
Biarlah ... aku mengalir saja akan mengarus kemana hubungan ini. Mudah-mudahan saja omongan Rosa itu benar, bahwa ayahnya tertarik punya menantu sepertiku. Semoga ... Biar aku lekas menikah dengannya, dan drama ala sinetronku ini lekas berakhir.
Ups ... sebatang rokok yang terjepit di jariku tak terasa telah tinggal puntungnya saja., selekasnya kuhisap lekat sisanya, asapnya aku hempaskan hingga sampai kehadapannya Candra, akhirnya ia melirikku dan menyeringai.
"He he ... Guruku lagi galau, ya?" kata Candra. Ia merasa senang karena aku mulai memperhatikannya walau melalui sapaan asap rokokku.
Si Candra setiap ngobrol empat mata denganku, selalu memanggilku Guru. Baginya aku adalah guru penerang pikirannya. Dan ia merasa menjadi manusia cerdas setelah mengenalku. Karena itu, ia rela membuntutiku ngekos di tempatku, katanya biar bisa menimba ilmuku setiap hari.
“ Sok tahu kamu, Ndra” kilahku sambil mencibirnya.
“Ya, tahu donk, Guru. Kan aku sudah diajari sama Guru ... ‘membaca yang tak terbaca’!” tanggapnya.
Kalimat membaca yang tak terbaca yang pernah aku lontarkan padanya, kini sudah dijadikan kalimat azimatnya Candra.
“Apa yang kamu ... ‘baca yang tak terbaca’ dari aku, Ndra?”
“Guru lagi mikirin Rosa, kan? Iya ... kan? Hahaha ... kapok kowe!” tukasnya meledekku menyelipkan kalimat bahasa Jawa dengan kaku.
“Halaah ... sok tahu kamu! Asal membaca, kamu ..!” kilahku lagi coba menepisnya dengan cibiran bibir soalah tak percaya, padahal tebakannya memang benar. Tapi dia tahu darimana, ya?
“Bukan sok tahu lah, Guru! Kalau soal guru mikirin Rosa, gak perlu pakai ilmu filsafatnya Nietzsche. Cukup pakai telinga kanan-kiriku.”
“Hoho, megaya! Ya berarti telingamu yang salah dengar. Aku sama Rosa, itu memang akrab Ndra! Sebelum kamu ngekos di sini, aku sudah berteman akrab dengannya.”
Mendengar kata, Rosa teman akrabku, si Candra lekas menimpalinya, “ TTM ... teman tapi mesra, kan Guru?” ujarnya meledek.
“BTW ... telingamu dengar dari siapa?” tanyaku penasaran. Kok bisa tahu hubunganku dengan Rosa si Candra ini?
“Ya, kan sudah rahasia umum, Guru!”
“Rahasia umum, gimana?”
“Ya walau kategori rumor, sih. Cuma katanya ketua organisasi ekstra kita yang baru dilantik itu, si Faisal ... bilangnya begitu!”
“Bilang gimana, dia?”
“Ya kalau Guru sekarang sedang sibuk ngurusi Rosa. Dan Guru sudah gak patut dijadikan panutannya teman-teman. Gitu katanya.”
Deg ...
“Masak Faisal bilang begitu?”
“Iya ... ! Waktu itu ada aku, Yoyo, Wibi, dan ada Danis juga, kok.”
“Ya, gak benarlah dia ... aku kan memang gak ada hubungan apa-apa sama si Rosa, Ndra!”
“Yach ... kalau pun benar, emangnya kenapa? Wong Rosa statusnya hanya sebatas pacarnya Ilham. Kata Aristitoles ... selama janur kuning belum melengkung, siapapun berhak menelikung!”
“Ngawur ... Itu bukan kata dari Aristitoles, tapi katanya orang jawa yang sudah kamu plesetkan.”
“Hahaha ... ya kan gak papa. Suka-suka aku, lah! Ya ... karena Guru sudah tahu, coba teman-temanku yang di kampung, pasti mereka percaya saja aku bilang dari Aristitoles ...!” kilahnya seolah sudah menjadi pemuda paling pintar di kampungnya. Dia berasal dari pelosok di Sulawesi Utara.
“Terserah kamu, lah!” balasku tak peduli dengan alasannya.
Pikiranku masih tersentak dengan kata-katanya si Candra tadi, bahwa hubunganku dengan Rosa sudah menjadi rahasia umumnya teman-temanku.
Sejurus kemudian Candra menyela, “Iya, memang terserah aku, donk!. Tapi kalau soal yang ini ... terserah Guru, lah.”
“Soal apa, Ndra ...?” tanyaku.
__ADS_1
“Soal isi buku Genealogi Moral ini. Disini dikatakan, ‘manusia lebih suka menghendaki ketiadaan daripada tidak menghendaki sama sekali’. Maksudnya gimana ini, guru?” tanya dia sambil menunjuk isi buku Geanologi moral Friedrich Nietzsche yang telah di bacanya tadi, judul aslinya ‘the bird of tragedy and the geanology of morals.
