
"Cel!"
Jio duduk di tepian ranjang, gue sebenarnya mau nggak peduli, tapi rasa penasaran tentang banyaknya kasus yang terjadi belakangan ini membuat tubuh gue bekerja lebih cepat.
Gue udah duduk, seolah siap aja dengerin apa yang mau dia omongin.
"Gimana kalau kita pindah ke apartemen?" tanyanya yang sejurus bikin gue melotot nggak percaya. Pindah? Yang bener aja, apa jadinya kalau gue beneran cuma berdua sama dia di rumah?
"Lo gila?" bentak gue.
"Nggak, nggak mau gue!"
"Hemmm, gue udah minta izin sama Papa Afik, dan dia udah nggak masalah kalau kita pindah, sekarang tinggal gimana kamunya aja!"
Papa? Nggak masalah gue pindah? Setelah waktu itu dia mati-matian bilang Jio harus tinggal di sini setelah nikah, dan yang gue denger sekarang ini apa? Secepat itu Papa mau buang gue cuma karena mantunya ini, bener-bener dah!
"Gue harap lo nggak keberatan sih, maunya!"
"Nggak!" kekeh gue. Ya iyalah gue nggak bakalan mau, gila apa?
"Kenapa?"
Hemmm, nanya lagi kenapa? Gue nggak mau terlalu banyak waktu berduaan sama lo, paham nggak sih?
Di sini aja cuma satu kamar, gue kadang sulit banget buat ngehindarin lo, apa lagi udah satu rumah yang isinya cuma ada lo sama gue. Bisa mati kutu beneran gue, beg* mendadak!
"Gue masih belum terbiasa jauh dari orang tua gue!"
"Gue bisa anterin Lo ke sini setelah pulang sekolah, ntar pas balik kerja gue jemput, kita pulang ke rumah kita!" ajaknya, rumah kita? Bayanginnya aja gue udah ngeri.
"Apartemennya deket Guna Bhakti, lima menit nyampe, dan juga gue pengen belajar hidup mandiri!"
Hidup mandiri? Gue nggak bisa apa-apa, lo mau gue kasih makan apa, batu? Eh, kok gue malah mikir mau tanggung jawab jadi istri yang baik, kenapa ke arah sana, nggak nggak... Jauh amat lo mikirnya Cel!
"Pokoknya enggak!" bentak gue, sekali lagi berharap Jio bakalan ngerti dan nggak usah banyak tanya.
"Cel..." ujarnya lembut, dia ngambil tangan gue dan digenggam erat. Nah jantung gue, lagi-lagi dia berkhianat.
"Gue nggak mau pindah!"
"Celia, gue janji nggak bakalan apa-apain lo, gue janji bakalan perlakuin lo sebaik yang gue bisa, gue mau hidup berdua sama lo, belajar gimana jalanin rumah tangga, cuma ada kita berdua!"
Stop! Stop bilang kita, nggak bakalan ada yang namanya kita, enggak! Ini orang kesambet apaan sih, tiba-tiba jadi romantis gini, please mata jangan nangis, gue nggak mungkin terharu karena dia ngomong gitu, enggak jangan... Kalian jangan berkhianat, gue nggak suka sama dia, nggak suka!
Brakkk!
__ADS_1
Ini apa? Aroma tubuh ini, bau shamponya yang menyeruak memenuhi indra penciuman gue, kenapa gue ngerasa dia sangat... Se*y! Berada di pelukannya kayak gini, ohhh Celia yang malang, apakah kau akan menyerah semudah ini, tidak! Kita akan buktikan bahwa kita tidak akan... Tapi, gue suka! Gue suka dipeluk dia kayak gini? Perasaan ini, kenapa berkhianat dengan mudahnya?
"Gue sayang sama lo Cel, istri gue, gue sayang sama lo!"
Gue masih terdiam di pelukannya, entah setan apa yang ngerasukin gue, bisa banget bikin gue bungkam, nggak nolak sama sekali pelukan Jio.
Pesonanya, pelukan hangatnya, sikap lembutnya, beneran nggak sih ini suami gue.
"Ya udah, gue mau pindah!"
Degggh!
Seketika mata gue terbuka lebar, kata-kata apa yang baru aja keluar dari mulut gue? Apa gue baru aja bilang setuju akan keputusan dia? Astagah, ini gawat! Gue udah bukan diri gue? Siapa yang ngendaliin tubuh gue, berani-beraninya dia berucap sembarangan, haaahh... Enggak itu bukan gue yang ngomong, gue nggak pernah ngomong gitu!
