Fight For Honor

Fight For Honor
Korban Penembak Misterius!


__ADS_3

Gungun berlatih sprint di jalan Burung tungku yang jalan-panjang dan lurus. Jalannya beraspal namun kiri-kanan masih berupa sawah-sawah ini menjadi tempat latihan yang cocok karena sepi dari lalu lalang kendaraan.


Hampir setiap pagi ketika udara masih berkabut, Gungun sudah pergi joging ke tempat ini lalu berlatih sprint untuk menghadapi turnamen yang waktunya sudah dekat. Targetnya tidak harus mampu lari 100 meter dalam 13 detik, karena ia bukan atlit sprint.


Jam tangan Casio CMD-40 yang ada fungsi stopwatch-nya memberikan informasi ia sudah mampu berlari di bawah rata-rata 17 detik!


Berlatih sprint setiap pagi ia hanya butuh waktu maksimal 4 atau 5 kali berlari 100 meter sudah cukup, lalu pulang berjalan kaki saja untuk berhemat tenaga. Ketika pulang matahari mulai naik dan bersinar terik.


Ia ada membawa sebuah tumbler lalu meminum air yang tersisa sambil berjalan. Tidak lama kemudian ia sudah tiba di rumah.


Di halaman ia melihat mama sedang menjemur pakaian yang baru dicuci. Sementara Papa berjongkok di pintu pagar. Rupanya Papa sedang memperbaiki pagar.


"Assalamu'alaikum ..." sapa Gungun. Papa menjawab sapaan anaknya yang baru pulang.


Hari ini minggu dan seluruh keluarga ada di rumah. Papanya Gungun libur dari pekerjaannya sebagai staf keuangan di sebuah pabrik garmen. Demikian pula dengan Dila yang bekerja sebagai staf redaksi koran PR.


Ketika tiba di kamarnya sendiri ia lepas jam tangan itu lali diletakkan di atas meja. Kemudian ia menyalakan radio dan mencari-cari frekuensi yang cocok.


Ketika sayup-sayup terdengar alunan lagu Holiday grup band Scorpions, ia duduk bersandar dan beristirahat sambil menikmati lagunya ...


Let me take you far away


You'd like a holiday


Let me take you far away


You'd like a holiday


...


Di atas meja masih berserakan foto-foto, gunting, buku yang tadi setelah shalat subuh baru mulai dikerjakan lalu ia tunda untuk pergi joging.


Sambil beristirahat, pelan-pelan ia lanjutkan menempatkan sebuah foto yang telah ia gunting untuk di tempel pada halaman bukunya.


Sementara di luar tampak Mama baru saja sedang meletakkan cucian pada jemuran.


"Duh musti dibongkar dulu nih," terdengar suara Papa sedikit mengeluh. Ia sedang memperbaiki tiang pagar yang sudah miring. Di tangannya telah ada sebuah linggis.


"Biar si kasep [1] ikut bantuin, Pah ..." ujar Mama.


Lalu Mama meminta tolong pada Gungun yang sedang berada di kamarnya. Tempat Mama menjemur persis di sebelah jendala kamar anak laki-lakinya.


"De, bantuin Papa tuh, da bageur, [2] kasep ..." bujuk Mama.


Sementara Gungun sendiri bukannya tidak peduli, hanya ia enggan kotor oleh tanah. Lagipula ia ada yang dikerjakan.


"Tanggung Ma, lagi pasang foto-foto di album ..." sahut Gungun sambil menaruh sebuah foto pada halaman sebuah buku. Foto The Police yang telah ia gunting lalu ditempel menggunakan lem pada buku yang ia jadikan sebagai album koleksi grup-grup band-nya.


"Eh, si kasep kalo diminta tolong tuh ya ..." keluh Mama.


"Biarin Ma," sahut Papa, "bisa Papa kerjain sendiri kok ..."


Sementara itu masih ada harapan pada Mama agar Gungun mau bantuin Papanya.


Lalu Mama mencoba menyuruh sekali lagi, "De ..." Belum selesai omongan, di saat itulah Mama mendengar volume musik dari radio dikeraskan tepat pada saat masuk ke bagian bridge ...


...


Longing for the sun, you will come


To the island without name


Longing for the sun, be welcome


On the island many miles away from home


Be welcome on the island without name

__ADS_1


....


Jadilah sekarang Gungun tidak terganggu oleh suara-suara lain selain dari radionya. Ia lanjut membenahi album koleksi foto-foto grup musik yang tempo hari ia beli di toko kaset dan sekarang telah ditempel pada buku hardcover ukuran B5. Sementara album itu adalah buku yang ia beli di gramedia tempo hari . Ia beli lagi, karena buku sebelumnya telah penuh. Selanjutnya foto-foto yang telah ia susun tinggal diberi balon dialog atau tulisan-tulisan lain yang inspirasinya akan dicari bila idenya sudah ia dapatkan.


