Forced Marriage (Jio Untuk Celia)

Forced Marriage (Jio Untuk Celia)
Celia: Konsultasi.


__ADS_3

Otak gue udah nggak beres, tiap hari yang ada dipikiran gue cuma Jio Jio Jio mulu, kenapa Jio mau nikah sama gue? Kenapa dia belakangan ini keknya sabar aja ngadepin gue, kenapa dia bikin gue salting, kenapa dia punya tampang bikin melting kayak gitu? Dan masih banyak lagi yang bikin gue bertanya-tanya tentang Jio, suami gila gue itu.


Perasaan ini apa sih namanya? Bahkan sekarang, cuma mikirin dia doang jantung gue mulai berdetak nggak normal. Hemmm, cuma ada satu jawabannya, bener bener... Mungkin gue terlalu emosi, Jio pasti udah berhasil bikin darah tinggi gue naik.


Dengan langkah gontai gue nuju kamar, capek banget gue udah kayak tekanan batin nikah sama kang Maksa.


Sampe kamar gue mulai ngambil handuk di rak, gue mau nyegerin diri, nyiram air dingin di kepala gue keknya pas banget untuk hati dan pikiran gue yang gerah. Tapi tiba-tiba aja, "Aaaaaahhhh!"


Saat gue liat kaca, gue liat sesuatu yang sangat menakutkan, gue nggak bisa kayak gini, gue nggak nyangka efek nikah sama Jio benar-benar bakalan ngerugiin gue.


"Ada apa Non?" tanya Bi Jum dengan napas tersengal, kayaknya dia lari sambil naikin tangga karena kaget denger teriakan gue.


Tapi sumpah, gue nggak maksud buat nyiksa asisten rumah tangga gue, tadi itu gue kaget beneran sampe teriak. Liat jerawat di kening gue yang udah merah, ini semua pasti akibat gue stress karena harus ngadepin Jio.


"Nggak ada apa-apa!" jawab gue canggung, Bi Jum masuk juga ke kamar mandi buat mastiin kalau bener nggak ada apa-apa. Apa teriakan gue tadi kenceng banget yaaa? Bisa bikin dia panik kayak gini.


"Non Cel kenapa? Kayaknya kurang sehat?" tanya Bi Jum lagi, gue noleh ke arah kaca, wajah gue emang agak merah sih, dan sialnya gue lagi-lagi harus liat itu jerawat sialan yang nempel di jidat.


"Nggak ada apa-apa Bi!" gue menggeleng cepat.


"Tapi, tadi kenapa Non Cel teriak? Apa ada yang salah? Tadi pagi Bibi yang bersiin kamar mandi Non Cel."


"Enggak, Cel cuma lagi kebawa-bawa drakor! Aahhh, sampe bikin Celia histeris!" jawab gue, harus bohong lagi kan.


"Oohhh syukur lah! Bibi takutnya ada apa-apa." katanya kemudian senyum dan balik badan ninggalin gue, mungkin juga sambil hatinya memaki kelakuan gue yang nggak wajar, cuma abis nonton drakor aja sampe teriak gitu.


"Fyuuhhh!"


Tangan gue udah cepet aja megangin jerawat di jidat, kayaknya gue harus ke klinik, gue mesti perawatan, ini nggak bisa dibiarin, baru juga tiga hari gue nikah sama dia.


...***...


Pulang dari klinik kecantikan, gue malah singgah ke rumah sakit buat cek kesehatan gue. Gue mau konsultasi nanya tentang jantung gue yang sering kali berdetak nggak normal ini, kalau ada gue juga mau minta diresepin obat, gue mulai nggak nyaman soalnya.

__ADS_1


"Celia!" sapa Kak Arvi, dia itu dokter spesialis jantung, sebenarnya gue sama Mama pernah nemenin nenek berobat beberapa bulan yang lalu, mungkin dia heran gue nyamperin dia ke sini sendiri pula.


"Kak Arvi, apa kabar?" tanya gue basa-basi. Kak Arvi termasuk dokter muda, usianya mungkin baru tiga puluhan tapi nggak klop banget sama wajahnya yang masih kayak dua puluh limaan.


"Baik! Kamu juga apa kabar? Dan... Kenapa ke sini? Mau minta obat buat nenek, atau apa?"


"Hemmm, aku mau..."


