Fight For Honor

Fight For Honor
Samson Sang Petinju


__ADS_3

Gungun berangkat ke sekolah biasa berjalan kaki ke jalan raya Rajawali. Ketika ia melangkahkan kaki yang jarak tempuh dari rumah ke terminal biskota di jalan Rajawali itu cuma 5 menit, dalam perjalanan ia melihat seorang anak melakukan jogging. Ia adalah si Samson. Gungun sendiri tidak tahu nama aslinya dan hanya tahu panggilan anak itu karena tubuhnya tinggi besar. Mungkin tinggi dirinya hanya sampai di dagunya saja


Padahal sewaktu SD Si Samson dan Gungun sama-sama sekolah di SD Negeri Garuda, tetapi seingat Gungun sewaktu sama-sama kelas 6 SD dia memang sudah tinggi dibandingkan rata-rata tinggi badan seusianya, hanya masih kurus dan tidak seperti sekarang memiliki bentuk badan yang padat merata pada tubuhnya. Rambut si Samson sejak dulu cepak dan selalu tersenyum. Kulitnya bersih tetapi agak gelap, beda dengan kulit Gungun yang sawo matang.


Ia dan si Samson sama sekali tidak pernah ada interaksi karena beda esde. Bila Gungun di esde 5, ia


esde 1 lagipula ia tinggal di RW 13 Maleber Utara sedangkan Gungun tinggal di RW 10 Maleber Barat. Dan SD Garuda ada di RW 16 Maleber Barat.


Sekali-kalinya yang Gungun ingat sewaktu pulang sekolah pernah bersama teman-temannya mengambil


jalan lain dan lewat pada sebuah sasana tinju. Dari luar beberapa orang terlihat sedang berlatih memukul sansak dan ada pula yang sedang skipping. Dan waktu itu ia sempat bersama-sama teman masuk sasana melihat dari pintu masuk bagaimana orang-orang disana sparing partner di atas ring. Di tempat itulah ia melihat si Samson bertinju melawan anak seumurannya. Dan sejak itupula ia tahu pemilik sasana tinju itu adalah ayahnya si Samson yang juga petinju. Rupanya sasana itu merupakan bagian belakang rumahnya.


Namun Gungun tidak tertarik pada tinju jadi tidak ada kesan apa-apa. Ia justru lebih suka karate, dan ia malah mengidolakan Bruce Lee? Bahkan di kamarnya ada poster aktor sekaligus master Kungfu itu. Sementara ia sendiri tidak punya idola karateka kecuali pernah menyimpan beberapa kliping koran berita tentang Advent Bangun.


Kini untuk kesekian kali ia melihat si Samson sedang joging. Walaupun berpapasan Gungun tidak menyapanya, demikian pula sebaliknya karena memang mereka tidak pernah kenal secara langsung.


Saat itu si Samson mengenakan jaket plastik dan celana panjang plastik pula. Hoody ia kenakan sehingga hanya wajah dan kedua tangan saja yang tidak tertutup namun dibalut kain putih. Sedangkan kedua kakinya mengenakan sepatu olah raga. Tentu saja joging di siang bolong dan mengenakan pakaian berbahan plastik bagi yang tidak


terbiasa seperti sedang dipanggang di bawah terik matahari. Tetapi begitulah porsi latihan seorang atlit tinju. Kulitnya bersih tetapi agak gelap dan gelap bukan karena sering terpapar langsung oleh terik matahari tapi memang sejak dilahirkan sudah begitu. Beda dengan kulit Gungun yang kuning langsat.


Bila si Samson sudah bertinju sejak bocah, maka Gungun baru serius dan masuk dojo ketika SMP kelas


3. Di lingkungan tempat tinggalnya ia sering menemui kekerasan bahkan ia sendiri sejak bocah SD seringkali berkelahi. Lalu awalnya ia mengenal karate dari ajakan teman sekelas yang tinggal di Baladewa. Temannya mendengar ada pembukaan dojo di gedung serbaguna di jalan baladewa itu dan mengajaknya bergabung. Sejak itu pula Gungun menyukai karate.


Setelah banyak yang tahu ia ikut karate malah banyak yang menjajal dirinya, tetapi satu-persatu penantangnya dibuat kapok. Demikian pula yang terjadi pada si Rudi Merlin yang justru ia pernah sekelas dengan anak yang terkenal paling badung itu sewaktu kelas dua di SMP YP di Maleber Utara. Rudi sendiri adalah anak yang tidak naik kelas sehingga menjadi sekelas dengan Gungun. Sikap dan bicara Rudi sangat kasar. Dan bila ia butuh contekan tidak segan-segan mengambil buku dari tangan pemiliknya tanpa permisi dulu.