Radio portable 4 Band ditaruh pada kapstok tempat menggantung pakaian yang letaknya di samping jendela. Pada bagian atas kapstok ada papan berupa rak untuk menaruh barang-barang seperti radio itu. Sementara itu Gungun sendiri duduk di depan meja belajarnya. Kamarnya tidak besar tetapi bagi Gungun kamar ini adalah istananya. Beberapa poster grup-grup Band berbagai ukuran dipasang pada dinding kamar. Hanya ada satu poster yang bukan artist musik, yaitu seorang Bruce Lee yang mengenakan kaos training kuning bergaris yang khas seperti pada film Game of Death.


Begitu asyik Gungun dengan hiburannya yang bahkan sekarang lagunya sudah berganti dengan


judul, Everytime you go away dari Paul Young.


.....


Hey!, if we can solve any problem


Then why do we lose so many tears


Oh, and so you go again


When the leading man appears


Always the same thing


Can't you see, we've got everything goin' on and on and on


Every time you go away you take a piece of me with you


Every time you go away you take a piece of me with you


Go on and go free, yeah


....


Kali ini ia tidak memutar kaset yang berada di raknya atau kaset-kaset yang ditaruh berbaris pada dinding kamar, tetapi ia dengar dari radio saja karena penyiarnya seringkali menyisipkan info-info yang berkaitan dengan lagu-lagu yang sedang diputar. Informasi seperti itu biasanya tidak ia dapatkan dari majalah karena updated dari penyiarnya berguna untuk bahan obrolan dengan teman-teman sesama penyuka musik.


Pada saat itu ia melihat Papa sedang bicara dengan Pak Pendi, tetangga di depan rumah. Tetapi di saat yang sama Mama ikut mengobrol? Tadinya Gungun tidak terlalu perhatian. Tetapi lama kelamaan ia melihat semakin banyak orang. Di depan seperti ada yang menarik perhatian mereka dan pandangannya sama ke satu arah. Lalu akhirnya ia turunkan volume radio dan mencari tahu apa yang sedang terjadi?


"Kata Pak Pendi, ada korban petrus lagi ..." sahut Papa.


"Hah, siapa? di mana?" tanya Bu Suryani dengan ekspresi terkejut.


"Gak, tau. Belum jelas saya juga," ujar Papa. "Coba tanya Pak Pendi ..."


"Siapa?" tanya Bu Suryani kepada Pak Pendi, tapi Pak Pendi sendiri malah tersenyum.


"Saya juga baru


tau segitu aja dari Pak Heri yang barusan ketemu di pos ronda ..."


Kabar itu belum jelas tetapi semakin bertambah orang yang datang dari segala penjuru. Lalu Gungun ikut ke luar mengejar Dila yang sudah lebih duluan pergi.


"Mudah-mudahan mayat itu si Obar, biar aman kampung kita," ujar Bu Suryani. "Kemarin warung suamiku disatroni si Obar sambil bawa golok!"


"Kenapa lagi?" Tanya Pak Pendi.


"Ditagih utang makan dan ngopi, malah ngamuk!" Sahut Bu Suryani.


"Kan, di terminal banyak keamanannya...?"


"Boro-boro bantuin suamiku, malah mereka juga pada ngutang dan susah ditagihnya!" Umpat wanita itu. "Sekarang semenjak si Kancung modar, mereka pada menghilang ...? Dan sekarang terminal menjadi aman."


Gungun pun sudah tahu bahwa korban petrus yang tempo hari terjadi di baskot adalah si Kancung yang ia dengar sebagai dedengkot preman di terminal yang terkenal bengis.


Pada saat itu ada seorang Bapak yang datang dari arah di mana mereka memusatkan pandangan.


"Pak Mamat, beneran kabar ada yang mati korban petrus?" Tanya Bu Suryani yang paling ingin tahu.


"Iya," jawab Pak Mamat. "Mayatnya bertato!"

__ADS_1


"Oh, siapa?"


"Belum tau!"


"Pak Mamat udah liat langsung?" Tanya Papa.


"Belum," jawab orang itu, "kayaknya sih begitu."


"Trus ketemunya di mana?" Bu Suryani bertanya kembali.


"Di sungai ..." sahut Pak Mamat sambil ngeloyor pergi melanjutkan tujuannya.


"Di sungai sebelah mana?" Tanya Bu Suryani semakin penasaran.


"Gak tahu! Da di sana banyak orang, jadi gak bisa liat sungainya." Ujar Pak Mamat menyempatkan diri memberi jawaban.


"Eh, teu baleg ditanya teh! [3] Kirain lihat langsung." Omel Bu Suryani.


Lalu lalang orang di luar rumah semakin banyak. Tetapi satu sama lain tidak jelas dan sedang nengira-ngira siapa kali ini korbannya? Beberapa orang yang tingkat kepenasarannya lebih tinggi bergegas mengikuti arah orang yang lebih dulu pergi.


