Gara Gara CO Darimu

Gara Gara CO Darimu
14. Coba posisinya dibalik ...?


__ADS_3

Benarlah kata orang kebahagiaan itu sesaat. Pun, penderitaan. Tak selamanya kita bergembira. Tak selamanya kita menangis. Ada kalanya bergembira, ada kalanya kita harus menangis.


Begitupun dengan aku ... Beberapa hari lalu, aku telah menangis di pelukannya Rosa. Aku mengharap kepadanya agar ia menjadu pacar resmiku. Ia harus putus dengan Ilham, lalu hanya menjadi milikku saja.


Keindahan cinta tanpa memilikinya kubayangkan akan "langgeng", karena hubungan **** kami telah tersucikan oleh spritualitas. Ternyata, itu hanya sesaat dan kini berubah menjadi jalan penderitaanku.


Jadi benarlah kata orang bijak ... semua pasti berubah, kecuali perubahan itu sendiri.


Karena itu, semua tak ada yang "ajeg" dan abadi.


Semuanya hanya persoalan posisi. Umumnya saat posisinya menguasai, ia menjadi rezim penindas. Saat posisinya terbalik, ia pun berubah menjadi si korban tertindas. Contohnya? Banyak.


Dan ... Masing masing pihak berposisi saling berebut kuasa dengan berbagai.macam alasan.


Dan itu mirip dengan permainan politik di atas ranjang ... !


Kadang berposisi di atas, kadang berposi di bawah. Kadang dengan tersenyum, ada pula dengan menangis. Kadang absurd bilang kata ... no! ... untuk sesuatu yang nikmat, lalu saling mendesah untuk sesuatu yang tak jelas. Terkadang pula satu pihak mengalah dan dikalahkan, demi sebuah kemenangan bersama.


Di atas ranjang, semuanya berebut kepuasan dan kenikmatan, walaupun seringkali dikaburkan atas nama kewajiban agama, atas nama mendapat keturunan, atas nama kebutuhan tubuh, dan seterusnya.


Yah ... dunia ini selalu berubah, tidak abadi, tidak ajeg dan selalu berubah-ubah posisi, bagai permainan politik di atas ranjang tadi.


Dulu Rosa yang menangis padaku, kini akulah yang menangis padanya.


Dulu ia yang membelikan sebungkus ****** padaku, tapi kini aku yang membelinya sendiri.


Dulu cintaku tak ingin memilikinya, tapi kini cintaku sangat ngin memilikinya.


Dulu aku sangat nyaman dengan.hubungan cinta segitiga, hubungan tanpa status, bermain di balik layar, tanpa diketahui siapapun, tapi kini .. sudah sangat menyiksa dan tak nyaman lagi bagiku.


Akhirnya ... Balik lagi, Ini semua gara-gara sebungkus ****** yang membuka jalan takdirku menjadi pecandu black holenya Rosa!


Jadi ... sejak awal mula aku dibelikan ****** itu, sampai kini pun aku tetaplah si Gio yang super bodoh bin bahlul se-dunia ini.


Mestinya aku selalu ingat, bahwa, begitu **** dan spritualitas itu menjadi kebiasaanku setiap hari, maka keindahan dan kebahagiaannya akan lenyap, ia akan terganti sebatas kebutuhan menubuh.


Apapun dan siapapun, begitu ia menjadi kebiasaan-kebiasaan, maka kebiasaan itu akan berubah menjadi candu bagiku.


Apalagi yang menjadi canduku adalah black hole miliknya Rosa. Gadis yang pernah menjadi modelling, super cantik, lembut, manja, putrinya pimpinan dewan, dan sebagainya.


Tentu saja siapapun yang akan memasuki black holenya dia, maka ia bagai memasuki teori black holenya Albert Einstein, jiwanya akan terhisap dan takkan bisa kabur darinya.


Lubang kemaluannya memiliki gaya tarikan gravitasi yang begitu kuat. Bahkan cahaya kesadaran apapun tak kan bisa lepas dari jeratannya.


Jika aku sedang berada tepat di dekatnya, maka jiwa dan pikiranku selalu ingin tertelan ke dalamnya.


Sebenarnya ...


Jika aku sedang berjarak dengan Rosa, setiap harinya pikiranku selalu berkecamuk.


Aku ingin sekali bisa terlepas dari jaring laba-labanya Rosa yang memalukan ini.


Kesadaranku selalu mengingatkan, bahwa, aku sudah terlalu dalam terperosok di jurang kegelapan ini.


Aku sangat ingin bisa hidup normal, ceria kembali dan menyala-nyala semangatnya dalam membela rakyat desa.


Akibat keterjebakan ini, aku merasa harga diriku sebagai lelaki yang sudah mendarah daging dengan nilai patriarki, menjadi habis!


Dan energiku terkuras hanya untuk mengejar kenikmatan seksual. Akhirnya, aku yang dulu idealis, kini menjadi terpuruk dan mengenaskan hidupnya.


Lelaki mana, sih, yang mau di poliandri, dijadikan lelaki yang kedua, atau hanya di jadikan kekasih gelapnya?


