
"Degggh!"
Dia bilang apa tadi? Dia becanda kan?
"Kenapa? Lo takut?" tanyanya seolah udah menang karena berhasil tau sedikit rahasia gue, yaaa sedikit karena sayangnya gue nggak terlalu peduli kalau pun ada orang yang tau gue sama Celia udah nikah.
Kalau bukan mikirin hati Celia, gue beneran nggak masalah orang lain tau status gue, gue nggak peduli harus minggat dari Guna Bhakti ini. Jatuh cinta bukanlah kesalahan, gue bahkan bangga dengan gentle-nya menyatakan perasaan gue sama cewek yang gue cintai, nikahin dia, jadiin dia milik gue seutuhnya, yang bahkan orang mapan aja belum tentu bisa seyakin gue dalam membentuk suatu hubungan.
Gue noleh, tersenyum smirk ke arah Ariana, seharusnya dia mikir dulu sebelum nyentuh hidup gue, tapi kayaknya dia belum jera.
"Heh.." langkah gue mendekat, gue liat Ariana tampak ketakutan, baguslah seenggaknya dia masih sadar udah berurusan sama siapa.
"Lo jangan macem-macem!" berangnya.
"Lo pikir gue peduli? Bahkan kalau lo beberin semua faktanya, itu bakalan ngembantu gue banget, seenggaknya istri gue nggak ada pilihan lain selain ngaku kalau gue sama dia emang udah jadi pasangan suami istri, dia bisa lebih cepat keluar dari sini dan hidup bahagia sama gue, sekolahan ini cuma penghalang untuk gue bisa mesra-mesraan sama Celia!" bisik gue dekat banget di telinganya.
"Jiii... Jio!"
"Hahahahaha!"
Gue berlalu ninggalin Ariana, entahlah apa yang bakalan dia lakuin setelah ini, gue nggak peduli selama dia nggak nyentuh Celia gue.
...***...
"Jalan kemana?" tanya gue, Celia udah berhasil gue bawa masuk ke mobil, kali ini tanpa paksaan, nggak tau kenapa mungkin dia juga udah capek kejar-kejaran mulu tiap hari.
"Terserah!"
"Terserah?" tanya gue nggak ngerti, jawaban macam apa itu? Sangat tidak membantu.
"Makan dulu?"
Celia noleh, "Nggak!"
"Terus?"
Hening sepuluh detik,
"Nonton?"
"Nggak ada yang seru!"
"Ke pantai!"
"Gue nggak terlalu suka!"
__ADS_1
"Hemmm, Mall?"
"Nggak mood!"
"Terus kemana dong Cel?"
"Terserah!"
Terserah? Bukannya kata terserah itu dia mau ikut aja kemanapun gue bawa, tapi ini kok artinya...
Gue hari ini berniat cuti, gue udah bilang sama Papa lewat telpon, tolong izinin gue cuti satu hari, bukannya gue ngelunjak yaaa, gue bilang aja kalau gue butuh waktu berdua sama Celia, karena kan Bokap juga tau jam berapa gue pulang kerja dua hari kemaren.
Dan untungnya Bokap ngizinin, entahlah mungkin dia juga tau kalau hubungan gue sama Celia nggak cukup baik, bukannya dia itu adalah orang yang tau segalanya tentang gue, dia bahkan punya seribu tangan dan mata.
"Cel... Kita ke rumah Mama yuk!" ajak gue pada akhirnya, karena menurut pikiran gue kalau semua tempat dia nggak mau, tentunya rumah orang tua gue masa iya dia juga nolak.
Celia noleh, terlihat dia hembusin napas bentar sebelum ngangguk. "Ya udah ayok!" ujarnya setuju.
Yes! Tuh kan, kalau pilihan yang satu ini emang nggak bakalan ditolak.
Ntar gue suruh dia pendekatan sama Mama, seenggaknya kali aja itu bisa bikin suasana hatinya seneng juga.
"Yo!" panggilnya tiba-tiba, gue langsung noleh dong, jarang banget Celia nyapa gue duluan.
"Hemm, ada apa?"
Hemmm, kirain mau nanyain apa, taunya cuma Jilly, adek gue itu emang baru pindah kemaren, ke Bandung tempat asal suaminya, tau deh bisa enggaknya tuh anak jauh dari Bonyok.