Suatu hari Rudi hendak merebut buku di tangan Gungun. Tetapi Gungun sudah tahu gelagatnya lalu memindahkan buku miliknya hingga luput dari tangan Rudi.


"Woi, pinjem napa!" Sungut Rudi memasang tampang seram. Tetapi Gungun tidak takut. Sementara di kelas itu yang lain melihat saja. Gungun menggeleng dengan tegas. Tentu saja Rudi menjadi marah dan tidak senang dengan sikap Gungun seperti itu ia anggap menantang dirinya yang dikenal sebagai jagoan di sekolah ini.


"Sini, pinjami aku buku itu, kalo gak!" Ujar si Rudi mulai mengancam dan mengacungkan tinju kanannya. "... yuk, kita berkelahi saja!"


Di luar dugaan Rudi, Gungun bukannya takut malah menatap tajam ke arah Rudi. Lalu Gungun berdiri dan pergi keluar kelas. Tadinya Rudi mengira Gungun takut padanya, ternyata sangkaanya keliru.


"Kalau berani di luar," sahut Gungun, "di sini bakal ada guru yang misahin!"


Gungun bicara seperti bukan asal, lalu ia pergi ke luar sekolah. Tentu saja Rudi semakin emosi ditantang seperti itu. Harga dirinya sebagai jagoan jatuh bila tidak ia ambil tantangan itu. Tiba di luar Gungun langsung menyebrang jalan lalu berdiri di atas rel kereta api menunggu kedatangan Rudi. Sementara Rudi sendiri datang bergegas dan langsung menghadapi Gungun secara satu lawan satu. Teman-teman yang tahu akan ada duel berhamburan ke luar untuk menonton mereka.


Gungun sudah bersiap dengan kedua tangan terkepal, sementara Rudi datang berteriak-teriak marah. Tetapi pertarungan yang ditunggu-tunggu tidak kunjung terjadi. Rupanya sikap Rudi cuma gertak sambal doang.


Sementara Gungun hanya waspada bila sewaktu-waktu Rudi melakukan serangan.


"Hei, ngapain kalian di sana!" Seorang yang berdiri di pinggir jalan meneriaki mereka, "minggir, tuh ada kereta mau lewat!" Benar saja di saat yang sama tiang sinyal telah ditarik ke atas dan terdengar suara sirine dari stasiun


Andir sedang menutup palang perlintasan. Sebenarnya kereta masih jauh tetapi pertarungan itu percuma untuk diteruskan karena Rudi sendiri kembali sudah masuk sekolah sambil mulutnya tidak berhenti melakukan sumpah-serapah. Maka sejak itulah semua orang tahu si Rudi cuma rukang gertak saja tanpa ada tindakan nyata dan Gungun sendiri selalu waspada bila ada Rudi di dekatnya.


Tetapi semenjak Gungun menguasai karate, Rudi pernah dibikin kapok beneran oleh Gungun pada waktu di


luar jam sekolah dan ketika itu mereka bermain bola bersama sebagai lawan.


Saat itu mereka bermain sepak bola pada sebuah pemakaman umum yang masih ada lahan kosong dan tempat itu seringkali digunakan untuk bermain sepakbola. Anak-anak datang dari mana saja dan secara kebetulan kelompok Gungun bertemu dengan kelompok Rudi.

__ADS_1


Rudi yang bermain kasar telah melukai kaki beberapa anak dari tim Gungun. Lalu terjadi pertemuan langsung Rudi dengan Gungun ketika rebutan bola dan dimenangkan oleh Rudi. Seharusnya Rudi senang tetapi ia malah merusak acara. Bola yang dibuat dari bahan plastik dan sudah robek malah diinjak-injak kakinya hingga gepeng. Tentu saja permainan tidak bisa dilanjutkan. Semula Gungun dan timnya hanya menonton tingkah urakan Rudi. Tetapi tidak puas sampai di sana, Rudi menerjang dan mengangkat kaki seolah-olah Gungun adalah bola pengganti yang telah dirusaknya.


Tentu saja Gungun sudah waspada dan dengan mudah mengelak sehingga sepakan kaki Rudi menemui


tempat yang kosong. Di saat yang sama terjadi sorak-sorai tim Rudi yang mengompori jagoannya supaya lebih berani. Kali ini Rudi sedang bersemangat-semangatnya dan bersiap melakukan serangan baru. Lalu secepat kilat


Rudi melakukan serangan seperti tadi. Tetapi kali ini telah mengacungkan tangan kanannya yang telah terkepal. Namun tidak ada yang menyangka sama sekali, secepat kilat Gungun bergerak maju dengan dengan sebuah tendangan lurus ke depan. Gungun membiarkan lawan melakukan serangan lebih dahulu dengan tujuan untuk membalas serangan itu lebih cepat!


