
Aku pun membuka lemarinya. Namun sebungkus ****** yang kucari tak ketemu jua.
"Rosa naruhnya di sebelah mana, sih?"
"Itu loh, yank. Di laci paling bawah." jawabnya menyeru, sembari ia melepaskan celana terdalamnya.
Ups ... akhirnya benda ajaib itu aku temukan juga Loh, ini kok ada dua bungkus? Bukankah dulu, ia hanya memperlihatkan sebungkus?
Ah, sudahlah ... sekarang aku tak ingin bertengkar lagi dengannya. Aku telah letih berebut kuasa dengannya.
"Ros ...! Tolong dibantu donk!" pintaku padanya, mirip anak kecil yang minta ditiupkan balonnya.
"Ih, sayangku ... masa setiap masang kondomnya ... selalu aku. Pasang sendiri kan, bisa?"
"Ya, sudah gak usah pakai!" aku sangat berharap tak memakainya lagi.
"Jangan, jangan ... ! Sini aku yang masang .. !" cegah Rosa dan memintaku menghampirinya. Kupandang ia begitu sabar dan penuh keibuan. Tidak buas lagi seperti tadi.
Aku memberikan sebiji ****** itu padanya. Lalu ia memasangkan dengan begitu mudahnya.
"Sayang ... " ucapnya pelan memanggilku.
"Hemm .."
"Mas, Gio .. '
Aku menoleh padanya.
"Tadi tamparanku terlalu keras. ya? Maaf, ya Mas Gioku ...!"
" ... " aku mengangguk dan tersenyum kepadanya.
Damai dan indah rasanya jika hidup selalu begini .
Bahagia rasanya jika hidup saling memaafkan dan tanpa kebencian.
"Sayang ...' panggil Rosa lagi dengan suara manja, lalu kepalanya direbahkan ke dadaku.
"Iya ...Ros!" sahutku dengan rasa damai sambil jemariku membelai-belai rambutnya.
"Emm ... cemburuku tandanya cinta ke-Mas Gio!"
"He ..eh"
"Aku sama Fitria lebih cantik siapa, mas?"
"Cantik kamu!"
"Maaf banget, ya. Aku menyesal sekali ...Gak tega banget lihat air matamu tadi ..."
Ucapannya membuat aku terngiang akan tamparan kerasnya, "plaak!". Tanpa sadar tanganku mengusap-ngusap pipi kananku, dan tanpa terasa mataku pun berkaca-kaca kembali.
Begitu pula dengan Rosa. Air matanya tumpah menderai ke dadaku. Sepertinya, ia teringat kembali dengan kejadian yang memilukan tadi.
__ADS_1
" Aduuh ... sakit banget tadi ya, sayang? Maaf ... maaaf ... ya ...!"
Seketika ia menengadahkan wajahnya, lalu memelukku dengan rasa penyesalan mendalamnya.
Kemudian ia memandangku disertai senyum bahagianya, dan kelopak matanya masih sembab dengan air mata.
Lalu ia mengecup keningku. Sebuah kecupan yang mengingatkan pada hadiah kejutannya yang dulu pernah diberikannya padaku.
Sejurus kemudian ia menenggelamkan sisa sakit hatinya, penyesalannya, dan kebahagiaannya melalui ciuman bibir yang tak berkesudahan.
Anehnya, air matanya semakin deras mengalir di pipinya
Bagai air matanya seorang ayah yang merindu berbulan-bulan pada putrinya, walau telah bertemu dan bercanda ria, tapi air mata ayah itu tetap mengalir tanpa henti.
Ku lihat Rosa telah menyiapkan pendakiannya ke puncak gunung raung yang terkenal dengan jalan setapaknya yang terjal.
Jemarinya menuntun kerinduan purba adamku menuju kerinduan purba ibu hawanya untuk bersama sama menikmat buah terlarang itu.
Lalu ... seperti sebelum-sebelumnya, ia dengan perlahan nan lembut, memilih posisi berada di atasku yang berjalan mendahuluiku ke puncak Raung itu.
"Mas ...bantu aku ..." ucapnya dengan memejamkan matanya.
Tampak rambut sebahunya sering ia tahan dengan jemarinya agar tak selalu jatuh menutup wajah cantiknya.
