
Balik gue ke kelas, taunya kelas Pak Ridwan udah dimulai. Gue liat Gunara dalam suasana hati seneng, bisa-bisanya dia nunjukin mukanya depan gue.
Gue udah tau kelemahan dia, awas aja lo entar, beraninya nyentuh milik gue.
Gue ikut dalam pelajaran, gue emang seperti ini, nggak pernah banyak omong dan kebanyakan orang menilai gue angkuh. Hampir semua guru di sekolah ini segan sama gue, apa lagi cuma temen sekelas. Satu-satunya orang yang bisa ngajak gue ngomong dengan bebasnya itu ya cuma Jilly, itu pun waktu gue sama dia masih satu sekolah dulunya. Entahlah, mungkin nama Bokap gue juga membawa pengaruh besar buat mereka.
Nama Jason Ares Adrian mungkin memang selamanya bakalan bikin orang-orang di negara ini ketakutan, sosok Papa yang hangat bagi gue dan Jill itu, nyatanya nggak bisa lepas dari persepsi buruk orang lain yang menilainya, gue nggak begitu tau apa yang udah dilakuin Bokap gue waktu masih muda, tapi sebanyak yang gue denger, ada yang bilang Papa gue itu orang yang benar-benar kejam.
Udah banyak korbannya? tapi sayangnya gue juga nggak bisa percaya gitu aja, karena sejauh ini nggak ada bukti yang nunjukkin kalau Bokap gue adalah orang yang seperti itu.
Piawai dalam ngelola perusahaan dan meraih kesuksesan di usia muda, bahkan Bokap gue udah ngendiriin perusahaannya sendiri di usia tujuh belas tahun, ARAD Group yang sekarang jadi perusahaan terbesarnya itu. Wow, gue bahkan baru bisa ngelola dua cafe di usia gue sekarang. Apa gue bener-bener ketinggalan jauh?
Dan masih banyak hal-hal mengagumkan lagi yang gue tau tentang Papa, selama ini jejak digital cuma membuktikan hal semacam itu, prestasi, pencapaian yang tak terhingga, Papa gue bahkan termasuk orang yang bisa menembus batas.
Bukankah karena hal baik yang tersirat pada siapa Jason Ares Adrian itu juga bisa bikin semua orang segan padanya? Jadi, gue kadang ngembantah tuduhan kalau Papa gue adalah orang yang kejam.
"Lo dari mana aja?" tanya Gunara, dia memang duduk tepat di belakang gue, keinget dia yang udah berani deketin Celia gue jadi males nanggepin.
Sebenarnya gue itu nggak terlalu dekat dengan Gunara, tapi di kelas ini mungkin cuma dia doang yang pernah gue tanggepin kalau ngajak ngomong, dan dia kayaknya nggak nyia-nyiain kesempatan itu. Yah taulah lo pada meski gue acuh dan angkuh nggak bisa diselamatkan, tapi tetep aja gue masih harus berinteraksi sama orang lain, minimal satu orang.
Lima jam berlalu dan udah dua kali ganti jam pelajaran, akhirnya bel istirahat bunyi juga. Gue udah nunggu ini karena emang mau ngelakuin sesuatu.
"Lo kantin?" tanya Gunara, dia sok akrab banget, padahal selama ini gue cuma nanggepin dia seadanya, bicara aja cuma seperlunya.
Gue liat dia sebentar, kemudian berlalu.
"Yo, tungguin gue!" pintanya sedikit memekik. Gimana ceritanya coba itu cowok dengan pedenya mau deketin Celia.
Saat gue jalan ke arah kantin, mata gue nggak sengaja nangkap mangsa gue kali ini. Pelan gue jalan ke arah dua cewek itu, dan "Braakkk!"
__ADS_1
"Awwhhh!" ucap salah satu dari mereka, dan sayangnya saat mulutnya mau marah ke gue, dia bahkan udah diem duluan.
"Jiii... Jio!" ucapnya terbata, temen di sebelahnya juga, langsung bantuin temennya untuk bangkit dan nunduk hormat sama gue.
