Fight For Honor

Fight For Honor
Dari Lawan menjadi Kawan


__ADS_3

Matahari sudah naik dan hari ini Gungun hendak pergi membeli karcis abodemen bis damri di jalan Merdeka, untuk satu bulan penuh yang ia gunakan untuk ongkos pulang-pergi ke sekolah. Dengan cara itu ia bisa lebih berhemat daripada tarif regular.


Tadi pagi ia sudah dibekali uang oleh Mama untuk ongkos bulanan beli karcisnya.


Ketika dalam perjalanan menuju terminal, di jalan ia bertemu dengan Rudi yang datang dari arah berlawanan dengannya. Tetapi Ia ingat nasihat Mama agar mengasihani orang seperti Rudi. Jadi iapun tidak ada niat memperpanjang urusan tempo hari. Lebih-lebih Si Rudi tidak pergi menghindar ketika melihat kehadiran


dirinya.


Hari ini Gungun malah melihat ada yang beda pada diri Rudy. Sekarang kepalanya botak. Ini tumben ia


mencukur rambutnya hingga plontos seperti itu. Bahkan tidak ada aksesoris apapun pada tubuhnya yang biasanya di telinganya ditindik dengan sebuah cincin, sekarang cincin itu sudah tidak ada di tempatnya? Pakaiannya pun sederhana, kaos oblong berwarna hitam yang sudah kumal dan celana jins. Dan yang mengherankan, mendadak ia datang dengan senyum ramah padanya.


"Mau pergi ke mana Gun?" Tanya Rudi.


"Aku mau pergi ke kantor bis damri ..." sahut Gungun yang justru menjadi canggung dengan semua perubahan ini. Tapi ia tetap mengajaknya bicara.


"Kamu sendiri mau pergi ke mana?" Tanya Gungun.


"Aku pergi ke rumah teman ..."


"Oh," ucap Gungun, "yuk, aku juga terus ke terminal."


Rudy hanya tersenyum saja sambil melanjutkan langkahnya.


Gungun sempat melihat kulit tangan Rudi seperti luka kena benda panas.


Sepertinya ia mencoba menghapus tato pada lengannya tetapi malah menimbulkan luka seperti kulit yang pernah terbakar. Tetapi tato di wajah sudah bersih, rupanya itu bukan tato permanen.


Apakah si Rudy sedang menghindar menjadi sasaran penembak misterius? Sehingga melakukan itu semua, pikir Gungun. Meskipun ia anak yang liar, bukankah ia masih remaja dan seumuran dengan dirinya?


Hanya sebentar pertemuan itu namun memberi kesan yang dalam pada dirinya. Seumur-umur kenal dengan Rudi baru kali ini bertegur sapa baik-baik? Dan sempat menjadi pikiran Gungun di sepanjang jalan hingga tiba di terminal.


Lalu Gungun segera naik bis yang siap berangkat, tetapi ternyata masih harus menunggu hingga setiap kursi kosong menjadi terisi. Sopir dan Kondektur pun tidak ada di dalam bis, mungkin sedang makan di warung nasi.


Kali ini ia naik jurusan ke Dago. Lumayan lama menunggu penumpang hingga penuh, mana kursinya keras tidak enak diduduki. Kursi-kursi bis dibuat dari bahan plastik sehingga lebih awet dan tidak mudah dirusak oleh tangan-tangan jahil. Padahal bis angkutan umum ini awalnya menggunakan kursi yang empuk juga tetapi tidak lama telah rusak atau dirusak? Jadi deh perjalanan terpaksa duduk ditempat yang tidak bikin betah berlama-lama karena kursinya keras.


Sementara di dalam bis lebih banyak pedagang asongan yang lalu lalang menawarkan jualannya. Dari mulai tukang koran, tukang jualan kopi, hingga ATK berseliweran. Malah tukang jual jajanan lebih banyak ragamnya disodor-sodorkan kepada para penumpang.


Gungun banyak kenal kepada mereka yang merupakan tetangga sehingga saling menyapa dan basa-basi sebentar.