Dengan cepat gue ngelepasin pelukan Jio, gue lari ke kamar mandi, ini benar-benar udah nggak beres!
...***...
Udah lima belas menit gue nggak keluar dari kamar mandi, gue nggak berani ketemu Jio, dia pasti ngerasa menang sekarang karena gue yang mau-maunya aja dipeluk tadi.
Gue basuh wajah gue biar kalau ada setan dia bisa minggat dengan segera, sumpah yaaa otak gue udah nggak sinkron, rusak parah emang keknya semenjak nikah.
Saat gue mau ngaca, sepersekian detik gue tiba-tiba aja terdiam, gue ngerasa ada hal yang aneh dari diri gue, dan setelahnya.... "Hoeekkk! Hooeekk!"
Gue ngaca lagi buat mastiin dugaan gue nggak bener, tapi... Hal yang gue alamin kemudian sama banget, entah kenapa gue tiba-tiba aja ngerasa jijik sama muka gue sendiri, bahkan gue ngeri sendiri liat apapun yang ada di wajah gue.
"Hoeekk! Hoeekkk!"
"Dorrr dorrr dorrr dorrr!"
"Cel, Celia!" teriak Jio, dia gedor-gedor pintu kamar mandi, dari nadanya sih keknya khawatir, nggak tau deh kalau hatinya.
"Cel, buka pintunya Cel, lo nggak papa kan?"
"Dorrr dorrr dorrr dorrr!"
"Hoeekk... Hoeekkk..."
"Doorrr dorrr dorrr!"
"Celia buka pintunya, bisa nggak sih!"
Ceklek! Gue buka pintu dan gilanya gue malah liat muka panik dari seorang Jio, "Brakkk!"
"Degggh!"
__ADS_1
"Lo nggak papa kan?" tangannya gemetaran saat dia meluk gue, ini beneran dia sepanik itu? Dia nggak lagi akting kan?
"Lo kenapa?"
"Aahhh!" gue canggung, sumpah untuk pertama kalinya gue ngerasa bersalah sama Jio, tadi itu... Beneran dia peduli sama gue?
"Celia lo nggak papa?"
Jio mendekap wajah gue, lalu meraba cepat tangan sama badan gue, mastiin kalau gue nggak kenapa-kenapa. Perlakukan ini, apa iya Jio ngelakuinnya buat gue? Apa dia beneran tulus?
"Celia ngomong, jangan diem aja, Lo kenapa tadi?" tanyanya masih panik, gue yang dapet perlakuan khusus darinya cuma bisa terdiam, gue beneran nggak percaya, Jio... Beneran baik sama gue? Dia itu kan orang yang nggak bakalan peduli akan sesama, tapi bukankah sewajarnya dia peduli, gue kan istrinya.
"Celiaaaa, ngomong!" berangnya panik.
"Hah?"
Hah? "Sorry sorry, gue nggak papa kok!"
Gue dengan cepat ngenghindarin dia, terlibat dalam suasana canggung, gue kayak orang paling bodoh.
"Cel..."
Serunya, Jio nyusul gue di ranjang, mulai baring di samping gue, kemudian terasa pergerakannya membelai lembut kepala gue.
"Cel, kalau ada apa-apa itu cerita, gue siap kok dengerin apapun keluhan lo, meskipun lo mau ngeluh tentang gue pun nggak masalah, gue nggak bakalan protes dan janji bakalan berusaha buat jadi pendengar yang baik!"
"..."
Gue nggak bisa ngomong, lagian mau ngomong apa juga gue nggak tau.
"Kalau lo diem gini, gue nggak tau harus ngapain, gue lebih baik lo marah sama gue!"
"..."
"Padahal gue udah seneng banget lo udah mau ngomong sama gue tadinya, Celia... Gue harap lo nggak papa... Oke kalau keputusan gue yang mau pindah bikin lo nggak nyaman, maafin gue yang udah egois, gue cuma mentingin perasaan gue sendiri. Silakan lo maki gue sepuasnya!"
"..."
"Ya udah gue bakalan nurut, kita bakalan tinggal di sini selama yang lo mau, dan kita bakalan pindah kalau lo sendiri yang mutusin buat pindah!"
"Degggh!"
Tanpa terasa air mata gue keluar dengan sendirinya saat Jio bilang gitu, entahlah rasanya gue beneran nggak nyangka dia bisa sepeduli itu sama gue.
Bersambung...
__ADS_1