Kak Arvi ngambil pena sama kertas, mungkin dia udah siap buat nulis gejala penyakit jantung nenek gue biar bisa segera meresepkan obat, tapi kayaknya dia salah deh, karena yang mau konsultasi itu sebenarnya gue sendiri.


"Aku mau konsultasi!" ucap gue cepat.


"Hah?" herannya. Dia liat muka gue, kali aja gue becanda, mungkin itu yang ada di pikirannya.


"Seseorang yang tiba-tiba aja sering ngalamin jantung berdetak nggak normal, padahal nggak sedang lari-larian atau olahraga, apa itu tanda-tanda sakit jantung?"


"Hah? Kamu bilang apa?"


"Aahhh, maksud aku!" kepala gue nengadah ke atas sambil mikir apa kata-kata yang tepat buat gue gambarin gejala yang gue alamin. "Tiba-tiba aja jantung aku suka sulit dikondisiin, di bagian sini suka berdebar!" jelas gue sambil nunjuk d*da gue.


Gue menggeleng pelan.


"Maksud kamu... Kamu suka ngerasain jantung kamu tiba-tiba aja berdetak nggak normal? Gitu? Dan nggak normalnya itu kayak gimana?"


"Hemmm, ya nggak normal, kayak dug dug dug dug gitu, dia bertempo lebih cepat!" jelas gue sambil nyengir.


"Hemmm, apa kamu makan dengan teratur di beberapa minggu ini?"


Gue ngangguk, perasan meskipun telat-telat dikit tapi gue tetep makan sesuai jam kok.


"Tidur cukup?"


Gue ngangguk lagi, "Cuma malam kemarin aku pernah begadang, tapi malam lainnya nggak pernah!"

__ADS_1


"Sejak kapan kamu mengalami kondisi jantung seperti itu?"


"Hemmm, baru beberapa hari ini!"


"Mungkin kamu terlalu banyak pikiran..."


Banyak pikiran? Masuk akal, tapi yang lebih tepatnya... "Aaa, Kak Arvi, kalau misalkan kita sedang marah dan kesal, apa kondisi seperti itu bisa berlanjut, maksud aku... Apa aku mengalami kondisi jantung kayak gini karena aku lagi marah?"


"Apa emosi itu berpengaruh?"


"Hemmm, bisa saja, tergantung seberapa benci kamu dengan sesuatu yang membuatmu marah!"


"Aaahhh, apa itu wajar?"


Kak Arvi ngelirik gue senyum, "Seharusnya kamu bisa memaafkan, bagaimanapun marah itu, apa lagi bisa mempengaruhi kesehatan jantungmu seperti ini, bukankah hidup damai itu lebih baik?"


Damai? Say no to peace! Bahkan di kehidupan selanjutnya pun gue nggak yakin bisa maafin dia dengan mudah.


"Apa ada yang mengganggumu?" selidiknya.


Gue senyum dan mulai berpikir, mengganggu? Yah si Jio sialan itu benar-benar mengganggu.


"Baiklah! Akan aku resepkan obat, kamu bisa menebusnya di apotik, semoga tidak ada lagi yang menggangumu sehingga adikku ini bisa menjalani hidupnya dengan tenang!" ujarnya manjain gue.


Gue ngangguk, lalu dengan berat hati karena ngerasa nggak terlalu puas akan jawabannya gue undur diri.


"Ya... Gue emang marah, udah seharusnya kan gue marah!"


Gerutu gue kesal sambil jalan ke apotik buat nebus obat.


"Jio sialan itu... Aissshhh, kenapa gue lagi-lagi harus ngerasa... Tiap kali nyebut namanya aja jantung gue udah kayak sakit parah!"


"Benci... Benci? Cinta? Hah! Kata terkutuk apa lagi itu, gue nggak mungkin jatuh cinta sama dia, itu adalah hal yang paling nggak mungkin!"

__ADS_1


"Sadarlah Celia, segera buka mata lo lebar-lebar, lo boleh jatuh cinta sama siapapun di dunia ini kecuali... Jio sialan! Selama pernikahan, lo cuma bakalan ngisi jurnal derita lo dengan lancar kalau lo beneran jatuh cinta sama dia, jadi... Fokuskan diri lo buat selalu benci sama dia, sampe pernikahan ini berakhir!"


Bersambung...


__ADS_2