Fight For Honor

Fight For Honor
Pelajaran dari Guru Terbaik


__ADS_3

Iming-iming hadiah uang total Rp. 50.000.000,- bisa membuat beberapa orang gelap mata sehingga menempuh cara-cara yang tidak terpuji. Demikian pula pada dunia karateka yang seharusnya menjunjung tinggi sportifitas. Memasuki babak akhir eliminasi beberapa perguruan berambisi bisa lolos ke semifinal. Sayangnya ada yang menempuh cara yang tidak patut bagi seorang altlit olah raga terutama


karate!


Pertandingan karate adalah olahraga, dan karena alasan itu beberapa teknik paling berbahaya dilarang dan semua teknik harus dikontrol. Kontestan yang terlatih sanggup menerima pukulan yang relatif cukup kuat pada daerah berotot seperti perut, namun kenyataannya tetap saja daerah kepala, wajah, leher, ************ dan sendi sangat rentan terhadap cedera. Oleh karena itu teknik apapun, yang


mengakibatkan cedera, dapat dikenakan sanksi kecuali jika disebabkan oleh


penerima itu sendiri. Kontestan harus melakukan semua teknik dengan kontrol dan bentuk yang baik, sebab jika tidak, maka teknik apapun yang disalahgunakan tersebut akan mendapatkan peringatan atau hukuman. Dan masalahnya timbul ketika ada pihak yang berpura-pura cedera dengan tujuan mendapatkan nilai dengan cara curang seperti ini.


Jam di dinding menunjukkan pukul 9 lebih 15 menit. Kali ini seluruh tim yang berhasil terus lolos ke babak berikutnya sekarang harus berebut tiket ke semifinal dan tentu saja persaingan semakin sengit.


Pada babak akhir penyisihan Grup, Gungun menghadapi Lintar dari Boksikata yang timnya terindikasi mulai melakukan banyak perilaku berpura-pura cidera di babak-babak krusial seperti ini. Namun sejauh ini dalam beberapa kali pertemuan, mereka mampu menyembunyikan dengan rapih.


Kestafel sudah memperingatkan kepada para kontestanya agar lebih meningkatkan kewaspadaan menghadapi mereka.


"Hati-hati pada tim Boksikata, di beberapa turnamen lain mereka curang," ujar Kang Budi kepada seluruh kontestannya sebelum pertandingan dimulai. "Mereka lolos pada beberapa kategori tetapi dengan cara-cara curang pula!" Peringatan diberikan terutama kepada para murid kelas kumite.


Pada saat Gungun turun Gelanggang, Kang Budi dan Kang Ripay tidak ada di arena dan sedang berada di arena lain.


Tetapi sebelum pergi Kang Budi berpesan, "Jangan berpikir kalian harus lolos ke babak semifinal, tapi tampil bertandinglah sebaik mungkin!" Semua kontestan mangangguk-angguk tanda paham pada instruksi ini.


Benar saja apa yang disampaikan Kestafelnya, Lintar dari Boksikata yang diturunkan pada urutan ke-3 dan menjadi lawan Gungun ini tampak jelas bersikap tidak fair. Beberapa kali ia keluar dari area pertandingan bila dikejar. Ia menghindari kontak langsung


dan bergerak terus sambil mengincar untuk melakukan serangan bila ada peluang. Dan akhirnya terjadi pula yang tidak diharapkan oleh Gungun!


Ketika Gungun melakukan tendangan lurus ke depan, lawan terlihat olehnya bersikap membahayakan diri sendiri dengan sengaja membuka diri untuk dicederai. Lintar sedikit menekuk kedua lututnya dan badannya agak condong ke belakang.


Posisi seperti yang Lintar perlihatkan jelas bukan sebuah kuda-kuda siap tempur. Tetapi Lintar sendiri menyonsong tendangan Gungun dengan kedua tangannya. Wasit melihat hal


ini posisi yang tidak boleh diserang.