“Mau pergi ke mana, Gun?” tanya Asep si tukang koran. Dan di antara koran-koran ada terselip juga TTS, komik-komik dalam kepitan tangan Asep.


“Beli karcis abodemen,” jawab Gungun. “Sep, gak sekolah?” Gungun balik bertanya. Asep sebaya dengan dirinya dan setahu Gungun walaupun sehari-hari berjualan koran, Asep masih terus sekolah.


“Udah pulang,” jawab Asep, “tadi ada rapat guru jadi pulang lebih awal.”


“Oh ....” Sahut Gungun paham.


Tapi syukurlah bis akhirnya mulai bergerak maju. Pelan-pelan sopir membawa bis berbentuk kotak dan berwarna biru ini menyusuri rute yang berbelok ke jalan Garuda terus ke utara melintasi perlintasan kereta api stasiun Andir di depan pintu masuk Lanud Husen Sastranegara, lalu bergerak lurus sepanjang jalan Pajajaran. Di ujung jalan


Pajajaran yang panjang akhirnya berbelok ke kiri melalui jalan Wastukencana. Kemudian sedikit berbelok ke kanan mengambil arah jalan Riau. Di persimpangan lampu merah arah ke Dago, Gungun sudah bersiap-siap turun. Ketika bis berbelok ke kiri dan masih berjalan lambat bergegas Ia turun. Lalu ia melanjutkan jalan kaki ke jalan Merdeka. Sebentar saja ia menengok ke kiri lalu ke kanan kemudian menyebrang. Hanya beberapa langkah ia telah tiba di depan halaman toko buku Gramedia. Ia berniat membeli sesuatu di toko buku itu, tetapi ia putuskan menyebrang terlebih dahulu untuk membeli karcis mumpung belum terlalu siang. Karena ia sudah tahu bila semakin siang antriannya semakin panjang.


Lalu Gungun menyebrang dengan santai dan langsung menapak kaki pada jalan tanah yang penuh dengan kerikil. Sepanjang tepi jalan di halaman kantor Damri ini ditumbuhi ilalang.


Tapi benar saja di tempat penjualan karcis ia melihat sudah banyak yang mengantri. Buru-buru ia sedikit mempercepat langkahnya karena di belakang tampak beberapa orang datang dengan niat yang sama. Akhirnya Gungun telah berdiri dalam antrian sesuai loket jurusan yang diperlukan.


Cukup lama mengantri karena yang membutuhkan jasa tranportasi bis damri sangat banyak. Untuk yang rutin menggunakan jasanya dengan cara seperti ini bisa menghemat ongkos karena diberlakukan jarak dekat atau jauh sama tarifnya.


Akhirnya tiba gilirannya mendapatkan karcis satu bundel jurusan Cibeureum-Cicaheum dan sebaliknya untuk sekali jalan. Ketika Gungun mengambil arah balik tampaklah antrian yang semakin mengular di depan loket masing-masing trayek. Lega rasanya sekarang acara rutin bulanan mengantri seperti ini telah dilalui, kini tinggal pergi menyebrang kembali ke toko buku Gramedia.


Sekarang ia sudah berdiri di depan toko buku ini yang halamannya berupa sebuah lapang tanah yang luas tetapi lengang dan tidak nampak sebuah kendaraanpun. Tidak lama kemudian ambang pintu toko telah ia masuki. Rumah ini cukup luas untuk menjadi sebuah toko buku dan di dalamnya ada beberapa meja pajangan yang diletakan di tengah ruangan untuk memamerkan buku-buku terbitan gramedia tentunya.


Di salah satu sudut ada seorang wanita yang tengah menulis di depan mejanya.


Gungun memanjakan mata dulu sebelum ia membeli barang yang diperlukannya. Ia pergi ke deretan rak-rak yang memajang novel-novel. Ia bisa sedikit membaca beberapa blurb novel yang judul atau nama penulis menarik perhatiannya. Pada akhirnya ia mencatat sebuh judul novel pada memorinya dan akan ia beli novel itu di Palasari karena di pasar buku itu bisa ditawar dan mendapatkan harga yang lebih murah.


