Fight For Honor

Fight For Honor
Selamat Ulang Tahun


__ADS_3

Menjelang kumandang adzan magrib dan selesai latihan biasanya Gungun langsung pulang kemudian shalat magrib di rumah saja. Tetapi malam ini spesial sehingga ia memutuskan mandi di toilet sekolah lalu shalat magrib di mushala yang letaknya di belakang gedung sekolah.


Sekarang setelah mandi badannya terasa segar dan telah hilang peluh keringat yang tadi lengket di badan. Kali ini ia telah mengenakan t-shirt dan celana jins. Alas kakinya sepatu kets. Karategi dan seragam sekolah sudah dilipat dan ditaruh di dalam ranselnya. Sekarang waktunya untuk menemui Lani yang telah menunggunya di luar gedung sekolah bersama yang lain. Ketika Gungun datang mereka berpamitan dan meninggalkan mereka berdua saja.


Pada saat itu hari sudah gelap dan lampu-lampu penerangan telah dinyalakan. Tidak lama kemudian Gungun dan Lani telah menyebarang jalan berdua jalan kaki menyusuri trotoar lalu berbelok ke jalan Kebon Tangkil.


Rumah Lani di jalan kelenteng jadi tidak jauh dan hanya sepuluh menit dengan jalan santai sudah tiba di jalan kelenteng. Sekarang Gungun sudah tidak diajak lewat belakang rumah lagi, tetapi langsung ke arah depan rumahnya. Tetapi sampai hari ini Gungun belum berani masuk walaupun seringkali diajak oleh Lani. Rupanya Gungun masih segan terhadap Papanya Lani yang merupakan Kestafel-nya sendiri.


Di jalan itu masih banyak rumah bergaya budaya cina. Dan orang tua Lani pun masih dari keluarga keturunan cina dan itu tampak dari raut wajah Kang Budi, bapaknya Lani yang wajahnya mirip Judge Pao, tapi yang ini berkulit kuning.


Rumah yang dituju letaknya di ujung jalan Vihara persis di sebelah rumah itu ada sebuah Vihara pula. Untuk pertama kali ini Gungun datang ke rumah pacarnya jadi ia mengekor saja. Ketika mereka tiba di sebuah halaman rumah yang berpagar besi, Lani membuka pintu pagar yang berkisi-kisi kawat. Rupanya mereka telah tiba di sebuah rumah yang interiornya bergaya budaya cina pula. Rumah itu tidak besar tetapi halamannya cukup luas. Untuk hari ini Gungun barulah memberanikan diri mau masuk ke rumah Lani.


Tetapi di luar dugaannya, ketika mereka datang, rumah ini telah penuh oleh tamu undangan yang ternyata masih dari teman-teman berlatih tadi. Perayaan hari ulang tahun Lani malam ini seolah-olah pesta orang-orang BKC. Tentu saja karena Ayahnya Lusi juga seorang karateka sekaligus Sensei [1] di BKC, sehingga tidak heran banyak wajah-wajah yang Gungun kenali. Semua ini justru membuat ia menjadi sungkan, tetapi Lani mengajaknya terus masuk dan mengambil tempat duduk di dalam.

__ADS_1


Di tengah ruangan ada sebuah meja dan di atasnya telah diletakan sebuah tart ulang tahun. Di atas tart itu ada angka 16 yang berupa lilin. Aneka rupa kue-kue telah disajikan pula pada wadah-wadah di atas meja. Tetapi hidangan utama berupa nasi tumpeng telah disiapkan di atas meja perasmanan.


Di dalam rumah yang banyak terdapat beberapa kaligrafi dan hiasan-hiasan budaya cina, tidak terlalu luas ruang tamunya sehingga beberapa undangan duduk hingga ke luar pintu. Pintu yang khas ini merupakan dua daun pintu sehingga pada momen seperti dibuka menjadi ambangnya semakin lebar.


Malam itu Papanya Lani mengenakan t-shirt dan kepalanya mengenakan kopiah putih. Gungun pernah dengar Kang Budi sudah pergi haji bersama istrinya.


Dan malam ini Gungun seolah-olah menjadi sang Pangeran yang mendampingi Tuan Putri yang sedang


berulang tahun. Dan ia tidak heran bila orangtua Lani telah tahu hubungan mereka, hal ini sedikit menolongnya yang sesungguhnya diam karena matikutu. Malah Lani bukannya duduk bersama kedua orangtuanya, justru ia duduk di samping Gungun yang ikut melahap kue-kue bersama-sama yang lain agak tidak terlalu nampak sikap canggungnya.


Rambut Kang Darma sudah putih semua walaupun usianya masih kepala 5. Tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi berpostur atletis. Dan gerak-geriknya tenang tidak seperti bila sedang tampil pada sebuah kumite. Tetapi tentu saja acara ini menjadi lebih spesial dengan kehadiran Kang Iwa. Di mata Gungun, Kang Iwa yang berkumis seperti kumis milik gatotkaca adalah seorang yang kharismatik dan punya pendirian yang kuat, tetapi di saat yang sama ternyata pribadinya sederhana. Tuan rumah bersama mereka asyik bersenda gurau satu sama lain, tetapi Gungun menjadi kambing congek saja.


Gungun sesungguhnya merasa kikuk ada bersama di antara orang-orang penting dalam pengurus BKC, jadi

__ADS_1


ia lebih banyak diam saja pada kursi tempat duduknya. Tidak lama kemudian Lani sudah datang kembali dan kali ini telah mengenakan baju yang bagus. Gungun menjadi terpesona melihat penampilan pacarnya ini. Padahal dandanan Lani biasa saja dan rok panjang yang dikenakannya terulur hingga lutut. Atasannya hanya sebuah mantel. Tetapi pipi Lani merona merah manakala menangkap kekaguman pada kedua bola mata Gungun. Di saat yang sama sepasang mata kedua orang tua Lani melihat momen itu tetapi mereka tersenyum saja dan tetap melanjutkan obrolan. Di saat yang sama Lani mengambil tempat duduk di samping Gungun kembali.


Akhirnya Papanya Lani melihat sudah saatnya membuka acara dan lilin di atas tart itu telah dinyalakan. Lalu acara dibuka oleh Kang Budi dengan basa-basi yang umum dengan mempersilakan kepada Kang Iwa untuk menyampaikan ucapan ulang tahun ke-16 kepada Lani dan sedikit arahan untuk kemajuan BKC kepada seluruh hadirin.


Sebagai puncak acara, Lani meniup lilin lalu memotong tart untuk Papa dan Mamanya. Kemudian terakhir ia memberikan sepotong untuk pacarnya. Di saat yang sama para tamu telah dipersilakan mengambil nasi tumpeng. Lalu semua tamu berdiri dan antri mengambil piring-piring yang disodorkan oleh keluarga Kang Budi. []


 


[1] Guru sabuk hitam


yang berkompeten mengajar.


[2] Master tingkatan

__ADS_1


tinggi di atas dan V.


__ADS_2