
Kembali tumpukan buku pelajaran itu memenuhi meja, Fatimah membuka satu persatu lembaran ilmu pengetahuan itu. baginya buku paket yang dari perpustakaan sekolah sudah cukup membantunya mempelajari kisi-kisi soal ujian yang akan dihadapinya bulan depan.
Dia tidak mampu untuk membeli buku tebal seperti milik Ida sahabatnya, cukup dengan membaca beberapa buku referensi yang dia pinjam dari perpustakaan saja. tapi Ida selalu membawa buku itu kesekolah.
Akhir-akhir ini Fatimah lebih sering berada di perpustakaan. Menghabiskan waktu istirahatnya dengan membaca. Tidak ada kesempatan baginya untuk melanjutkan kuliah, karena terhalang ekonomi. Baginya mendengar kata kuliah itu begitu mahal sampai ketelinga Fatimah. Tapi dia juga ingin lulus dengan nilai yang baik, setidaknya neneknya bisa bangga dengan Fatimah.
Ketukan pintu terdengar begitu keras, sang tamu seperti tidak sabar menunggu pintu terbuka. Dengan tergesa Fatimah memutar handle pintu itu
“lama banget bukanya, lelet lelet” suara Bude marni marah, Fatimah tahu kedatangan wanita ini ada hubungannya dengan rencana perjodohan yang sudah dirancangnya.
“saya belajar bude, maaf” ucapnya sopan tidak berani menatap wajah yang di penuhi amarah itu
“buat apa belajar. Toh, setelah ini kamu akan menikah juga. tidak usah buang-buang waktu. Lebih baik sekarang kamu belajar dandan agar nanti tuan malik tidak kecewa. Ini ada sedikit uang untuk membeli bedak agar jerawatmu itu hilang” menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru
“tidak, terima kasih. Bude simpan saja uangnya” sebisa mungkin Fatimah menekan suaranya agar terdengar sopan.
“sombong sekali kamu, uang ini bisa membeli makanmu selama seminggu” ucap sang bude sarkas. Bagi Fatimah rasa sakit karena penghinaan itu sudah biasa. Apalagi dari mulut wanita yang berlidah tajam didepannya ini.
“Fatimah tidak ingin menikah dengan siapapun, termasuk sebagai penebus hutang bude pada Tuan Malik. Mengapa harus Fatimah, bukannya mbak Amel saja yang jauh lebih cantik dari Fatimah” ucap Fatimah. Gadis itu tidak mengerti dengan jalan pikiran sang bude, bagaimana dia bisa yang dijadikan tumbal sedangkan budenya sendiri mempunyai dua anak gadis.
“lancang bicaramu Fatimah, kamu sudah mulai melawanku. Ingat, bude melakukan ini agar hidup kalian berubah, saya prihatin dengan keadaan kalian. Tapi menuduh bude menjualmu pada Tuan Malik. Ini sudah keterlaluan Fatimah” wanita itu mulai berteriak, amarahnya memang mudah tersulut kalau berhadapan dengan Fatimah.
__ADS_1
“Bude di cari Pak Wartono” ucapan Fatimah menirukan ucapan Hamid waktu itu. dia hanya ingin memastikan bahwa wanita didepannya ini memang punya hutang pada Ayah Hamid. Benar saja. seketika wajah wanita itu pucat. Dia tidak melanjutkan lagi kata-katanya. Semakin menambah keyakinan Fatimah bahwa sang bude memang sedang terlilit hutang.
Suara bantingan pintu keras terdengar membuat Fatimah terkejut. Bude marni pulang tanpa permisi. Sedikit Fatimah bisa bernafas lega. Dia yakin bahwa budenya tidak akan berani menjodohkan dirinya dengan laki-laki tua yang sudah beristri itu.
Kembali melanjutkan membuka buku pelajarannya. Ketika matahari hampir terbenam.
“Nenek sudah memasukkan semua kekandang. Oiya, seperti ada suara budemu barusan” ucap sang nenek.
“sudah pulang nek”
“Semoga dia tidak memaksamu lagi Fatimah, Nenek bingung entah apa yang membuat Marni seperti itu. mengapa harus kamu, Amel kan lebih cukup umur.” Fatimah kaget, itu artinya sang nenek tidak tahu tentang kondisi bude marni yang terlilit hutang.