Tetapi Gungun tidak berminat mencari tahu seperti yang lain pergi ke sungai yang letak lintasannya ada di RW 09. Ia pikir toh nanti juga bakal tahu dari mereka yang melihat langsung ke sana.


Tadinya ia bermaksud kembali ke kamar, tetapi ia terkejut manakala melihat ceu Sari yang datang dengan tergopoh-gopoh tanpa alas kaki. Wanita itu mengenakan kaos berlengan panjang dan kain batik yang dikenakan terulur hanya sampai lututnya sehingga jalannya lebih gesit. Kepalanya dililit kain batik pula seperti orang yang sedang bekerja di sawah atau di ladang. Ia lewat dan tampak wajahnya kusut seperti orang linglung dan mengkilat oleh keringat. Ia bergegas pergi ke sungai yang ditunjuk orang letak mayat korban Petrus itu.


Ceu Sari adalah kakak si Rudi. Setahu Gungun ceu Sari lebih tua sedikit dari Dila. Ceu Sari sudah menikah dan punya anak yang masih balita. Gungun sempat mendengar beberapa kali wanita itu berbicara pada dirinya sendiri bahwa ia sedang mencari-cari Rudi yang telah beberapa hari tidak pulang ke rumah!


Mendengar hal itu Gungun menjadi terkejut lalu serta merta mengejar wanita itu. Ia menjadi ikut cemas lalu mencari tahu pula siapa sesungguhnya kali ini korban petrus itu?


Setelah lumayan jauh mengekor ceu Sari, akhirnya ia tiba di tempat kerumunan orang yang semakin menyemut. Tetapi ia tidak bisa terus memasuki tempat itu karena telah sesak oleh orang yang berniat sama. Sementara ceu Sari terus menyibakan orang-orang hingga tidak terlihat lagi di antara punggung orang-orang.


Tua-muda, pria-wanita lalu lalang di luar kerumunan pada sebuah gang yang padat pemukiman. Mereka tidak berhasil masuk lebih jauh karena sysah berjejal orang di tepi kali itu sendiri. Sementara Gungun berhenti saja karena tidak ada kepentingannya ikut-ikut menyibakkan orang-orang yang berjejal puluhan meter pada sebuah gang yang merupakan pemukiman padat penduduk sepanjang aliran sungai itu.


"Siapa korbannya?" Tanya seseorang kepada orang lain. Gungun menengok ke arah pembicara itu.


"Entahlah belum ada yang berani buka karungnya ..." jawab orang yang ditanya.


Namun ketika itu terdengar pecah tangisan ceu Sari yang meratap langit. Semakin yakinlah semua orang di sana, korban itu adalah Rudi. Tiba-tiba entah mengapa Gungun dilanda kesedihan juga.


Pada saat itu Gungun melihat ceu Sari datang. Wajah ceu Sari semakin bertambah kusut tapi tampak tegar dan terus berjalan. Kedua mata wanita itu sembab dan terlihat pula genangan airmata yang telah dihapus.


Baru saja ceu Sari melewati tempat Gungun berdiri, beberapa orang perempuan yang bersimpati mengejar ceu Sari dan mendampinginya untuk mengabari berita kematian adiknya pada keluarga mereka.


Sekarang semua orang sudah mendapatkan kejelasan bahwa mayat dalam karung adalah Rudi! Kerumunan sedikit terpecah, karena sebagian yang lain ingin mengabarkan berita ini kepada yang lain.


Gungun pulang dengan wajah murung. Ia terkenang dan walau bagaimana pun sekarang di hatinya ada rasa penyesalan mengapa selama ini telah bersikap tidak mengalah pada Rudi ...


Lalu ia tinggalkan tempat itu dan terus pulang. Sepanjang perjalanan terlihat banyak kerumunan orang membicarakan Rudi. Tidak ada seorangpun yang terdengar menyesali kematiannya!


"Rasain, modar tuh!" Umpat seorang pria.


"Tinggal si Romed, Cucun, dan si Oden, ..." sahut teman pria itu. Gungun tahu nama-nama yang mereja sebut adalah genk-nya Rudi.


Tiba di rumah Papa yang semula sedang berjongkok lalu berdiri ketika melihat Gungun pulang. Tetapi


Gungun sendiri langsung masuk ke rumah. Di pintu pagar Dila dan Mama memandangi Gungun saja tanpa berucap sepatah katapun.


Setelah masuk ke dalam rumah Gungun hanya duduk melamun memandang ke luar melalui kaca jendela. Tentu Mama sudah tahu berita kematian Rudi dan maklum apa yang terjadi pada anak laki-lakinya. Mama ikut masuk lalu duduk di sebelah Gungun untuk menemaninya.


"Inalillahi ..." ujar Mama, "kita doakan almarhum khusnul khotima ..."


Namun Gungun tidak bergeming dan tetap memandang lurus ke depan. []


 


[1] Ganteng


[2] Anak baik.

__ADS_1


[3] Memberikan jawaban tidak benar walaupun diajak bicara baik-baik.


__ADS_2