
Esok harinya Gungun memaksakan diri masuk sekolah, lagipula ia sudah merasa agak baikan walau berjalannya seperti orang yang menderita sakit pinggang. Malah tinggal di rumah melulu tanpa ada kegiatan bikin ia merasa bosan.
Sore ini ada jadwal latihan karate, namun ia memutuskan belum ikut. Tetapi sebelum pulang sekolah mampir ke dojo untuk menemui Lani.
Kebetulan pada saat ia baru menapak kaki pada titian di depan ruang TU, rentang-rentang ia melihat kedatangan sosok gadis yang paling ia kenal di antara lalu lalang anak-anak yang pulang.
"Kemarin gak masuk sekolah, kenapa, sakit?" tanya Lani setelah berada di depan Gungun. Gungun hanya mengangguk lalu mengambil tempat duduk di teras depan ruang guru yang menghadap ke lapang bola basket.
"Hari ini aku gak ikut latihan... masih lemes," ujar Gungun.
"Sakit apa?" tanya Lani kembali dengan wajah cemas.
"Masuk angin kayaknya ..." sahut Gungun yang sengaja tidak membicarakan lebih jauh alasan sakitnya.
"Kenapa gak terus pulang saja biar istirahat ..."
Gungun tidak menjawab tapi Lani paham ia pasti ingin bertemu dengannya seperti ia sendiri ingin menemui pacarnya yang sekarang telah berada di depan matanya.
"Ya udah atuh, yuk masuk, udah banyak yang datang," ajak Lani pergi ke aula. Akhirnya mereka pergi.
Setalah berada di dalam dojo, Lani pamit berganti pakaian dan Gungun duduk saja di bangku panjang. Tidak lama kemudian terdengar seruan Kang Syahrul mengajak semua Denshi [1] segera membentuk barisan untuk memulai latihan.
Tetapi hari ini ada yang istimewa. Ketika latihan sudah dimulai, Dojo kedatangan Kang Iwa Rahadian dan Kang Darma serta beberapa pemegang sabuk hitam di atas Dan tiga yang berasal dari dojo-dojo lain. Memang hari ini akan ada yang disampaikan oleh Kang Iwa langsung.
Barulah setelah selesai dengan latihan pemanasan, seluruh Denshi diminta berkumpul oleh Kang Iwa. Semua para murid duduk bersila menghadap pada Kang Iwa yang berdiri dan akan menyampaikan sebuah berita. Mau tidak mau Gungun ikut bergabung karena terlanjur ada di dalam.
Osh! Sapa pendiri BKC ini. Serempak dijawab oleh seluruh denshi. Setelah berbasa-basi maka Kang Iwa
menyampaikan berita itu.
"Tiga bulan lagi akan digelar tournamen terbuka tiga-tahunan," ujar Kang Iwa. "Dan nanti akan diumumkan siapa-siapa yang didelegasikan untuk ikut setiap cabang yang dipertandingkan. Nah, hari kita evaluasi strategi untuk menghadapi turnamen ini yang akan diarahkan oleh para Kestafel se bandung raya."
Kemudian Kang Iwa menengok ke arah Kang Budi yang berdiri di tepi lapang bersama para Kestafel lain dan dipersilakan menggantikan posisinya. Lalu bergegas Kang Budi datang lalu melanjutkan pengarahan. Sementara Kang Iwa pergi menepi.
"Saya akan mengumumkan hasil seleksi yang dilakukan oleh para shihan yang diketuai oleh Kang Darma." ujar Papanya Lani. "Dewan shihan mengutamakan bibit-bibit muda yang kemarin telah mengikuti turnamen tahunan. Meskipun tidak ada yang mendapatkan trophy kecuali dikategori kata, maka hari ini kita adakan evaluasi, terutama untuk kelas kumite yang perlu banyak pembenahan."
Pada saat itu Kang Budi membuka lipatan secarik kertas yang semenjak tadi telah ia pegang lalu membacakan isinya. "Yang saya sebut namanya pindah dan berkumpul menemui para shihan."