Tidak ada seorangpun yang sempat melihat dengan teliti bagaimana tiba-tiba tubuh Rudi terlempar ke belakang beberapa meter. Sorak-sorai mendadak berhenti pula manakala melihat Rudi terkapar di atas tanah. Waktu seolah berjalan lambat ketika Rudi meringis menahan sakit pada perutnya dan berusaha bangun dengan susah payah.


Pada saat itu Gungun melihat si Cucun bergerak di belakangnya. Lalu Gungun melakukan tendangan ke


belakang, Bug! dan si penyerang gelap langsung jatuh terkapar. Rupanya teman-teman Rudy melakukan pengeroyokan pada Gungun. Untung Gungun waspada. Dan pada saat itu pula ia melihat si Romed bergerak!


Si Romed telah memegang sebuah batu sebesar kepala bayi yang ia pungut lalu dilempar ke arah Gungun. Tetapi secepat kilat Gungun menghindar ke samping dan batu itu terlempar mengenai tempat kosong. Sebelum si Romed memungut batu yang lain tiba-tiba ia melihat Gungun sudah berdiri di sampingnya ....


Buk! Si Romed sempoyogan manakala tinju Gungun bersarang di pelipisnya.


"Hei!" Seorang Bapak meneriaki mereka. Beberapa orang dewasa lainnya turut melihat ke


arah mereka.


"Bubar!" Hardik mereka.


"Pulang, pulang!" Seru yang lain sambil membubarkan kelompok remaja itu. Akhirnya dua kelompok menjadi terpecah dan buru-buru meninggalkan arena. Namun begitu perilaku Rudi tidak berubah tetapi semenjak itupula Gungun dan Rudi tidak pernah berinteraksi langsung. Setelah itu seolah-olah Rudi menarik diri dari pergaulan. Bahkan ketika menjelang kenaikan sekolah, Rudi malah tidak pernah masuk sekolah, lalu Gungun mendengar Rudi ke luar dari sekolah?


Dan setelah sekian lama Gungun tidak pernah bertemu dengan Rudi, sekalinya bertemu Rudi sudah berbeda. Sekarang penampilannya sudah seperti anak punk dan Gungun mendengar desas-desus bahwa Rudi terlibat penyalahgunaan obat-obat terlarang dan pernah ditahan polisi akibat kasus pencurian. Banyak orangtua selalu wanti-wanti kepada anak-anaknya supaya jangan bergaul dengan Rudi dan teman-temannya.


Siapa sangka kejadian itu berbuntut panjang? Suatu sore di saat Gungun pulang dari rumah seorang teman, tidak ada angin tidak ada hujan, ia bertemu kembali dengan Rudi dan genk-nya. Sewaktu lewat tanah lapang di depan sebuah mesjid, Gungun melihat mereka sedang berkerumun di tepi lapang yang banyak ditumbuhi pepohonan.


Rudi tersenyum kepada Gungun ketika ia lewat. Tetapi sejujurnya senyum Rudi jelek bahkan lebih mirip senyum mengejek dan Gungun tahu itu tidak tulus. Tapi Gungun tidak menghiraukan mereka dan terus saja berjalan dengan tenang.


Tidak disangka saat itu Rudi bicara ke Gungun, "Buru-buru, mau kemana. Ada yang mencarimu ...?" ujar Rudi dengan suara pelo. Suara Rudi seperti itu karena ompong dan lidahnya kelu. Meskipun Gungun tidak pernah melihat narkoba, tetapi ia tahu ciri-ciri seperti itu adalah akibat pemakaian obat-obat terlarang.


Gungun menunda langkahnya. "Apa maksudmu?" Tanya Gungun benar-benar tidak mengerti dengan bicara dan sikap Rudi. Tiba-tiba Gungun merasa ada sesuatu yang tidak biasanya tetapi ia tidak tahu ada apa?