Tetapi terlambat! Lintar sudah mencengkeram kaki Gungun dengan kedua tangan untuk alasan


menjatuhkan Gungun. Terlihat jelas tendangan Gungun terlalu deras sehingga telak mengenai ulu hati dan mengakibatkan ia terjengkang hingga kesulitan untuk segera bangun kembali. Sehingga sontak Wasit bertindak cepat dan mengatakan, "Yame!" [1]


Gungun tahu tipuan itu sehingga pada detik-detik lawan terlihat tidak mengelak ia telah menarik kekuatan pada kaki kanannya itu. Tetapi lawan telah berpura-pura cedera dan melebih-lebihkan cederanya tersebut ketika ujung kaki Gungun mendorong perutnya.


Tindakannya halus dan bagi mata yang tidak waspada terlihat ia gagal untuk melindungi diri sendiri dan sayangnya, hal ini luput dari perhatian Wasit yang tidak mengantisipasi salah seorang kontestan bersikap curang.


Selanjutnya Lintar bereaksi berlebihan terhadap kontak ringan tadi, dalam upaya agar wasit menghukum lawan. Ketika Lintar terjatuh dan tidak bisa berdiri tegak dengan kuat pada kedua kakinya dalam hitungan 10 detik, wasit menghentikan pertandingan lalu menghubungi dokter untuk insiden robohnya salah seorang kontestan untuk mendapat pemeriksaan. Lalu dokter diminta untuk memeriksa kontestan sebelum pertandingan tersebut dapat dilanjutkan kembali


atau tidak?


Bangun ... Bangun ... Bangun ...!


Lawan ... Lawan ... Lawan ...!


Para penonton di tribun bersorak-sorak memberikan semangat kepada Lintar.


Ternyata yang dipertontonkan Lintar tidak didukung oleh bukti cedera yang dilaporkan oleh dokter sehingga Lintar diminta untuk melanjutkan pertandingan. Namun disaat yang sama Wasit langsung menjatuhkan peringatan pelanggaran serius berupa Keikoku [2] kepada Gungun.


Sontak bergemuruh sorak-sorai dan segala macam tetabuhan dibunyikan menyambut pemberian hukuman itu.


Teknik apapun yang mengakibatkan cedera, dapat dikenakan sanksi dan itulah yang terlihat oleh Wasit sehingga serta merta menjatuhkan hukuman kepada Gungun.


kepada pelanggar telah diberikan keikoku dan potensi Gungun untuk menang telah dikurangi secara serius


setelah wasit berdiskusi dengan para Juri. Tentu saja keputusan ini menyulut


emosi Gungun yang telah dirugikan. Wajah Gungun menjadi merah padam dan Ia mendongkol sekali!


Tetapi Gungun tidak ada waktu untuk mengeluh karena beberapa detik kemudian ia sudah diminta menghadapi lawannya kembali.


Dan pada detik itu iamelihat kehadiran Kang Darma di barisan official. Gungun melihat Kang Darma memberikan sinyal kepadanya agar ia menerima keputusan yang dijatuhkan oleh Wasit untuknya. Dan sekali lagi Gungun melihat isyarat lain dari Kang Darma yang meletakkan kedua tangan masing-masing di samping matanya lalu digerakan ke arah depan.


"Hm, benar kata Kang Darma aku harus fokus dan lupakan yang tadi, pikir Gungun. Lalu Gungun tanamkan dalam hati bahwa ia harus lebih berhati-hati menghadapi lawan yang bermain curang.


Aku tidak boleh mengulang kesalahan yang sama supaya tidak kandas lagi di babak ini, tekad Gungun. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan-pelan untuk mengembalikan


konsentrasinya.


Kali ini setelah Lintar berhasil bersikap membahayakan diri sendiri dengan sengaja membuka diri untuk dicederai oleh lawan, di babak kedua ini ia mengubah strategi. Sekarang Lintar bersikap pasif dan tidak berusaha terlibat dalam adu jurus-jurus. Ia


menghindari kontak langsung untuk mencegah lawan mendapat kesempatan meraih nilai.


Bahkan kali ini Lintar tidak segan-segan melakukan rangkulan, bergulat, mendorong atau beradu dada tanpa berusaha melancarkan teknik yang bernilai atau melakukan bantingan.


