FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .

FATIMAH (Mutiara Dalam Lumpur) .
HAMID EMOSI


__ADS_3

Tuhan sudah menyiapkan pasangan bagi setiap manusia, tidak usah merebut apa yang menjadi milik orang lain. Terkadang yang terlihat sempurna ketika menjadi pasangan orang, belum tentu dia kan sempurna ketika menjadi pasangan kita. Dan jangan memantaskan diri untuk menjadi pasangan dari laki-laki yang sudah beristri. Itulah yang sering di tekankan Fatimah dalam pikirannya.


“kedengarannya bagus sih, tapi kok aku tidak bisa percaya begitu saja sama bude kamu” kekhawatiran yang sama diungkapkan oleh Ida, ternyata sahabatnya punya perasaan yang peka.


“semoga saja kekhawatiranmu tidak akan terjadi” hanya menghibur saja, padahal ketakutan itu selalu ada setiap saat. Entah bagaimana Ida juga merasakan hal yang sama.


“sekarang aku jadi tahu, bagaimana adelia sama mbak Amel bisa membeli barang-barang bagus itu, baju model terbaru, Motor baru. jadi itu dapatnya hutang” Ida bernarasi, tangannya mengetuk-ngetukkan bolpoin ke keningnya. Tatapannya menerawang


“kenapa jadi ngomongin bude aku, jadi banyak waktu habis terbuang kalau kayak gini” protes Fatimah. Dari tadi tidak sedikitpun buku yang pinjam diperpustakaan dibaca


“itulah mengapa kita lebih baik belajar didalam dari pada diluar” lanjutnya lagi


“kamu nggak perlu belajar sungguh-sungguh. Otakmu kan sudah encer. Lain dengan aku, mau belajar seminggu berturut-turut juga IQku tetap jongkok”


“tidak usah merendah gitu lah, kamu kan pinter juga, hanya saja kamu tidak semangat Kamu masih lima besarkan dikelas” ucap Fatimah.


“itu juga karena aku berteman sama kamu” jawab ida, mukanya masam mengingat ucapan teman-teman sekelasnya. Dia tidak akan dapat nilai sebagus itu kalau tidak duduk sebangku dengan Fatimah.


“emang kita contek-contekan?” tanya Fatimah menatap tajam kearah Ida


“Enggak juga, tapi pikiran mereka kan begitu” jawab ida tanpa semangat


“kamu tuh ya, masih peduli sama omongan orang, kayak aku dong, tidak peduli mau dihina, direndahkan bodo amat yang penting kita tidak menggganggu mereka” ucap Fatimah penuh semangat, baginya dia sudah mulai kebal dengan segala penghinaan.


“kita tidak sama,aku orangnya sensitif. Dan jangan lupa kalau aku adalah sahabatmu paling cengeng. Merepotkan sekali harus berlindung di balik ketiak Fatimah ketika mereka menggangguku, tidak terlihat keren” gerutunya.

__ADS_1


“itulah tugasku sebagai sahabat, dan tugasmu adalah, menghiburku ketika aku terpuruk, kita saling melengkapi, tidak ada yang lebih unggul” Fatimah berusaha menghilangkan rasa tidak percaya diri Ida.


“beruntung banget aku punya kamu” ucapan itu tulus keluar dari hati Ida.


“apanya yang beruntung, yang ada kamu ketiban sialnya juga, keseringan membelaku kamu juga ikut dihina sama yang lain, tuh, yang kemarin kamu dihina juga sama lia gara-gara belain aku. Itu masih satu contoh, belum yang lain” nada suara Fatimah merendah, sebenarnya dia tidak tega selalu melibatkan Ida dalam hidupnya. Selalu kena dampak buruk ketika ada yang menghina Fatimah.


“Cuma lia, enggak ada apa-apanya. Dia begitu karena lia naksir Hamid, tapi sayang, Hamidnya tidak respon sama sekali.”


“Hamid punya standart yang tinggi buat nyari cewek, mungkin nanti cari anak kota yang blink-blink” keduanya terbahak setelah mendengar kalimat penutup Fatimah.


“apanya yang blink-blink” sontak mereka terdiam, menyadari yang jadi objek pembicaraan mereka tiba-tiba muncul dihadapan.


“aku cariin ternyata disini, aku ada kabar gembira hari ini” wajah Hamid berseri, tampak aura kebahagiaan terpancar disana. Fatimah dan ida ikut tersenyum, mereka belum mengerti. Tapi melihat Hamid bahagia. Hati mereka juga ikut bahagia


“aku diterima Fakultas Kedokteran, tinggal nunggu hasil ujian ahir” Fatimah tak mampu menyembunyikan kebahagiaan yang sama dengan Hamid


“Hamid keren, bahagianya kita sebentar lagi akan ada dokter dari kampung kita sendiri. dari dulu kan dokter yang bertugas disini semuanya pendatang”


Benar ucapan Fatimah. Dokter yang ada bertugas dipuskesmas itu sering berganti-ganti, ketika masa kerja mereka habis maka diganti dokter yang lain. Tidak ada dokter yang berasal dari kampung mereka sendiri.