Pada saat itu muncul anak bertubuh tinggi besar yang tidak lain adalah si Samson. Ia keluar dari sebuah celah antara sebuah rumah dengan rumah lain. Samson berjalan mendatangi Gungun dengan tenang. Tiba-tiba pula Gungun sekarang menyadari ia dalam kesulitan. Lalu tanpa basa-basi si Samson telah melakukan footwork [1]


dengan lincah. Di saat yang sama dagunya telah diturunkan dan kedua tangannya terkepal di depan wajah. Bahu si Samson bergerak ke kiri dan ke kanan mengincar Gungun. Kedua kepalan tangannya masing-masing telah dibalut oleh kain berwarna putih. Tetapi di sini tidak ada bel dan Samson langsung melancarkan sebuah jab [2] kanan ke wajah


Gungun tanpa aba-aba. Namun secara reflek tinju kanan itu di tangkis oleh siku kiri Gungun lalu membuangnya ke samping luar. Tetapi siapa sangka Mawashi Empi Uchi [3] yang dilakukan oleh Gungun tidak berarti apa-apa dan tinju itu terus meluncur maju tidak tertahan.


Bukan alang-kepalang Gungun menjadi kaget dibuatnya oleh sebuah serangan yang powerful [4] seperti itu! Siku tangan kirinnya terdorong oleh laju jab itu. Secepat kilat Gungun membuang diri ke belakang untuk menyelamatkan diri dari jangkauan serangan yang sangat berbahaya. Namun akibat dorongan itu hampir saja membuat ia terpeleset jatuh bila tidak buru-buru memperbaiki kuda-kudanya. Dalam satu gebrakan saja Gungun telah mendapatkan kejutan luar biasa!


Tetapi Samson pun tidak membiarkan lawannya lolos begitu saja. Ia melangkahkan kaki ke depan dan melayangkan pukulan kombinasi di saat bersamaan. Gungun kali ini tidak menangkisnya dan hanya mundur. Tetapi ia sempat melancarkan sebuah tendangan lurus ke depan. Tendangan yang telak bersarang di ulu hati lawan dan tidak diantisipasi oleh si Samson. Sayang, bila tendangan seperti itu dilakukan kepada orang biasa bisa menyakitkan, tetapi bagi seorang seperti si Samson yang menerima tendangan ini hanya mengakibatkan terhenti gerak majunya saja. Tetapi waktu yang hanya beberapa detik cukup membuat Gungun kembali memperbaiki


kuda-kudanya.


Kini ia telah bersiap menerima serangan si Samson. Sekarang Samson maju lagi dengan gerakan kaki yang lincah mengincar kelengahan lawan.


Ketika Samson melancarkan pukulan kombinasi kiri-kanan, Gungun sudah merasakan ayunan-ayunan yang powerful seperti tadi sehingga ia tidak berani melakukan tangkisan atau buangan ke samping. Ia hanya mampu mundur untuk menyelamatkan diri. Tetapi Gungun masih lincah dan mampu bergerak ke samping ketika tanpa menengok ke belakang ia tahu ada tembok. Tetapi si Samson tidak kalah lincah mengejar

__ADS_1


Gungun.


Pada saat itu Samson melancarkan sebuah jab kembali tapi dengan sigap Gungun mengelakkannya. Tapi tanpa disangka oleh Gungun, pukulan tadi hanya sebuah tipuan. Tahu-tahu sebuah hook kiri muncul dengan cepat. Sehingga sekalipun Gungun telah membuang diri, tetap saja ayunan itu datang dengan deras dan meninju ulu hatinya. Buk!


Uhuk! Ludah menyembur dari mulut Gungun yang sontak meringis kesakitan. Tubuhnya sempoyongan lalu lutut kirinya menyentuh tanah. Ia memegang perutnya keras-keras dan merasa akan muntah. Tetapi ia lupakan dulu dan sempatkan diri melompat ke belakang menghindar dari jangkauan lawan. Untungnya Samson bersikap fair, ia tidak menyusul dengan serangan susulan di saat lawan jatuh. Ia malah menunggu dan menari-narikan kedua kakinya. Samson memberi kesempatan kepada Gungun untuk pulih.


Akhirnya Gungun sedikit memuntahkan isi perutnya, lalu buru-buru menyeka dengan punggung tangan. Kali ini Gungun benar-benar marah, lalu ia menguatkan diri dan bangkit


kembali.


Shaaa ...! Uchi Majiri [5] diteriakan oleh Gungun yang buru-buru memasang kuda-kuda Zenkutsu Dachi [6] dan bersiap menghadapi serangan. Melihat lawannya telah bersiap kembali, Samson melancarkan sebuah straight. Tapi kali ini Gungun tidak mengelak mundur, tapi dengan perhitungan cermat dan sepecat kilat melakukan Shiko Dachi [7]. Gerakan mengelak kesamping dengan rapat pada tubuh lawan seperti ini tidak diduga oleh Samson dan tanpa mampu diblok, sebuah pukulan menyilang telah dilancarkan Gungun yang bersarang pada rahang si Samson dengan telak. Buk!