Satu-satunya jatuhan yang boleh dilakukan dengan kedua tangan dalam karate adalah ketika menangkap kaki lawan yang sedang menendang. Titik poros tidak boleh berada di atas sabuk pelempar


dan lawan harus tetap dipegang, sehingga pendaratan yang aman bisa dilakukan. Ia berharap Gungun melakukan kesalahan lagi dalam pergulatan seperti ini dengan melakukan bantingan.


Bantingan di atas bahu seperti seoi nage, kata guruma dan lain-lain, dan bantingan dengan menjatuhkan


diri sendiri seperti tomoe nage, sumi gaeshi dan lain-lain, sangat dilarang.


Dilarang juga untuk membekap lawan di bawah pinggang dan mengangkat kemudian menjatuhkan lawan, atau membungkuk untuk menarik kaki dari bawah mereka.


Jika seorang kontestan terluka akibat teknik lempar, Juri akan memutuskan apakah hukuman itu perlu


dijatuhkan pada kontestan yang melakukan bantingan. Lintar berharap Gungun melakukan itu dan sekalipun Gungun jengkel dengan sikap lawan seperti itu ia tetap menahan diri sambil mengantisipasi mencari peluang mendapatkan nilai yang bersih.


Kontestan dapat merebut lawan atau karategi dengan 1 tangan untuk tujuan menjatuhkan atau langsung melancarkan teknik ternilai - tapi tidak dengan terus-menerus berpegang pada lawan. Memegang dengan 1 tangan dilakukan ketika akan


melancarkan teknik ternilai atau bantingan, atau untuk menahan jatuhnya lawan. Memegang dengan kedua tangan hanya diijinkan


saat meraih kaki tendangan lawan dengan maksud menjatuhkannya. Hal ini yang menjadi pertimbangan wasit sehingga tidak buru-buru mengambil tindakan untuk memisahkan kedua petarung dan melihat apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh mereka?


Kedua petarung yang saling merapatkan badan telah berada di atas garis merah, lalu Gungun menarik dorongan badannya. Pada saat itulah Lintar melakukan serangan! Dan inilah yang


ia lihat sebagai peluangnya!

__ADS_1


"Hiaaa..." Lintar berteriak sekuat tenaga melepas kiai dan meyakinkan juri bahwa pukulanya masuk telak di dada Gungun.


Seketika Lintar segera berpaling seolah-olah telah berhasil dengan serangannya. Tujuan ia berputar adalah untuk menarik perhatian Wasit terhadap tekniknya. Sebenarnya Lintar telah melancarkan teknik yang menghasilkan nilai dan kemudian keluar dari area pertandingan sebelum Wasit meneriakkan "Yame", maka ia seharusnya diberi nilai karena masih di dalam garis arena. Dan itulah yang diyakini oleh Lintar.


Hore ...! Tim dan para


pendukungnya melonjak kegirangan dan yakin wasit akan memberikan ganjaran nilai kepada Jagoannya.


Huuu...! Sementara itu riuh-rendah celaan dilontarkan kubu BKC melihat aksi siasat sandiwara lawan.


Di saat yang sama sebenarnya Gungun sudah mengantisipasi, dan ia pun telah berdiri di luar arena sehingga usaha Lintar untuk mendapatkan nilai sebenarnya menjadi gagal bahkan hal ini menjadi Jogai! [3]


Ketika Lintar menyerang dan kena, wasit telah melihat kedua kontestan telah berada di luar arena. Wasit sendiri melihat dewan juri telah menjulurkan bendera biru di depan. Hal ini memungkinkan Wasit melihat secara jelas kontestan mana yang menjadi pelanggar!


Hore ...! Sorak-sorai penonton


di tempat duduknya serentak berdiri menyambut juara grup ini dan beberapa


terompet ditiup mengiringi suara terabuhan yang diperdengarkan membahana di dalam gedung!


Ketika Wasit kembali ke posisinya, para Juri menunjukkan pendapat mereka melalui sebuah isyarat ada nilai yang akan diberikan. Wasit mengidentifikasi kontestan AKA kemudian diberikan nilai. Maka nilai AKA [4] diberikan dan AO [5]


mendapat peringatan Hansoku Chui [6] untuk jogai yang dilakukannya. Di saat yang sama juri telah memukul bel tanda babak kedua telah berakhir.


