Gara-gara Konten Begu Ganjang

Gara-gara Konten Begu Ganjang
Gara-gara Dikejar Guk-guk


__ADS_3

Setelah kejadian pura-pura mati yang dilakukan Roy  rupanya Dias dan kedua temannyam masih  menaruh dendam.


Gembul mengedipkan mata pada Roy sebagai tanda  kode untuk menjauh dari ketiga orangg tersebut, jadi  mereka bertiga bagian membersihkan di dalam dan Roy sama gembul bagian teras gedung.


“Sial bangat sih. Awas saja kamu keparat,” maki Dias  dengan kesal.


“Ais, aku tidak pernah pegang sapu di rumah Dias, masah di ruamhmu kita jadi babu,” keluh dua rekan Dias yang diketahui kedua orang itu teman Dias dari kota .


“Payah, kerjakan saja sebisanya nanti mamaku semakin kesal   gak dikasih uang,” ujar Dias. Anak masih mengharapkan uang dari orang tuanya tapi masih sok belagu.


Roy dan Gembul yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan kasar dan berat,  melakukannya pekerjaan mereka dengan mudah. Pekarangan aula desa bersih dan rapi.


“Wah … jago kalian dua. Ini  minum dulu.” Istri kepala desa meletakkan teko sirup dingin untuk keduanya.


“Tapi nantulang tidak ada rancun tikus, kan di dalam?” tanya Gembul, ia mengingat ancaman Dias yang memberi mereka raucun tikus sampai mati kering.


“Ais. Kamu kenapa?” Roy menegur Gembul.


“Tadi kan kamu dengar Dias mau racunin kita.”


“Tidak ada seperti itu timbul, ini nantulang minum.” Bu Rosa minum satu gelas.


“Makasih nantulang,” ucap Gembul sembari menuangkan sirup berwarna merah itu ke dalam gelas dan meneguknya sampai habis. “Wah segar mantap!” ucapnya sembari bekelakar menepuk-nepuk perut sembari melirik ke arah Dias dan kedua temannya


“Roy, kalau kamu mau makan di sini saja, sampai Mama pulang,” ujar Bu Rosa.


“Tidak usah nantulang  Marni selalu masak di rumahnya dan mencuci baju dia juga,” ujar Gembul ia takut diracuni sama Dias, ia menunjuk Marni yang sedang menyapu rumah Roy. Ibu berkacamata  itu menatap ke arah samping , ternyata benar Marni sedang menyapu rumah Roy. Mama Roy menitipkan rumahnya ke Marni .


“Roy, kenapa kamu tidak nikahin saja si Marni, biar ada yang selalu mengurusmu,” usul Bu Rosa.


Roy hanya menanggapinya dengan sopan, “ kami hanya teman baik Natulang.” ucapnya berdiri, ia tidak ingin lama-lama di rumah Dias, sebab lelaki itu sudah memperlihatkan tatapan sinis padanya dari tadi.


“Ini buat kalian berdua untuk makan.” Bu Rosa kembali menyodorkan uang limapuluh ribu pada keduanya.


Roy tidak ingin jadi orang yang maruk, walau sebenarnya ia sangat butuh uang untuk beli paket data, sebab mengedit video youtubenya butuh banyak data. Tetapi ia  menolaknya.


“Tadi uda  dikasih tulang , gocap nantulang,” tolak Roy.


“Kalau dikasih kenapa tidak terima saja sih Roy, pakai nolak-nolak segala padahal butuh uang,’ ujar Gembul kesal,


“Oh, udah tadi?”


“Udah”

__ADS_1


”Tidak apa-apa ini tambahan dariku.” Wanita itu memasukkan ke saku baju  Roy, tidak bisa menolak ia hanya bisa menerimanya . Dari kejauhan Dias lagi-lagi melihat kedua orang tuanya memberi uang pada lelaki yang jadi musuhnya.


Saat mereka ingin pergi.


“Awas kamu anj*ng, aku hancurkan kamu,” ancam Dias,


“Silahkan ,” dumal gembul pelan, tetapi ia tidak berani menoleh ke arah Dias.


Tapi Roy berjalan santai dan bersikap bodo amat dengan ancaman Dias, ia tidak perduli  dengan ocehan Dias padanya. Roy hanya memikirkan bagaimana caranya agar malam ini ia bisa membuat konten baru.


             *


Saat malam tiba.


Kedua sahabat itu sudah seperti  kelelawar, siang tidur malam  kelayapan. Karena konten  yang mereka ciptakan ala-ala hantu. Maka akan melakukan saat malam.