***
Fatimah bisa bernafas lega, Bude Marni tidak pernah datang lagi kerumahnya dan memaksa gadis itu untuk menikah. Sekarang dia bisa fokus mempersiapkan ujian kelulusan sekolahnya. Bersama ida, dia belajar dengan giat. Dengan buku yang dibeli ayah Ida dari kota, mereka belajar setiap sore sepulang sekolah.
Kuliah, tidak ada dalam rencana hidup Fatimah. Pikiran gadis itu sekarang fokus mencari uang, menabung demi obsesinya menjadi penyanyi dangdut. Berbagai rencana sudah dia susun setelah lulus sekolah nanti. Mungkin meninggalkan nenek saroh adalah rencana yang sedikit menyesakkan hatinya.
Demi masa depan, karena Fatimah yakin semua kesulitannya kelak hanya sementara. Setelah itu dia dan sang nenek akan bahagia dengan ekonomi yang tidak memperihatinkan seperti sekarang.
Duduk didalam perpustakaan adalah kebiasaan Fatimah ahir-ahir ini. istirahat sekolah dia manfaatkan untuk itu. jika teman sebayanya sedang makan dikantin sekolah, tapi tidak bagi Fatimah uangnya lebih baik ditabung dari pada harus membeli makanan dikantin sekolah. Dari dulu memang seperti itulah Fatimah, sejak kepergian sang ayah sebagai tulang punggung keluarganya.
__ADS_1
“aku bawakan minuman” suara Ida mengalihkan Fatimah dari buku pelajaran di hadapannya.
“jangan sampai ketahuan petugas perpustakaan, kamu lupa ya” Fatimah berbisik tatapannya nanar, kepalanya bergerak kekiri dan ke kanan mencari keberadaan petugas perpustakaan.
“ya sudah, kita belajar di halaman belakang sekolah. Bawa buku nya” ida berdiri hendak berlalu.
“kita pinjam dulu kepetugasnya, kamu tunggu diluar bawa minumannya” Fatimah membawa dua buku ditangannya, berjalan beriringan dan berpisah di balik rak, mereka takut ketahuan petugas karena membawa minuman kedalam kelas.
“jangan lama-lama” pesan Ida sebelum mereka berpisah
“siap tuan putri” Fatimah membungkuk seolah memberi hormat pada sahabatnya, tawa mereka pecah sesaat setelah Fatimah melakukan kekonyolan
“kamu masih dipaksa suruh nikah” nah kan, jadinya kalau belajar diluar perpustakaan, wanita tetaplah wanita pada kodratnya mereka ada sesi curhat. Padahal waktu istirahat mereka hanya tinggal lima belas menit lagi.
“kemarin sih iya, tapi ahir-ahir ini bude sudah enggak pernah datang lagi kerumah” Fatimah menceritakan, keadaannya. Sebenarnya gadis itu senang tapi kadang rasa khawatir itu ada, Dia kenal betul wanita itu tidak akan menyerah begitu saja. memaksa Fatimah menikah dengan laki-laki tua yang masih punya istri. Apakah itu bukan suatu kejahatan namanya, Fatimah akan menyakiti hati istri pertamanya, bagaimana sakitnya sang ibu ketika ditinggal pergi bapaknya bersama selingkuhan hingga ibu Fatimah sakit-sakitan. Gadis itu bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan istri tuan malik kalau dia jadi menikah dengan laki-laki tua itu.
Belum lagi reaksi anak-anak tuan malik melihat ibunya di duakan. Apakah mereka akan tinggal diam, rasanya tidak mungkin mereka akan berdiam diri melihat rumahtangga kedua orang tuanya terusik oleh orang ketiga.
Fatimah membayangkan dilabrak oleh anak tuan malik, dia akan di caci, dipukul,hardik, bahkan lebih parahnya lagi, Fatimah akan djambak dan diseret keliling kampung. Dipermalukan sebagai wanita murahan tidak tahu diri.
Bagaimana reaksi tetangga mereka, maka akan semakin terpuruklah Fatimah. Dan hinaan itu akan mengiringinya sepanjang hidup. Cap sebagai pelakor akan dia sandang seumur hidupnya. Mengingat itu terkadang Fatimah ngeri sendiri. baginya lebih baik tidak menikah dari pada menjadi perusak rumah tangga orang. Pemuda dikampung itu kan masih banyak. Tidak mungkin salah satu dari mereka tidak ada yang tertarik dengan Fatimah.
__ADS_1