Setelah cukup puas melihat-lihat, ia langsung menuju kamar yang memajang alat-alat tulis. Di tempat itu ia mengambil sebuah buku hardcover berwarna biru ukuran B5. Ia memastikan dulu pada setiap lembar halamannya polos dan bukan bergaris seperti buku tulis, tetapi juga bukan buku gambar. Kemudian sebotol lem dalam wadah


plastik ia ambil pula. Lalu semua itu ia bawa ke meja kasir. Setelah selesai membayar pada wanita itu, barang-barang yang telah ia beli dimasukan ke wadah kantong plastik.


Kemudian ia pergi ke keluar kembali untuk langsung pulang, jadi ia menyebrang lagi dan menunggu pada shelter bis di depan sebuah lembaga Bimbel. Gedung kecil dua lantai itu tempat kursus dan bimbingan belajar anak-anak sekolah, bahkan ada kelas les gitar atau piano sehingga banyak remaja seusianya yang turut menunggu bis lewat.


Tidak lama kemudian bis damri jurusan Dago - Cibeureum datang. Para calon penumpang bersabar dan mendahulukan yang turun. Ketika mendapat giliran naik Ia mengantri lalu mencari tempat duduk yang masih kosong.


Kemudian bis melaju kembali melanjutkan arah melintasi jalan Merdeka. Di depan Balai Kota Bandung bis


berbelok ke kanan dan terus melintasi jalan wastukencana hingga bertemu jalan Pajajaran belok kiri. Mulai dari ujung jalan ini bis terus lurus kembali melalui gedung Kimia Farma, lalu GOR Pajajaran dan akhirnya tiba di depan pintu masuk Lanud Husen Sastranegara kembali. Di ambang jalan Jatayu itu Gungun minta diturunkan. Tetapi pada saat yang sama terdengar suara sirine dari Stasiun Kereta Api Andir. Kebetulan saja jadi ia turun sekalian lalu menyebrang. Pada saat itu pintu perlintasan sudah ditutup meskipun kereta api lokomotifnya saja belum nampak.


Kemudian Gungun lewat pada jalan setapak dan melompati parit rantai-rantai yang menarik sinyal pada tiang semboyan. Dari semboyan bercat merah yang mengacung ia tahu kereta api datang dari arah stasiun Ciroyom. Lagipula kereta apinya masih jauh walaupun sekarang sudah terlihat sehingga pelan-pelan saja ia melintasi sepasang rel baja lalu menyusur alur sepasang rel baja di sisi selatan yang bukan lintasan kereta yang datang dari arah timur


Gungun sengaja turun di tempat itu karena baginya jarak dari ujung jalan Maleber Utara ke rumahnya di Inpres sama jauhnya dari ujung jalan Maleber Barat ke rumah. Tetapi bila turun di jalan Maleber Barat berarti ia harus ikut bis dulu berputar-putar hingga tiba di terminal. Jadi itulah sebabnya ia pilih turun di sini.


Lalu perjalanan pulang ia lanjutkan berjalan kaki menapaki bantalan-bantaran rel baja. Di sebelah kiri adalah jalan aspal yang letaknya lebih rendah dari jalan kereta api. Demikian pula di sebelah kanan dua jalur rel ini adalah lahan-lahan tidur yang dibuat menjadi ladang kebun oleh penduduk di sekitarnya. Ladang-ladang itu tidak luas

__ADS_1


tetapi memanjang karena di batasi oleh benteng tinggi kawasan Lanud Husen Sastranegara.


Akhirnya ketika ia melewati almamaternya yakni SMP YP kereta yang datang dari stasiun Ciroyom lewat di jalur sebelah kanannya.


Jreg, jreg, jreg ...


Kuik, kuiiiik ....


Sewaktu masuk SMP ia tidak lulus masuk SMP Negeri, akhirnya ia didaftarkan sekolah di SMP swasta


itu.


