Gara Gara CO Darimu

Gara Gara CO Darimu
6. Terpengaruh Buku Seksualitas dan Spritualitas


__ADS_3

Selama kuliah, pikiranku tak pernah terpengaruh oleh ceramahnya dosen di depan kelas, tetapi hanya dipengaruhi oleh buku-buku yang aku gemari.


Berikan buku-buku yang mengguncang dunia kepadaku, maka aku akan terpengaruh olehnya.


Semua buku yang mempengaruhiku akan membuat siklus hidupku setiap harinya menjadi, "refleksi, reaksi, dan aksi."


Benarlah apa yang dikatakan Rosa, bahwa aku ini sosok pemuda yang terlalu serius, dimanapun tiada hari tanpa membaca dan diskusi.


Begitulah, aku!


Saat khatam membaca buku Das Capitalnya Karl Marx, maka seketika aku menjadi "marxis" dan sering ikut berdemonstrasi membela hak-hak kaum buruh.


Saat selesai membaca buku karya Misbach, Asghar Ali Engineer, Hassan Hanafi, seketika itu pula aku menjadi aktifis santri yang gandrung membela kaum mustad'afin di Jember.


Saat aku tuntas membaca buku-buku feminis, maka aku pun menjadi lelaki genit yang suka membela dan sering berada dibarisan demonya kaum perempuan.


Begitulah hidupku setiap harinya yang mengalir dari refleksi, reaksi dan ke-aksi.


Refleksi aku lakukan dari membaca buku, reaksi aku dapatkan dari ajang diskusi, lalu berikutnya aku wujudkan menjadi aksi nyata di lapangan, entah melalui demontrasi maupun melalui tulisan di media massa.


Akibatnya, aku menjadi lelaki yang kering humor dan sangat jadul dengan dunia asmara dua insan.


Demikianlah, setiap terpengaruh oleh buku, seketika dunia ingin aku ubah. Termasuk pula yang sekarang, aku begitu terpengaruh oleh buku yang dibelikan oleh Rosa tersebut.


Akibatnya, kini pikiranku menari-nari, berputar-putar untuk segera melaksanakan aksi nyata, "seksualitas dalam spritualitas" bersama Rosa.


Harus aku akui, sebuah ****** yang aku gunakan pada Rosa waktu itu, sebatas aktifitas menubuh semata. Sekedar kegiatan badaniyah. Mirip orang pipis semata. Saat itu, aku tak merasakan sama sekali nilai keindahannya yang tak terbayangkan. Pantas saja aku tak tertarik lagi melakukannya, sebab hanya berakibat penyesalan diri belaka.


Sementara buku yang dibelikan Rosa ini telah menyirami rasa dahaga pengetahuanku tentang "spritualitas dalam **** dan seksualitas dalam spritual".


Terdorong oleh perasaan yang meletup-letup akibat buku itu, aku pun menyetujui menikah siri dengan Rosa.


"Iya sudah Ros, kita menikah siri!" jawabku menyanggupi ajakan Rosa menikah siri.


"Okey ...Aku kondisikan dulu, ya Gio ku sayang! Aku konsultasikan dulu dengan ustad itu." jawab Rosa langsung menutup HPnya.


************************************


Selain terdorong oleh buku itu, sejak hatiku di sniper oleh ungkapan cinta dan air matanya Rosa telah membuat “perasaan maskulinku” jadi terlemahkan.


Apalagi, sejak aku memahami posisi perempuan yang seringkali dijadikan korban "struktural patriarkis", maka aku tak pernah tega membiarkan perempuan menangis, seperti tangis cintanya Rosa kepadaku.


Saat aku dikecup kening, diperhatikan, dirindukan, dan disayangi oleh Rosa, bagaimanapun itu, membuat hatiku meleleh.

__ADS_1


Ya ...kini aku tersadar, saat ini hatiku telah lemah dan leleh pada Rosa.


Dan Rosa telah menyadarkanku pula, bahwa kini aku telah memiliki dua kecenderungan mencintai sosok perempuan. Sosok pertama, perempuan cantik, mandiri, teguh pendirian, dan sulit ditundukkan. Sosok kedua, perempuan cantik lemah, manja, dan tak perlu ditundukkan lagi seperti Rosa ini.


Entahlah ...


Mungkin karena selama ini aku tak pernah bisa memiliki perempuan yang ku idamkan itu, dan ditambah pengaruh buku yang dibelikan Rosa, sehingga tiba tiba sekarang aku ingin memiliki isteri cantik berjilbab yang anggun, lembut, manja dan pemalu.


