Forced Marriage (Jio Untuk Celia)

Forced Marriage (Jio Untuk Celia)
Celia: Banyaknya pertanyaan mengenai Jio.


__ADS_3

Dia itu kenapa? Banyak banget yang sebenarnya mau gue tanyain sama dia. Perihal dia yang tiba-tiba aja berubah, awal gue sama dia ketemu bahkan dia benar-benar nggak mandang gue sama sekali.


Jio Adskhan yang sekarang jadi suami gue ini, benar-benar bukan Jio Adskhan yang pertama kali gue kenal. Yang hidupnya nggak bakalan bisa peduli sama orang lain, tapi... Sekarang dia bahkan melakukan hal yang nggak mungkin itu, sama gue? Heh becanda, gue masih nggak percaya dan lebih-lebihnya nggak mau berharap.


Ya pernikahan jurnal derita ini, jangan terlalu banyak berharap akan happy ending!


Gue masih ingat saat Oliv yang nggak sengaja nabrak dia, waktu itu pas ada acara di rumahnya Papa Jason, untuk menyambut kembalinya keluarga Om Yudha dari LN, gue minta maaf atas nama Oliv, taunya dia malah berlalu dengan muka dinginnya.


Gue juga masih ingat pas belanja di Mall, dia yang nggak ada sopan-sopannya memperlakukan gue, ya meski waktu itu gue juga termasuk kurang sopan sih, tapi kan dia yang mulai duluan, mulut pedesnya itu... Sukses bikin gue darting kalau deket dia.


Ada sesuatu yang Jio simpan, yang orang lain nggak tau termasuk gue.


"Lo gue anter pulang, gue harus kerja setelah ini!" ujarnya, dia bahkan tidak melanjutkan amarahnya yang hampir meledak pagi tadi, seolah gue nggak pernah bikin ulah. Jio yang menjelma menjadi cowok baik demi gue, sayangnya gue malah nggak yakin kalau dia beneran tulus ngelakuin itu.


Bisa aja kan ada udang dibalik bakwan!


...***...


Senyum itu...


"Bibirnya sedikit tertarik, cuma sedikit dan tipis banget, seolah dia udah merencanakan sesuatu dan berhasil!"


"Kak Gunara, Kakak dipanggil Pak Juan untuk segera datang ke ruang BK!"


"Yo!"


Tatapannya itu, dan jus apel itu... Dia sengaja nggak peduli sama Gunara. Tapi orang nggak berfokus ke dia saat itu, dan lagi pula meskipun ada yang liat ketidakpeduliannya, nggak bakalan ada yang ngira kalau Jio terlibat dalam kasus itu.


"Kenapa dia lakuin itu?"


"Apa Gunara ada salah sama dia?"

__ADS_1


Hening,


Hening,


Hening,


"Aaahhh!" pekik gue saat mendapati hal yang cukup mengejutkan pemikiran gue.


Gilaaakkk! Nggak mungkin kan, gue mikir apaan sih? Tapi bener juga, dia bahkan bilang sendiri dan udah sering banget bilang kalau dia beneran suka sama gue, apa waktu itu di kantin dia liat gue sama Gunara?


Dia nggak mungkin ngelakuin hal sejauh itu karena cemburu kan?


Dan Indira?


Gue nggak bisa nebak alasan lain kecuali si Indira pernah nembak dia, ya ya... Cuma itu yang mungkin.


"Tapi nggak sampe segitunya juga kan?"


"Aahh, tau ah bodo!"


Tuh kan, nikah sama Jio emang banyak ruginya, gue malah nggak bisa berhenti mikirin dia.


Dengan kesal gue tutupin seluruh tubuh gue pake selimut, bentar lagi Jio mungkin bakalan pulang, jadi mending gue tidur cari aman.


Drettt drettt,


Drettt drettt,


Bunyi getar hape gue nggak berhenti-berhenti, pasti ada topik terhangat yang dibahas sama grup kelas gue. Apa lagi kalau bukan Jio yang ngaku jadi pacar gue tadi balik sekolah, pengen banget rasanya gue keluar dari grup itu tapi gue ngerasa itu nggak bakalan nyelesein masalah.


Besok bahkan gue harus ketemu lagi sama mereka semua.

__ADS_1


Karena cukup penasaran akan umpatan dan makian yang bakalan gue terima, gue kembali buka hape.


"Wah, apa ini?" gumam gue. Jadi, topik terhangat kali ini bukan gue?


Ada cewek anak kelas 3 IPA, namanya Dewi, yang ketauan maling ponsel temen sekelasnya. Dan yang lebih parahnya si cewek nggak ngaku.


Nggak ngaku, atau emang dia nggak ngelakuin itu?


Ahhh, gue kenapa sih? Akhir-akhir ini gue kayaknya lebih sering belain orang-orang yang kena kasus.


Jari gue gatel banget pengen nimbrung, tapi masih ragu, karena lontaran kata pedas yang dilayangkan mereka sore tadi.


Besok aja deh gue tanyain sama Eve, kali aja dia tau, dia kan termasuk girls terupdate Guna Bhakti.


Ceklek!


Suara pintu kebuka, adegan ini persis kayak malam pertama kali Jio ngehuni kamar gue. Hah, malam pertama?


Cuma bedanya, kali ini gue nggak lagi pura-pura tidur, bahkan sekilas tatapan mata gue bertemu sama mata tajamnya Jio.


"Belum tidur Cel?" tanyanya, kalau diliat dari muka sih meyakinkan banget kalau dia lelah, tapi masa iya sih dia kerja keras di perusahaan Bokapnya sendiri?


Gue nggak jawab, pura-pura fokus ke hape, padahal sesekali ujung mata gue ngelirik dia, kali aja kan dia mau ngelakuin kewajiban seorang suami, ehhh gue nggak lagi ngarep kan? Bisa-bisanya lo Cel! Semenjak nikah ini otak emang sering banget nggak waras akibat seringnya dipeluk sambil pikiran traveling.


"Lo nggak lagi nungguin gue kan?" tanyanya PeDe, dih siapa juga yang nungguin, gue itu nggak bisa tidur karena... Aahh sial, alasannya malah karena mikirin dia lagi.


Gue putusin buat tidur beneran, gue letakin hape di atas nakas dan bungkus setengah badan gue pake selimut, meski nggak ada rasa ngantuk tapi gue bakalan paksa ini mata.


Jio nggak langsung naik ke ranjang, dia bersihin diri dulu sebelum tidur, keknya gue bakalan nanya deh apa dia beneran kerja di perusahan Bokapnya, ah maksud gue apa dia beneran kerja kayak karyawan lainnya? Apa posisinya di kantor? Kalau nggak salah kan cuma di kasih posisi staf, waktu itu gue pernah nguping dikit, apa dia beneran kerja layaknya staf kantor biasanya, perasan itu muka tiap pulang ke rumah pasti lecek udah.


"Nah kan banyak banget yang mau gue tanyain tentang dia!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2