Ketika ia tiba di seberang yang ada sebuah lahan kosong yang dulu digunakan sebagai lapangan olah raga bola voli sewaktu ia sekolah di SMP itu, rangkaian kereta api telah lewat dan semakin menjauh. Di seberang lapang itulah Gungun berbelok turun ke jalan lalu menyebrang. Sekarang Ia sedang melintasi pemakaman umum yang dulu tempat ia pernah bermain bola plastik melawan tim Rudi.


Biasanya ia terus lurus berjalan menyusuri jalan Maleber Utara dan menghindari masuk gang-gang kecil yang berkelok-kelok supaya cepat sampai. Tapi kali ini ia memilih masuk ke perkampungan yang padat penduduk.


Entah apa yang menuntun kakinya mengambil jalan pintas yang sebenarnya bagi yang tidak hapal jalan, ini ibarat masuk sebuah labirin.


Tiba-tiba ia sadar telah menginjakan kaki di samping rumah si Samson? Sesaat ia menimbang-nimbang apakah terus pulang atau mampir menemui si Samson. Pada waktu itu terlintas dalam pikirannya nasihat dari Shihan Darma bahwa 'lawanmu adalah guru terbaik yang bisa membawamu sehebat musuhmu'. Teringat akan nasihat itu, Gungun ingin mencari tahu bagaimana menghadapi lawan dengan type seperti si Samson. Dulu di turnamen terakhir pun ia selalu kalah menghadapi karateka-karateka yang memiliki postur tubuh lebih padat dan lebih bertenaga.


Halaman di samping rumah si Samson cukup lebar dan berpagar kawat sehingga nampak jelas beberapa orang sedang berlatih berbagai gerakan. Ada yang sedang angkat barbel dari dua buah kaleng yang telah di semen, ada yang meninju-ninju sansak, dan ada pula yang melakukan berbagai macam latihan beban lainnya.


Akhirnya ia bertekad menemui si Samson untuk bertanya beberapa hal padanya. Lalu ia masuk lewat pintu pagar kawat yang tinggi. Ia segera masuk ke sasana yang dari luar saja sudah terdengar suara teriakan-teriakan orang yang melakukan sparing partner di atas ring tinju.


Pintu sasana terbuka dan ia bisa langsung melihat kegiatan di dalamnya. Lalu Gungun berdiri di ambang pintu dan mencari-cari si Samson.


Mujur ia melihat si Samson sedang berdiri di tepi ring. Di atas ring dua orang sedang bertinju. Tampak Samson berteriak-teriak memberi instruksi pada kedua orang yang saling adu pukul.


Demi melihat datang seseorang di pintu si Samsom sempat menengok, tampak ia terkejut melihat kehadiran Gungun. Tetapi buru-buru Gungun memberikan anggukan padanya sambil melambaikan tangan. Sesaat kemudian si Samson berbicara pada orang di sampingnya. Rupanya ia meminta orang itu menggantikan perannya. Lalu ia datang menemui Gungun.


"Ada apa?" Tanya Si Samson sambil bertolak pinggang ketika berhadapan dengan Gungun. Tapi Gungun mencoba tersenyum, "aku ada perlu padamu, bisakah kita bicara sebentar?"


"Bicara saja," sahut si Samson tandas.


Ada handuk kecil menggantung pada pada leher Samson. Ia mengenakan kaos training tanpa lengan dan celana pendek. Kali ini ia mengenakan sepatu tinju yang talinya hingga sampai di tulang keringnya.


Gungun mengalah lalu ia bermaksud menjelaskan maksud kedatangannya.


"Aku minta maaf, bila punya salah padamu ..."


"Jelas kamu punya salah!" sahut Si Samson. "Aku tidak pernah menantang-nantang orang dan mengajak berkelahi. Tahukah kamu, aku seorang petinju tapi untuk pertama kali aku melanggar larangan Bapaku untuk berkelahi jalanan ..."


