Gara Gara CO Darimu

Gara Gara CO Darimu
3. Kecup Kening


__ADS_3

Siapakah Rosa?


Rosa bukanlah gadis sembarangan. Ia putrijya orang berada. Bapaknya merupakan pimpinan DPRD di daerahnya. Dia terpilih dari partai yang dikenal partainya ummat.


Sejak mengenyam pendidikan, ia selalu bersekolah di sekolah agama, mulai dari madrasah, tsanawiayah, dan sampai ke aliyah. Di kampusnya dia berjilbab, cuma kalau di kosannya atau pas keluar. sebentar saja dia tak berjilbab.


Kecantikannya mirip artis Oki Setiana Dewi dalan film Cinta Bertasbih.


Kalau di lihat dari casing luarnya, tak ada yang menyangka dia ini gadis nakal dengan pergaulan bebasnya. Ia terlihat begitu anggun, lemah lembut, dan seperti gadis pemalu.


Jadi, aku tak habis pikir dengan sosok fenomenal Rosa ini. Kenapa dia bisa nakal begitu. Diteropong dari teori besar manapun aku takkan bisa menemukan jawabannya.


 


 


*******************


Sepulang dari Kecamatan Jenggawah, walaupun aku ogah-ogahan ketempat kontrakan rumah Rosa lagi, tapi, aku tetap mampir juga untuk mengambil hadiah darinya.


Saat aku sudah mendekati rumah kosnya, bunyi knalpot Vespaku rupanya sudah terdengar sampai kedalam kamarnya. Kulihat Rosa sudah berdiri didepan pintu kamarnya dengan senyuman indahnya.


Setelah motor Vespa ku parkir, aku berjalan ke arah Rosa yang berdiri menungguku di depan pintu.


"Mana Ros, hadiahnya?" tanyaku dengan suara lantang.


"Masuk dulu, dong! Ih dasar, kamu ini orangnya gak bisa sopan!" timpalnya dengan mimik wajah seoalh marah padaku.


”Emang kamu mau ngasih hadiah apaan?" tanyaku lagi.


Aku makin penasaran dengan hadiahnya, tapi sekaligus curiga kepadanya.


” Ada dech!” jawab Rosa dengan senyum yang menggoda.


Lalu aku pun masuk ke ruang tamu rumah kosnya.


Rumah kosnya Rosa berada di perkampungan penduduk. Ia bersama kedua temannya mengontrak sebuah rumah yang berisi tiga kamar tidur, satu kamar mandi dan satu ruang tamu.


"Kok sepi, Ros? Kemana si Nisa dan Riri?"


'Lagi ada kuliah ..." jawabnya dengan tatapan yang menggodaku. Mirip tatapan mata Kak Ros pada Upi-Ipin kalau sedang menggoda kedua bocah itu.


"Cepetan, mana hadiahnya! Aku mau pulang, nih!" Kali ini aku takut terjebak kedua kalinya oleh sebungkus ****** laknat itu.


" ... " Rosa hanya senyum-senyum menanggapiku.


"Tunggu, ya, aku mau mandi dulu!" seru Rosa.


”Gak usah! Jika kamu masih mau mandi, aku pulang saja! ” kataku lantang sembari beranjak dari kursi sofanya untuk lekas pulang.


"Hey ...Hey! Iya ...Iya ...! Tapi kamu duduk, dulu!" sergahnya menahanku agar tidak ngambek pulang


Dengan rasa kesal, lalu aku pun menuruti saja kemauannya.


”...tapi ada syaratnya, loh!”


"Apa syaratnya?" tanyaku curiga


"Gio pejamkan mata, sebelum hadiahnya kuberikan. Kalau aku belum bilang buka mata, jangan buka dulu, ya?"


"Iya ... " timpalku sembari memejamkan mata rapat-rapat.

__ADS_1


Hatiku deg-degan juga, ya, menunggu hadiah apa yang akan diberikan Rosa.


Tiba-tiba ...


"Mmuach ...!" Bibirnya Rosa mengecup keningku.


"Udah, gitu saja, Ros? Hadiahnya hanya kecup kening?" tanyaku merasa heran, dan merasa sedang di permainkan Rosa.


"He eh ..." jawabnya dengan senyum kemenangannya.


"Huuuh!" sembari garuk-garuk kepala aku selekasnya pulang ke kosanku.


”Hati-hati dijalan, ya, Gio! Ingat sarapan dulu sebelum aktifitas, biar Gio gak sakit!” kata Rosa lantang dari depan pintu.


**********************


Diperjalanan sembari nyeter Vespa, hatiku mengumpat dan sekaligus bibirku senyum-senyum sendiri membayang hadiah kecupan kening dari Rosa tadi.


Anjiir ... ! Kena lagi deh, aku!


Gio, jadi bodoh lagi, deh!


He he..Rosa ada-ada saja. Ternyata cuma hadiah kecupan kening.


Namun, ternyata indah juga ya, keningku dikecup Rosa. Damai rasanya ke jiwa. Pikiran jadi tenang banget.


Ah ...


Asik juga hidupku diperhatiin Rosa supaya aku gak telat makan pagi. Dampak psikologisnya bagiku, serasa aku jadi anak kesayangannya Mama.


********************


Tetiba di kamar kosku, aku bergegas mencari buku psikologinya Sigmund Freud untuk mendapat penjelasan, kenapa usai di kecup keningku oleh Rosa, hatiku jadi damai dan pikiran jadi tenang.


Kalau soal dampak sensasi yang ditimbulkan akibat terjebak satu buah ****** di kamar Rosa, aku sih sudah paham. Namun untuk yang kecup kening ini aku berfikir keras untuk mencari penjelasannya.