******************


Seminggu kemudian aku benar-benar menikah siri dengan Rosa di waktu menjelang liburan panjang mahasiswa.


Saat itu Rosa tanpa memberitahukan ayahnya ataupun pihak keluarganya. Entah apa alasanya.


Kami menikah pada seorang Ustad yang sudah menyediakan saksi dan ia sendiri yang menjadi wali hakimnya. Untuk pernikahan siri itu kami membayar biaya keseluruhannya.


Praktik Ustad menyediakan jasa pernikahan siri di daerah kami merupakan rahasia umum. Namun yang tak punya jaringan akan sulit mengetahuinya


Usai dari acara pernikahan siri itu, Rosa pulang ke kampung halamannya.


"Mas, Gio sayang!" sapa mesra Rosa melalui sambungan HPnya.


"Iya, Ros!" jawabku mulai gugup mendengar suara mesranya.


"Panggil, aku sayang dong, Mas!"


"Jadi kita ketemuannya, Mas!"


"Iya, jadi."


"Di Villa, itu kan?"


"Iya ..."


"Jangan lupa, kondomnya dibawa, loh!"


******************************


Menuju Vila yang kami tuju di desa Rembangan dari kota membutuhkan waktu setengah jam-an. Letaknya berada di lereng gunung Raung. Hanya dari sana kota Jember akan terlihat begitu indah dan menakjubkan dengan hawa yang begitu sejuk.


Menjelang magrib aku dan Rosa sampai ke VIlla di desa Rembangan itu. Kami pun menjalankan bagaimana **** dibalut dengan  spritualitas. Seperti petunjuk buku yang telah dibelikan Rosa itu. **** dalam spritualitas merupakan sebuah konsep yang rumit yang tak bisa aku jelaskan dengan kata kata pada Rosa.


Yang jelas,  wakty disana, aku dan Rosa sebelum meleburkan dalam seksualitas, kami menunaikan ritualitas dahulu tanpa henti sampai nafsu-nafsu itu telah terkendalikan.

__ADS_1


Disana, aku dan Rosa terus menerus menyucikan seksualitas dengan nilai-nilai sakralitas.


Waktu itu, kami sebenarnya sudah tak tahan untuk lekas tenggelam dalam hawa nafsu, namun, kami terus bertekad menjinakkan nafsu liar itu dengan rasa cinta dan kasih sayang. Kami tak menghiraukan nafsu angkara terus merongrong jiwa. Dan ... kami terus bertekad menyucikan **** itu dengan spritualitas.


Sehingga sampai waktunya, aku dan Rosa meleburkan diri kedalamnya. Sampai akhirnya ...


Kami mengusap sepoy, menjamah rintik,  dan di terangi temaramnya.


Membiarkan semua dalam diri melebur dalam jiwa.... Jangan di halangi lagi dengan sekat gender mu dan genderku


Kami hanya ingin meleburkan ... Tidak karena aku lelaki, dia wanita. Meleburkan diri adalah menjadi satu debur ombak hingga hilangkan kelelakianku dan kewanitaannya.


Peleburan itu adalah …...


Apabila CINTA memanggilmu, ikutlah dengannya, meski jalan yang kalian tempuh terjal dan berliku.


Apabila sayap-sayapnya merengkuhmu, pasrahlah dan menyerahlah, meskipun pedang yang bersembunyi dibalik sayap itu mengancam niat tulusmu.


Apabila cinta berbicara kepadamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpi indahmu bagai angin utara yangmemporak-porandakan petamanan.


Apabila cinta memahkotaimu, cinta juga akan memasungmu.


Sebagaimana rindu menumbuhkan dedaunnanmu, maka ia memotong akar-akarmu.


Sebagaimana asmaramu membumbung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu, membelai mesra ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari pagi


Sadarlah …


.Cinta tak akan memberikan apa-apa kepadamu, kecuali keseluruhan dirinya, dan ia pun tidak mengambil apa-apa darikalian, kecuali dari dirinya sendiri.


Sebab …


Cinta tidak dimiliki dan memiliki, karena cinta telah cukup untuk cinta.


Dan sadarlah …


Janganlah kamu mengira bahwa kamu dapat menentukan arah cinta, karena cinta apabila telah menjatuhkan pilihan padamu, dialah yang akan menentukan perjalanan hidupmu..


Sebab …


Cinta tidak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri.


Tetapi …

__ADS_1


Jika kamu mencintai disertai dengan berbagai hasrat, maka wujudkanlah ia dengan: meluluhkan dirimu, mengalir bagaikan anak sungai yang menyanyikan lagu persembahan malam.


Readers budiman, jangan lupa mampir di instagramku ya?


__ADS_2