Gara Gara CO Darimu

Gara Gara CO Darimu
19. Kembali Ke Jati Diri


__ADS_3

Aku sudah bertekat dua hal penting ini harus diselesaikan dalam waktu dekat. Pertama, menunaikan amanat orang tuaku agar cepat lulus kuliah. Kedua, menuntaskan perjuangan tanah rakyat di desa Mergosari.


Jadi yang tak berkait dengan urusan perjuangan sementara aku abaikan dulu. Termasuk berurusan dengan Rosa.


Aku harus kembali ke- ‘khittohku’ sebagai pejuangnya petani marginal. Saat ini yang terpatri dalam jiwaku, lebih baik mati berjuang bersama petani daripada terus-terusan menjadi tahanan hidupnya seseorang.


"Kamu kenapa, Guru? Kok sepertinya lagi mikir berat?" tanya Candra menyentak lamunanku di ruang tamu kos-kosan.


"Mikirin perjuangan tanahnya rakyat Mergosari, lah!" selorohku menyembunyikan pikiranku yang sedang berkecamuk.


"Ah yang bener? Mikirin Rosa, apa rakyat, nih?" tanyanya lagi dengan nyinyir.


"Lemah sekali kau ini guru! Masak urusan ************ saja kau samakan beratnya dengan urusan perjuangan rakyat!"


Jleb ... Kata-katanya Candra begitu menohok ke-dasar jati diriku. Idealisme hidupku menjadi tertampar dengan kerasnya.


Walau Candra berbicara sekenanya, apa yang dikemukakannya sangatlah benar. Saat ini aku hanyalah lelaki biasa yang lemah dan selalu tertindas oleh sosok perempuan lemah seperti Rosa.


" Semua yang aku omongkan itu berasal dari omongannya Guru sendiri, loh! Guru pernah bilang, bahwa menjadi lelaki kuat itu harus menyala sebagai penerang, walau dirinya sendiri melelah dan mati."


"Iya ... iya! Bawel banget sih, kamu ini!” gerutuku kesal dengan ocehannya.


“Hehe … Maaf guru. Jangan baper gitu dong, guru!”


“Sudah ah, gak usah suka nyebut namanya Rosa. Sekarang aku mau berangkat ke Desa. Kamu mau ikut, nggak?”


“Ikut kemana, Guru?”


“Ke desa Mergosari. Ayo cepat siapkan Vespaku kalau mau ikut!”


"Iya … iya … aku ikut Guru!" jawabnya cepat. Tanpa dipikir panjang ia bergegas menyiapkan sepeda motor Vespaku yang terparkir di halaman belakang kosan.


Sejurus kemudian, Kami pun melaju ke desa Mergosari. Sebelumnya aku telah berjanji datang ke rumah Pak Parman dalam rangka merekonsiliasi konflik para pejuang tanah di sana. Dan kemarin sore pun Pak Parman telah menelponku untuk datang di hari ini.


*********


Di Desa Mergosari kasus penyerobotan tanah rakyat oleh negara dan pemodal sudah dimulai sejak rezim orde baru bercokol di Jember sekitar tahun 1972-an. Tanah bekas hak erfpacht seluas 300 Hektar itu merupakan hasil kebijakan land reform dari Presiden Soekarno waktu yang diberikan kepada warga desa Mergosari.


Hingga era reformasi bergulir, tanah tersebut tetap tak bisa dimiliki rakyat kembali. Pasalnya secara de jure, rakyat telah kehilangan dokumen riwayat tanahnya karena sudah dilenyapkan dengan paksa.


Dikisahkan oleh masyarakat desa, saat itu di desa Mergosari terjadi peristiwa perampsan pethok-pethok, pembakaran rumah, penyiksaan dan pengusiran warga desa secara bagi yang melawan.


Sebelum pengusiran terjadi, masyarakat diminta menyerahkan pethok dengan imbalan akan dipekerjakan sebagai karyawan perusahaan dan akan diberi uang ganti rugi tanamannya.


Masyarakat menolak atas permintan itu dengan menyembunyikan pethok-pethoknya. Melihat kenyataan itu pihak perusahaan menggunakan akal liciknya.