Para penonton di tribun berdiri kembali dari tempat duduknya dan secara gegap-gempita menyambut perolehan angka yang diterima Gungun. Suara terompet dan tetabuhan dibunyikan


lagi dengan lebih keras!


Tampak jelas sekali Lintar kecewa strateginya tidak memberikan hasil seperti yang ia lakukan di babak pertana. Namun apaboleh buat ia harus menundukkan badan dan menerima


hukuman yang dijatuhkan wasit padanya. Sekarang kedua kontestan memiliki nilai yang sama. Potensi Lintar untuk menang menjadi berkurang karena kesalahan yang dilakukannya sendiri. Melihat hasil itu timbulah sorak-sorai membahana dari kubu BKC dan sebaliknya kubu lawan terdiam. Saat itu Wasit memerintahkan kedua kontestan memulai kembali bertanding. Wasit harus memastikan kembali 


bahwa kedua kontestan berada pada garis aman masing-masing dan dengan sikap yang tenang.


Wasit perlu melakukan hal itu karena melihat Lintar melompat-lompat, gelisah dan menunjukkan sikap tidak tenang dan tentu saja Wasit harus menenangkannya sebelum pertandingan bisa dimulai kembali. Namun Lintar tidak serta-merta diam padahal Wasit harus memulai kembali pertandingan dengan penundaan sesingkat mungkin.


Mulai sekarang Lintar tidak boleh melakukan pelanggaran, bila tidak ia bisa kena diskualifikasi. Kali ini kedua kontestan memiliki nilai yang sama. Sementara itu Gungun senang bisa


bersikap mengalah dan tadi bisa menerima keputusan wasit sehingga Wasit sekarang lebih jeli terhadap Lintar yang bermain manipulatif.


Buah dari mengalah sekarang telah Gungun rasakan manisnya. Kesalahan yang ia lakukan di turnamen


sebelumnya kini berulang tetapi ia sudah bisa mengambil pelajaran dan ia sudah tahu apa yang harus dilakukan supaya tidak melakukan kesalahan yang sama. Ia tidak boleh ceroboh dan secara sembrono mengejar lawan yang mundur atau diperdaya lawan dengan upaya menghindar sekedar taktik untuk meraih angka.


Wasit kemudian melanjutkan kembali pertandingan dengan meneriakkan "Tsuzukete Hajime!" [6].


Kedua kontestan maju dan saling incar kembali. Dan sekarang Gungun bisa bermain sedikit tanpa beban tapi tetap berusaha sebaik-baiknya. Namun sebaliknya yang terjadi pada Lintar yang harus didorong-dorong oleh Wasit agar bermain lugas dan fair dengan tidak mengulur-ulur waktu terus.


Pada saat itu Gungun menekan terus dan menutup pergerakan lawan supaya mau melakukan serangan langsung. Bila Gungun melancarkan serangan, Lintar


sigap bergerak mundur atau menghindar. Sedangkan waktu terus


berjalan!


Namun sampai sejauh ini pada waktu memasuki sisa waktu, baik Gungun atau Lintar meskipun sudah saling jual beli serangan namun tidak ada yang berbuah nilai. Lintar sendiri sudah merasakan gelagat babak ini akan berakhir seri sehingga pada sebuah


kesempatan yang tepat ia melancarkan sebuah pukulan lurus ke depan! Namun


dengan berani Gungun menyongsong dan ia tangkis pukulan lurus tangan kanan itu.


Di saat yang sama dan dalam jarak dekat Gungun telah melepaskan sebuah tombokan tinju kanan yang tepat bersarang di ulu hati lawan, Buk!


"Passsaaa ...!"


Kiai yang dilepas Gungun membahana. Sementara Lintar terpeleset jatuh karena hilang keseimbangan. Gerak majunya terpotong akibat disongsong oleh Gungun.


"Yuko!" [7] Teriak wasit sambil menjulurkan tangan kanan ke depan. Sesaat kemudian nilai diberikan kepada Gungun yang secara telak telah memasukan serangan dengan


bentuk yang bagus dan sikap sportif. Selain itu kriteria penerapan penuh


semangat dengan kesadaran penuh, terutama pada waktu yang tepat dan jarak yang benar telah membuat wasit seketika memberikan nilai.


