Gara Gara CO Darimu

Gara Gara CO Darimu
20. Musibah 2 Garis


__ADS_3

"Tumben Bapaknya Guru menelepon?" tanya Candra heran.


"Si Rosa nyariin aku ke rumah, katanya." Jawabku.


"Ada perlu apa, dia?" tanya dia kepo kalau menyangkut Rosa.


"Gak paham, aku! Ayo kita jalan lagi, Ndra!"


"Okey ... boss!"


Dengan cekatan, Candra menjejak pedal Vespa dengan kaki kanannya, sekali jejak Vespa PX kesayanganku itu pun menyala. Sambil menyanyikan lagu 'Wakil Rakyat-nya Iwan Fals,' ia tampak riang gembira melewati jalan pedesaan.


Sepanjang perjalanan, perasaan ini semakin penuh sesak dengan kegelisahan


Pesannya di HPku pun kubaca berulang-ulangi. "Dimanapun kamu, segera temui aku. Kalau tidak ingin menyesal seumur hidupmu."


Aku coba menerkanya, sebenarnya peritiwa pahit semacam apa sehingga isi pesannya ini begitu menakutkanku.


Perasaan ... selama ini Rosa baik-baik saja, kok.


Takut terjadi apa-apa, kemudian aku membalas pesannya. "Iya. Sekarang aku langsung ke sana."


Pesan terkirim, tapi ... HPnya sedang tidak aktif.


Ah ... Aku menjadi takut terjadi apa-apa dengannya.


Bagaimanapun saat ini, kebahagian hidupku masih sangat bergantung dengan eksistensinya.


Mengingat ... ia pernah mengancamku dengan pisau di tangan yang siap dihujamkan ke jantungnya. So ... bagaimana kalau tiba-tiba Rosa nekat mengakhiri hidupnya?


Tapi ... gak mungkinlah.


"Guru ...! Kita pesta durennya di kosannya Mbak Fitria saja, yuk? Kita langsung ke sana, okey ...?" seru Candra dengan suara lantang membuat lamunanku, ambyar!


"Ayo Ndra, lebih cepat lagi! Aku mau mampir ke kontrakannya Rosa!"


Kurasakan laju motor Vespa yang di kendarai Candra ini berjalan sangat lambat. Padahal, aku sangat ingin lekas sampai di rumah kontrakannya Rosa.


"Waduh ... Rosa lagi, Rosa lagi!" teriaknya. "Guru saja yang ke sana. Biar Durennya ini aku berikan ke-Mbak Fitria!"


"Dibagi dua, Ndra! Rosa dikasih 5 saja. Ya?"


"Kenapa harus diberikan ke-dia?"


"Kasihan dia, Ndra. Ayo lebih cepat lagi. Jangan banyak omong, ah!"


"Cewek kayak Rosa kok dikasihani. Kasih tiga saja, lah!"


"Cerewet kamu ini. Yasudah terserah, lah, asal dipilihkan yang besar-besar."


********************


Memasuki wilayah kampus di jalan pertigaan, si Candra tanpa minta persetujuanku mengarahkan setirnya ke arah tempat kosannya Fitria.


"Loh ... loh ... kok ke-Fitria? Mampir ke Rosa dulu, Ndra?" protesku sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Ogah! Biar aku tunggu Guru di kosannya Mbak Fitria." kilahnya sambil tertawa tak mempedulikan keberatanku.


Sekitar 5 menitan motor Vespaku sudah sampai di depan di kosannya Fitria.


"Guru pergi sendiri saja kesana..." oceh Candra. Kemudian ia berlalu dariku dan memanggil-manggil nama Fitria.


Sejurus kemudian Fitria yang dipanggilnya keluar menampakkan diri dari kamar kosnya, lalu berlari kecil menghampiri kami.


"Mbak Fitria mau Duren?" tawar Candra pada Fitria.


"Ya mau dong! Kok banyak sekali. Borong durian di mana, nih?" tanya Fitria.


