
“Bang, entah kenapa aku takut bangat malam ini,” ujar Gembul berjalan ragu-ragu ke ladang jeruk.
“Ngapain takut.”
“Sepertinya ada yang jaga kebun jeruk ini. Mungkin yang punya kebun ini pelihara begu ganjang.” Gembul memeluk lengan sendiri sembari bergelidik.
Auuuang!
Auuuang!
Suara longlongan anjing membuat suasana semakin mencekam untuk Gembul, tetapi tidak untuk Roy, lelaki tengil itu tidak mengenal rasa takut pada yang namanya , setan, tuyul, jin dan tante kunti dan sebangsanya.
“Tuh, kan …” Gembul mendekatkan tubuhnya ke arah Roy.
“ Ah, tidak ada . Geser, geser sedikit, itu pas kan lah dulu posisinya, biar gambarnya bagus,” itulah itruksi Roy pada temannya yang bernama Gembul. Hanya mengandalkan camera ponsel, mereka berdua bertekat membuat canel youtube dengan konten hantu tinggi. Walau sudah membuat berbagai banyak video baru konten begu ganjang yang banyak penontonya. Itulah yang membuat Roy pemuda pegangguran itu bersemangat.
“Begini sudah pas, aku takut ini,” bisik Gembul sembari menarik topi jaket yang ia kenakan. Jaket berbahan prasut itu jadi satu-satunya jaket yang warnanya masih utuh yang ia miliki yang lainya sudah pudar warnanya.
“Kita harus buat lebih tinggi. Gerakkan lagi supaya orang percaya kalau itu memang begu ganjang,” ucap Roy.
Ia mulai mengarahkan camera ponselnya dan merekam sosok begu ganjang yang di pegang Gembul. Begu ganjang adalah sosok hantu yang berwujud tinggi setinggi pohon.
“Bul, gerakkanlah sikit kakinya biar kayak hidup dia, biar yakin orang kalau begu ganjang itu ada,” ujar Roy, tubuhnya miring ke kanan ke kiri untuk mendapatkan gambar yang bagus.
“Takut aku Bang, Bagaimana kalau benaran ada begu ganjang,” ujar Gembul lagi, kali ini buka hanya bulu tangan yang berdiri, bulu ketek, bulu kaki dan bulu ************ juga ikut berdiri tegak sakit takutnya mendengar aungan anjing.
“Mana ada begu ganjang. Kalau ada suruh berhadapan denganku,” ucap si Roy sok menantang.
Saat bicara seperti itu, sosok tinggi kurus dengan wajah menyeramkan, bola berwarna merah, kuku-kuku panjang berdiri diantara pohon bambu. Tingginya bahkan melebihi tinggi pohon bambu. Ia menatap tajam pada kedua lelaki yang menggunakan namanya sebagai konten mereka.
Aaauuung!
Aaauuuang!
Gonggongan panjang dari anjing untuk kesekian kalinya, petanda kedatangan sosok mahluk tinggi menyeramkan tersebut. Anjing dan kucing dipercaya bisa merasakan kehadiran mahluk kasat mata di sekitar mereka.
“Bang Roy, udah ya bikin videonya aku takut bangat ,” keluh Gembul, ia sudah mulai merasakan hawa tidak enak.
“Lanjut saja! Tanggung ini,” seru Roy
__ADS_1
Uiiisss!
Uuuiiisss!
Suara terdengar seperti desiran angin dibarengin dengan suara sseseorang yang berbisik memanggil.
“Sini! Sini lihat aku”
Suara itu berdesir melintas dari pendengaran seperti angin yang berbisik.
Gembul tanpa sengaja menoleh keatas , melihat sosok tinggi kurus berwarna hitam tapi ia takut salah melihat dan menghiraukannya,
“ Bang …. ” Gembul ingin mengatakan sesuatu
“Sudah gerakkan kakinya biar semakin bagus, kalau video kita bagus dan banyak yang nonton dan subcribe youtube kita semakin banyak, akan aku belikan nanti kamu motor baru,” janji Roy lagi.
“Dari satu tahun lalupun kau janji begitu gak adanya sampai sekarang,” protes Gembul.
“Itu karena kualitas video kita tidak ada yang bagus selama ini. Uda banyak subcribenya tapi tidak turun-turun uangnya, mungkin masih kurang bagus video kita.
Tapi kali ini, konten begu ganjang yang kita buat akan meledak dan banyak yang nonton,” ucap Roy dengan percaya diri
Mengumbar janjin manis sudah jadi kebiasan si Roy.
Kali ini konsep vidionya tentang begu ganjang di beri judul ‘Bertemu Begu Ganjang di Kebun Jeruk’ Gembul mengerakkan patung kayu tinggi itu seolah-olah ia hidup dan mengejar-ejar Roy.