Teng, teng! Saat itu pula terdengan suara bel dipukul yang memberikan tanda waktu pertandingan telah


berakhir!


Waktu telah habis! Meskipun selisih 1 point kontestan yang dinyatakan


sebagai pemenang telah cukup bisa ditunjukkan oleh Wasit dengan mengangkat tangan Gungun dan menyatakan, "Aka No Kachi!" [8]. Pertandingan berakhir pada saat otu juga dan Gungun dinyatakan sebagai pemenangnya!


Sementara itu di tribun para penonton terlonjak berdiri lalu bersorak-sorai dan riuh rendah memberikan pujian untuk Sang Pemenang baru! Hore ... Hore ... Hore!


Teet, teet, teet ...! Suara terompet ditiup.


Dug, dug, dug ...! Tetabuhan pun dipukul oleh penonton di sekeliling tribun.


Pada saat itu wasit memerintahkan kedua kontestan berdiri di atas garis amannya masing-masing lalu memberi instruksi untuk melakukan penghormatan satu sama lain. Lalu Gungun memberi hormat kepada lawan yang sudah berdiri kembali. Kemudian ia


lanjutkan memberi hormat kepada wasit. Setelah itu wasit meninggalkan arena. Dan pada saat itu membahana suara Freddie Mercury menyanyikan 'We are the champions'


....


....


We are the champions, my friends


And we'll keep on fighting 'til the end


We are the champions


We are the champions

__ADS_1


No time for losers


'Cause we are the champions


Of the world


....


Selanjutnya Gungun berbalik badan dan ia ingin meluapkan kegembiraannya berhasil lolos ke babak semifinal. Tetapi Gungun ingat untuk bersyukur lalu bergegas menjatuhkan kedua lututnya dan melakukan sujud syukur.


Gungun hanya mengucap beberapa kali Hamdalah dan ketika ia bangun, teman-teman dari kubunya menunggu dan telah berdiri mengelilinginya. Melihat Gungun telah selesai berdoa, serentak mereka memanggul tubuh Gungun lalu di arak keluar lapangan.


"Hore, hore, hore ...." Sorak-sorai teman-teman dari kubunya menyongsong arak-arakan dan meluapkan kegembiraan seolah-olah jagoan mereka sudah menjuarai turnamen ini!


Gungun sendiri akhirnya larut dalam suasana riuh-rendah di dalam gedung.


Sengkosudaci ... pasaaaa...!


Di atas tanduan teman-teman, Gungun berteriak sekuat tenaga sambil mengacungkan kedua tinjunya ke udara.


Ia telah mengambil pelajaran dari pengalaman dan sekarang Ia lepaskan semua beban yang ia tahan tadi. Dan sekarang ia telah merasa lega ....


Lalu ketika berada di depan Kestafel Gungun diturunkan dan Kang Budi menyalami Gungun sambil memberikan ucapan selamat. Wajah-wajah mereka semua bergembira menyambut kemenangan ini. Dan pada saat itupula Gungun diberi tahu, Rahmat dan Yanto pun ikut lolos ke semifinal. Terpancar suka cita pada wajah Gungun semakin


bertambah mendengar kabar itu!


Pada saat itu Gungun juga melihat Kang Darma, lalu ia sedikit menundukan badan dan memberikan penghormatan kepada Shihannya. Kang Darma mengangguk sambil tersenyum dan


memberikan jempol buat Gunggun.


Lalu Gungun melihat ke arah papan skor mencari tabel kata perorangan putri dan mencari nama Oy Melani di papan skor.


Dari papan skor pada arena pertandingan kata, Gungun masih melihat pertandingan kata perorangan


putri telah berakhir dan juri sedang menghitung nila para kontestannya. Dan


nama Melani ada pada daftar tiga teratas.


Gungun melihat dari juri 1 hingga 7 telah menyalakan lampu-lampu angka untuk ketiga kontestan teratas. Ada dua tabel pada papan skor untuk kriteria kinerja teknik dan kinerja atletik. Angka-angka terus ditambahkan oleh masing-masing juri hingga menempatkan skor tertinggi dengan nilai 24,48 untuk nama Oy Melani.