Melalui kekuatan bersenjata masyarakat dikumpulkan di rumah Kebayan. Alasannya, guna penyerahan sertifikat tanah dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) dengan syarat warga diminta untuk membawa pipil tanah.


Alhasil, semua warga datang dengan membawa persyaratan tersebut. Setelah selesai menyerahkan pipilnya, warga diminta untuk cap jempol. Kemudian pipil-pipil warga yang telah terkumpul itu pun dibakar.


Warga tidak bisa melakukan perlawanan karena pada saat itu para preman perusahaan yang di back-up aparat melakukan penyiksaan, pengejaran, dan pembakaran rumah warga. Sehingga banyak warga melarikan diri meninggalkan kampung halamannya.


Mereka melarikan diri dan bersembunyi di hutan selama berbulan-bulan. Selama itu pula mereka tidak berani untuk bertemu dengan orang luar. Selain masih takut ditangkap, masyarakat luas dipropagandai oleh pihak perusahaan, bahwa, warga Mergosari merupakan bekas orang-orang PKI.


Menurut keterangan saksi hidup Bapak Kimo, bahwa, yang paling menyedihkan adalah nasib para kaum perempuan yang tidak sempat melarikan diri. Diantara mereka ada yang nekat bunuh diri, juga ada pula yang mengalami stress (gangguan kejiwaan) dan sampai saat ini masih bertahan hidup di desa Mergosari.


Para warga yang terusir itu di kemudian hari hidup menyebar di beberapa desa di sekitar kecamatan dengan pekerjaan dan tempat tinggal yang tidak menentu.

__ADS_1


Bapak Kimo sendiri dan keluarganya hidup ditengah hutan. Mereka terpaksa memakan daun-daunan untuk bertahan hidup selama dalam pelariannya hingga ia sampai di wilayah Kabupaten Banyuwangi.


********


Di rumah Pak Parman para pejuang tanah sudah banyak yang hadir menanti kedatanganku. Pak Parman sendiri merupakan tokoh pejuang tanah yang disegani oleh para pejuang tanah lainnya.


“Terima kasih sudah mau datang Mas Gio!” sambut Pak Parman menyalami kedatanganku dan Candra.


“Iya sama-sama Pak Parman. Maaf saya datangnya terlambat.” Jawabku membalas sambutannya.


Tampak para pejuang tanah yang datang berjumlah sekitar 50-an orang. Tatapan mereka penuh berharap dengan hasil pertemuan ini.


Aku pikir yang datang hanya tokoh-tokoh kuncinya saja. Namun, warga perjuangan begitu antusias datang dan banyak berharap atas kedatanganku.


Nyanyian lagu banyuwangian diperdendangkan dengan kerasnya melalui sound system yang terpasang di halaman depan rumah, sepertinya, Pak Parman sedang show of force pada pihak perusahaan perkebunan.


“Pertemuannya kok jadi meriah begini ya, Guru? Kayak orang lagi hajatan perkawinan saja.” bisik Candra terheran dengan suasana pertemuan yang tidak dibayangkan sebelumnya.


“Entahlah. Mungkin Pak Parman ingin unjuk kekuatan pada perusahaan, Ndra!” jawabku sembari berfikir efektif tidaknya pertemuan semacam itu.


“Guru … tadi orang-orang menyambutmu seperti seorang pahlawan. Mantab benar guruku! Jadinya, gak rugi selama ini aku berguru padamu.” puji Candra dengan mengacungkan dua jempolnya.


“Halah … hal seperti itu sudah biasa bagiku, Ndra ...! Kamu gak usah kagetan, Ndra …” Jawabku sok jumawa sambil mengerlingkan mata kananku. “Makanya, kamu jangan suka nglamak sama aku, Ndra!”


Mendengar ucapan jumawaku, Candra bereaksi dengan memicingkan mata, “Hebat apanya, lha wong berhadapan dengan Rosa saja, kayak tikus kecemplung got!” timpalnya dengan terkekeh.


“Husst … jangan bawa-bawa nama Rosa, kok. Pikiranku bisa ambyar, nanti.” sergahku.


Tak berselang lama, Pak Parman datang tepat dihadapanku. “Mas Gio, apa acaranya bisa kita mulai?” tanya Pak Parman.


“Bisa pak. Silahkan dimulai saja, pak.”