"Bukan memborong. Tapi ini oleh-oleh dari para pejuang tanah Mergosari tadi!" jawab Candra.


"Wah, keren banget. Tapi sayang, Mas Gio kenapa kok, gak ajak-ajak aku? Aku pingin banget lo, main-main kesana!" sesal Fitria dengan tatapan mata teduhnya yang memancarkan rasa damai.bagi yqng melihatnya.

__ADS_1


"Lain kali saja, ya Fit. Aku pasti mengajakmu. Bosen. aku bareng Candra terus, Fit!."


Sementara orang yang aku goda tak menggubrisnya, terlihat Candra begitu asik memilah buah Durian untuk kuberikan ke Rosa.


Tiga buah durian yang telah dipilihnya ia ikat dengan tali plastik seadanya, lalu menyodorkannya kepadaku tanpa ekspresi. "Ini Guru, cepat bawa ke sana sudah!"


"Loh, Mas Gio masih mau kemana lagi? Hayo, itu untuk siapa?"


"Hehe ... Ini untuk Bu Kosku, Fit ... Aku tinggal dulu, ya? Sebentar lagi, aku balik kok."


"Bu Kos dari Hongkong!" cibir Candra.


*******


Tanpa menoleh ke-mereka lagi, aku bergegas menghidupkan motor Vespaku dan secepatnya melaju ke rumah kontrakannya Rosa.


Tetiba di halamannya, kulihat Rosa sedang sendirian duduk melamun di teras. Padahal Ia tahu dengan kedatanganku, tetapi sengaja ia mengacuhkanku. Setelah kuparkir motor Vespaku di tempat biasanya, aku menghampirnya dengan menenteng 3 buah durian.


Aku berharap Rosa menjadi senang melihat kedatanganku. "Ini Ros, Duren Montong. Dapat dari desa Mergosari tadi."


Sosok yang kusapa hanya diam terpaku. Rosa hanya mendongakkan kepalanya melihatku dengan tatapan mata tanpa rasa.


"Kamu kenapa lagi, Ros?" tanyaku berhati-hati.


Pertanyaanku tak juga dibalasnya.


Lalu ia bergegas masuk ke ruang tamu, meninggalkanku melongo begitu saja.


"Kamu kenapa, sih Ros?" tanyaku masih tak paham dengan sikapnya yang begitu dingin.


Tiba-tiba ...


"Ngapain kamu ke sini?" ucap Rosa membuatku terperanjat heran.


"Loh ... kan, aku disuruh cepat datang ke sini sama Rosa?"


"Terlambat!" jawab Rosa ketus, tatapan matanya hampa.


Seketika Rosa masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian ia membawa benda pipih itu dan menunjukkannya dekat wajahku. "Ini kamu lihat sendiri!"


"Ita benda, apaan ...?"


"Kamu pura-pura bodoh, atau kamu memang gak tahu! Masak benda seperti ini saja gak tahu!"


"Sumpah ... aku baru lihat benda kayak itu. Aku benar-benar gak tahu. Benda apaan, sih ini?


"Ini Tespek."


"Gunanya?"


" Ngetes kehamilan. Tuh lihat garis satu, apa dua?"


"Dua!"


"sekarang aku lagi hamil ... bodoh ...!"


"Haamil ...?" tanyaku melongo.


"Iya ... puas ya, kamu sudah membuat aku hamil?"


"Kok puas? Kan memang kodrat perempuan begitu, Ros. Yaudah, kalau sudah hamil mau gimana, lagi?"


"Kodrat ... kodrat! Enteng banget kamu ngomong hamil."


"Yaudah aku tanggung jawab. Ros ... Kalau itu memang dari aku. Bukan dari Ilham, kan?"


"Ngawur. Ya pasti ini dari kamu, lah? Siapa lagi yang gak pakai ******?" timpalnya dengan suara meninggi.


"Yakin itu karena aku?"


