Forced Marriage (Jio Untuk Celia)

Forced Marriage (Jio Untuk Celia)
Jio: Hari pertama kerja.


__ADS_3

"Ini ponsel kamu?" tanya Pak Arif, guru BK yang sedang mengintrogasi salah satu siswi kelas sebelah itu tampak marah.


"Iya Pak, tapi jujur Pak, saya berani sumpah, bukan saya pelakunya Pak!" jawab siswi itu, gue tersenyum smirk saat lewat depan ruang BK.


Di sana juga ada Gunara, playboy itu tampak nggak bisa berkutik di hadapkan situasi yang gue perbuat. Yah, gue rasa balasan itu cukup sebagai peringatan, jangan sekali-sekali beraninya nyentuh punya gue.


Sebuah video as*sila beredar, cast-nya adalah si playboy Gunara sama seorang lon*e di klub malam, dan tembakan gue kena lagi, cewek yang akhirnya gue ketahui namanya adalah Indira itu malah digadang sebagai si penyebar vidio.


Membunuh dua burung dengan satu batu, nggak disangka gue bisa liat pemandangan semenyedihkan ini dengan mudah.


Ini baru permulaan, jadi siapapun yang berani nyentuh Celia gue, maka setelahnya harus siap-siap menderita.


Masih ada satu PR lagi buat gue, temennya Indira itu. Gue juga nggak bakalan ngelepasin dia itu gitu aja.


...***...


Hari sudah mulai sore, gue harus segera cabut karena masih harus kerja di ARAD Group. Tapi sebelum itu kayaknya gue harus pamitan dulu sama bini gue.


Sekitar lima belas menit gue nunggu di parkiran, gue sama sekali nggak ngeliat Celia. Terpaksa gue harus nanyain bini gue lagi ke Oliv, karena sahabat bini gue itu udah mau keluar dari pintu gerbang.


"Tunggu!" cegah gue.


Oliv noleh ke arah gue dan sedikit heran, "Ada apa Kak?" tanyanya.


"Celia udah pulang?" tanya gue cepat.


"Celia?" bingungnya.


"Dia kan udah pulang dari sejam yang lalu, katanya nggak enak badan!" jawab Oliv, hah? Nggak enak badan, kenapa? Gue mulai khawatir, tadi perasaan itu istri durhakim sehat-sehat aja.


"Bukannya dia bilang Kak Jio yang bakalan nganterin?" lanjut Oliv lagi, dan seketika gue sadar, Celia sebenarnya sama sekali bukan nggak enak badan, dia pulang lebih awal karena jelas-jelas banget mau ngenghindarin gue. Dasar kekanakan! Gerutu gue tak habis pikir dengan kelakuan Celia.

__ADS_1


"Kalau Cel nggak pulang sama Kak Jio, jadi tadi Cel pulang sama siapa dong?" tanya Oliv lagi, kayaknya dia nggak bohong, terlihat jelas raut kebingungan tergambar di wajahnya.


Gue ngangkat bahu acuh, ya mana gue tau, itu setan kecil balik sama siapa? Nanti aja gue tanyain, punya istri kok gini amat yak!


Dengan tanpa menghiraukan Oliv gue balik lagi ke parkiran, ngambil mobil gue dan segera nuju kantor bokap.


Sesampainya di kantor, gue langsung disambut hangat sama Ayah, kayaknya sore ini Papa nggak ada jadwal di luar, karena jika ada Ayah tentunya juga pasti ada Papa, kedua orang tua gue itu emang nggak pernah jauh-jauhan.


"Tuan udah nunggu!" ujar Ayah, gue nggak tau kenapa panggilan Ayah ke Papa itu nggak pernah berubah, padahal kan mereka udah dekat banget, tapi kata Bunda emang harus gitu, karena ini adalah kantor. Jadi apa gue juga bakalan manggil Papa gue Tuan ntar?


Gue langsung nuju ruangan Papa di lantai teratas, sebelum masuk nggak lupa gue narik napas dalam biar lebih siap buat ngadepin monster.


"Tok tok tok!"


"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam, dan gue kenal banget itu suara.


Dengan hati-hati gue masuk, gue juga masih pake seragam sekolah, sumpah gue langsung nuju kantor nggak singgah ke mana-mana dulu dari pulang tadi.


"Sudah siap kerja?" tanya Papa, nggak bikin tegang sih, tapi nggak bisa dibilang santai juga.


