Forced Marriage (Jio Untuk Celia)

Forced Marriage (Jio Untuk Celia)
Jio: Konferensi pers.


__ADS_3

"Makan?"


Tanya gue, tangan gue cukup pegal karena umpan yang nggak juga disambar, Celia kayaknya ngambek lagi tapi kali ini dia udah nggak kasar sama gue.


Mungkin dia udah capek, mau gimana pun keadaan nggak kan bakalan berubah. Meski gue ataupun dia rasanya pengen banget balik ke masa sebelum gue ngelakuin malam sialan itu sama dia.


Gue letakin piring yang berisikan bubur ayam itu di meja, malem-malem Mama Zalin sengaja bikinin anaknya bubur ayam biar Cel nggak perlu ngunyah dengan benar. Dia tau suasana hati anaknya lagi nggak karuan.


"Cel, gue boleh ngomong serius sama lo?"


Celia natap gue, matanya sendu banget, kayak orang yang bener-bener minta dikasihani.


"Apa yang bikin lo, sulit banget nerima pernikahan kita, nerima kalau lo sekarang hamil?" tanya gue, meski gue tau gue emang cari mati kalau nanyain itu. Tapi seenggaknya gue harus tau apa yang ngengganjel di hati istri gue ini.


Tapi, gue salah tebak tanggapan Celia kali ini, bukannya dia marah sama gue, Celia malah nangis.


"Lo kenapa nanyain itu?" tanyanya di sela Isak tangis.


"Gue pengen lakuin sesuatu buat selesein semuanya!" jawab gue.


"Sesuatu? Apa?"


"Gue berencana buat konfirmasi, jadi gue harus tau apa aja yang harus lo lepasin kalau orang-orang tau tentang kita!" lanjut gue.


"Hiks hiks, lo... Lo egois Yo!"


Tergambar kekecewaan di wajah Celia, gue tau... Gue tau itu.

__ADS_1


"Cel! Trust me! Apapun yang terjadi, kita bakalan hadapi ini sama-sama, gue nggak bakalan biarin lo menderita sendirian, gue bakalan tanggung itu, gue janji gue bakalan pasang badan buat lo, maafin gue karena gue emang egois, gue nggak bisa ngabain anak kita, gue sayang sama lo, sama dia yang tumbuh di rahim lo, gue bakalan berhenti sekolah, dan lo bakalan home schooling."


"Cel, apapun yang lo cita-citain nantinya gue pasti bakalan berusaha buat wujudin, tapi dengan sangat gue mohon, untuk sekarang... Terima pernikahan kita ini, terima dia... Yang udah ada di antara kita, kasiin dia kasih sayang, jangan ada yang kurang, gue bakalan tanggung jawab sampe akhir, gue janji!"


"Hiks hiks!"


Celia langsung meluk gue, dia nangis lagi, gue sakit lagi, beberapa hari ini adalah hari-hari terberat bagi gue dan Celia. Di mana kita yang adalah pasangan yang bener-bener muda mencoba buat menghadapi masalahnya orang dewasa. Dan semua itu gara-gara gue yang beg*nya nggak ngotak.


"Gue udah ancur Yo!"


"Enggak Cel, siapa bilang? Justru ini adalah awal hidup kita, please jangan kayak gini, gue harus nguatin diri buat tanggung jawab, gue butuh lo buat dukung gue, please Cel!"


"Lo janji, nggak bakalan ninggalin gue, apapun keadaannya?" tanyanya tiba-tiba.


"Gue janji!"


...***...


"Saya, Jio Adskhan Putra Adrian, ingin mengungkapkan suatu hal yang selama beberapa hari ini telah menjadi konsumsi publik, mengenai hubungan antara saya dengan seorang gadis berinisial C."


"Saya mengakui, telah... Menghamili istri saya sendiri, kami telah menikah secara sirih, karena saya yang tidak sengaja melakukan pel*cehan terhadap istri saya dua bulan yang lalu!"


"Untuk itu, jikapun ada orang yang patut disalahkan, maka orang itu adalah saya, kami telah mengatasi masalah ini secara kekeluargaan, dan pernikahan kami ini telah disepakati oleh kedua belah pihak."


"Untuk keluarga besar Adrian dan ARAD Group, saya meminta maaf, setiap hari saya telah menyesali apa yang telah saya perbuat, tapi di sini saya tidak mencari pembenaran, saya tidak mengatakan hal yang saya lakukan adalah benar, namun saya tetap harus mencoba bertanggung jawab. Saya mencintai istri saya, Celia, lebih dari apapun, sehingga dengan gilanya saya merusaknya, mengambil hal yang paling berharga dalam hidupnya!"


"Jadi, berhenti menyalahkan istri saya, karena dia hanya korban atas tindakan saya yang tidak terkontrol!"

__ADS_1


"Sekian dari saya, Jio Adskhan Putra Adrian, saya benar-benar berpikir jika saya melakukan ini, kalian bisa menghentikan untuk membuat rumor yang tidak benar tentang hubungan saya dan Celia. Sekian dan terima kasih."


Gue deg-degan parah, bahkan ini kali pertamanya gue memperlihatkan diri gue sebagai salah satu pewaris ARAD Group. Papa sama Ayah nepuk hangat pundak gue buat ngasih semangat, dan mungkin biar gue nggak tegang, tapi nyatanya itu nggak terlalu berhasil.


"Papa bangga sama kamu!" ujar si Monster, nah kan kalau kayak gini gue rasanya dia itu kayak Papa terbaik, nggak ada yang nandingin. Bener kan? Nah emang.


"Kamu itu persis banget kayak Papa kamu, kalau sudah nekad, tidak ada yang bisa menghalanginya!"


"Roy!"


"Ah Tuan, maaf mengungkapkannya, saya terlalu bahagia dan bangga memiliki putra seperti Jio!" ujar Ayah, dia juga Ayah terbaik.


Dari kejauhan gue liat Celia, dia ditemenin Mama sama Mama Zalin, seketika pandangan mata kita bertemu, kaki gue udah ngelangkah duluan nyamperin dia.


"Cel!"


"Hiks hiks!"


"Jangan nangis! Gue janji bakalan balikin semuanya ke posisi semula, please jangan nangis!"


"Yo, lo udah janji, bakalan tanggung ini sama-sama sampe akhir!" ujarnya sambil meluk gue. Keknya dia masih mencoba untuk yakin, bahwa keputusan yang kita ambil ini emang bener.


"Iya sayang, gue janji!" jawab gue, nggak pake malu lagi, karena Celia semalam udah sepakat sama gue, kita memang harus nerima semua yang terjadi.


"Jio! Malu ih, kenapa panggil gitu?"


"Lah terus harus manggilnya apa?"

__ADS_1


Celia cemberut lagi, duh kan gemesin banget ini bini gue.


Bersambung...


__ADS_2