Namun ... apalah dayaku ...


Monster grafitasi black holenya Rosa, terlalu kuat menarikku untuk terus mendekat kepadanya. Walau aku ke luar kota sekalipun, ia akan menarik-narik hasratku untuk selalu membayangkannya.

__ADS_1


Sehari saja bila aku tak bertemu dengan itu ... aku bagai anak kecil yang meraung kepada Rosa agar memberikan yang kuinginkan.


"Ayolah .. Ros! Sebentar saja. Mumpung gak ada orang, nih!" pintaki merengek pada Rosa saat di rumah kontrakannya tak ada siapapun.


"Kamu ini ...! Selalu mintanya begituan. Memangnya aku ini, *******, apa!' hardik dia seperti sedang memarahi anak kecil saja.


Bila sudah tak diberikan yang aku pinta, aku mendesaknya, lalu ia pun berubah sangat marah padaku, maka selekasnya aku pulang ke kosan dengan hati yang kecewa dan putus asa.


Selanjutnya ... Imajinasiku menjadi terpasung dan tak memiliki gairah hidup lagi.


Baru setelah Rosa menyuguhkan apa yang aku pinta, jiwaku menjadi terbebas dari belenggu, dan gairahku hidup kembali.


Biasanya, bila hatinya Rosa sedang terbuka, maka ia akan datang sendirian mengantarkan suguhan black.hole itu ke kosanku.


" Terima kasih, ya Ros!" ucapku dengan hati riang gembira setelah mendapat kenikmatan suguhan black holenya.


Saat aku sudah berada di atas puncak kenikmatannya, aku bagai terlepas dari kesesatan arah di hutan belantara, dan telah menemukan jalan keluarnya.


Maka hidupku pun menjadi merdeka, saraf-saraf otak kiriku ...menjadi terbuka lagi untuk berfikir cerdas!


Entahlah, kenapa candu black hole nya Rosa berkaitan dengan macet tidaknya otak berfikirku.


Suatu ketika otak berfikirku pernah macet-cet!. Tiba-tiba aku kehilangan kata-kata menderas di depan para petani desa dalam sebuah forum rapat petani.


" .. ee .. bapak-bapak ...e... eee ... seharusnya perjuangan ini ... ee ...ee ..." kataku tersendat-sendat di depan forum petani kasus tanah itu.


Entahlah, tiba-tiba otak berfikirku menjadi macet. Bibir menjadi beku. Lalu aku pun undur diri dari forum tersebut dengan perasaan teramat malu.


Sepulangnya dari forum petani itu, aku teringat ... ternyata, insiden itu disebabkan si Rosa tak mau menyuguhkan black holenya padaku sebelum aku berangkat ke sana. Padahal keinginanku sudah sampai di ubun-ubun.


Tetapi di kemudian hari saat aku di berikan suguhan black holenya, sebelum berangkat ke forum rapat petani, maka di hadapan para petani itu, aku menjadi macan podium, pidatoku menjadi.lancar, cerdas dan menggelegar.


"Bapak-bapak sekalian, mumpung pihak perkebunan sedang melakukan proses izin perpanjangan HGU, maka tiada lain reklaiming ini harus kita laksanakan segera. Supaya pemerintah pusat tahu bahwa lahan itu masih berstatus sengketa. Dan tanah 300 hektar itu memang milik orang tua kita yang telah di rampas oleh rezim orde baru!" kataku dengan semangat berapi-api memberi motivasi kepada petani marginal itu.


**************


Aku tak pernah percaya walau Rosa telah membuktikan bahwa sebungkus ****** itu khusus menyediakan untukku. Tapi, siapa tahu, ia secara diam-diam telah membeli 2 bungkus ******. Sebungkusnya untukku, sebungkasnya lagi untuk ilham.


"Gio ... ! Lama-lama aku bosen sama kamu, bertengkar terus, dan nanyain ****** itu lagi, itu lagi." seru Rosa dengan suara lantang.


"Makanya aku gak mau pakai ******-kondoman. Lagian pakai ****** gak enak, Ros!" sahutku tak mau kalah. Aku juga sudah.mulai bosan selalu memakai ******. Seakan ada pembatas kepuasaan saat.berhubungan intim dengannya.


"Gak pakai ******, gundulmu! Kalau aku hamil ... apa kamu mau tanggung jawab?" timpal Rosa dengan suara yang keras. Untunglah di rumah kosannya lagi sepi, sehingga tak ada orang yang.mendengarnya.


"Iyalah ... aku akan tanggung jawab, Ros! Aku akan nikahi kamu secara resmi. Memang aku berniat jadi suamimu resmimu, kok! Gak kayak sekarang, ini ...."


"Aku hamil ...? Dibunuh duluan aku sama ayahku sebelum dinikahi kamu" balas Rosa dengan mata mendelik.


"Ya sudah kita kawin lari saja, Ros!" timpalku dengan nada suara yang.menurun.


"Kok enak kamu. Nanti aku di tinggal nikah lagi sama kamu? Mampus nasibku. Aku bisa lebih menderita dari ibuku!" kata Rosa dengan nada suara yang tetap meninggi.