"Tunggu, tunggu dulu," sela Gungun, "aku tidak pernah menantangmu!"


Kali ini giliran Si Samson yang menggeleng-geleng kepala karena Gungun menyangkal tuduhannya. Si Samson masih bertolak pinggang. Beberapa orang yang lalu lalang melewati pintu menengok dan bertanya kepada yang lain mencari tahu apa yang sedang terjadi?


"Tunggu, tunggu!" Potong Gungun semakin penasaran.


"Aku tidak pernah menantangmu, aku tidak pernah mengatakan apapun tentangmu. Kita gak kenal


...!"


Tiba-tiba Gungun teringat sesuatu. "Oh, si Rudi, ya tidak salah lagi ini pasti ulah si Rudi!" seru Gungun.


"Apakah yang mengatakan semua itu si Rudi?" Tanya Gungun. Serta merta si Samson mengangguk, "ya," jawabnya tegas.


"Karena aku melanggar larangan, aku dihukum oleh Bapaku!" Ujar Samson.


"Tapi aku tidak pernah mengatakan semua yang kau tuduhkan!" Kata Gungun. "Ini jelas fitnah. Ini jelas ulah si Rudi yang bikin fitnah."


Lalu Gungun bertanya kembali, "Apakah kamu kenal baik dengan si Rudi? Apakah kamu tidak tahu reputasi Rudi?"


"Apa maksudmu?" Tanya Samson yang sekarang terheran-heran. "Aku tau siapa Rudi tapi ia bukan temanku!" Kali ini si Samson menurunkan kedua tangannya yang sejak tadi bertolak pinggang.


Akhirnya cairlah suasana tegang yang ternyata telah terjadi kesalah-pahaman selama ini di antara


mereka berdua.


"Kalau begitu, akulah yang harus meminta maaf!" Ucap si Samson bersungguh-sungguh dan mengulurkan tangan, lalu Gungun menyambutnya.


"Kita bicara di sana saja," ajak si Samson yang sekarang sikapnya menjadi lunak.


Si Samson mengajak Gungun duduk di kursi-kursi yang terletak di bawah pohon kersen. Teman-teman si


Samson yang semula mulai berkumpul di ambang pintu sekarang telah kembali pada urusannya masing-masing.


Pohon kersen itu daun-daunnya kecil tetapi lebar dan rapat sehingga tempat di bawahnya teduh.


"Sudah lama aku dengar tentang kamu yang jagoan karate," ujar Samson ketika mereka telah duduk di bawah pohon itu. "Bahkan aku sering lihat kamu pergi ke sekolah, tapi aku tetap tidak peduli meskipun si Rudi yang ngomong kau berkali-kali menantangku duel."


Kali ini Gungun berdecak lidah sambil geleng-geleng kepala pada ulah si Rudi yang telah mengadu domba dirinya dengan si Samson yang ternyata sesungguhnya ia orang baik dan rendah hati meskipun ia seorang petinju.


"Tapi ketika si Rudi menyampaikan pesan darimu bahwa aku seorang pengecut, barulah aku datangi kau," ujar Samson yang kali ini bicara seperti itu sambil tersenyum. Sekarang Gungun melihat kembali si Samson yang selalu tersenyum.

__ADS_1


"Waktu itu aku langsung menggebrak karena aku tidak boleh menganggap enteng kamu," sambung si Samson. "Ternyata benar, pukulanmu sangat keras, hingga beberapa hari aku sulit makan karena gigiku sakit bila dipakai untuk mengunyah!"


Mendengar hal itu Gungun lalu bercerita sepulang perkelahian itu ia jatuh sakit karena tenaganya


terkuras.


Akhirnya mereka bercerita dan saling memuji kehebatan satu sama lain.


"Jadi kamu datang kemari mau apa?" Tanya Samson mengingatkan maksud kedatangan Gungun.


"Aku akan menghadapi turnamen dan aku butuh sparing partner seperti dirimu, karena pada turnamen lain tahun kemarin aku selalu kalah menghadapi lawan yang mirip dengan gaya bertinju."