"Udah, kemaren!" jawab gue.
"Kenapa?"
"Karena Raiz ada kerjaan di sana!"
"Beneran cuma karena itu?"
"Yaaa... Nggak tau juga sih, tapi Papa bilang itu sih alasannya!"
Celia tampak diam setelah bahas Jilly, gue nggak tau apa yang dia pikirin.
"Lo mikir apaan sih?" selidik gue.
Celia noleh, "Gue takut kalau status kita terungkap! Gue pasti bakalan berhenti sekolah!" jawabnya. Kepalanya nunduk nggak noleh gue saat bilang gitu, sumpah kalau kayak gini gue jadi ngerasa bersalah banget.
"Haaahhh!" gue hempasin napas gue pelan, mau gimana lagi, gue nggak mungkin ngelepasin Celia gitu aja.
__ADS_1
"Udah, jalanin aja dulu, kalaupun nanti sampe ketahuan yaaa kita cari jalan terbaiknya!" ujar gue nyoba nenangin. Ya meski gue nggak tau bisa apa nggak nya nenangin Celia.
"Semua ini salah lo!" Celia tiba-tiba aja ngembentak, gue jadi kagetan dia ini tipe gadis kek gimana sih, bentar-bentar melo bentar-bentar sadis.
"Iyaaa salah gue, gue minta maaf yaaa!" sahut gue lembut banget udah kek penasihat pernikahan, tangan udah terulur aja mau nyentuh kepalanya, sayang aja keduluan ditangkis.
"Jangan pegang-pegang!" bentaknya lagi. Dia lagi emosi, kayaknya sih, yakin gue.
"Lo itu ngancurin hidup gue tau nggak, gue padahal nggak ada niatan buat nikah muda, apa lagi sama lo!"
Kini jiwa yang sedang marah tadi sepertinya telah beralih, terdengar isak tangis saat Celia mulai meratap akan nasibnya, segitu merasa nggak ada untungnya apa dia ini nikah sama gue? Harusnya kan dia seneng bisa punya laki kayak gue! Pacar nasional, hei... Lo tau nggak kalau gue ini pacar nasional, cewek mana yang nggak mau sama gue? Nggak ada di dunia ini yang nggak mau sama gue, cuma... Lo sih yang nggak mau, dan sayangnya istri gue sendiri.
"Iya gue minta maaf, semuanya udah terjadi, gue minta maaf atas segalanya dan gue janji bakalan sayang banget sama lo, selamanya..."
Nggak ada yang bisa gue lakuin selain minta maaf lagi, sejauh ini saat Celia memaki pun gue tetep nyoba nggak ngelawan, minta maaf aja terus, selain karena gue males memperpanjang masalah, gue juga masih ngerasa bersalah banget.
"Gue bahkan belum punya KTP, masa entar gitu cetak itu KTP langsung kawin aja statusnya!" gerutunya lagi, natap gue kesal seolah nggak ada ampun.
Ya salam, gue kira apaan, sumpah ya istri random emang ini kesayangan.
"Ya bagus dong, anggep aja kayak sebuah pencapaian!"
"Pencapaian? Lo kira apaan, bangga banget nikah muda!" ketusnya, ngambek lagi setelah sempat termehek-mehek bentar.
"Ya harus dong, gue bangga kok!"
Gue nggak bohong, gue emang bangga nikah muda, apa lagi sama orang yang gue cinta. Kalau bisa, kitanya mampu, kenapa enggak ye kan!
"Dih!" kesalnya.
"Celia..." seru gue.
Dia natap gue, wah ada kemajuan ini, biasanya dia nggak bakalan sesantai ini ngomong sama gue. Apa ini efek pisah ranjang yaaa?
"Apa?"
"Tentang gue yang suka sama lo, gue nggak pernah bohong!" ungkap gue.
Deg deg deg, tuh kan jantung gue deg-degan lagi... Makanya gue yakin banget buat pertahanin istri gue ini.
Celia ngalihin tatapannya, terus buka kaca mobil ngembiarin deru angin jalanan menghempas rambutnya yang tergerai. Cantik, istri gue emang cantik, manis, seolah ada pesona tersembunyi dari seorang Celia.
"Cel!"
"Hemmm!"
__ADS_1
"I love you..."
Bersambung...