Lalu satu persatu kepala pelatih bersabuk hitam Dan 3 ini menyebutkan nama-nama. Dan di antara nama yang disebut ada Gungun yang ikut dipanggil.
Akhirnya Gungun bangun dan berpindah tempat. Pada saat itu Shihan Darma menegur Gungun yang berjalan seperti lansia.
"Kenapa kamu tidak ikut latihan?" tanya Kang Darma sambil melakukan pijitan pada punggung Gungun.
"Sakit Kang ..." jawab Gungun. "Aduh!" Tubuh Gungun meregang menahan sakit tetapi disertai perasaan enak dengan pijitan itu. Lalu shihan Darma memegang pundak kiri Gungun.
"Kamu abis olahraga berat? Otot-ototmu pada tegang begini ..." ujar Kang Darma.
"Bukan. Abis berkelahi ... aduh!" Gungun mengerang kembali ketika pijatan itu menyentuh pundak kirinya.
"Berkelahi!" Sahut master karateka itu. "Karate itu seni beladiri bukan untuk berkelahi, apalagi perkelahian jalanan. Trus kamu berkelahi melawan banteng hingga mengeluarkan tenaga yang besar seperti ini? Ha... Ha.... Ha
..."
__ADS_1
Kang Darma tertawa kecil menggoda Gungun.
"Saya berkelahi melawan seorang petinju ..."
"Oh ya?" sahut Kang Darma terkejut. Lalu Gungun ceritakan semua pertarungannya dengan si Samson.
Mendengar penuturan Gungun, Kang Darma mengajak Gungun duduk terpisah agar dilakukan pijatan lebih teliti. Setelah Gungun duduk bersila, ia diminta Kang Darma membuka bajunya. Gungun patuh dan lekas membuka baju seragam sekolah dan lekas menaruhnya pada pangkuannya sendiri. Setelah itu Guru bersabuk hitam Dan 5 ini memberikan pijatan dengan kedua tangannya pada bagian-bagian tubuh Gungun. Ia lakukan itu sambil memberikan nasihat kepada murid sabuk hitam Dan 1 ini.
"Dalam sebuah kumite itu cuma ada 3 ronde, sedangkan tinju untuk pemula saja berlangsung 4 ronde, apalagi untuk tingkat profesional hingga 12 ronde, jelas karate akan kalah kekuatan dan stamina bila bertemu dalam sebuah pertarungan dengan seorang petinju. Soal kecepatan dan strategipun ada dalam bertinju. Jadi bila tidak punya nyali dan insting yang tajam kita bisa dengan mudah dikalahkan oleh seorang petinju. Kamu beruntung masih bisa ada di sini setelah berkelahi melawan seorang petinju."
Gungun mengakui omongan gurunya benar dan Ia telah mengalami sendiri akibatnya.
Lalu Kang Darma menggosok-gosokan kedua telapak tangannya dan melanjutkan kembali pijatannya.
"Eh, apaan nih? Stop dulu ..." sela Gungun, "Kang, mijatnya pake paku!?" Tanya Gungun meringis karena tiba-tiba seperti ditusuk-tusuk oleh sebuah paku. Lalu ia menengok dan memperhatikan kedua tangan Shihannya. Seketika Kang Darma memperlihat kedua telapak tangannya yang kosong.
Gungun terheran-heran, "kok tadi kayak ditusuk-tusuk dengan paku dan tangan Kang Darma panas?"
"Seorang karateka kok aleman," tegur Kang Darma," sambil memutar bahu Gungun dan memaksa sehingga kembali membelakangi Kang Darma.
Kali ini Gungun pasrah saja merasakan panas dan sakit ditusuk-tusuk paku pada setiap pijatan yang dilakukan oleh Kang Darma.
Tapi hasilnya sungguh luar biasa, sekarang Gungun merasa badannya segar dan ringan dan berangsur-angsur rasa seperti ditusuk-tusuk pakunya hilang dengan sendirinya?
Akhirnya Kang Darma menepuk punggung Gungun dengan keras, "Istirahatkan dulu beberapa hari, baru nanti bisa latihan kembali." Pungkasnya.
"Osh! Terima kasih." sahut Gungun. Lalu ia mengenakan baju seragamnya kembali.