Begitulah hari-hari hubunganku dengan Rosa sering diwarnai pertengkaran. Walaupun saat pertengkaran itu terjadi ketika sudah tak ada orang lain yang melihat atau mendengarnya. Tetapi jika ada orang lain, kami seperti api dalam sekam.


Dan ... setiap pertengkaran tersebut, selalu kami selesaikan dengan happy ending di atas ranjang.


**********


Siapapun tak akan betah berlama-lama menjadi korbannya cinta segitiga.


Siapapun tidak akan kuat mengikuti terjalnya jalan penderitaan cinta tanpa memiliki.


Siapapun orangnya pasti ingin diakui sebagai pacar resminya, atau suami resminya, sehingga bisa memilikinya tanpa terganggu-gugat.


Coba posisinya dibalik ...?

__ADS_1


Bagaimana kalau Rosa yang menjadi pacar atau isteri gelapku?


Apakah ia tak malu pada teman-temannya hanya dijadikan perempuan simpananku?


Apakah Rosa tak ingin menjadi perempuansatu-satunya bagiku, tanpa ada saingan dari perempuan lainnya?


Apakah dia tak merasa cemburu, seperti aku sekarang yang selalu di liputi rasa kecemburuan ini?


Yah ...


Aku pikir hubunganku dengan Rosa ini tak adil!


Rosa tak pernah mengalami betapa sakitnya hati yang sedang cemburu.


Betapa teriris-irisnya perasaan ini saat memandang kekasihnya sedang berduaan dengan yang lain.


Rosa harus merasakan seperti yang aku rasakan!


Biar Rosa sadar bahwa selama ini ia telah tak berlaku adil kepadaku.


Di suatu pagi hari jam-07, Rosa mengirim pesan ke HP-ku. Katanya usai jam kuliah ia akan datang ke-kosanku.


"Gio nanti jam-10, aku kekosanmu, ya? Aku kangen, Gio!" tulisnya melalui pesan di HP.


"Iya ..." balasku singkat.


Hem, kalau ia yang kangen, kapan dan dimana saja pasti bisa menemuiku. Coba aku yang kangen kepadanya? Jelas tak sebebas dia kepadaku


Hari itu kebetulan ada seorang Mahasiswi bernama Fitria mau datang ke kosanku untuk keperluan konsultasu menyusun skripsi. Kesempatan ini tak ku sia-siakan untuk memberi pelajaran kepada Rosa bagaimana sakitnya hati yang sedang cemburu.


Fitria tak kalah cantiknya dengan Rosa. Gadis ini aktif berorganisasi. Dan belum memiliki pacar. Konon ia ada perhatian kepadaku. Andaikan aku mau, Fitria pasti juga mau menjadi.pacarku.


Tepat Jam 09-an, Fitria datang ke kosanku.


"Assalamualaikum ...!" ucap salam Fitria kepadaku.


"Waalaikum salam," sahutku menyambutnya dengan ramah. "Mari Fit, masuk!"


"Iya, mas. Aku lepas dulu sepatuku." balas Fitria sambil melepas sepatunya di teras.


"Apa yang bisa aku bantu ke kamu dalam menyusun skripsi ini, Fit?" tanyaku setelah Fitria duduk di ruang tamu.


"Gini, mas. Aku kan milih metode penelitiannya kualitatif, nih. Nah, judil skripsi ini, kan pas dengan kasus-kasus tanah yang sampean bela." kata Fitri sambil menunjukkan lembar judul skripsinya yang telah di acc dosen pembimbingnya.


"Terus yang kamu inginkan dari aku, apa?" tanyaku.


"Aku mau konsultasi kasus-kasusnya, mas! Dan sekalian mau pinjam buku-buku teorinya." Jawab Fitria.


"Ooo, gitu. Itu buku-bukunya di dalam kamar. Ayo kita sekalian diskusi di kamar saja!" seruku sambil berharap Fitria mau mengikuti ajakanku diskusi di dalam kamar.


Ternyata Fitria tanpa keberatan mau masuk ke kamarku.


Lalu pintu kamar aku tutup. "Loh, kok di tutup mas?" tanya Fitria heran.


"Biar gak bising!" jawabku. Fitria percaya saja. Sebab aku dikenalnya tak suka berbuat senonoh kepadanya.


Pintu kamarku sudah tertutup, aku dan Fitria pun asik mendiskusikan teori-teori yang pas untuk skripsinya.


Di sela diskusi panjang lebar dengan Fitria, aku berharap si Rosa lekas datang ke kosanku.


Tba-tiba ... "Kriek ..."


Bunyi pintu kamar di dorong oleh tangannya Rosa. Kepalanya menjulur ke balik pintu.


Dan ... seketika matanya terbelalak kaget melihat aku dan Fitria sudah ada di dalam kamar.

__ADS_1


"Bruuaak!" bumyi pintu kamarku di tutup kembali dengan kerasnya.


Tanpa sepatah katapun, Rosa bergegas pulang dengan langkah kakinya yang terdengar sedang berlarii.


__ADS_2