"Coba ngomong sekali lagi ...!Tak lempar asbak beling ini, kamu!"

__ADS_1


Aku coba terus bersabar tak mau meladeninya. Mungkin kebanyakan perempuan kalau sedang panik, bawaannya begitu, ya.


" Kamu kemana saja, sih GIo ..., kok sulit banget aku hubungi?"


"Untung ada Nisa. Kalau gak ada dia, mungkin aku sudah mati!"


"Loh... kok sampai segitunya, Rosa?"


"Aku sangat kalut! Enak saja kamu ngilang tanpa kabar!"


"Aku kan lagi ada di Desa Mergosari. Di sana, gak ada sinyal HP!" kilahku supaya Rosa menurunkan tensi emosinya.


"Banyak alasan. Pergi sama siapa ke sana? Sama Fitria?"


"Sama Candra ...Ros!"


"Sejak kapan kamu tahu kalau sedang hamil?" tanyaku.


"Kemarin .." jawabnya singkat.


"Ooo ... "


"Terlambat haid dan muntah-muntah!" timpanya dengan ketus.


"Ooo ..."


"Kamu jangan Cuma bilang, o ... o ..., kamu harus bertanggung jawab!"


"Ya mau gimana lagi, solusinya. Ya ... kita nikah secepatnya."


Sedetik kemudian suara Rosa semakin menyentak, "Nikah ... nikah ... kamu sendiri kerjaannya gak mapan, gitu. Kuliah saja gak lulus-lulus ...!"


"Ya terus pakai solusi apa, Ros ... ?" tanyaku sambil menggaruk-garuk kepalaku.


"Solusinya aborsi!" jawabnya dengan tatapan mata yang menyembab.


" Huuhhh... Makanya kamu jangan ngeyel, kalau aku bilang kondomnya dipakai, ya dipakai. Gini ini nih, jadinya."


"Mana ayahku kena musibah besar, lagi ... huuhh...!"


Aku tak berani bertanya lebih jauh tentang musibah yang menimpa ayahnya. Sejenak Rosa terdiam, lalu menenggelamkan kepalanya di atas lututnya yang tertekuk.


Ingin aku memeluknya, tapi aku tak punya keberanian. Aku takut kemarahannya malah semakin menjadi.


"Digugurkan itu sakit sekali, loh Ros. Nanti kamu bisa mati kayak tetanggaku, itu loh!."


"Iya kalau dibawa ke dukun pijat."


"Lha kamu mau menggugurkan ke siapa?"


"Ya ... ke-Dokter lah." tegas Rosa.


Aku tak kuasa menghalanginya aborsi. Walaupun aku menyadari, hal itu berdosa besar pada kehidupan yang penuh misteri ini. Kelak aku pasti akan menerima hukum karmanya.


"Pokoknya kamu gak kalut lagi, Ya sudah gugurkan ke dokter saja."


"Biayanya mahal. Tapi kamu harus bertanggung jawab! Ini semua kan, gara-gara kamu yang gak mau pakai ******?"


"Iya ... iya ... aku tanggung jawab...!"


"Biayanya pakai uang yang ada di ATM BCA-mu!"


"Loh ... loh .. uang itu sudah aku poskan untuk persiapan gerakan reklaiming petani Mergosari, Ros!."


" Kamu pilih aku masih hidup atau kamu pilih membela petani Mergosari?"


"Terus gimana, kalau rencana perjuangan mereka gagal gara-gara aku? Kasihan loh, Ros! Itu menyangkut nasibnya rakyat kecil ..."


Rosa menghentakkan kakinya melangkah masuk ke kamarnya, tak lama kemudian ia keluar dengan membawa sebuah dompet dan menyodorkan ATM BCA kepadaku.


"Ini kamu bawa, sekarang! Sana ..! kamu pergi ke orang Mergosari ...! Bantu mereka saja daripada menyelamatkan nyawaku ...!"

__ADS_1


__ADS_2