“Emboh ... Gak tahu aku, Ndra!”
“Ah, gak mungkinlah Guru gak tahu. Ayolah ... please! Aku pindah ngekos ke sini, kan supaya dapat pencerahan dari Guruku!”
“ ... “ aku menggeleng-geleng kepala.
“Ayolah, nanti malam aku traktir makan, Gimana?”
“Ya, kalau kamu mau pencerahan ... sekarang belikan aku rokok Sampoerna dulu, lah!” Kulihat isi rokok Samparpoernaku sudah tinggal dua batang.
“Waduuh, pemerasan kau ini, Gio ... !” gerutu Candra, logat daerah asalnya spontan keluar dari mulutnya.
“Hai kisanak ... Ilmu itu kan mahal, sana cepat belikan rokok gurumu!”
“Baiklah Guruku yang laknat...!"
Akhirnya dengan terpaksa ia melangkahkan kaki ke toko sebelah buat membeli rokok Sampoerna. Aku memang sedang tak pegang uang. Mau hubungi Rosa buat ambil uang ke ATM rasanya sangat malas sekali.
Tak lama kemudian, Candra datang dengan membawa sebungkus rokok Sampoerna. “Ini guruku. Tapi aku ikut join, yo?” katanya sembari menaruh rokok yang dibelinya di atas meja.
“Kamu tanya soal apa, tadi?”
“Wadooh ... Kauw ini Benar-benar Guru linglung”
“ Hehe ... coba dibacakan lagi teksnya.”
“Oke, disini kan dikatakan ... ‘manusia lebih suka ... menghendaki ketiadaan ... daripada tidak menghendaki sama sekali’ ...” kata dia sambil membacakan kalimat terkenal Nietzsche tersebut.
“Oh ... kalimatnya begiitu ...”
“Penjelasanku. Buku yang kamu pegang itu baru kubeli. Kamu ini murid yang durhaka. Aku belum membacanya, kamu sudah baca duluan. Jadi...?”
“Iya terus apa?” tanya dia penasaran.
“Ya, karena belum kubaca buku itu, maka aku belum paham isi bukunya, Ndra!”
“Wadooh! ... ketipu sebungkus rokok aku sama guru yang laknat ini! Wuhaha ... ”
Aku pun ikut tertawa, merasa terhibur oleh ulahnya Candra.
Tak berselang lama, Candra membuka obrolannya lagi. “Oh ya, nanti kan malam Minggu, Guru ... Kita main- ke kosannya Fitria, yuk! Kebetulan kemarin dia titip salam buat kakang Mas Gio. Hehe ... sejak aku akrab sama Guruku ini, aku bisa kenal sama Mbak-mbak cantik di Jember.”
“Iya ayo! Daripada mikirin buku geneanologi moralnya Nietzsche, ya kan?”
“Tapi ...itu PR-nya guru, ya!. Nanti kau selesaikan baca bukunya, terus jelaskan sama aku.”
Tanpa kusuruh, lalu Candra mengeluarkan HP dari sakunya dan menelepon Fitria. “Hallo, Mbak Fitria ... Aku sama Mas Gio nanti malam ke sana, ya? ... iya ... Jam tujuh.”
Aku pikir tak masalah lah, main ketempatnya Fitria, toh bareng Candra ke sana. Lagian Rosa pasti sedang malam Mingguan dengan Ilham. Masak cuma main rame-rame ke kosannya Fitria, dia akan marah berat lagi?
Sebelum jam tujuh, kulihat Candra sudah mengeluarkan motor Vespaku. Dia bersemangat sekali menikmati malam minggu bersamaku ke kosannya Fitria. “Ayo Guru, berangkat!”
Sesampai di Kosannya Fitria, motor Vespa di parkirnya di pinggiran jalan utama. Lalu si Candra mendahuluiku memasuki halaman kosan putri itu, dan memanggil nama Fitria dengan suara lantang. “Mbak Fitria ...!!!"
Tak lama kemudian Fitria yang di panggilnya melongok dari dalam kamarnya, lalu ia masuk lagi dan keluar menghampiri kami sembari membawa bendelan draft skripsinya.
Wow ... Penampilan Fitria kali ini tak seperti biasanya. Mataku dibuat terpesona oleh penampilannya yang begitu feminis dan begitu ayu. Darah kelelakianku mulai mendesir. Sungguh Rosa kalah cantiknya bila Fitria sedang berdandan feminis ala Syahrini ini.
__ADS_1
Biasanya ia berpenampilan tomboy, di kampus ia memakai celana jeans, baju lengan panjang kotak-kotak. Apalagi pas dia beorasi memegang mega phone, sungguh sangat angker sekali. Takkan ada cowok alay yang berani menjadikan ia pacarnya.
