
Dahsyat sekali dampaknya pada jiwaku pasca melakukan hubungan seksual berselimut spritualitas bersama Rosa di sebuah Vila desa Rembangan itu.
Jejak keindahannya begitu terasa memenuhi ruang memori ingatanku. Sampai-sampai meluber di alam bawah sadarku.
Perasaanku kepada Rosa menjadi sangat ..., sangat sayang melampaui batas. Seperti sayangnya seorang ibu merawat putranya yang sedang jatuh sakit.
Hatiku menjadi tak ingin terpisah sedetik pun dengannya. Seperti kerinduannya anak dan ibunya yang terlebur karena telah terpisah selama puluhan tahun.
Apa yang kurasakan ini, mungkin tak akan ada yang percaya, tapi ini nyata aku alami. Bila masih tak percaya, cobalah baca buku spritualitasnya Raja Blambangan Tawang Alun Ii yang memiliki 400 isteri, tapi belum diterbitkan oleh penulisnya :D
Selepas dari Vila itu, aku dan Rosa masih berjalan-jalan di kota yang berlambang daun tembakau, kota Jember itu. Sebuah kabupaten yang merupakan kota tembakau terbesar kedua di dunia, namun petani tembakaunya tidak sejahtera.
Di Mall itu Rosa menyalurkan bakatnya yang hobi shopping.
"Coba lihat, Mas! Baju Hem ini cocok banget buatmu, Mas!" seru Rosa menunjukkan baju warna hitam kepadaku.
"Masa sih, cocok?" timpalku tak percaya.
"Ih, Mas Gio kok gak percaya sama aku! Ayo coba disana, Mas!" kata Rosa sembari menyeret lenganku ke bilik ganti baju di Mall itu.
Aku menuruti saja kemauannya, sebab, baju warna hitam kurang aku sukai.
Saat aku coba baju warna hitam itu, oalah, ternyata memang sangat pantas aku pakai. Di cermin bilik itu, aku terlihat begitu tampan disampingnya Rosa.
Selama ini perempuan yang membelikan baju untukku hanya emakku. Pantas gak pantas, menurut emakku pantas, ya, aku pakai saja.
Aku baru tahu, Rosa memiliki pengetahuan yang memadai dalam memilihkan baju untuk pria. Tak salah, memilih Rosa menjadi kekasihku.
Aku bahagia karenanya. Sepanjang berjalan muter-muter di Mall itu, tangan Rosa melingkar di lenganku, terkadang tanganku melingakar di pundaknya. Kami mirip pasangan pengantin baru yang sebenarnya. Aku tak takut di ketahui siapapun, karena memang hari itu sedang liburan panjang mahasiswa.
Dirasa sudah cukup barang-barang yang dipilih Rosa, aku pun membayarnya ke kasir. Tangan Rosa masih tetap tak pernah lepas melingkar di lenganku.
Dengan berkendara motor vespa PX, Rosa memeluk punggungku erat dari belakang, kami bagai pasangan kekasih era 70 an yang terlihat begitu klasik nan romantis.
Kami tak langsung pulang ke rumah kontrakannya Rosa. "Mas Gio, kita mampir dulu ke pasar tanjung, ya?" seru Rosa setengah berteriak.
__ADS_1
"Untuk apa, Ros?" tanyaku balik sambil mengarahkan Vespaku ke Pasar Tanjung.
Sampai di parkiran, Rosa menjawab, "aku mau masak buat mas Gio! Kita "maem" di kontrakanku saja ya, mas!"
Sementara Rosa berbelanja, aku menungguinya di tempat parkir bersama Vespa PX kesayanganku. Aku benar-benar seperti seorang suami yang sedang menunggu isteri salihahnya. Padahal menunggu adalah pekerjaan membosankan, tapi menunggui Rosa yang berbelanja di pasar demi aku adalah pekerjaan menyenangkan. :D :D
"Ini mas, nanti aku masakkan oseng-oseng buah pare."
"Loh, itu kan buah yang pahit banget, Ros?"
"Coba saja lihat nanti. Aku akan olah menjadi tidak pahit dilidahmu. Ini cara ibuku kalau masak oseng-oseng pare, Mas!" pungkas Rosa sembari bergelayut manja kepadaku.
Di rumah kontrakannya, aku menunggui Rosa di ruang tamu. Ia sedang sibuk memasak di dapur. Aku coba membantunya tapi tidak boleh. Katanya lelaki tak boleh ikut memasak di dapur, urusan memasak itu urusannya perempuan.
Hanya ada aku dan Rosa di rumah kontrakannya, sedang Nisa dan Riri libur panjang di kampung halamannya, begitu pula dengan Ilham pacarnya Rosa. Bila libur panjang begini, keadaan di sepanjang jalan Kalimantan, Mastrip, Jawa dan Karimata terlihat lengang.
