
Sudah larut malam Roy dan Gembul baru saja pulang dari kedai, saat ditengah jalan bertemu dengan orang gila. Gembul iseng melempar dengan batu, siapa sangka keduanya di kejar.
"Ah, gila kau Bul. Kenapa kau cari gara-gara!" teriak roy sembari lari.
"Aduh, aku kirain dia tuli, ternyata dengar." Gembul berlari sekuat tenaga.
Gembul menerobos masuk ke rumah Uti di susul sama Roy.
Hingga mata keduanya melonggo ternyata Uti dan Sebon sedang main kuda-kudaan di sofa ruang tamu. Mereka berempat sama-sama panik dengan bola mata membesar.
“Kalian apa-apaan sih, main masuk aja” Uti marah sembari mengamankan beha berenda biru yang tersangkut diatas kipas.
“Mbak, kami dikejar-kejar orang gila,”sahut gembul dengan napas tersengal-sengal, bukan hanya lari terbirit-birit membuatnya kegerahan tapi melihat kaki mulus Uti membuat gembul semakin haus dan gerah dan mendadak ingin pipis pula.
“Eei … Eei kalian berdua lagi main kuda-kudaan ya,” ujar Roy, ketakuta mereka mendadak hilang saat mendapatan pemandangan yang lebih menarik yakni perselingkuhan Sebon . ia duda kampung sebelah sebelah dan Uti ibu satu anak yang statusnya masih bersuami. Desas-desus kabar yang mereka dengar dari si burung beo Marni rupanya benar.
“Gak, Bang Roy kami hanya kerokan sama Uti,” bantah Sebon.
“Kerokanlah kepalamu,” umpat Roy kesal.
“Ooo, kerokan iya … kalau begitu kami juga mau kerokan.” Gembul melepaskan pakaiannya dan minta dikerokin juga sama si Uti, karena takut di adukan sama semua orang di desa terpaksa gembul dapat jatah kerokan juga. Tapi Roy tidak mau, bagi lelaki itu canel kontennya jauh lebih penting.
*
Malam itu Roy dan Gembul masih di rumah Uti. Gembul cerita kalau kemarin malam keduanya di kejar-kejar setan. Namun Sebon tidak percaya.
“Benaran Aku memang melihat begu ganjang sungguhan kemarin malam,” ujar Gembul
“Tidak mungkinlah. Mana ada lagi hantu tinggi di jaman sekarang, itu kan hanya mitos,” ujar Sebon tidak percaya. “Tapi … kemarin aku melihat Deas dan temannya bikin boneka begu ganjang juga, aku dengar dia ingin mengerjai kalian berdua.”
“Ooo, dia ingin mengerjaiku. Aku kerjain balik.” Roy memikirkan cara untuk membalas Deas dan temannya.
Ia berjalan mondar-mandir, bak gangsing rusak, sembari berpikir .” Duduk napa Bang, kepala Uti jadi pusing liat Bang Roy mondar-mandir begitu,” keluh Uti, setelah dipergoki sedang berduaan dengan selingkuhannya Uti terlihat kesal, tetapi ia juga memohon keduanya agar jangan memberitahukan pada orang lain tengtang malam itu.
“Baiklah, aku mau tutup mulut asal …” Roy sengaja mengantung kalimatnya agar Sebon dan Uti penasaran.
“Kasih apem,” cletuk Gembul.
“Apem mulu, tadi udah dikasih,” ujar Uti kesal.
__ADS_1
Roy mendudukkan tubuhnya di sofa sembari menatap Uti dan berkata,” bantuin aku bikin konten.”
Sebon dan Uti sama -sama saling melihat. “Konten apa?”
“Pura-pura mati.”
“Ha.” Uti dan Sebon bersuara serentak.
Gimana gak kaget masa kematian di jadikan jadi konten, kalau benaran mati Bagaimana? Roy rada nekat juga.
“Jadi gini … Kami dikejar-kejar begu ganjang buatan Deaslah ceritanya, jadi aku kaget dan mati .”
Sebon dan Uti tidak bisa menolak, kalau mereka menolak kedua pemuda pegangguran itu akan mengadukannya pada warga sekampung tentang perselingkuhan mereka. Terpaksa mereka menurut walau hatinya rasanya malas melakukan kerjaan yang tidak masuk akal dan membuang-buang waktu bagi sebagian orang. Bagi orang awam seperti mereka para pembuat konten atau konten kreator hanya pekerjaan sia-sia. Banyak orang yang tidak tahu kalau para konten kreator atau youtuber yang sudah sukses, sebut saja Atta Halilintar, Ria Ricis dan yang lainya.
