
Gungun berjalan melenggang kaki ketika bubaran sekolah. Jam 4 sore bel telah dibunyikan dan para siswa berhamburan ke luar kelas menuju pintu ke luar. Namun ia tidak langsung pulang karena sore ini ada jadwal latihan karate di aula. Aula ini menjadi Dojo [1] pula untuk latihan karate, Bandung Karate Club.
Ketika tiba di pintu aula yang arahnya ke luar gedung sekolah ia telah menemui beberapa orang yang sama-sama karateka BKC atau Bandung Karate Club. Di dalam ranselnya ia telah menaruh karategi dan baju salin.
Gedung Aula SMAN 4 Bandung ini banyak digunakan oleh berbagai cabang olahraga. Selain lapang bola basket yang letaknya di luar, di dalam aula ini dipakai olah raga badminton pula yang memuat empat lapang dan pada lantainya telah dicat berwarna merah untuk garis-garis lapang badminton. Saat ini tiang-tiang dan netnya telah ditaruh di luar lapangan untuk jadwal latihan karate.
Selain BKC, ada Perguruan Pencak Silat Merpati Putih dan cabang olah raga bela diri lainnya, yang menggunakan aula ini dan sudah memiliki jadwal masing-masing.
Pada saat itu sepasang mata Gungun mencari-cari Lani, gadis kelas satu yang belum lama jadian dengannya. Ia dengan Lani sering bertemu dalam latihan sehingga PDKT-nya tidak banyak menemui kesulitan. Anak kelas satu sekolah pagi dan Ia sudah melihat kehadiran Lani bersama teman-temannya.
Dan di saat yang sama ketika Lani telah melihat kehadiran Gungun, gadis cantik dengan poni dan rambut diikat ekor kuda datang menemui pacarnya.
"Nanti sepulang latihan, ikut ke rumahku ya," ajak Lani, "hari ini aku ulang tahun ..."
Gadis berkulit kuning langsat dan seperti bintang film wuxia itu meyampaikan kabar dengan sikap malu-malu.
"Oh ... selamat ya," sahut Gungun ikut tersipu pula karena tidak tahu hari kelahiran pacarnya sendiri. Lalu Ia mengulurkan tangan dan disambut oleh Lani yang sama-sama menjadi canggung.
Tidak lama kemudian Lani balik kembali menemui teman-temannya dan Gungun sendiri mengganti seragam dengan karategi di kamar kecil yang letaknya di sudut aula. Sementara itu sabuk yang dipakai oleh Lani masih tingkatan Kyu III berwarna biru. [2]
Gungun pertama kali melihat Lani ketika latihan di dojo ini. Ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dan ternyata gayung bersambut. Ketika suatu hari pulang latihan ia memberanikan diri bertanya kepada gadis yang ia incar itu.
"Kamu pulang ke mana?" Tanya Gungun.
"Ke rumah ..." Jawab Lani pendek saja. Mendengar hal itu Gungun menggaruk-garuk kepala sendiri yang tidak gatal. Lalu berpikir hendak bertanya apa lagi untuk mencari cara mengenal lebih dekat pada gadis yang ia naksir berat padanya. Beruntunglah Gungun, teman-teman Lani memberi angin padanya sehingga Lani ditinggal pulang sendiri.
"Boleh kuantar pulang?" Gungun menawarkan diri. Lani tidak memberikan jawaban tetapi hanya tersenyum padanya. Di mata Gungun senyum Lani teramat manis sehingga ia yakin Lani tidak keberatan. Saat itu juga Gungun ikut berjalan di samping Lani yang pergi menyebrang.
__ADS_1
Gungun sudah cukup senang mengetahui Lani tidak menolak ditemani pulangnya. Meskipun ia tidak tahu di mana Lani tinggal tapi ia bisa mengira-ngira rumahnya tidak jauh karena terus berjalan kaki dan jalan Kebon Tangkil bukan jalan yang dilalui oleh angkot. Sepanjang jalan tidak ada yang berani mulai membuka obrolan dan masing-masing sibuk sendiri menata hati yang tidak karuan.
Ketika tiba di ujung jalan ini dan sesudah melalui jalan Vihara, Lani membuka sebuah pagar. Tetapi ia sendiri sama sekali tidak mengatakan apapun dan hanya menutup kembali pintu pagar itu. Namun ketika hendak berbalik badan, gadis itu sempat menengok ke arah Gungun berdiri lalu ia bergegas pergi meninggalkan Gungun begitu saja. Namun hal ini telah membuat Gungun sudah cukup puas bisa mengantar Lani meskipun melihat dari bentuk bangunan yang Lani masuki adalah belakang rumahnya. Tidak lama kemudian Gungun melanjutkan sisa arah jalan itu yang ternyata ke jalan Kelenteng. Lalu ia tinggal belok kiri dan berjalan sedikit sudah berada di jalan Jendral Sudirman.
Pada kesempatan di hari lain ketika Gungun mengantar Lani pulang sudah terlibat obrolan yang seru. Begitulah akhirnya jadwal latihan yang 2 kali dalam seminggu itulah yang menjadi momen jadian kedua sejoli ini. Dan belakangan akhirnya Gungun tahu ternyata Papanya Lani adalah Kestafel [3] di dojonya sendiri.