"Akhirnya selesai, juga aku masak buat Mas Gio.! Ayo maem, Mas!" ajak Rosa setelah makanan yang dimasaknya tertata di meja ruang tamu.
"Coba dicicipi oseng-oseng parenya, Mas!"ujar Rosa sembari menyuapkannya ke mulutku.
"Gimana mas, enak?" tanya Rosa.
"He eh, enak banget, gak pahit!" timpalku dengan senyum bangga pada Rosa.
"Rosa, gitu loh!" balas Rosa dengan senyum khasnya.
****************
Lantaran jarak kosku terlalu jauh ketempat kontrakannya Rosa, maka aku disarankan balik lagi ngekos di tempat semula, dan akupun pindah kesana.
Selama semingguan kami seperti pasangan suami isteri yang syah versi negara. Mulai siang sampai jam 9 malam, aku selalu bersamanya. Makan bersama, jalan-jalan bersama dan tidur bersama dengan memakai ******. Dunia.benar-benar seperti milik kami berdua.
Rosa memang pintar memberi alasan. Ia memberi alasan kepada orang tuanya bila ia sedang berlibur di rumahnya Nisa. Sedang kepada Ilham pacarnya, ia bilang ada di rumah orang tuanya. Jadi, tak.ada yang tahu sebenarnya Rosa sudah 1 minggu bersamaku di rumah kontrakannya.
Selama seminggu itu pula betapa bahagianya aku menjadi suami pura-puranya, menjadi pacar gelapnya, atau apalah sebutannya, aku tak mau tahu. Yang ku tahu, aku menyayangi dan mencintai Rosa tanpa harus memilikinya.
__ADS_1
Yah, waktu itu aku tak ada niat sedikitpun mengekangnya atas nama, "Rosa adalah milikku". Aku.mencintai dan menyayangi apa adanya Rosa. Tak ada niat sedikitpun mengubahnya sesuai pikiranku. Biarlah ... Toh ia akan memilihku menjadi kekasih resmi dengan sendirinya.
Mungkin sifat orang yang mencintai dan menyayangi kekasihnya teramat sangat itu begitu, ya? Waktu itu, aku benar-benar tak ingin mengekang dan mengubah kepribadiannya Rosa seperti yang aku inginkan. Biarlah Rosa hidup dengan dunianya, sedang aku.hidup dengan duniaku.
**************************************
Sampailah tiba liburan panjang mahasiswa di Jember usai, semua mahasiswa aktif lagi kuliahnya, tak terkecuali Rosa dan pacarnya, Ilham.
Awalnya aku biasa-biasa saja melihat Rosa dan Ilham berboncengan dengan motor vespa yang baru dibelinya. Entah bagaimana cara Rosa merayu Ilham, sehingga Ilham mau-maunya naik Vespa, dan tak memakai mobil bagusnya.lagi.
"Kalau nyari onderdil vespa dimana ya, Gio?" tanya Ilham kepadaku ditempat Kosku.
Aku kaget dengan kedatangannya Rosa ke kosanku bersama Ilham. Ya, aku sebatas kaget dan kikuk saja, tak sampai cemburu.
"Coba saja,.ke pasar loak Gebang, disana semua onderdil sepeda motor tua, ada!" jawabku sambil menetralisir sikap kikukku. Kulirik Rosa sedang memandangiku seperti menyimpan kerinduan yang teramat dalam.
"Ya udah aku kesana dulu, sama Rosa." timpal Ilham sembari.mengajak Rosa pergi ke pasar Gebang.
"Gio, nanti aku kembali lagi, ya. Kamu jangan kemana-mana dulu." teriak Rosa diatas boncengan motor vespanya Ilham.
Hemm ... Rosa sudah tak memanggilku Mas Gio lagi.Mungkin karena sedang bersama Ilham.
Tapi kenapa tiba-tiba Ilham.ganti motor Vespa yang sama denganku. Pastilah si Ilham disuruh beli motor Vespa, dan ia menuruti saja kemauannya Rosa.
************
Sekitar 2 jam-an Rosa kembali.lagi ke kosanku, tapi ia sendirian.
"Mana si Ilham Ros?" tanyaku pada Rosa yang sedang berjalan menghampiriku.
"Dia lagi ke Situbondo sama teman-temannya!" jawab Rosa sambil memelukku erat. Akupun membalas pelukannya. Situbondo adalah kabupaten tetangganya Jember.
"Mas Gio jangan cemburu, ya tadi? Aku.kangen banget sama Mas Gio!" kata Rosa berbisik ke telingaku.
Seketika Rosa menarikku ke dalam kamar kosku, lalu ia menguncinya.
__ADS_1
Readers budiman, jangan lupa mampir di instagramku ya?