"Ayo, Mas Gio, kita duduk di sana!" katanya mengajakku dengan menunjuk kursi panjang di pojok ruang terima tamu itu.
"Loh kok hanya Mas Gio yang diajak sama Mbak Fitria, ini!" goda Candra.
"Hehe .. iya kamu juga, ayo!" jawab Fitria dengan senyum yang begitu.manis.
"Cuma bercanda, kok. Aku masih mau beli nasi lalapan dulu, kok. Guru dan Mbak Fitria pesan lalapan apa, ya?"
"Aku lalapan ayam kampung, Ndra!" jawabku.
"Mbak Fitria, apa?" tanya Candra.
"Sama dengan Mas Gio, dah!" jawab Fitria.
Kemudian Candra berlalu menuju motor Vespaku, lalu membawanya pergi.
Di kampung halamannya Candra anaknya orang kaya. Masa itu setiap bulan ia di tranfer uang 3 jutaan dari orang tuanya. Sejak menyelami ilmu filsafat dariku, penanpilannya berubah belel dan rambutnya dibiarkan memanjang acak-acakan.
Kehadiranku dibuat kesempatan oleh Fitria menanyakan beberapa hal untuk pendalaman skripsinya. "Bagusnya untuk kasus tanah yang di kecamatan Panti itu memakai pendekatan teori yang mana, Mas?"
"Coba pakai teori dalam bukunya Afrizal. Di situ ada pendekatan strategi lobying. Pas itu untuk meneropong perjuangan tanah di Panti."
Fitria mendengarkanku dengan seksama. Ia pun bergeser lebih dekat di sampingku. Supaya nada suaraku bisa terdengar jelas ke telingannya. Terlihat sekilas betis jenjangnya begitu putih nan mulus sekali.
Sebelum Candra tiba membeli nasi lalapan dibungkus, aku berdiskusi panjang lebar tentang skripsinya. Sementara beberapa teman kosnya Fitria terlihat mesra berduaan dengan pacarnya tak jauh dari tempat duduk kami. Pemandangan seperti ini sudah lumrah di tempat kos-kosan putri.
Saat hendak memegang kertas skripsi di tangan Fitria, tanpa sengaja tanganku menyentuh jemarinya. Fitria membiarkannya. Lalu ia menoleh kepadaku dengan tersenyum, lalu menunduk malu. Tanpa berfikir lainnya, sentuhan tanganku berubah meremas jemarinya.
Fitria hanya menunduk, ia begitu gugup tapi mau. Ada aliran hangat saat tangannya membalas remasanku.
Entah kenapa aku sekarang menjadi lelaki pemberani meremas duluan tangan sensitifnya perempuan cantik di hadapanku ini. Mungkin karena aku sudah kulino di ajari Rosa sehingga aku mengenyampingkan moralku pada Fitria. Atau karena aku menganggap enteng sosok Fitria, sehingga tak khawatir sedikitpun ia akan menolak sentuhan tanganku.
Dan seperti ada magnet yang saling menarik, wajah kami teramat pelan berdekatan.
Dan ... tak ada hasrat lainnya dalam diriku selain mengulum bibir sensualnya.
Saat bibirku hendak mengecup bibirnya, tiba-tiba terdengar suara bunyi knalpot Vespaku. "Tong .. Tong .. Tong .."
Candra telah datang dengan membawa 3 bungkus nasi lalapan. Seketika kami terlonjak, lalu saling bergeser dan kembali duduk berjarak seperti semula.
"Guru ... Guru ... Kesini dulu!" panggilnya kepadaku sambil melambaikan tangan. Ia tetap berada di atas motor Vespaku.
Aku pun menghampirinya. "Ada apa, Ndra?"
"Di warung lalapan tadi, aku ketemu Rosa. Dia nanya Guru ada dimana, kok Vespanya dibawa aku?" Kata Candra dengan suara pelan biar tak terdengar Fitria.
"Terus kamu jawab dimana?" tanyaku was was.
"Ya aku bilang sedang berduaan sama Fitria, lah..." jawabnya enteng tanpa beban.
"Wadooh ... bahasamu kok pakai berduaan, Ndra!" sesalku sambil menepuk jidat.
"Ya kan benar jawabanku, Guru. Tadinya kan, kita bertiga sama aku. Setelah aku tinggal beli nasi lalapan, ya tinggal berduaan, kan? Guru sama Mbak Fitria!"
"Iya benar, sudah. Kamu memang muridku paling pintar." Aku membatin, wah .. bisa ada perang dunia ketiga lagi ini dengan Rosa.
"Guru ... saat ku jawab begitu ... mukanya Rosa kelihatannya cemburu banget.. Hahaha! kapok kowe, Guru!" pungkas Candra dengan tawanya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1