Entah kenapa, peraduan ini begitu nikmat tiada taranya. Apakah ini hadiah terindah kami setelah melewati penderitaan demi penderitaan?
Rosa terus berjalan cepat namun dengan perasaan lembut menaiki puncak Raung, tetapi pikiranku masih berjalan sendirian menelusuri keanehan sensasi kenikmatannya.
Namuni jalan pikiranku yang seperti itu menjadi sirna, tatkala Rosa memberi kode bahwa ia hampir sampai di puncak Raung.
"Mas ... Mas Gio ..." Rosa memanggilku tanpa alasan yang jelas. Mungkin itu sebuah kode alamiahnya
Kurasakan penderitaan dan kelelahan batin selama berkonflik hebat dengannya tadi, Ikut terhisap tak bersisa ke dalam grafitasi kuat blac hole-nya.
Sungguh ... ketika di atas peraduan ini, penderitaan hidupku terasa begitu nikmat. Senikmat orang yang sengaja berlapar ria, lalu, ketika menemukan hidangan makanan yang lezat, ia hanya mencicipinya sedikit saja.
Anehnya, semakin Rosa memacu dirinya, air matanya tetap menitis, dan bercampur dengan keringatnya yang jatuh ke dadaku.
Rasa kasih sayangku yang teramat dalam, membuatku hanya memposisikan diri sebagai Julius Caesar, demi menghantarkan Sang Ratu Cleopatra sampai di puncak kenikmatannya.
"Mas Gio ... Mas .." ia memanggilku lagi dan berulang-ulang
"Mas ...! Bareng, mas ..!"
"Mas Gio ... !!!"
Ia pun memanggil namaku untuk terakhir kalinya.
Mungkin Rosa sudah sampai di puncak tertinggi Gunung Rauang itu. Melihat senyum kemerdekaannya, sepertinya , ia sudah klimaks.
"Sudah aku, Mas ...! Mas Gio juga, kan?" pungkasnya dengan garis senyum yang lebar di bibirnya.
"Ya ampun ... loh ... loh ... kondomnya gak kamu pakai, ya?"
__ADS_1
"Hehe ... Iya aku lepaskan tadi." jawabku menyeringai.
"Terus ... Kamu keluarin di dalam tadi?"
"Iya ..."
"Gimana nanti kalau aku hamil?"
****************
Di hari sabtu sore, usai menunaikan sholat ashar, aku mengurai kekalutan pikiran dengan bersandar di kursi ruang tamu kosanku. Secangkir kopi panas yang dibuatkan Bu Kos kutuang ke lepek sebelum menyeruputnya.
Rokok Sampoerna Mild yang bersanding di samping cangkir kopi kuambil satu batang lalu kusulut, kemudian kuhisap dalam-dalam. Asapnya kukebulkan berbentuk bundar dari bibirku, menyerupai huruf O. Terasa ada keasikan tersendiri kala menikmati sebatang rokok dengan cara ini, selaksa mewakili hatiku yang lagi zonk.
Sementara di depanku, ada si Candra sedang duduk santai membaca buku Genealogi Moral-nya Neitzsche yang baru aku beli. Candra adalah mahasiswa jurusan informatika yang mulai meminati filsafat sejak kenal denganku. Ia sudah semester 5. Ia baru berpindah ke tempat kosku lantaran menggandrungi pemikiranku.
Aku merasa enggan membuka obrolan dengannya. Kubiarkan pikiranku melayang-layang sendiri mengikuti kepulan asap rokok yang berlingkar-lingkar di ruangan tamu, sampai ia terhempas angin sore dan lenyap entah kemana.
Hemm ... sudah lama aku meninggalkan sholat wajib, barusan saja aku sholat ashar dengan khusuk setelah sekian lama kutinggalkan. Terasa ada kenyamanan baru mensemilir sesaknya rasa di rongga dada, walau itu hanya sebentar.
Selain itu, aku juga jarang berkomunikasi intens dengan teman-teman aktifis kampus, untuk sekedar berdiskusi ringan atau bercangkruk ria di warung kopi. Sudah tak seperti dulu, kini waktuku lebih banyak terhanyutkan ke dalam hubungan sebungkus ****** dengan Rosa.