Mendengar hal itu Samson mengangguk-anggukan kepala.


"Bila beberapa menit saja kita masih berkelahi, aku pasti dapat dikalahkan olehmu." Ujar Gungun sejujurnya. "Pada saat itupun sebenarnya aku sudah kelelahan."


"Belum tentu. Dan kamu cerdas tidak mau frontal menghadapiku." Sahut Samson. "Dan kamu cepat berpikir sehingga bisa melakukan serangan balik."


Tetapi Gungun terdiam dan memikirkan kata-katanya sendiri barusan.


"Ikutlah aku!" Ajak Samson mengajak masuk ke dalam sasana tanpa menunggu Gungun menyatakan pendapatnya. "Akan kutunjuk bagaimana seharusnya kau menghadapi seorang petinju. Kita bahas di atas ring."


Mendengar hal itu, dengan senang hati Gungun mengekor langkah teman barunya.


Pada saat yang sama dua orang yang tadi bertanding telah selesai latihan dan turun dari ring. Mereka sedang berbicara dengan orang yang terlihat disegani oleh kedua orang itu. Lalu Samson berbicara dengan pria paruh baya namun masih memiliki bentuk tubuh yang atletis.


"Itu Bapaku, tinggal dulu di sini," ujar Samson. "Aku mau minta ijin pakai ring itu."


Samson cukup lama bicara dengan Bapaknya. Sesekali Bapaknya Samson menengok ke arah Gungun. Ia berdiri bertolak pinggang mendengarkan penjelasan dari Samson.


Tidak lama kemudian Samson memanggil Gungun. Lalu Gungun datang dan mencium tangan orang tua itu.


"Baguslah, kalian berteman." Ucap Bapaknya Samson sambil bertolak pinggang. "Namaku Sianturi!" Rupanya kebiasaan Samson bertolak pinggang ketika berbicara dengan orang lain, jelas turunan dari siapa. Meskipun demikian ketika berbicara padanya terasa oleh Gungun orang tua itu ramah dan menyenangkan.


"Aku tahu Kang Iwa Rahadian," Ujar Pak Sianturi. "Dia orang hebat bisa mengembangkan perguruan karate dan menjadi besar seperti sekarang."


Gungun senang sekali mendengar hal itu, rupanya Pak Sianturi mengenal pendiri BKC.


"Naiklah!"


Sahut Pak Sianturi mempersilakan ring dipakai oleh mereka. Sementara itu Samson


mengambil sepasang sarung tinju lalu diberikan kepada Gungun. Lalu ia mengambil


sepasang untuk dipakai olehnya sendiri.


"Di sini ada peraturan siapa saja yang masuk ring harus mengenakan standar keselamatan bertinju." Ujar Samson. Gungun setuju sekalipun ia mengenakan t-shir dan sepatu kets, tetapi celananya jins. Dan ia tidak keberatan mengenakan sarung tinju, gum shield, dan pelindung kepala sebelum masuk ring.


"Gaya bertinjumu sangat agresif. Serangan-seranganmu cepat dengan kekuatan pukulan luar biasa." Puji Gungun. "Apa itu namanya?"


"Slugger! Gaya bertinju sepertiku disebut Slugger," sahut Samson. "Gaya bertinju yang memukul terus tanpa terlalu menghiraukan serangan balik lawan. Banyak petinju yang ingin seperti itu tapi harus punya pertahanan yang kuat. Tidak boleh sekali terkena pukulan berat langsung terjatuh."


Gungun mengangguk-angguk karena sudah merasakan sendiri gaya bertinju si Samson.


Sambil berdiskusi sekali-sekali Samson dan Gungun terlibat adu pukul sebagai sparing partner. Dalam jual beli jurus-jurus ini Gungun banyak mengambil pelajaran bagaimana menghadapi lawan seorang petunju yang punya stamina sama hebat dengan kekuatannya.


"Bagaimana cara menghadapi petinju dengan gaya slugger seperti ini?" Tanya Gungun.