Saat Roy dan Gembul ingin melakukan pengambilan gambar di belakang rumah. Lagi-lagi gembul sakit perut. Bagaimana tidak sakit perut ia makan segala yang ditawarkan orang . Uti masak ubi rebus saat ditawarkan ia hajar sampai habis. Sebon  tawarkan jagung bakar ia hajar juga  belum lagi dari Bu Rosa sudah minum sirup satu teko .


“Bang temanin boker , aku sakit perut.”


“Ais, sialan bangat sih kamu. Kenapa berak mulu.” sungut Roy, ia merasa kesal karena Gembul sering ingin buang hajat diwaktu yang tidak tepat.


“Iya, temanin aku Bang. Takut aku.” Lelaki itu pembuat konten hantu tapi dia sendiri penakut.


“Ya sudah sana.”


“Pung, kasihlah aku nomor togel empat angka. Bosan kali aku  jadi orang miskin,” ujar Kasman sembari melipat tangannya di depannya sebagai wujud permohonan.


“Baiklah Cu,” sahut Roy dari balik pohon pisang.


“Aih …bisa jawab.” Kasman sempat kaget tapi ia melanjutkan lagi.


“Kamu harus bawa rokok dua bungkus dan ayam panggang satu ekor besok.”


“Benarnya Oppung?”


“Iya, pulanglah dan datang besok.”


“Kasihlah aku setidaknya dua angka Pung, ini aku bawa rokok dan jeruk” ujar Kasman.


“Baiklah95,” ujar Roy dengan asal.


“Baik Pung terimakasih.” Kasman berdir. Roy menyetel baksoun seram di ponselnya lalu ia juga menggoyang dahan pisang. Melihat itu Kasman yang sudah mndapatkan nomor togel lari terbirit-birit.

__ADS_1


Roy tertawa, setelah berhasil menakut-nakuti Kasman.  Ia mengambil rokok dan memakan jeruk sesajen.


“Ada-ada saja , minta togel ke kuburan,” ujar Roy.


Sementara Gembul masih jongkok dibalik pohon Durian, saat sedang  jongkon tiba-tiba beberapa gukguk datang dan mengongong.


“Hei,pencuri! Kamu maling durian ya!”


“Mampus, dia pikir aku maling durian padahal aku hanya boker doang.”


Anjing pemburu itu di lepas  tidak ingin  digigit binanatang berbulu itu Gembul berlari.


Melihat suara anjing dan Gembul juga berlari, Roy yang duduk di samping kuburan ikut berlari.


“Ada apa?”


“Ayo kita lari, ada gukguk yang mengejar!” teriak gembul ia berlari kesusahan sebab celananya belum juga dipakai ia sudah dikejar-kejar guk-gul. Satu tangan digunakan memegang celana sambil berlari ke belakang rumah Pak Timbul.


Mereka  bersembunyi di tumpukan kayu bakar dibelakang rumah.


“Siapa di sana?” Pak Timbul keluar mendengar suara ribut dibelakang rumah.


“Kami Tulang,” sahut Gembul dengan napas tersekal-sekal


“Siapa Roy Tulang.” ia keluar menunjukkan batang hidungnya.


Melihat camera di tangan Roy pasangan suami istri menggeleng. Mereka berpikir ka Roy dan Gembul sedang membuat konten lagi.


Mereka berdua berdiri, tetapi Pak Timbul dan istrinya mengenduskan hidungnya mencium aroma yang tidak enak, saat ia menoleh kebawa rupanya celana Gembul belum dikancing dan melorot ke bawah.


“Apa kalin habis dari belakang?”


“Iya Nantulang kami habis ber …” Tiba-tib mata Roy menoleh kebawa lalu ia berteriak “ Kolormu angkat , kamu belum pakai celana.”


“Astaga! Astaga .” Gembul menggempar ke  memutar tubuhnya ke arah belakang dan memakai celananya. Ia menarik celananya kembali keatas tetapi tiba-tiba wajahnya menahan jijik


“Aduh tanganku kena kotoran!”


Gembul menunjukkan tangannya yang penuhi  berwarna kuning.


“Astaga Gembul! Kamu bau taik! Ini kedua kalinya kamu begini” Teriak Roy menghindar.


“Kamu cuci saja dibelakang di pancuran, habis itu kalian pulang saja. Bilang saja mau bilang konten,” ujar  Bu Ida, menunjuk kentong besar tempat penampungan air.

__ADS_1


Bersambung


Bantu like, komen  ya terimakasih


__ADS_2