Tanpa terasa, sebungkus ****** dari Rosa itu telah menyesatkan jalan hidupku di hutan belantara yang lebat dan tanpa kompas. Sebungkus ****** dari Rosa seperti telah mendatangkan kutukannya alam raya sehingga permasalahan yang kuhadapi ini begitu pelik dan semakin menjauhkanku dari keberuntungan hidup.
Proposal-proposal penelitian dan kegiatan lembagaku yang aku kirimkan ke pihak donatur pun tak pernah ada tanggapan. Konon issue yang diusungnya sudah beralih ke soal lain, dan Indonesia sudah bukan negara tujuan yang diperioritaskan mendapat donasinya.
Akibatnya, lembagaku yang menggantung pada uluran donatur luar negari menjadi kekurangan gizi. Teman-teman aktifis yang bernaung di lembagaku pun menjadi semburat mencari keselamatan hidupnya masing-masing.
Sementara para pejuang tanah yang aku dampingi di sekitar lahan sengketa, kini saling berebut pengaruh. Para tokohnya saling berselisih. Mereka terpecah menjadi dua kubu. Masing-masing kubu berebut yang paling berhak dan yang paling benar. Entah apa maunya mereka. Sudah berulang kali kuperingatkan, tapi tetap bergeming dengan egonya masing-masing.
Padahal bila mereka seperti itu, perjuangannya akan mudah dihancurkan oleh perusahaan. Apalagi perusahaan perkebunan itu saat ini sedang mengorganisir kekuatan tandingan untuk memperburuk opini perjuangan tanah di Jember.
“Terus gimana kita menghadapi kubunya Pak Saro yang mengaku dirinya yang paling benar, Mas Gio?” kata Pak Parman waktu itu.
“Ya harus bersatu lah, Pak Parman! Masing-masing kubu jangan menang-menangan, Pak!”
“Sudah kami lakukan, Mas Gio. Tetapi kecurigaannya pada kami sangat besar, Mas! Kami harap, Mas Gio yang turun tangan. Solusinya ada di tanganmu, Mas!”
“Terus gimana dengan Direkturnya Perkebunan itu, pak?”
“Ya ... itu, Mas! Sepertinya rencana reklaiming ini akan gagal kalau gak ada Mas Gio. Ayolah ..., Mas Gio kapan bisa turun kesini?”
Tak hanya ditimpuki dengan masalah-masalah perjuangan tanah, kelebat harapan ayah dan ibuku yang ada di desa juga semakin menyesakkan ruang pikiranku. Mereka mendesakku agar aku cepat lulus sarjana. Alasannya, teman-temanku di kampung halaman yang kuliah sudah sarjana, dan mereka sudah banyak yang berumah tangga. Orang tuaku tidak tahu kalau statusku sekarang di Kampus sudah ter-DO. Dan aku sedang dipusingkan mencari kampus swasta yang bisa meluluskanku tanpa kuliah reguler.
Plaak ... tamparan keras tangannya Rosa masih terngiang menyelip di tumpukan masalahku. Walau rasa sakitnya di pipi telah menghilang, tetapi ia tetap membekas di ruang memoriku. Padahal pertengkaran kami telah terselesaikan dengan happy ending di atas ranjang ...?
Sepertinya hubungan cinta kami ini sudah berubah menjadi hubungan cinta yang saling menindas dan saling kuasa mengkuasai. Sebuah hubungan dua insan yang saling menyakitkan; kecemburuan dibalas dengan kecemburuan yang lebih tinggi, rasa sakit hati di balas dengan rasa sakit hati yang paling pedih, dan seterusnya.
Sepertinya, Rosa tak puas bila aku tidak menjadi penurut dan telah terkuasainya. Maka tak hanya cukup ditampar, ke 2 buah ATM-ku pun ikut disanderanya. Alasannya, agar aku bisa tunduk dan menurut kepadanya.
Hufft ... entahlah ... akan dibawa kemana hubungan semacam ini?
Bila aku memutus hubungan dengannya, seperti yang lalu ... ia mengancam akan bunuh diri. Tetapi, bila ia tidak kutinggalkan, aku bagaikan seekor mangsa yang terjebak di jaring laba-laba, hanya tinggal menunggu kematianku.
__ADS_1