Pada saat itu Pak Sianturi naik ring dan berdiri di luar sambil bertelekan pada tali ring dan memperhatikan mereka yang berada di dalam ring.


"Untuk mengatasinya kamu harus lakukan bob and weave agar mempersulit lawan mengincar


targetnya. Bob dilakukan dengan menekuk kaki untuk menghindari pukulan. Lalu susul dengan weave. Caranya, lengkungkan badan persis di luar jangkauan pukulan lurus lawan, dan luruskan punggung kembali. Setelah weave, balas lawan dengan jab."


"Stop!" Kata Pak Sianturi meminta mereka berhenti memeragakan gaya bertinju. "Sudah benar bergerak terus untuk menghindari serangan dan balas memukul. Tapi ada yang lebih penting ...." Lalu Bapak pemilik sasana dan sekaligus petinju ini ikut masuk ring.


"Tinju dengan Karate adalah dua jenis olah raga yang karakternya berbeda," ujar Pak Sianturi kepada Gungun. "Meskipun kamu diajarin bertinju, tapi gerakan-gerakan bertinju tidak berguna dalam karate. Faktor utama dalam pertarungan tinju yang sebenarnya adalah siapa yang paling tahan, itu yang menang. Tetapi dalam karate tidak begitu!"


Kemudian Samson dan Gungun mendengarkan baik-baik uraian yang disampaikan Bapaknya Si Samson.


"Sekarang kamu harus pahami dulu filosofi latihan karate yang seperti atlit lari pada jarak pendek 100/400 meter. Dan bandingkan dengan petinju sebagai pelari marathon atau pelari jarak jauh seperti 1.600 meter. Jika ditukar antara si pelari jarak jauh dengan jarak pendek, maka pelari jarak pendek akan mudah kelelahan di marathon sedangkan pelari marathon akan sangat lambat larinya di jarak 100 meter.


Dan Karate adalah olahraga yang cepat dan meledak-ledak. Poin akan kamu dapatkan saat menyerang


dengan cepat untuk mengenai sasaran sebelum dapat menghindar. Akan menjadi sulit jika kamu bergerak dengan lambat. Sedangkan dalam pertandingan waktunya cuma 3-4 menit per ronde dan itu bukan waktu yang lama, tidak seperti dalam bertinju. Oleh sebab itu kamu harus melatih otot ketahanan, misalnya berlari jarak 3-5 km untuk daya tahan bukan untuk ledakan.


Biasanya seorang Karateka bisa berlari dengan jarak ini sekitar 5-6 menit. Tetapi ini masih kurang tepat, karena dalam pertandingan karate memerlukan ledakan yang besar namun dalam waktu yang pendek. Maka kamu harus berlatih berlari sprint yang maksimal supaya membuat ototmu bekerja dengan kemampuan yang sama dengan saat


pertandingan Karate.


Sekarang Gungun bertanya, "tapi hanya dibutuhkan waktu 13 detik untuk berlari sprint 100 meter, dan pertandingan Karate berlangsung 3 menit?"


"Jadi itulah kenapa kamu harus beristirahat selama 15 detik, kemudian berlari sprint lagi 100 meter. Berlatih dengan pola seperti itu sampai waktu 3 menit, maka kamu akan terbiasa dengan waktu pertandingan karate sekitar 2-3 menit dengan waktu istirahat 1 menit. Karena pola berulang ini sprint-istirahat-sprint-istirahat dan seterusnya sangat mirip dengan pertandingan Karate.

__ADS_1


Dalam pertandingan karate ada saat yang meledak-ledak yakni sekitar 13 detik. Kemudian biasanya ada waktu seseorang akan tidak melakukan serangan dan hanya berputar-putar sekitar lapangan sebelum kemudian melakukan ledakan lagi.


Begitulah persiapan fisik untuk pertandingan yang baik bila menghadapi lawan yang memiliki stamina dan kekuatan rata-rata dari seorang karateka seperti yang dimiliki oleh setiap petinju." []


__ADS_2