“Baiklah.” Sebon setuju.
“Ya udah, aku mau asal jangan adukan kami,” ujar Uti dengan terpaksa.
“Baik, bisa diatur.” Roy menyusun rencana.
Gembul merasa ragu dengan ide Roy ia mendekat. “Yakin Bang, bikin ide mati?”
“Kalau mati benaran bagaimana?”
“Tinggal kubur,” sahut Roy asal.
*
Malam itu, ke empat orang itu sudah bersiap untuk syuting untuk konten Roy. Pemuda duapulu tujuh tahun itu ingin membalas Deas juga. Sebenarnya Gembul takut demi menjaga harga diri sebagai konten begu ganjang Gembul berlagak tidak takut di depan Sebon, Uti dan Roy.
“Kamu yakin di sini ada begu ganjang Roy?” tanya Sebon, merapatkan jaket yang ia kenakan.
“Ada Bang, tadi malam dia mengejar-ejar kami,” jawab Gembul.
“Aduh, aku jadi takut.” Uti semakin merapatkan tubuhnya pada Sebon, kesempatan dalam kesempitanlah mereka berdua.
Di sisi lain .
Dias anak kepala desa, rupanya tidak suka dengan Roy ia mulai menyusun rencana mengerjai Roy dengan menciptakan begu ganjang tandingan. Mendengar Roy dan Gembul akan membuat konten begu ganjang lagi di ladang bambu, di belakang rumah Uti, merekapun datang ke sana.
__ADS_1
Dias ia ngin membuktikan pada orang kalau canel youtube begu ganjang itu hanya bohongan
Pada saat mereka tiba dan membawa boneka tinggi itu lagi, Sebon, Roy, Uti dan Gembul sudah terlebih dulu di sana.
“Itu mereka begu ganjangnya,” bisik Roy.
“Oh, jadi mereka yang mengerjai kita tadi malam, Bang.” Gembul geram.
“Biarkan saja, kita akan kerjai balik mereka. Ti, rekam wajah mereka terlebih dulu.”
“Oke.” Sebon dan Uti melakukan semua yang dikatakan Roy.
Malam itu Gembul dan Roy pura-pura berjalan santai, tiba-tiba boneka kayu muncul dan mengejar-ejar mereka.
Roy jatuh dan kejang-kejang dan pura-pura mati.
“Bang Roy! Gak bergerak lagi! Tolong dia mati! Aduh jantungnya tidak berdetak lagi.” Gembul teriak-teriak sementara Uti dan Sebon merekam semuanya dari balik pohon.
Kabar kematian Roy akan mengemparkan warga sekampung. Deas dan teman-temannya yang mengerjai Roy melarikan diri dengan panik setelah tau Roy mati karena jantungan.
“Dengar Deas. Ini ide kamu kalau si Roy itu mati sungguhan bukan salah kami,” ujar Toga rekan Deas.
“Kamu tenang saja, kalau kita tidak memberitahukan orang tidak akan ada yang tau,” ujar Deas.
“Lalu bagaimana?” Sam teman Deas jauh lebih takut. Lelaki berrambut kerinting itu tidak mau masuk penjara, baru dengar kata penjara saja lutut kakinya sudah bergetar.
“Kita pulang dan bersikap tidak terjadi apa-apa. Besok kita datang melayat agar orang tidak curiga usul Deas. Mereka bertiga pulang ke rumah. Mereka pulang dengan wajah ketakutan. Sementara Gembul menahan tawa melihat mereka lari.
“Makanya jangan suka ngerjai orang,” ucap gembul.
“Sttt … lanjutkan lagi, biarkan orang-orang lihat, biar lebih seru.” Roy masih pura-pura berbaring di tanah.
“Tunggu, tunggu sku berteriak lagi. Tolong! Tolong !
Dias dan teman-temannya semakin panik saat mendengar Gembul minta tolong. Ketiga orang itu meninggalkan boneka kayu yang dijakikan menakut-nakuti Roy. Ini namanya mengerjai balik di kerjai.
Bersambung
Jangan lupa berikan like, komen ya kakak terimakasih
__ADS_1