuan rumah wanita itu tersenyum. Puas dengan hasil kerja teman putranya.


“ini nasi buat fatimah di makan sama nenek ya, yang di plastik hitam ini nasi sisa. Kasihkan buat bebeknya ya. Dan ini ada sedikit tanda terima kasih bibi buat Fatimah. Jangan sungkan kalau bibi panggil lagi buat bantu-bantu ya” bu Hamid menyodorkan beberapa bungkusan susuai petunjuknya tadi. Dan amplop berwarna putih untuk Fatimah. Perempuan itu tersenyum ramah.


“terima kasih banyak bi, semoga rejeki bibi di tambah” ucapnya menerima amplop putih di tangan sang tuan rumah


“sampaikan salam bibi buat nenek Fatimah” ucap wanita itu lagi.


Semua bungkusan itu sudah ada ditangan Fatimah, gadis itu hendak berlalu”


“Aku antar ya” suara Hamid tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Ternyata laki-laki itu dari tadi menyimak pembicaraan mereka.


“tidak usah, Fatimah pulang sendiri enggak enak dilihat orang”ucap Fatimah lirih, laki-laki itu kecewa dengan penolakan Fatimah. Harapannya besar bisa mengantar gadis itu sampai kerumahnya. Hamid khawatir, karena sudah terlalu larut untuk seorang gadis.


“ini sudah malam sebaiknya Fatimah diantar hamid ya” ucap wanita itu lagi


“terima kasih bibi, tapi Fatimah bisa pulang sendiri. apa kata orang nanti kalau Fatimah Diantar laki-laki dengan berboncengan malam-malam” Fatimah benar, gadis itu hapal betul karakter tetangga di kampungnya. Wanita itu setuju dengan ucapan Fatimah.


Fatimah melangkah keluar halaman rumah Hamid, dilepas dengan tatapan kedua orang didepan teras rumah berwarna cokelat muda itu.

__ADS_1


“anak ibu sudah besar sekarang” ucapan ibunya memaksa Hamid memutar kepalanya menatap sang ibu. laki-laki itu bingung dengan ucapan ibunya


“ibu pernah muda, tidak usah bingung gitu melihatnya” lanjutnya lagi menepuk pundak putranya pelan, berlalu masuk kedalam rumahnya dengan tersenyum. Hamid ikut tersenyum malu. Ternyata ibunya bisa membaca keadaan.


Sampai dirumah, membuka pintu yang tidak terkunci. Fatimah tahu kalau sang nenek tidak akan mengunci pintu itu sebelum dia kembali.


“sudah pulang nak” ucap sang nenek. Wanita tua itu iba melihat cucu kesayangannya harus banting tulang mencari nafkah untuknya. Segala kalimat pengandaian muncul di kepala sang nenek


Seandainya ayah Fatimah tidak pergi dengan wanita itu, mungkin sekarang gadis itu tidak harus bekerja keras sampai selarut ini. hidupnya akan terjamin karena ada ayahnya yang mengambil alih tugas Fatimah mencari nafkah. Hati nenek saroh berdenyut sakit. Tuhan sudah mengatur jalan hidup umatnya. Doanya hanya satu kelak Fatimah menjadi orang sukses tanpa harus menjadi penyanyi dangdut.


“nenek sudah makan. Ini di bawain nasi sama ibunya Hamid” fatimah menyerahkan bungkusan berisi nasi dalam tempat plastik berisi nasi dan lauk yang di pisah.


“kalau yang plastik hitam itu nasi sisa buat dikasihkan bebek. Dan ini amplop dari ibunya Hamid, dia juga titip salam buat nenek” ucap Fatimah panjang lebar, wajahya berbinar menyerahkan amplop putih itu ke tangan sang nenek.


Wanita itu terharu, bahkan hasil kerja kerasnya dia berikan begitu saja.


“orangnya jadi datang?” tanya Fatimah


“iya, tapi hanya membeli lima ekor dulu, kalau nanti dagingnya bagus akan kembali lagi. rencananya mau mengambil dalam jumlah banyak. Terus orang itu menyarankan nenek untuk memberi bebek Vitamin biar cepat besar. Nenek mana punya uang untuk membeli vitamin bebek” suara nenknya melemah.


“nanti Fatimah cari cara untuk membeli Vitamin, apa nenek tahu harganya, maksud Fatimah, apa orang itu memberi tahu harganya”


“sekitar tiga piluh ribuan, lumayan mahal nak” uang segitu terlalu besar untuk mereka. Cukup untuk membeli beras dan minyak goreng di warung depan gang fatimah.


“tidak apa-apa, nanti Fatimah beli. Kan ada uang yang ini” menunjukkan amplop putih dari ibunya Hamid sambil tersenyum.


“simpan saja buat kamu, urusan vitamin itu biar nanti kita cari cara lain”

__ADS_1


“Fatimah mandi dulu nek, gerah” ucapnya berlalu.


“kamu sudah makan?”


“sudah nek, tadi disana sama ibu-ibu yang lain” setengah berteriak dari ruang tengah


“kalau gitu nenek taruh dulu buat sarapan besok pagi, nenek sudah kenyang” neneknya juga berlalu ke dapur meletakkan bungkusan itu di lemari kayu yang sudah usang tempat meletakkan makanan.


Selesai membersihkan diri, Fatimah bersiap berbaring di ranjang yang sama dengan neneknya. Di rumah ini hanya ada satu ranjang berukuran sedang cukup untuk Fatimah dang nenek saroh. Merebahkan diri disebelah sang nenek yang sudah berbaring terlebih dulu.


“ibunya Hamid baik nek, dia tidak sama dengan tetangga yang lain yang suka menghina kita” ucap Fatimah, tatapannya lurus ke atas. Genteng rumah yang terlihat jelas tanpa penghalang plafon.


“tidak semua warga disini buruk, masih banyak yang baik sama kita” jawaban sang nenek


“saya kira akan sama, Hamid kan orang kaya” jawab Fatimah


“tapi wanita itu sederhana, tidak suka pamer berlebihan seperti ibu-ibu yang lain”


“iya juga ya nek, padahal uang ibunya Hamid itu banyak”


“kok Fatimah tahu”


“rumahnya besar, dapurnya lebar ada mushollahnya juga,terus Hamid naiknya motor mahal kalau kesekolah”


“sombong itu tidak ada untungnya, takut suatu saat tuhan mengambil semua yang kita punya terus kita bisa apa?” ucapan sang nenek mendapat tatapan kagum dari Fatimah.


“kalau nanti Fatimah sukses, kita bikin rumah besar di depan. Jangan disini. Terus rumahnya Fatimah kasih pagar yang tinggi, dari besi yang ada ukirannya. Rumahnya lantai dua, nenek bisa tinggal di bawah, kalau naik turun tangga nenek pasti capek” pikiran Fatimah melayang, bayangan tentang kesuksesannya menari dipelupuk matanya. Dia berjalan anggun dengan pakaian bagus, tas mahal. Emas memenuhi leher dan pergelangan serta jari-jari tangannya. Bibir itu tertarik perlahan

__ADS_1


“tidurlah, besok kamu sekolah” suara nenek saroh menyadarkan Fatimah. Tapi gadis itu yakin suatu saat semua impiannya akan terwujud. Dia akan bekerja keras, menumpulkan rupiah demi masa depannya. Dengan menjadi penyanyi dangdut.


__ADS_2