"Mulai sekarang kamu harus belajar menghargai lawanmu," ujar Shihan Darma, "karena seorang lawan yang hebat sesungguhnya guru yang terbaik untuk menjadikanmu sama hebat dengan lawanmu itu!"
Darma pergi ke tempat lain. Sesungguhnya Gungun tidak mengerti ujar-ujar yang
tadi disampaikan Kang Darma karena terlalu filosofis. Akhirnya daripada memikirkan
hal yang tidak kesampaian, ia pergi melihat tim putri yang telah dipilih ikut
kelas kata.
Di sudut lain ada 4 kelompok yang sedang berlatih di bawah pengawasan shihan masing-masing. Ada kelompok kata putra dan kelompok kata putri. Ada pula perseorang kata putra dan perseorangan putri. Mereka memang spesialis kata sehingga gerakannya berbeda dan lebih berseni daripada murid-murid lain termasuk dirinya. Gungun kembali duduk di bangku panjang dan menonton saja.
Gerakan para katei sangat indah dan tidak membosankan untuk ditonton. Lebih-lebih ketika Gungun melihat Lani, Ia terpesona dengan gerakan indah sekaligus powerfull hingga tetap terkagum-kagum dibuatnya.
Gungun suka membaca cerita-cerita silat Kho Ping Hoo dan cersil-cersil saduran sehingga imajinasi jurus-jurus yang ada di dalam cersil seolah-olah sekarang ditampilkan oleh Lani dengan sempurna. Pantas saja pacarnya yang di mata Gungun secantik Kitty Lai [2] ini terpilih untuk kelas kata perorangan putri.
Sementara pada saat itu sekonyong-konyong Lani diam mematung, lalu pelan-pelan bergerak kembali ... tapi tiba-tiba macet! Walaupun hanya beberapa detik tetapi gerakan Lani selanjutnya menjadi ngawur ... Dan sekarang tiba-tiba malah berjongkok sambil menutup wajah dengan kedua tangannya sendiri. Rupanya ia malu dilihat oleh Gungun yang sedang melongo seperti itu.
Tentu saja tim kata menengokkan kepala ke arah Gungun yang tidak sadar apa yang telah terjadi. Pada saat itu Teh Berta telah bertolak pinggang di depan Gungun.
"Kang Budi, harus diapain nih anak ini?" ujar Ibu pemegang sabuk hitam Dan 3 itu, "dia telah bikin konsentrasi Lani buyar!" Sementara itu Kestafel yang diajak bicara oleh Teh Berta hanya tersenyum saja dan berpura-pura sibuk urusan dengan murid-muridnya sendiri. Sekarang semua telah menahan ketawa melihat kejadian konyol ini. Barulah Gungun sadar apa yang sedang terjadi dan akhirnya menjadi salah tingkah.
"Sebaiknya kamu menunggu di luar," usir Teh Berta yang bertubuh tinggi besar. Ia pembantu Shihan yang melatih Lani. "Sementara Lani harus belajar konsentrasi dan mengosongkan wajahmu di kepalanya ..."
Ha... ha... ha... Sontak semua melepaskan tawa yang sejak tadi ditahan-tahan demi mendengar omelan Wanita batak itu. Sementara di saat yang sama Lani masih menutup muka dengan erat dan akhirnya Gungun pergi ke luar dengan kepala tertunduk malu. []
__ADS_1
Gungun berdiri di pintu gerbang luar gedung sekolah sambil memainkan sebuah batu kerikil dengan ujung kakinya yang mengenakan sepatu kets. Tidak lama kemudian Lani datang. Wajahnya merona merah sehingga Gungun diam saja. Tetapi ketika Lani sudah berada di tempat Gungun berdiri, Lani sendiri tidak bicara sepatah katapun.
"Sebaiknya aku pulang saja ..." ujar Gungun masih melihat ke bawah.
Lani mengangguk, "hati-hati ..."
Pelan-pelan Gungun pergi sambil tetap menundukan kepala sambil memanggul ranselnya. Setelah beberapa langkah, Gungun menengok, tetapi Lani sudah tidak ada di tempat tadi.