Selanjutnya mereka menjadi pasangan yang sulit dipisahkan. Ketika sedang dalam latihan, secara kebetulan Lani selalu berada di dekat Gungun. Bila tidak di samping, kadang-kadang ada di belakang. Dan karena gerakan karate selalu maju beberapa langkah lalu berbalik badan, sehingga ke mana saja arah pandangannya selalu menemui Lani. Lebih-lebih ketika Gungun mendapat kenyataan Lani spesialis kelas kata [4] tunggal putri, ia hampir tidak pernah berkedip bila melihat Lani beraksi kata. Seperti pada saat latihan seperti sekarang. Tetapi tentu saja bila sedang berlatih harus konsentrasi. Bila sedikit lengah saja bisa kena tendang atau pukulan lurus ke depan dari orang yang berada di belakang.
Shaaa...! Kiai [5] penuh tenaga selalu disuarakan pada setiap akhir gerakan sehingga menambah semangat berlatih. Selesai dengan gerakan-gerakan pemanasan, para karateka yang tengah bersiap dengan kuda-kuda diminta istirahat ditempat oleh pemimpin latihan yaitu Kang Ripay.
Meskipun BKC adalah perguruan bela diri Karate tetapi banyak istilah-istilah yang menggunakan kosa kata dalam bahasa indonesia dan bahasa sunda. Seperti sebutan 'Sensei dan Shihan' di BKC menjadi 'Kang' atau abang dalam bahasa sunda, dan untuk sensei wanita 'Teh atau Teteh' saja.
Pada saat ini Kang Ripay menjelaskan sebuah tehnik counter [6] di saat berada jarak dekat dengan lawan. Lalu biar lebih dipahami, ia menunjuk Gungun yang diminta maju dan berdiri menghadapi Kang Ripay.
Gungun diminta melakukan serangan chudan zuki [7], lalu Kang Ripay bergerak ke samping untuk menghindar sambil meletakan punggung dan menempel pada tubuh Gungun. Lalu Kang Ripay balas dengan melakukan sikutan tangan kanan ke uluhati lawan. Di saat yang sama tangan kiri telah memegang tangan kanan lawan. Kemudian gerakan selanjutnya adalah tangan yang telah menyikut tadi berpindah tempat meraih leher lawan lewat ketiak lengan kanan Gungun.
Tetapi kemudian Kang Ripay meminta lawan tandingnya mengulang serangan tadi. Tetapi bila tadi dilakukan dengan gerakan lambat dan terpatah-patah kali ini diminta dalam gerakan yang cepat. Setelah aba-aba Gungun melakukan serangan cepat yang berakhir ia dibanting oleh Kang Ripay di atas lantai ubin yang keras. Tetapi tidak perlu kuatir, karena tehnik jatuh pun sudah menjadi penguasaan standar seorang karateka.
Ketika jatuh dibanting, tangan kiri Gungun yang bebas telah ia rentangkan lurus ke depan sehingga kepalanya membentur lembut tangannya sendiri. Sementara telapak kaki kanan lebih dulu menyentuh lantai sehingga tubuhnya sama sekali tidak menyentuh lantai. Semua teknik standar ini sudah dikuasai oleh semua karateka semenjak baru masuk sebagai anggota sabuk putih. Jadi tidak ada yang mengalami cidera dibanting sedemikian rupa!
Setelah melihat contoh, lalu Gungun diminta kembali ke tempatnya semula. Kali ini giliran semua siswa berlatih teknik tadi dan diminta berpasangan. Dalam latihan karate tidak ada batasan laki-laki atau wanita, tidak ada pula batasan warna sabuknya. Dan tidak ada pilih-pilih siapa yang menjadi lawannya. Oleh sebab itu seorang karateka telah dibiasakan diri siap menghadapi lawan siapa saja.
Lalu setelah semua mendapatkan pasangan masing-masing dimulailah melakukan gerakan lambat dengan
aba-aba dari Kang Ripay. "Siap?" Tanya Kan Ripay.
Osh! [8] serempak mereka menjawab.
__ADS_1
Akhirnya setelah mengulang-ulang teknik tadi tiba saatnya masuk pada sesi kumite. [9]
Pada sesi ini setiap kelompok dibagi berdasarkan warna sabuknya. Sedangkan yang telah mengenakan sabuk hitam sudah tahu harus melakukan assist pada Sensei utama yang memimpin latihan. Pemegang sabuk ban hitam menjadi wasit untuk kumite sabuk-sabuk tingkat Kyu.
Pada sesi inilah gerakan-gerakan dan teknik-teknik yang selama ini telah dipelajari dan
dilatih saatnya untuk dipraktekan dalam pertarungan satu lawan satu. []
[1] tempat latihan
[2] Jenjang ke-3 dalam Karate
[3] Kepala Staf Pelatih
[4] Ritme gerakan
[5] Teriakan di akhir gerakan
[6] Membalas
[7] Pukulan lurus ke depan
[8] berarti Siap!
[9] pertarungan.
__ADS_1