Belum sempat kedua cewek itu bangkit, gue udah memposisikan diri sejajar sama mereka, gue natap kedua mangsa gue itu bergantian.
"Jiiio, gue minta maaf!"
"Iya, gue juga!"
Ujar keduanya hampir bersamaan, keknya mereka canggung banget, apa lagi dalam sekejap udah banyak banget anak-anak lain berkumpul cuma mau liat kenapa mereka bisa tabrakan sama gue.
Terdengar juga kata umpatan dari fans-fans gue, mereka sangat menyayangkan atas ketidakhati-hatian keduanya, padahal gak tau aja kalau gue lah yang nabrak mangsa gue kali ini dengan sengaja.
"Apa lo bedua bisa ketawa?" tanya gue, dingin. Karena gue emang nggak suka bersikap hangat.
"Hah?"
Permintaan gue ke mereka kayaknya bikin mereka bingung.
"Ketawa aja sepuasnya!"
Setelah bilang gitu gue langsung aja bangkit dan pergi ninggalin kerumunan.
...***...
Suasana kantin masih rame, gue lagi asik-asiknya mandangin istri gue dari jauh, dia lagi makan bakso sama si Oliv, ketawa bebas dan jujur aja kali ini gue bahkan iri sama Oliv, andai aja yang ada di dekat Celia itu gue bukannya Oliv, apa istri gue masih bisa ketawa bebas kek gitu?
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba aja suasana kantin mendadak heboh, satu persatu anak-anak mulai sibuk sama gadgetnya, nggak terkecuali Gunara yang berada tepat di hadapan gue.
__ADS_1
Seperdetik kemudian mereka semua malah udah natap ke arah meja gue penuh selidik, seolah gue baru aja ngelakuin hal kriminal, atau mungkin berbuat nggak senonoh.
"Yo!" ujar Gunara.
"Hemmm!"
Gue baru mau buka hape kalau aja nggak dicegah sama Gunara.
"Jangan liat hape!" pintanya, gue nyergit heran seolah nggak ngerti.
"Please!" liat lah, ekspresi memohonnya bener-benar bikin gue muak.
"Gun!" salah satu anak cowok sekelas juga sama gue dan Gun mulai berdatangan ke meja gue.
Gunara terlihat menggeleng pelan, seperti baru aja ketahuan mencuri dan lagi nggak mau ngaku.
"Lo!" kali ini Bayu, ketua kelas di kelas gue itu lagi-lagi natap Gunara tajam, membuat Gunara nggak bisa ngomong apa-apa lagi.
"Kak Gunara, Kakak dipanggil Pak Juan untuk segera datang ke ruang BK!" nggak nyampe lima menit dan juga nggak tau datang dari mana itu adek kelas, pokoknya dia udah ngembantu gue banget. Buat pekerjaan gue jadi lebih mudah.
"Yo!" kayaknya Gunara berharap gue bantuin dia, tapi sayangnya gue nggak sepeduli itu, seharusnya dia tau gue itu orang yang seperti apa, pas diawal-awal mutusin buat deketin gue.
Sisa jus apel di gelas gue tinggal dikit, gue putusin buat ngabisin pesanan gue dengan tenang dari pada meduliin si playboy.
Setelah Gunara pergi, semua orang juga bubar, dan gue kembali lagi ke fokus gue yang sempat tertunda. Istri gue di sana juga nggak terganggu kayaknya, dia masih asik sendiri menikmati pesanannya.
Baguslah, seenggaknya dia nggak perlu ngurusin hal yang nggak penting.
Terdengar bisik-bisik yang belum kelar tentang Gunara, mereka sangat menyayangkan itu, gue cuma bisa tersenyum smirk, itulah akibatnya kalau udah berani gangguin milik gue.
__ADS_1
Drettt drettt, hape gue getar, ternyata notifikasi untuk kejutan berikutnya yang bentar lagi tayang. Yah, sepertinya kali ini benar-benar akan sangat menyenangkan!
Bersambung...