"Pa?" Bokap gue natap gue tajam seraya sudut bibirnya tertarik, seolah nggak seneng sama keberadaan gue, sumpah sekali tatap aja gue bisa mati kutu.


"Roy, apa kamu tidak memberitahukan padanya, apa posisinya di kantor ini?" tanya Bokap ke Ayah.


Ayah tertunduk, "Sudah Tuan!"


"Jadi, salah siapa dia dengan beraninya bersikap kurang ajar seperti tadi?" suara itu terdengar cukup mengerikan, apanya yang salah coba?


"Saya akan membimbingnya lebih baik lagi Tuan!" ujar Ayah, sebenarnya apa ini? Kenapa Ayah seperti terlihat menyesal, apa lagi salahnya Ayah coba?


"Bawa dia pergi!" sang penguasa sudah memberikan titah, terus nggak lama Ayah udah ngasih isyarat buat gue ikut keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Gue keluar ngikutin Ayah, turun menuju lantai dua.


"Ayah, kenapa kita keluar?" tanya gue.


"Yo, ini kan kantor, jadi sebisa mungkin kamu usahain kalau panggil Papa kamu itu Tuan!" jawab Ayah, hah... Jadi, Papa marah cuma karena gue manggil Papa ke Papa gue sendiri, sial! Apa-apaan ini? Kedua orang tua gue ini nggak lagi ngajakin gue becanda kan?


"Yang bener aja Yah, Jio nggak biasa kayak gitu!" protes gue. Ya iyalah jelas gue protes, gue sama Jill selalu dimanja kalau di rumah, mana mungkin tiba-tiba gue harus manggil Bokap gue Tuan. Nggak bisa bayangin gimana canggungnya gue, emangnya harus yaaa? Apa nggak ada pengecualian jika orang itu gue? Gue kan anaknya!


"Kamu mau Papa kamu marah?" tanya Ayah, dan kali ini gue juga tambah kesel, kenapa juga Ayah harus bersikap tegas kek gitu sama gue, udah mirip monster di ruangan itu tadi.


"Gimana kalau Jio nggak mau?"


"Kamu masih mau hidup sama Celia?" tanya Ayah, tapi yang gue tangkap perkataannya itu lebih kayak ngancem gue.


"Jangan nyakitin dia!" ucap gue nggak kalah tegas.


"Nyakitin?" Ayah tersenyum seraya memijit pangkal hidungnya, "Sebenarnya di antara Ayah, kamu, sama Papa, kira-kira siapa yang udah dengan beraninya nyakitin Celia? Memangnya Ayah sama Papa ngelakuin apa?" kemudian Ayah ketawa-tawa kayak ngeledekin gue, gue cuma bisa buang muka, kesel banget.


Meski gue juga nyadar sih, ya emang gue yang udah nyakitin Celia selama ini. Tapi apa hubungannya coba Celia sama gue yang harus manggil Bokap gue sendiri Tuan. Nggak adil banget.


"Jadilah tangguh Boy! Kedepannya bukan cuma hal seperti ini yang bakalan bikin kamu kesal, membangun rumah tangga itu nggak sebecanda sikap kamu yang kekanakan!" ujar Ayah lagi, dia nepuk pundak gue pelan. Apa maksudnya coba.


"Ngerti?!" tanyanya lagi nggak sabaran, kenapa ini orang tua juga udah sama kayak si Monster sifatnya sih?


Ting!


Lift terbuka, sampailah gue di lantai dua, banyak pasang mata yang natap gue penuh tanya, gue nggak tau kebanyakan dari mereka ada nggak yang kenal sama gue.


"Kenalin, ini Jio Adskhan, dia akan bergabung di tim perencanaan mulai hari ini sebagai staf! Jika ada dari kalian yang butuh bantuan dia maka jangan segan-segan buat menyuruhnya melakukan apapun yang dirasa kalian bisa, tentunya selama itu masih menyangkut urusan pekerjaan."


"Mungkin sebagian dari kalian juga sudah tau siapa Jio ini, tapi untuk kali ini saya sudah dapat perintah resmi dari Tuan Jason Ares Adrian sendiri, bahwa selama dia bekerja di sini statusnya adalah sama seperti kalian semua. Jadi saya harap kalian bisa memperlakukan dia sebagaimana mestinya!"

__ADS_1


Apa? Hal gila apa yang baru aja gue denger? Papa bahkan nggak nganggep gue anak selama gue kerja di sini? Ini gila! Gimana bisa itu orang tua setega itu memperlakukan gue yang adalah anak kandungnya?


Bersambung...


__ADS_2