“Boleh ….tapi tolong, saat saya memberi pengarahan, sebaiknya pengeras suaranya dimatikan saja, Pak!”


“Baik, Mas.”


“Soalnya pembicaraan saya nanti menyangkut strategi perjuangan, pak! Pihak luar gak boleh ada yang tahu, selain para para pejuang tanah.” Kulirik Candra hanya angguk-angguk kepala mendengarkan arahanku pada Pak Parman.


“Guru … sungguh aku tak menyangka!”


“Apanya?”


“Mau-maunya seorang aktifis pejuang rakyat seperti guru ini ditundukkan oleh seorang perempuan macam Rosa!”


“Jangan resek, Ndra. Kamu fokus memperhatikan forum saja. Gak usah banyak omong!” timpalku dengan tatap mata mendelik kepadanya.


Candra pun akhirnya terdiam tak berkata-kata. Tak berselang lama, kemudia Pak Parman memulai acara pertemuannya melalui pengeras suara. Suasana ruang pertemuan menjadi hening, hanya suara Pak Parman yang terdengar sampai jauh.


“Assalamualaikum. Warohmatullahi Wabarokatuh Tretan-tretan pejuang sedejeh. Seh pun hadir. Toreh acara silaturrahmi perjuangan tanah Mergosari nekah. Emulaeh ambik pembacaan istighosah. Sak ampponnah istighosah, dilanjut ambik pengarahan derih Mas Gio. Alfatihah ...” sambut Pak Parman mengawali pertemuannya dengan bahasa lokal desa setempat.


Terjemahan bebasnya: Asaallamualaikum, Wr Wb. Saudara-saudara pejuang semua. Yang sudah hadir. Mari acara pertemuan perjuangan tanah Mergosari ini dimulai dengan pembacaan istighosah. Setalah itu dilanjut dengan pengarahan dari Mas Gio. Alfatihah …”


Pembacaan ‘doa istigosah bersama’ merupakan tradisi para pejuang tanah Mergosari bila sedang memulai rapat perjuangannya. Tradisi ini aku tanamkan pada mereka sejak awal kali terjun di medan perjuangannya. Tujuannya, supaya perjuangan tanahnya tidak bermakna materialistik semata, tetapi sekaligus bermakna transidental.


Selama 30 menitan istigosah perjuangan tanah serempak dibaca oleh warga dengan hikmat. Gemanya begitu menusuk kalbu siapapun yang mendengarnya.


Usai pembacaan istighosah, Pak Parman pun mempersilahkan aku memberi pengarahan kepada mereka. “Saudara-saudara semuanya. Dengan selesainya pembacaan istigosah ini, semoga perjuangan kita salami ini diridhoi Allah. Acara selanjutnya mari kita dengarkan bersama pengarahan dari Mas Gio Agung Irawan. Kepada beliau saya persilahkan.” Ujar Pak Parman sembari mematikan mic pengeras suaranya.

__ADS_1


Tanpa menggunakan pengeras suara, aku meminta kepada para tokoh utama pejuang tanah dari ke-dua belah kubu untuk duduk lebih mendekat di sebalahku. “Bapak-bapak sekalian. Tolong untuk para tokoh pejuang tanahnya, duduknya lebih merapat ke-saya. Biar pembicaraan kita ini tak didengar oleh mata-mata perusahaan.”


Mereka pun menurut. Tokoh-tokoh utama pejuang tanah yang sudah aku kenal itu, berpindah tempat duduk.


Setelah kurasa sudah cukup terjaga kerahasiaan pembicaraan kami, aku memulai pengarahan. “Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Sebelum kita bahas langkah-langkah perjuangan kita. Saya ingin ada kesepakatan dari kedua kubu ini untuk bersatu dan tak ada dusta lagi diantara kita. Gimana, bapak-bapak setuju?” tanyaku memulai pengarahan. Serentak para tokoh pejuang tanah itu menjawab, setuju!


“Baik, kalau bapak-bapak sudah setuju. Selanjutnya, bagaimana kalau kita bentuk paguyuban perjuangan tanah ini. Setuju, pak?”


“Betul sekali mas. Saya setuju.” Jawab Pak Parman.


“Saya juga setuju, Mas!” balas Pak Saro mendukung pendapatnya Pak Parman.