Setelah beberapa kali menggulang akhirnya Roy dan Gembul berhasil membuat satu Vidio. Saat ingin pergi, sosok mahluk tinggi menyeramkan itu berdiri tepat di tengah ladang.
“Be-begu ganjang!” teriak Gembul dengan suara tercekik.
“Jangan lihat matanya, lari!” teriak Roy.
Namun, tubuh gembul tidak bisa bergerak ,matanya seakan-akan terhipnotis oleh sosok mahluk menyeramkan itu. Tangan panjangnya terulur ke leher Gembul. Roy tidak ingin sahabatnya mati, ia menarik tangan Gemmbul dan membawanya berlari meninggalkan ladang. Mereka tidak sadar kalau kebun jahe milik Bu Ida sudah hancur keinjak-injak.
*
Saat pagi.
“Kurang ajar! Siapa yang menghancurkan tanaman jaheku! Dasar pencuri” teriak Bu Ida pemilik ladang tempat Roy membuat konten.
__ADS_1
“Kalau sudah ada pencuri seperti ini di kampung kita, ini sudah tidak aman, kita harus adakan penjagaan malam,” usul seorang bapak ketua kampung.
“Tidak terima aku ladangku hancur di injak-injak. Siapapun pelakunya harus ganti rugi, aku tidak mau tau,” ujar Bu Ida ia lemas melihat tanamanya hancur ke injak-injak .
Penasaran dengan suara ribut di ladang Bu Ida, warga sekampung penasaran dan berdatangan.
“Kalau ini pencuri tidak mungkinlah kurasa. Apa yang mau dicuri di ladang jeruk yang belum berbuah ini,” ujar Bu Ita.
“Betul juga, kalau dibilang kerbau atau kambing harusnya daunya di makan bukan diinjak-injak sampai hancur seperti ini,” ucap Bu Ida sembari memeriksan daun jahe yang sudah hancur itu.
“Apa jangan-jangan kerbau mau kawin,” tebak Marni, gadis perawan tua yang tinggal di kampung tersebut.
“Marni! Apa hubungannya horbo mau kawin sama tanamanku yang hancur ini! Kau yang perlu kawin bukan kerbau!” teriak Bu Ida marah.
Disambut tawa orang-orang yang datang.
“Namboru. Kalau kerbau mau kawinkan kejar-kejaran dulu, sok jual-jual mahal kan? Makanya ini ke injak-injak,” ujar Marni lagi. Gadis berambutpendek itu pencinta filim India jadi setiap kali turun hujan ia terkadanh membayangkan dirinya sedang joget-joget ala India dengan Roy sang pujaan hati. Walau ia cinta mati sama Roy, rupanya Roy menganggapnya hanya sebatas teman. Cinta sepihak itu memang tidak enak, tetapi sepertinya tidak masalah bagi Marni.
“Kerbau tidak kawin malam-malam Marni! Lagian siapa yang mau kawin di ladang gelap-gelapan,” ujar Bu Ida mulai naik darah. Ia terkadang naik darah jika mengobrol dengan Marni. Sebab pertanyaan dan jawaban sering tidak berkesinambungan
“Ada. Itu Sebon sama Mbak Uti kawin di ladang malam-malam juga,” ujar Marni antara polos dan bodoh beda tipis.
Mendengar itu mereka semua langsung melihat ke arah Marni.
“Itu bukan kawin, mereka selingku. Eh … yang benar?” Jiwa kepo Bu Ida langsung bangun, ia melupakan ladangnya yang hancur dan mulai menyosor Marni dengan berbagai pertanyaan.
“Benar Namboru aku lihat sendiri,” ujar Marni dengan polosnya.
“Ah, serius kau, sini, sini duduk dulu kita.” Bu Ida membawa Marni duduk pinggir ladang.
“Kek mana memang ceritanya?” Ibu yang lain ikut duduk.
“Betulnya kau lihat?” Ibu Rika ikut duduk, mereka duduk membentuk lingkaran dan ditengah lingkaran duduklah Marni sebagai sumber yang punya gosip. Tamanan yang hancurpun terlupakan gara-gara mereka bergosip tentang Sebon duda satu anak dengan Uti yang suaminya sedang bekerja di pelayaran. Gara-gara konten begu ganjang Roy Uti dan Sebon akan diusir dari kampung karena diduga berselingkuh.
“Aku yakin mereka yang melakukannya di sini tadi malam, sampai jaheku rusak,” tuduh Bu Ida.
“Betul, pasti mereka melakukannya di sini juga.”
Tuduhan yang tidak tepat. Mana ada pasangan selingkuh melakukannya sampai merusak satu ladang.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa berikan like komen dan komentar untuk karya ini ya kakak-kakak