“itulah sebabanya aku ngambil jurusan Kedokteran. Biar ada yang mau membangun kampung kita. Masa terus-terusan begini. Tugas kita sebagai anak muda harus lebih kuat dan lebih maju. Agar kampung kita ini bisa maju. Fatimah jadi artis siapa tahu kan...nanti setelah Fatimah masuk TV terkenal, mereka akan mencari tahu kampung asal Fatimah. Keren kampung kita dikenal luas” Hamid antusias.


“kayaknya kalau itu sulit, aku belum mendapat ijin dari nenek”


“jangan putus asa begitu, kalau kamu punya keinginan yang kuat, pasti nanti ada jalannya jangan lupa berusaha ya, kita selalu dukung kamu kok” Hamid memberi semangat.

__ADS_1


Hamid tahu keinginan Fatimah itu dari dulu begitu kuat, tapi akhir-akhir ini sudah tidak sekuat dulu, entah mengapa gadis yang di kaguminya dalam diam itu seolah enggan untuk melanjutkan cita-citanya.


“aku akan selalu ada dibelakangmu membantu, apapun itu Fatimah. Nanti kalau kamu ada kesulitan datang saja pasti aku bantu” ucap ida,


“fokus ujian dulu ajah... tentang cita-citaku nanti aku bicarakan sama nenek pelan-pelan”mereka tersenyum bahagia melihat semangat itu kembai menyala dalam diri Fatimah.


“tentang perjodohanmu gimana?” pertanyaan ida mengundang tatapan tajam Hamid


“emang kamu dijodohkan dengan siapa?” Hamid tidak ingin mendengar kan berita yang ini, Hamid tidak suka. Rasa yang dia simpan untuk Fatimah harus tertuntaskan tapi tidak sekarang karena Hamid yakin Fatimah tidak akan percaya.


“itu rencana budeku, mau menjodohkan aku sama tuan Malik” Fatimah tidak bersemangat menceritakan hal yang terlalu pribadi dengan orang lain. Sekalipun laki-laki itu Hamid. Ada pengecualian untuk Ida. Semua hal tidak ada yang disembunyikan untuk sahabatnya itu.


“pasti ada sesuatu, kenapa Harus tuan malik. Seperti dikampung kita kehabisan stok laki-laki single saja” Hamid menahan amarah didadanya. Dia sekarang yakin tujuan orang tua Delia mau menjodohkan Fatimah dengan laki-laki tua dikampungnya itu.


“kenapa bukan Amelia kakaknya Adelia yang disuruh nikah, mengapa harus kamu Fatimah?” Hamid tidak terima dengan perlakuan tidak adil wanita yang punya hutang kepada bapaknya itu.


“kamu kenapa mid,,,emosinya enggak wajar. Apa aku harus mencurigai sesuatu tentang kamu” bener-bener mulut ida tidak bisa di rem. Gadis itu mencium bau kemarahan yang tidak wajar dari nada bicara Hamid.


“maksud aku mengapa budenya Fatimah mengatur hidup Fatimah, kalau mau peduli seharusnya bantu Fatimah gimana bisa hidup lebih baik dengan neneknya dukung cita-citanya bukan malah disuruh kawin, itu kan namanya menghambat” Hamid gusar mendapat tatapan tajam dari dua wanita didepannya. Apakah mereka bisa membaca hatinya, itu yang ada dipikiran Hamid. Tapi laki-laki itu berharap semoga itu tidak terjadi


“ayo masuk, itu bel sudah berbunyi. Aku duluan” terlihat sekali Hamid wajahnya salah tingkah. Dari wajahnya yang menunduk seolah ingin menyembunyikan sesuatu.


“kamu ada mencurigai sesuatu nggak tentang Hamid, atau merasa gimana gitu sama Hamid”celetuk Ida pada Fatimah.


Fatimah menggeleng pelan, sebenarnya gadis itu merasakan ada yang lain dari Hamid tentang dirinya ketika membantu dirumah Hamid. Tapi dia tidak mau berprasangka tentang itu semua. Rasanya tidak mungkin seorang Hamid memiliki perasaan lebih terhadap Fatimah. Cukup tahu diri, itu yang selalu ditekankan Fatimah dalam dirinya. Antara Hamid dengan Fatimah statusnya sangat jauh. Fatimah tidak ingin mendapat malu karena terlalu percaya diri dengan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2