“Baiklah kalau begitu. Saya usulkan untuk Ketuanya Pak Parman, Sekretarisnya Pak Saro. Bendaharanya Bapak Haji Supono. Gimana, pak. Bisa disepakati?”


“Sepakat …!” pekik mereka dengan serentak.


Setelah keorganisasian mereka terbentuk, aku melanjutkan pada pemaparan strategi perjuangan yang harus mereka jalankan. Ada dua strategi, pertama strategi lobiying, kedua strategi penguasaan lahan atau reklaiming.


“Antara strategi lobi dan penguasaan lahan. SIlahkan bapak berunding sendiri. Pilih yang lebih cocok dengan kebutuhan perjuangan kalian.”


“Seperti yang sudah kami sepakati sebelumnya, maka kami akan melakukan pendudukan lahan, Mas.”


“Betul, Mas. Kami sudah sepakat untuk menanam jagung di lahan itu.”


“Saya hanya bisa mendukung saja, pak. Kira-kira kapan akan dilaksanakan pendudukan lahan tersebut?”


“10 hari lagi, Mas.”


“Tapi ingat, masing-masing strategi ini ada resikonya.” kataku mengingatkan mereka. “Untuk kebutuhan logistiknya, saya menyumbang 10 juta. Mungkin bisa untuk nambah beli benih dan pupuk jagungnya.”


Model pendampinganku selama ini memanglah menggunakan metode persahabatan, bukan menggunakan metode one man, one show. Jadi yang berjuang di depan adalah mereka. Sedang aku hanya mendorong dari belakang dan hanya memberi corong agar mereka bisa bersuara sendiri di media massa.


Atas pilihan pendudukan lahan tersebut, aku menjelaskan kelemahannya. Di antaranya, rawan disusupi pihak lawan, dan rawan menjadi medan perebutan keuntungan ekonomi antar para pejuang tanah, dan masih banyak lagi kelemahannya.


“Kunci suksesnya pendudukan lahan ini, bapak-bapak semua harus solid satu barisan. Jangan sampai disusupi musuh. Persiapkan rencana pendudukan dengan matang.”


Setelah rapat persiapan reklaiming lahan yang akan dilaksanakan 10 hari akan datang, selesai. Aku dan Candra pun pamit pulang.


“Saya pamit pulang dulu ya, pak Parman, Pak Saro, dan bapak-bapak semuanya. Semoga sukses perjuangannya, Pak!”


“Terima kasih banyak, ya Mas Gio. Ini ada oleh-oleh buat Mas Gio dan Mas Candra.”


“Apa ini, Pak? Aduh terima kasih, ya pak” balas Candra dengan senyum semringahnya. Kedua tangannya dengan tangkas menerima satu karung buah durian montong pemberian Pak Parman.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya Candra.


Lega rasanya hatiku telah bisa berbuat banyak membantu perjuangan rakyat desa Mergosari. Dan sepertinya aku menemukan kembali jati diriku yang sempat menghilang tertelan lubang hitam kebudayaannya Rosa.


Di perjalanan pulang, iseng aku mengeluarkan HP dari saku celana Jinku. Kulihat ada pesan masuk dari Rosa. “Dimanapun kamu, segera temui aku. Kalau tidak menyesal seumur hidupmu.”


Tak berselang lama ada nada panggilan masuk dari nomor HP bapakku. “Candra … berhenti dulu.” Seruku pada Candra agar menghentikan laju motor Vespa yang sedang dikemudikannya.


“Kenapa, Guru?” tanya dia sambil menepikan motor Vesapa dengan pelan. “Ada telpon dari bapakku, Ndra!” jawabku.


“Assalamu`alaikum, Pak! Iya, Pak. Tumben bapak telpon saya. Memangnya ada apa, Pak?” tanyaku heran. Tak biasanya Bapakku menelponku. Berarti ada hal yang sangat genting.


“Waalaikum salam. Tadi ada dua anak perempuan datang ke sini, nyariin kamu. Namanya Rosa dan Nisa. Katanya kamu sulit dihubungi. Sepertinya sangat penting sekali. Ada apa, Gio?”

__ADS_1


“Oh … itu teman kampus saya, Pak. Gak ada apa-apa, kok. Mereka cuma ingin bermain ke rumah kita saja, pak!”


__ADS_2