Tetapi sungguh luar biasa kekuatan petinju ini, pukulan keras seperti itu tidak membuatnya lehernya bergeming. Samson hanya menarik diri dan bersiap kembali. Tetapi meskipun demikian Gungun sempat melihat cairan merah mengembang pada gigi-geligi Samson. Hal ini membuat Gungun menjadi perrcaya diri. Lalu ia memperbaiki kuda-kuda.


Kini kedua petarung saling berhadapan dengan gaya kuda-kuda khas masing-masing. Samson menari-nari, sedangkan Gungun berdiri siaga di atas kedua kakinya yang terpentang ke depan. Kali ini Gungun tidak peduli pukulan seperti apa yang akan dilancarkan oleh lawan. Ia telah bersiap menghadapi kemungkinan apapun. Maka ketika sebuah ayunan tangan kiri penuh tenaga dilancarkan oleh Samson, Gungun telah menunggu pancingan itu lewat di bawah dagunya dan di saat yang sama sudut mata Gungun melihat bahu kanan lawan turun, maka gerak reflek Gungun mendorongnya untuk melompat ke samping kanan hingga serangan sesungguhnya berupa uppercut kananpun meninju tempat kosong saja di samping bahu Gungun. Sementara di saat yang sama Gungun menyarangkan sebuah Gyaku Tsuki [8] yang telak bersarang di uluhati lawan, Buk!


Tetapi ibarat telah meninju sebuah sansak, justru itulah yang dirasakan oleh Gungun ketika pukulan lurusnya meninju perut lawan dengan keras, tetapi tinjunya tidak berarti apa-apa? Tubuhnya tidak bergeming menerima pukulan itu? Sungguh si Samson adalah lawan yang tangguh dan memiliki kekuatan yang luar biasa!


Tetapi tidak pernah ada kata menyerah di kamus Gungun, ia mundur beberapa langkah dan mempersiapkan


diri kembali. Di saat yang sama si Samson mengincar lawan kembali dengan langkah-langkah satu dua, maju mundur dan naik-turunkan bahunya. Dan yang paling harus Gungun waspadai adalah pukulan seorang petinju yang powerful itu. Sementara Si Samson ibarat sebuah benteng yang kokoh dan sulit ditembus.


Pada suatu kesempatan Gungun melakukan Khuzusi Waza [9] sapuan kaki pada tumit kiri Samson, tapi nihil, padahal biasanya dengan teknik itu lawan jatuh karena tumitnya dikait lalu kehilangan tumpuan satu kaki. Sekali lagi Gungun mencoba melakukan sapuan lagi dan kali ini ia arahkan ke lutut. Tetap saja tidak berhasil menggoyahkan kuda-kuda lawan yang berdiri kokoh. Dan di saat yang sama Gungun harus mundur dua langkah mengelak kombinasi pukulan yang dilepas oleh si Samson.


Sekarang Gungun menjadi frustasi, serangan-serangannya tidak mampu mengoyahkan lawan. Sementara itu Samson maju dengan langkah satu-dua disertai jab-jabnya tidak tertahan oleh Gungun karena terlalu powerful. Gungun hanya mengelak dengan bergerak ke samping untuk menyelamatkan diri.


"Hei!" Terdengan suara bentakan beberapa orang. Saat itu sudah banyak orang berdatangan melerai yang sedang berkelahi. Mereka tadinya sedang bersih-bersih di mesjid untuk persiapan shalat magrib berjemaah lalu menghentikan kegiatannya demi melihat ada yang sedang berkelahi.


"Bubar! bikin ribut saja di tempat orang!" Hardik seorang Bapak yang mengenakan sarung. Memang hari mulai senja, saatnya orang bergegas pergi ke mesjid. Mau tidak mau yang sedang duel menghentikan perkelahian karena banyak orang dewasa datang dan marah melihat mereka bikin keributan di kampungnya. Sementara itu Si Rudi dan genk-nya sejak tadi sudah pergi meninggalkan tempat itu.


Akhirnya Si Samson menghentikan aksinya lalu menurunkan kedua tangannya. Kemudian Ia berbalik badan setelah melihat Gungun pun berdiri seperti biasa. Si Samson meninggalkan gelanggang tanpa menoleh lagi. Akhirnya Gungun pun mulai melangkah meninggalkan tempat itu pergi ke arah lain. []


 


[1] Gerakan kaki


[2] Pukulan lurus ke depan


[3] Tangkisan siku menyapu


[4] Kekuatan penuh


[5] Teriakan dalam pertarungan


[6] Kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang ke depan


[7] Mengelak ke samping


[8] Pukulan lurus


[9] Tendangan sapuan

__ADS_1


__ADS_2