Akhirnya Gungun melanjutkan langkahnya menyusuri troroar ke arah jalan Jendral Sudirman. Tiba di lampu merah persimpangan jalan, ia pergi menyebrang dan berjalan beberapa langkah menjauhi persimpang untuk menunggu bis damri lewat.
Tidak lama kemudian sebuah bis berbentuk kotak yang dicat dominan warna biru yang ia tunggu-tunggu itu telah datang. Ia tidak perlu menunggu bis berhenti sama sekali karena telah penuh oleh penumpang. Bis hanya menepi dan memperlambat lajunya, lalu Gungun jalan sedikit dan melompat naik titian bis.
Setelah tiba di atas ia melihat penumpang cukup banyak yang bergelantungan sehingga ia pun berdiri karena tempat duduk sudah penuh terisi. Lalu seorang kondektur datang menyibak para penumpang yang berdiri. Tanpa diminta Gungun menyerahkan selembar karcis abodemen [3] ke tangan kondektur.
Perjalanan dari simpang gardujati ke terminal di jalan Rajawali ditempuh hanya dalam waktu 15 menit karena tidak banyak penumpang yang naik atau turun di jalan. Hampir seluruh penumpang turun di terminal cibeureum ini. Tetapi ketika tiba di belokan baskot [4] telah terjadi kemacetan. Di belokan itu banyak orang berkerumun dan beberapa angkot hijau jurusan cimindi-cicaheum banyak yang berhenti. Kemacetan di seberang belokan diperparah oleh deretan becak-becak yang menjadi tempat mangkalnya. Tetapi kerumunan orang terpusat di pinggir jembatan sungai yang melintang di bawah jalan raya dan kebanyakan mata memandang ke arah selokan yang berada di bawah mereka.
Akhirnya para penumpang memilih turun saja. Setelah berada di luar, Gungun melihat di atas JPO [5] pun, ternyata penuh oleh orang yang melihat ke bawah pula hingga di titian tempat mangkal becak-becak itu.
Sama seperti yang lain, Gungun mencari tahu pula apa yang terjadi? Lalu ia menyebrang di antara kemacetan lalu lintas. Pada saat itu ia mendengar seorang Bapak bertanya kepada abang becak.
"Korban petrus," jawab abang becak yang ditanya oleh calon penumpangnya. Lalu si Bapak mengangguk-angguk maklum sambil duduk di bangku becak. Kemudian abang becak mulai mengayuh.
Untuk kesekian kali Gungun mendapati kerumunan orang yang melihat korban penembak misterius. Tetapi setelah tahu apa yang terjadi, ia malah tidak berminat ikut-ikutan melihat orang bertato mati di dalam karung dengan tangan terikat ke belakang seperti yang diberitakan di koran-koran.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintahan Presiden Soeharto sedang menjalankan operasi rahasia
pembunuhan terhadap preman-preman, Gali (genk anak liar) dan pelaku-pelaku kriminal lainnya. Tapi ada bagusnya juga, biasanya di terminal bis damri ini banyak copet, dan banyak preman-premannya, sekarang tidak ada sama sekali.
Gungun cuma anak sekolahan tentu uang yang dibawa tidak banyak, tapi pernah kecopetan juga dan
tetap saja bikin kecewa karena gak bisa jajan di kantin sekolah.
Pada Jalan Rajawali yang di mulai ambang Jalan Maleber Barat merupakan terminal Bis Damri ini yang biasanya berbaris hingga di depan Rumah Sakit Rajawali. Selain pedagang asongan, banyak pula para penjaja koran. Tetapi yang merugikan adanya copet yang tidak diketahui siapa orangnya tetapi tahu-tahu dompet sudah hilang dari kantong belakang. Kini setelah di Republik ini banyak terjadi korban penembak misterius, tidak ada terlihat para preman-preman berkeliaran lagi. []
[1] Semua tingkatan.
[2] Aktris Wuxia
pemeran Tio Beng dalam film To Liong To.
[3] Karcis
berlangganan.
[4] Batas kota Bandung
dengan kota Cimahi.
[5] Jembatan
__ADS_1
penyebrangan orang.