"Yes!" Teriak Gungun sambil meninju udara. Ia senang sekali Lani juga melaju ke babak semifinal seperti yang sudah ia duga!


Pada saat itulahGungun melihat Lani dari kejauhan. Ia berdiri di pinggir lapangan dan bertolak pinggang. Lani sendiri sedang melempar senyum kearahnya. Gungun tidak tahu apakah harus membalas senyum Lani atau tidak?


Tetapi pada saat itu tangan Lani menunjuk kepada papan skor yang memuat nama-nama kontestan yang


lolos ke babak semifinal. Gungun menjadi tersenyum dan manakala ia melihat Lani mengepalkan tinju pula sebagai isyarat ucapan selamat untuknya, senyum Gungun menjadi semakin lebar. []


Gungun pergi ke ruang ganti sambil membawa ranselnya. Di tempat itu ia menunggu sebentar hingga ada kamar yang kosong.


Setelah pertandingan tadi ada satu hari yang kosong untuk waktu istirahat para kontestan yang lolos ke babak semifinal. Sebelum pulang Gungun memutuskan untuk mandi dulu biar


badan terasa lebih segar dan tidak lengket oleh keringat. Akhirnya ketika


ia mendapatkan giliran, bergegas ia masuk ke kamar mandi.


Tidak lama kemudian ia sudah ke luar dan mengenakan pakaian biasa. Karategi dan sabuk sudah ia taruh


di dalam ransel. Tiba di luar kamar ganti Gungun merasa lebih segar setelah mandi dan salin dengan pakaian bersih.


Beberapa cabang masih dimainkan untuk menyeleksi cabang-cabang lain dan keramaian masing berlangsung


di dalam gedung itu. Pada saat itu dan di antara lalu lalang orang, Gungun


melihat Lani sedang berdiri menunggu. Lani pun tampak sudah mandi dan telah


mengenakan pakaian biasa pula. Gungun tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi Lani datang menemui Gungun.


"Kita lolos kesemi final!" Ujar Lani sambil tersenyum dan kedua bola matanya berbinar-binar melihat ke arah Gungun. Di mata Gungun senyum Lani sangat manis dan meluluhkan hatinya.


Gungun melihat Lani mengenakan pakaian kasual dan mengenakan jaket BKC pula, sama dengan yang ia pakai. Hanya jaket yang dikenakan Lani dibalut oleh rompi rajut berwarna biru telor asin dan senada dengan celana jinnya yang berwarna biru. Dan sepatu ketsnya yang tanpa tali berwarna biru pula.


"Kita rayakan kemenangan ini!" ujar Lani. Gungun terperanjat mendengar ajakan Lani.


"Benarkah?" Tanya Gungun. Lani mengangguk dan meyakinkan Gungun. Akhirnya Gungun menarik tangan Lani mengajak pergi dari tempat itu.


Pada saat mereka lewat rombongan BKC, Gungun menyempatkan diri menemui Yanto dan menitipkan ransel


padanya. Lalu bergegas kedua sejoli ini pergi ke luar. Tetapi tiba-tiba Gungun


menunda langkahnya manakala Kestafel sedang bertolak pinggang melihat mereka berdua lewat di depannya. Gungun jadi merasa bersalah lalu menjadi kikuk.


"Pah, Kami mau main ...?" Pinta Lani. Kang Budi masih bertolak pinggang tapi sekarang bibirnya tersenyum dan dagunya bergerak memberi isyarat menunjukan arah pintu ke luar.


Melihat hal itu Lani tidak menunggu dua kali, ia bergegas menyeret tangan Gungun dan mengajak pergi dari tempat itu. []


[1] Perintah memulai atau menghentikan pertandingan.


[2] Pelanggaran Kategori 1


[3] Pelanggaran karena meninggalkan arena. Kontestan harus


memakai sabuk tunggal. Ini akan menjadi merah untuk AKA


[4] dan biru untuk AO


[5]. Sabuk tingkatan tidak boleh dipakai selama pertandingan.


[6] Perintah melanjutkan pertandingan.


[7] Nilai 1 Poin.

__ADS_1


[8] Pertandingan dimenangkan oleh sabuk merah.


__ADS_2