Kenapa, ya?


Padahal kecupnya hanya sekali dan itu hanya di kening. Tapi dampaknya, mirip sekali dengan kegembiraannya rakyat yang terbebas dari perang di negaranya. Begitu damai dan tenang hidup yang dijalaninya.


Selama 6 tahun bergelut dengan mata kuliah, berjibaku dengan buku, diskusi komunitas, demontrasi. advokasi rakyat, dan kegiatan seabrek lainnya, hampir aku tak pernah mengenal belaian sayanh dari gadis. Bila teman aktifisku lainnya mampu memadukan dunia pacaran dengan pergerakan, tetapi aku tak berniat sedikitpun mencobanya. Karena aku adalah Sang aktifis idealis.


Karena keasikan di dunia ekstra kampus itu, akhirnya aku pun kena DO oleh pihak rektorat.


Entahlah ...


Apa karena duniaku yang keras dan terlalu asik dengan kepentingan orang lain, sehingga kebutuhan akan belaian dari kekasih itu menjadi terlupakan.


Yang jelas, bila dibanding saat memakai 1 buah ****** itu sensasinya sangat bertolak belakang. Khusus ntuk kecup kening dari Rosa ini, kurasakan begitu menghidupkan dan memanusiawikanku.


Selama 3 jam-an aku berfikir dan sekaligus terngiang-ngiang dengan hadiah kecupan kening dari Rosa, lalu tiba-tiba ia meneleponku.


"Udah masuk pulsanya?" tanya Rosa melalui hand phone


"Pulsanya, siapa?"


"Ya pulsamu. Barusan aku isikan!"


"Buat apa Ros, kamu belikan aku pulsa?"


"Biar ada alasanku meminta kamu menelpon aku!" pungkasnya menutup teleponnya.

__ADS_1


Lalu kulihat di SMS HPku sudah terisi pulsa 100 ribu. Lagi-lagi aku bergumam, ternyata asik juga hidupku dikasih hadiah materi oleh seorang gadis cantik seperti Rosa.


*******************


Selama 2 mingguan Rosa kerap datang ke kosanku. Kadang sendiri, kadang sama si Nisa.


Ia sering membawakan oleh oleh burupa buah-buahan. Kadang nyelonong begitu saja ke kamar kosku.


"Aduh kamu kok banyak bukunya, Gio! Aku pinjam yang ini, ya?" seru Rosa sambil menunjukkan buku kesetaraan gender kepadaku.


"Iya, boleh!" timpalku


"Tapi, aku diajari memahaminya, ya?"


" ... "


Aku mengangguk senang tak keberatan sedikitpun, jika si Rosa mau membaca buku tersebut.


Aku orangnya teramat senang bila ada seorang mahasiswi yang greget untuk membaca dan berdiskusi.


*********


Suatu hari menjelang tahun baru, aku sedang sakit demam. Aku sendirian saja tergeletak di kamar, sebab teman-temanku yang akrab denganku lagi liburan.


Untunglah ada si Rosa yang datang merawatku. Ia membelikanku bubur ayam, membelikan obat, dan mengompreskan air hangat ke keningku.


"Kamu ke dokter, ya?" tanya Rosa.


" ... " Aku menggeleng lemah.


"Kenapa?"


"Aku takut disuntik!"


Mendengar alasanku, Rosa malah tertawa ngakak.


Aku bahagia sekali. Ini pertama kalinya. Belum pernah aku mengalami saati sakit begitu, ada seorang gadis yang merawatku dan menunggui di sampingku. Kecuali, hanya dirawat oleh emakku di kampung.


Aku dan Rosa terpaut 3 tahun usianya Cuma, entah kenapa, si Rosa tak pernah memanggilku, Mas Gio.. Padahal dia gadis Jawa Timur yang mestinya paham itu.


Kenapa gadis itu begitu baik kepadaku, ya?


Apakah si Rosa telah jatuh cinta kepadaku?


Kedua pertanyaan itu membawa pikiranku mengeja setiap peristiwa bersama Rosa. Mulai dari ia membelikanku sebungkus ****** di Matahari, lalu ****** itu aku gunakan padanya, lalu dapat hadiah kecup kening darinya, sampai ia merawat tatkala aku sakit.


Peristiwa itu, aku rangkai dengan peristiwa 2 tahun lalu saat pertama kali mengenal sosok Rosa di sebuah diskusi komunitas mahasiswa. Aku lihat waktu itu ia bersanding dengan pacarnya. Hanya Rosa lah yang aku lihat dalam diskusi tersebut, paling pendiam, paling pemalu, dan paling bodoh diantara mahasiswi lainnya. Walaupun sesungguhnya ia paling cantik.


Waktu itu, banyak teman-temanku tahu, bahwa gadis yang paling tidak aku sukai keberadaannya di komunitas diskusi tersebut adalah si Rosa.


Ia ikut komunitas diskusi itu, karena pacarnya yang anak Surabaya itu aktif di dalamnya. Pacarnya itu kenal baik denganku. Dan setiap harinya Rosa dan pacarnya selalu runtang-runtung


Waktu itu aku berfikir, mau maju gimana negara ini jika ideologi pemuda- pemudinya tak jauh dari ideologi ************.


Mengingat-ingat sosok Rosa yang aku kenal waktu itu, tiba-tiba mazhab kritisku mulai menggugat kehadiran Rosa yang sudah mendapat simpati hatiku.


Kecurigaanku pada perilakunya selama ini menyeruak:


"Apakah ada agenda terselubungnya Rosa untuk membalaskan dendam lamanya padaku?"


 

__ADS_1


 


__ADS_2